| Fleeting Memories; Episode 800 Mini Event | |
|---|---|
| Topic Started: Nov 3 2017, 08:42 PM (23 Views) | |
| Western Wind | Nov 3 2017, 08:42 PM Post #1 |
![]()
|
Xifeng Juyuan Mini Event: Fleeting Memories Theme Song (loop) Ting Er already fell to deep slumber for four days already. She looks stable, and didn't show any comatose symptom like Ma Chou two years ago, so hopefully she will wakes up anytime soon. However, in a few days before, there are few people who apparently shared similar, strange dreams, which felt like fragments of other person memories. On the fifth day, Ting Er eventually wakes up, and such dream was never occurred anymore since then. META: Any characters who participated in Session 800b aka Part 2, and stayed in Duwang until Ting Er wakes up, might feel there is something trying to 'invade' their dream during those four nights. The character may choose whether to try resist the 'invading dream', or to just let it enter their dream. Each day has their own DC to resist. Any character who succeeded in making Wis Save against the DC is safe from the 'invading dream'. Day 1; Wis Save DC 13 "Sungguh, ini seharusnya merupakan tanggung jawab kami. Keluarganya hendak bertamu kepada kami---namun kami tidak bisa memastikan keselamatan mereka hingga ke Xi Chuan..." "Ini adalah sebuah musibah, Tuan Guan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa akan seperti ini jadinya. Tidak perlu terlalu menyalahkan diri anda sendiri." "Apa yang anda katakan memang benar adanya. Namun, tetap saja saya merasa bertanggungjawab atas kejadian ini. Lagipula, apa benar tidak apa-apa, Tuan Lu? Maaf apabila saya terdengar lancang, namun Anda sudah---" Suara kedua orang dewasa itu sudah tidak terdengar jelas lagi. Pandanganmu terpaku kepada dua gadis yang ada di samping 'Tuan Lu'. Salah satu gadis itu nampak menempel erat dengan gadis yang satunya lagi, yang terlihat lebih tua darinya. "Ada apa, Teng-xiongdi?" "Oh, tidak. Hanya penasaran saja. Dia...nampak lebih tua dari Chu-er ya? Seumuran dengan Yan-er?" "Ah, iya. Mungkin begitu, karena kami juga tidak tahu secara pasti berapa umurnya saat ini---dan dia juga tidak bisa mengingat apapun soal dirinya..." "Begitu ya...lantas, bagaimana kalian memanggilnya?" "Soal itu, ayah dan ibu sudah memutuskan untuk memberikannya nama Ting Er---" Dan suara gadis itu pun perlahan-lahan semakin tidak terdengar, dan pandangan kalian pun menggelap... Kamu mendapati dirimu yang sedang berhati-hati menyusuri puing-puing sebuah kereta kuda di kegelapan. Di depanmu, terdengar suara isak tangis. Dan---setelah terus menyusuri puing-puing itu, pada akhirnya, dirimu melihat seorang gadis kecil, meringkuk pada satu ruang di dalam puing-puing kereta itu. Terlalu gelap untuk melihat seberapa parah luka dari gadis kecil itu. Namun yang terlihat sangat jelas---adalah gadis itu sangat ketakutan. Dirimu pun dengan hati-hati memasuki puing-puing kereta itu...dan tiba di dekat gadis kecil itu. "Hei, apakah kamu...terluka?" Terdengar suaramu---seperti suara seorang gadis. Suaranya terdengar seperti gadis yang engkau ajak bicara beberapa waktu lalu. Dan kini, pandanganmu terpaku kepada gadis kecil tersebut. Dirimu berusaha memanggilnya berkali-kali, namun gadis itu tidak menjawab. Dirimu mencoba untuk memanggilnya berkali-kali, namun nampaknya ia tidak mendengar suaramu. Melihat itu, dirimu pun mengulurkan tanganmu ke arah gadis kecil itu. "Semuanya sudah tidak apa-apa sekarang. Kami akan menolo---" Dirimu menyentuh gadis kecil itu, dan ia bereaksi dengan berteriak dan memberontak, mencoba bergeser menjauh sembari berusaha mendorongmu...walaupun dorongannya terasa sangat lemah. Namun, karena gerakannya yang tidak terkendali, sepertinya ia sempat menyenggol sesuatu, yang kebetulan menopang ruangan diantara puing-puing kereta ini. Melihat ruangan kecil itu runtuh, dirimu dengan segera mendekat ke arah gadis itu, dan menaruhnya di dalam pelukanmu. Beberapa saat kemudian---setelah ruangan yang runtuh itu usai---dirimu hanya bisa mendengarkan suara napasmu yang terengah-engah, dan suara isak tangis gadis kecil yang ada di pelukanmu itu. "...maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu takut seperti ini..." Perkataanmu hanya dijawab oleh isak tangis dari gadis itu, yang terdengar semakin menjadi-jadi. Dirimu pun mencoba menggerakkan tanganmu untuk membelai kepala gadis kecil itu---namun sepertinya tanganmu agak sulit untuk digerakkan. "...sudah, tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti akan ada yang menolong kita. Jangan khawatir, aku ada di sini, jadi kamu tidak akan sendirian sekarang. Janganlah menangis, semuanya pasti akan baik-baik saja..." Dirimu mencoba untuk menenangkan gadis kecil itu, sembari melihat sekitar. Setelah beberapa lama, terdengar suara-suara yang nampak mencoba memanggilmu. Dan sesaat kemudian, dirimu bisa melihat secercah cahaya yang mulai memasuki ke ruangan yang runtuh itu... Day 2; Wis Save DC 15 Dirimu kali ini sedang berlari menyusuri jalan dan gang kecil di sekitar wilayah perumahan kecil. Dirimu berhenti beberapa kali setiap melihat ada gang yang lebih kecil untuk mengintip sejenak ke arah gang tersebut. Setelah beberapa lama, akhirnya dirimu melihat seorang gadis kecil yang dikelilingi oleh tiga-empat bocah laki-laki. Setelah melihat itu, dirimu langsung mempercepat langkahmu. "WOOEE!! JANGAN GANGGUIN DIA!!!" Dirimu segera menghampiri salah satu dari bocah lelaki itu dan melayangkan tinjumu ke arah wajahnya. Pukulanmu cukup keras, sehingga membuat bocah itu terdorong ke belakang. "Eh! Cewek gila!! Masalahmu apa!?" "Beraninya kamu gangguin adikku, hah!? Sini! Kuberi pelajaran karena udah gangguin dia!" "...adik?" Terdengar suara gadis kecil itu dengan suara yang kebingungan. "Jangan khawatir, Ting Ting! Kakakmu ini akan melindungimu!" "Ha? Kakak? Sejak kapan?" Suara gadis kecil itu terdengar dengan jelas menunjukkan nada protes. Dirimu pun menengok ke arahnya. "Ah, ga usah malu begitu, Ting Ting! Tenang, ini bakal cep---" "Argh! Jangan kira gara-gara kamu cewek, aku ga berani balas ya!! Terima ini!" Tiba-tiba, pandanganmu berguncang dengan keras, dan pipi sebelah kirimu terasa sangat sakit karena terbentur sesuatu. Tidak lama setelah itu, dirimu pun berkelahi dengan bocah laki-laki yang kamu pukul itu. Perkelahian itu berlangsung untuk beberapa lama, sampai akhirnya terdengar suara wanita yang mengarah kepadamu. "Ma Yan! Astaga! Apa-apaan ini!?" "Wa-waah! Ibunya datang!! Cepat kita pergi dari sini!!!" "WOEE! JANGAN KABUR, PENGE---Adudududuh!!" Dirimu merasa kupingmu ditarik dengan keras. Nampaknya wanita itu lah yang menjewermu. "Ma Yan! Kenapa kamu berkelahi!? Perempuan tidak pantas untuk berkelahi seperti itu!" "Ta-ta-tapi, i-ibu kan juga bisa berkelah--aduhduhduh!" Telingamu dijewer semakin keras. Melihat itu, gadis yang dipanggil Ting Ting itu hanya tersenyum mengejek kepadamu, dengan pandangan yang nampak terlihat puas. "Ting Er! Kamu juga! Seharusnya kamu mencegah Ma Yan untuk berkelahi seperti itu!" "...ma-maaf Ibu...Ting Er sudah mencoba mengingatkan Ma Yan, tapi..." "Eh?? EEEHH?? Kapan kamu ngingetin!? Ibu! Dia bohong!!" "Sudah, sudah! Ayo, ikut Ibu pulang sekarang!" Wanita itu pun meraih tanganmu dan gadis yang ia panggil Ting Er dan menuntun kalian untuk ikut bersamanya. Kamu dan gadis itu pun hanya bisa mengikutinya... Kini, dirimu berada di sebuah ruangan yang tertutup. Terdapat sebuah buku yang terbuka di pangkuanmu, yang sekilas nampak seperti buku berisi tulisan-tulisan yang agak rumit untuk dimengerti. Tiba-tiba, dirimu mendengar suara pintu yang sedikit bergeser, dan dirimu pun menoleh ke arah pintu tersebut. Namun, tidak nampak apapun, dan pintu juga nampak masih tertutup. Dirimu kembali menunduk dan melanjutkan membaca. Kemudian, terdengar lagi suara pintu bergeser, dan kali ini dirimu menengok ke arah pintu lagi. Kali ini, terlihat ada seorang gadis kecil yang mengintip dari balik pintu itu. Dirimu pun memandanginya untuk beberapa lama. "Oh, Ting---jie? Ada apa...?" Gadis itu hanya memandangimu dari balik pintu tanpa mengatakan apapun. "...Ting-jie...mau masuk? Kalau iya, masuk saja. Tidak usah sungkan..." Setelah mendengar itu, gadis itu pun masuk ke dalam kamarmu, dan duduk di sampingmu. Ia lalu memandangi sekitar. Dirimu melihatnya sebentar, sebelum kembali melanjutkan membaca. Setelah beberapa lama, dirimu mendengar suara halaman buku yang dibalikkan. Dirimu melirik ke arah suara itu, dan mendapati gadis itu sedang membaca sebuah buku. "Ting-jie...juga suka membaca ya?" "Entah. Mungkin? Aku juga tidak ingat" "A--ah, begitu ya...maaf..." "Hng? Kenapa minta maaf?" "E--eh, tidak. Tidak apa-apa..." Kemudian, kalian pun melanjutkan membaca untuk beberapa lama. "Kamu sudah beberapa hari ini tidak keluar kamar. Kamu tidak bosan di kamar terus?" "Eh? Ah...iya. Di luar terlalu dingin, ehehe. Aku tidak kuat kalau dingin seperti ini..." "Ho, begitu ya. Kalau begitu, boleh aku di sini untuk seharian ini? Wan-jie sedang membantu ayah dan ibu di teater, dan aku ingin menghindari Ma Yan." "...ahaha, tentu saja boleh, Ting-jie." Gadis itu mengangguk, lalu melanjutkan membaca. Dirimu pun juga melanjutkan bacaanmu. Setelah beberapa lama waktu berlalu, tiba-tiba dirimu mendengar ada suara dengkuran yang halus dari arah sampingmu. Saat dirimu menengok, terlihat gadis itu tertidur, dengan buku yang masih terbuka di pangkuannya. Dirimu tertawa kecil melihat itu, lalu dengan hati-hati mengambil buku itu dari pangkuannya. Setelah itu, dirimu pun mengambil satu lapis selimut milikmu, dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut tersebut. "Terima kasih ya karena sudah menemani, Ting-jie..." Lalu, setelah memastikan badan gadis itu sudah terlapisi selimut dengan benar, dirimu pun melanjutkan bacaanmu, ditemani oleh suara dengkuran ringan gadis tersebut... Day 3; Wis Save DC 18 Dirimu kembali berjalan di jalan-jalan sekitar di suatu wilayah perumahan. Dirimu mengintip ke dalam setiap gang kecil yang kamu lewati. Setelah berjalan beberapa lama, dirimu melihat seorang perempuan, yang penampilannya mirip dengan tampilan Ting Er saat dirimu pertama kali bertemu dengannya. Melihat sosok itu, dirimu pun berlari menghampirinya. "Ting Ting! Di sini kamu rupanya!" Perempuan itu menengok ke arahmu, dan nampak wajahnya seperti yang tidak senang karena dihampiri olehmu. "Apa maumu?" "Ebuset, galak amet mbak. Aku mau nunjukin sesuatu nih~ Tada!" Kamu menunjukkan sebuah busur kepada perempuan itu. Perempuan itu pun hanya memandangi busur yang dirimu tunjukkan dengan wajah kebingungan. "Gimana? Kamu suka? Bagus kan!" "Maksudmu apa? Mau pamer ya? Kamu kan tahu aku tidak bisa memanah." "Ih, gitu amet ngomongnya. Gini nih! Aku sekarang mau minta ke tukang buat ngukir ini di busurnya. Kalau kamu ngebolehin, aku langsung nih mau ke tukang ukirnya!" Dirimu pun mengeluarkan dan membuka sebuah kertas yang terlipat, dan terlihat ada tulisan [百合] di atasnya "Bunga bakung? Maksudnya?" "Duh, cemana ini, masa ga ngerti? Jadi gini loh, kamu tahu kan kalau aku ngukir huruf [芙] sama [蘭花] di kedua pedangku? Nah, yang dua itu maksudnya melambangkan Wan-jie sama Chu-er! Itu artinya, mereka itu selalu deket denganku! Nah, kalau yang buat di busur ini nih, bunga bakung itu ngelambangin kamu!" "Ho, jadi maksudnya, kamu mau agar aku jauh-jauh terus darimu ya? Seharusnya kamu mengukir hurufnya di anak panah, bukan busur." "Et dah, ni anak. Bukan, bukan. Maksudnya tuh ya, Wan-jie sama Chu-er kan udah dari awal bareng sama aku. Nah, tapiiiii, kalau aku bareng-bareng sama Ting Ting, rasanya tuh aku selalu bisa ngelangkah dan melesat lebih jauh! WUUUUUSH gitu! Kaya busur gitu loh, yang bikin anak panah bisa nge-WUUUUUSH cepet gitu!" Perempuan itu hanya mendengarkan penjelasanmu dengan ekspresi yang nampak tidak terkesan. Kemudian, ia pun berbalik memunggungimu. "Aneh-aneh saja. Terserah kamu deh." "Hoyo? Jadi boleh nih?" "Kubilang tidak boleh juga, pasti bakal kamu ukir juga kan?" "Ga gitu juga kali. Jadi boleh nggak nih?" "Haah. Ya, ya. Boleh." "Yei! Makasih Ting Ting!!" Dirimu pun berlari ke arahnya dan mencoba untuk memeluknya dari belakang. Namun, saat dirimu merasa sudah memeluknya, ternyata dirimu hanya memeluk udara kosong, menyebabkan dirimu jatuh dan terguling-guling ke depan. "...tidak usah pakai peluk-peluk." Dan suara gadis itulah yang terakhir dirimu dengar sebelum pandanganmu mulai mengabur... "Eh? Teng-xiongdi---serius dengan perkataan tadi...?" Kini, dirimu sedang duduk di sebuah ruangan, dan terdapat empat orang perempuan yang rupawan yang duduk di hadapanmu. Salah satu dari empat perempuan tersebut terlihat masih sangat muda. "Ya, aku tahu, ini pasti sangat mengejutkan kalian---dan sangatlah mendadak. Tapi aku serius dengan semua perkataanku yang barusan." Keempat perempuan itu saling memandang satu sama lain. Kemudian, salah satu dari mereka, yang terlihat seperti yang paling tua diantara mereka, kembali berbicara. "Kami--saya mengerti maksud dari perkataan itu, dan sangat menghargai niat Teng-xiongdi. Tapi---apa perlu melakukan hal sejauh itu? Bagaimana dengan keluarga Guan setelah itu...?" "Mereka tidak akan melakukan apa-apa kepada keluarga Guan. Orang-orang itu pasti hanya akan mengincarku saja. Oleh karena itulah, aku sudah berniat untuk meninggalkan Xi Chuan setelah mengumumkan hal tersebut." "Tetap saja---apa yang terjadi kepada keluarga Guan tanpa pemimpin mereka? Bagaimana keluarga Guan bisa menjalankan tugasnya tanpa dirimu, Teng-xiongdi?" "Tugas? Maksudmu membantu Xi Chuan agar terlihat seolah-olah kaum Yue di sini memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum Han?" "I-itu..." "Jadi intinya adalah, anda mau melarikan diri dari tugas anda, dengan menggunakan kami sebagai alasan. Begitu?" Salah seorang dari perempuan itu mulai angkat bicara, sembari memandangmu dengan tatapan yang lurus dan tajam. "Ting Er! Jangan berbicara seperti itu!" "Tidak apa-apa, Wan-jiemei. Yang dikatakan oleh Ting Er ada benarnya juga. Mau kukatakan seperti apapun juga, tetap saja yang akan kulakukan adalah meninggalkan kewajiban kepala keluarga Guan, dan membebankannya kepada adikku sendiri." "Tolong...jangan berbicara seperti itu, Teng-xiongdi... Dan---mungkin kita perlu memikirkan hal ini dengan lebih matang. apa yang akan kita kejar setelah meninggalkan Xi Chuan---bukankah itu hanyalah legenda? Saya merasa---harga yang harus dibayar untuk mengejar sesuatu yang belum tentu ada itu---terlalu besar, terutama bagi keluarga Guan..." "Kami, keluarga Guan, sejak turun temurun menganggap melindungi kaum Yue di Xi Chuan sebagai tugas kami. Namun, sampai saat ini, hal yang kami lakukan tidak lebih dari seolah-olah kami berusaha untuk berbuat demikian. Kenyataannya, keluarga kami tidak berdaya untuk melakukan apapun, dan yang bisa kami lindungi hanyalah---anggota keluarga kami sendiri." Keempat perempuan itu hanya terdiam mendengarkan perkataan tersebut. "Oleh karena itu, dengan melakukan ini, setidaknya aku akan melakukan tugasku dengan seharusnya. Namun, lebih dari itu..." Dirimu mulai bergerak, dan melakukan gerakan kowtow kepada keempat perempuan itu. "Te-Teng-xiongdi! Ja-jangan begitu! Tolong, bangunlah!!" Terasa tubuhmu tergoyang karena ada beberapa dari mereka berusaha untuk mencegahmu bersujud. Namun, kekuatan mereka tidaklah cukup untuk mencegahmu melakukan kowtow. "...izinkanlah aku untuk setidaknya menepati janji yang kubuat---kepada mendiang ibu kalian..." Setelah itu, suasana pun hening seketika. Suasana itupun terus berlanjut, bahkan ketika pandangan kalian mulai mengabur... "...Fa Wan...maafkan Ibu...sepertinya...Ibu...sudah tidak kuat lagi..." Terdengar suara seorang wanita yang terdengar lirih dan lemah. Kemudian, beberapa saat kemudian, dirimu melihat ada seorang wanita yang tergeletak lemas di atas tempat tidur. Kedua tanganmu pun sedang menggenggam sebelah tangannya dengan erat. "...Fa Wan...jagalah adik-adikmu...dengan baik...Ma Yan...Chu...dan terutama...Ting Er..." "...aku berjanji, Ibu...aku akan...menjaga...mereka..." Dirimu bisa mendengarkan...suara yang terbata-bata karena menahan isak tangis. "...kalian juga...Ma Yan...Chu...dan Ting Er..." "...janganlah...kalian...merepotkan...kakak kalian..." Dirimu menengok ke belakang, dan terlihat dua perempuan yang ada di dekatmu hanya bisa mengangguk sambil menangis. Selain mereka, ada juga satu orang lagi perempuan yang hanya memandang ke arah wanita itu sambil terdiam. Ia pun juga hanya membalas perkataan wanita itu dengan anggukan pelan. "...Nyonya Lu...tidak perlu khawatir dengan Fa Wan dan adik-adiknya. Saya berjanji---akan senantiasa menjaga mereka." Seorang pemuda yang ada di ruangan itu berbicara sembari berlutut di sampingmu. "...Nak Guan Teng...Ibu berterima kasih atas niatmu...tapi janganlah kamu menyusahkan dirimu sendiri nak...ada tanggung jawab besar yang harus dirimu emban kelak..." "...saya bersungguh-sungguh dengan ucapan saya, Nyonya Lu. Lagipula---bagaimana keluarga Guan bisa menjalankan tugasnya sebagai pelindung kaum Yue di Xi Chuan---apabila untuk melindungi orang-orang terdekatnya saja tidak bisa?" "...ahahaha, kamu...ternyata lebih keras kepala...daripada kedua orang tuamu...baiklah kalau begitu...nak Guan Teng...Ibu...titipkan...putri-putri Ibu...kepadamu..." Pemuda di sampingmu pun menundukkan kepalanya dan memberi hormat kepada wanita itu. Kemudian, wanita itu pun kembali memandang ke arahmu. "...syukurlah...kalau...begitu...Ibu...sekarang...bisa...isti...rahat...de...ngan...te...nang..." Tidak lama setelah itu, wanita tersebut menghembuskan napas terakhirnya. Tangannya pun sudah tidak membalas genggaman tanganmu lagi. Sontak, kedua perempuan yang ada di sampingmu langsung memeluk tubuh wanita yang sudah tidak bernyawa itu sembari menangis yang sejadi-jadinya. Aliran air mata juga terasa membasahi kedua pipimu, namun dirimu hanya memandangi tubuh wanita itu sembari meletakkan tangannya yang dirimu genggam dengan hati-hati. Lalu, dirimu pun menarik kedua kedua perempuan yang menangis itu dari tubuh wanita itu, dan meletakkan mereka ke dalam pelukanmu. Kemudian, dirimu memandang ke arah perempuan yang daritadi hanya melihat dari kejauhan. "Ting Er, kemarilah." Perempuan itu nampak ragu-ragu untuk menuruti perkataanmu. Namun, setelah dirimu menyuruhnya beberapa kali, akhirnya ia pun mendekat kepadamu. Kemudian, dirimu bergeser sedikit, dan merangkul perempuan itu untuk bergabung ke dalam pelukanmu. "...kamu...harus kuat...ya? Jangan...pedulikan...apa yang orang-orang itu...katakan tentang dirimu. Mereka...hanya berkata demikian...untuk kesenangan mereka...pribadi. Apapun yang terjadi...kamu tetap...adikku...bagian penting dari keluarga kita...kamu mengerti...?" Perempuan itu hanya mengangguk kecil, sebelum membenamkan wajahnya dan mulai menangis di pelukanmu. Dan perlahan-lahan, pandanganmu pun mulai terasa kabur kembali... "Benar tidak apa-apa ini? Aku belum pernah melakukannya. Nanti kalau kenapa-kenapa, bagaimana?" "Jangan khawatir, Ting-jie. Yang akan kita lakukan saat ini---adalah bagian yang paling dasar. Dan juga yang paling ringan. Lagipula, Wan-jie juga sudah setuju mengenai hal ini. Semuanya akan baik-baik saja, Ting-jie." "...baiklah kalau kamu berkata demikian. Mohon petunjuknya kalau begitu." Saat ini, terasa bahwa dirimu sedang dalam posisi duduk di suatu tempat. Walaupun tidak terlihat apa-apa karena matamu yang tertutup, namun dirimu bisa merasakan bahwa nampaknya saat ini dirimu berada pada suatu ruangan, seperti kamar. Kemudian, dirimu juga bisa merasakan ada aliran tenaga yang masuk dari dua titik di bagian punggungmu, diikuti dengan aliran yang hangat di dalam tubuhmu. Aliran tenaga dalam itu membuat tubuhmu terasa lebih lega dan bertenaga. Suasana yang tenang terus berlangsung, hingga sampai saat dirimu merasakan ada suatu sensasi yang tiba-tiba muncul. "Eh? Apa itu...?" batinmu. Kemudian, terasa dirimu menggerakkan kepalamu, mencoba untuk mencari sumber sensasi tersebut. Namun, perlahan-lahan dirimu juga merasa bahwa aliran hangat di dalam tubuhmu mulai terasa tidak beraturan. "Ga-gawat! Aku tidak boleh kehilangan konsentrasi! Jangan sampai beban Ting-jie tiba-tiba men---" Tiba-tiba, dirimu merasa aliran tenaga yang masuk dari arah punggungmu melonjak. Hal tersebut membuat aliran tenaga di dalam tubuhmu semakin kacau. "A-apa yang---" Detik berikutnya, terasa ledakan-ledakan yang terjadi di dalam tubuhmu, dan dirimu merasakan sakit yang amat sangat pada tubuhmu. Dirimu sontak membuka mata, dan nampak berusaha untuk melakukan sesuatu. Kemudian, dirimu merasakan bahwa golakan di dalam tubuhmu semakin membesar, dan mulai berbalik ke arah punggungmu. "Ga...wat...a...ku...ha...rus...Ting...jie...!" Tiba-tiba, dirimu merasakan ada ledakan yang mendorongmu dengan keras ke arah depan. Dirimu pun terpelanting dengan keras ke arah depan, diikuti dengan rasa sakit yang luar biasa. "Ch-Chu-er! Kamu tid---nghk!" Dirimu mendengar suara perempuan lain, diikuti dengan suara tubuh yang terjatuh. Dirimu yang hanya bisa menggeliat beberapa lama karena rasa sakit yang masih belum mereda itu hanya bisa mencoba untuk melihat ke arah suara tersebut. Dirimu melihat, seorang perempuan yang juga terjerembab ke lantai dan juga menggeliat kesakitan sembari mencoba meraih bagian punggungnya. Setelah beberapa saat, dirimu perlahan-lahan mulai bisa bergerak, dan mulai mendekati perempuan tersebut. Saat dirimu tiba di sampingnya, perempuan itu nampak telah kehilangan kesadarannya. Dirimu mencoba untuk menyentuh tubuhnya, namun tubuhnya, terutama bagian punggung sebelah kiri terasa sangat dingin, sehingga dirimu dengan cepat menarik tanganmu. "Di-dingin sekali! Apa yang..." Dirimu kembali mencoba mengulurkan tangannya ke punggung perempuan itu. Namun, kali ini dirimu dengan sangat berhati-hati membuka bajunya dari belakang, untuk memeriksa sumber rasa dingin yang menyelimuti tubuh perempuan itu. ...dan saat dirimu bisa melihat bagian punggung sebelah kiri perempuan itu, dirimu melihat---seperti sebuah tato, berbentuk burung hantu yang berubah-ubah warnanya. "...eh? Ini...tato? Sejak...kapan Ting-jie...memili---" Sebelum sempat dirimu selesai berbicara, tiba-tiba kepala dari 'tato' burung hantu itu berputar, yang membuatmu terkejut dan menjauh sesaat dari perempuan itu. "...itu...Tanda...Dewa...? Apa...yang..." Tiba-tiba, dirimu mendengar ada suara langkah yang mendekat ke arah ruangan tempatmu berada. Dirimu dengan cepat memperbaiki pakaian perempuan itu, dan mengalirkan tenaga dalam untuk menghangatkan bagian punggungnya. Saat dirimu merasa pakaian wanita itu sudah cukup normal, tiba-tiba dirimu merasakan pusing yang amat sangat, membuatmu rubuh ke lantai karena kehilangan keseimbangan, dan kesadaranmu pun perlahan-lahan menipis... Day 4; Wis Save DC 21 Dirimu mendengarkan suara isak tangis yang tertahan, dan dirimu juga berada pada posisi terduduk di satu ruangan sembari merangkul kedua lututmu. Sesekali, kedua tanganmu bergerak untuk menyeka air mata yang tidak henti-hentinya membasahi kedua pipimu. Dirimu pun semakin erat merangkul kedua lututmu, hingga akhirnya terdengar suara pintu yang bergeser.
Dirimu dengan cepat menyeka lagi kedua matamu, dan melihat ke arah pintu tersebut. Pada saat itu pula, dirimu melihat ada satu sosok perempuan yang berdiri di sana. Dirimu mengenal penampilan tersebut sebagai 'Yi Ping'. "Kenapa kamu menangis? Aku tidak pernah mendengar hal ini dari Wan-jie." "...ehehe, so-soalnya kan...bi-biasanya...tidak ada yang...bisa dengar..." Perempuan itu menghela napas sambil masuk dan menutup pintu kamar. Kemudian, ia duduk di sampingmu, sebelum kemudian merangkul dan menaruh kepalamu di pundaknya. "Ada apa?" "...aku...aku merasa...sepertinya...kondisi tubuhku...sudah semakin memburuk..." Perempuan itu hanya diam saja mendengarkanmu. "...mungkin...waktuku...tidak akan lama lagi..." "Jangan berkata begitu. Sebentar lagi kita pasti akan menemukan jalan keluar untuk memperbaiki tubuhmu." "...tapi..." "Hm?" "...ka-kalau dipikir kembali...ki-kita sekarang...ada di sini...semua...gara-gara...aku...bukan...? "Mm, bisa dibilang itu salah satu alasannya." "...la-lalu...aku...sudah dengar...apa yang terjadi...di [pagoda]..." "Oh" "...ka...kalau kita...tidak ke sini...Ting-jie...Ting-jie...dan...yang lain juga...tidak perlu...tidak perlu mengalami...u...uuu..." Dirimu tidak sanggup melanjutkan kata-katamu, dan hanya digantikan oleh isak tangis. "Tidak biasanya kamu berpikir seperti ini. Kamu pasti merasa kebingungan karena kondisimu yang semakin memburuk ya?" "...ka-kadang...suka terpikir...kalau...akhirnya...aku...tidak bisa...terselamatkan...untuk...untuk apa...Ting-jie...dan yang lainnya...menjalani...hal...seperti...ini...?" Perempuan itu tidak berkata apa-apa, dan hanya semakin erat merangkulmu. "...a-aku...dari dulu...hanya bisa...menyusahkan...yang...lain..." "...mu-mulai...dari...Ayah...Ibu...Wan-jie...Yan-jie...Ting-jie...da-dan...Teng-ge..." "...la-lalu...waktu aku...tiba-tiba...ambruk...setelah...melawan...siluman..." "Cukup. Hentikan" "...ma-maaf..." Perempuan itu kemudian menggeser kepalamu, sembari berpindah posisi ke hadapanmu dan memegang kedua pundakmu. "Janganlah kamu berputus asa seperti ini. Kalaupun yang lain gagal, aku pasti akan menemukan cara untuk menyembuhkanmu. Aku janji" "...Ti-Ting...jie...?" "Jadi, kamu tenang saja ya? Pasti akan ada jalan keluar. Aku tidak pernah mengingkari janjiku kan?" "...ingkar...sih...tidak...tapi...kadang...suka...lupa...ehehe..." "Ya-yah, kalau lupa sih, apa boleh buat" "...ehehehe..." Dirimu pun kembali menyeka air matamu, dan kemudian langsung memeluk perempuan itu. "...terima kasih...Ting-jie..." "Seperti yang sering dikatakan Wan-jie, sudah kewajiban seorang kakak untuk membantu adiknya yang berada dalam kesulitan." Perempuan itu mengatakan hal tersebut sambil membalas pelukanmu dan juga membelai kepalamu. "Jadi---mungkin aku akan sangat jarang berada di sampingmu untuk saat ini. Namun, saat aku ada, jangan pernah ragu untuk menceritakan kesulitanmu kepadaku, ya?" Dirimu pun hanya membalas dengan anggukan pelan, sembari masih ada di dalam pelukan perempuan tersebut. Kemudian, pandanganmu pun kembali mengabur... Kali ini, dirimu berada dalam posisi terlentang, dan dilapisi oleh semacam kain. Namun, di sekelilingmu bukanlah kamar atau ruangan tertutup, karena dirimu bisa melihat pepohonan dan juga mendengar suara api unggun. Dirimu mencium aroma sisa-sisa makanan yang masih tercium sangat wangi. Tubuhmu saat ini masih terasa sulit untuk digerakkan, seolah-olah tenagamu tidak ada yang tersisa sedikit pun. Dengan susah payah, dirimu melihat sekeliling, dan menemukan ada banyak orang di sekelilingmu yang juga terlelap. Dirimu kembali melihat ke arah langit, dan tidak lama kemudian, dirimu merasa kerongkonganmu sangat kering. "...a...ir...a-air..." Tiba-tiba, dirimu mendengar ada suara langkah yang mendekat. Dirimu pun kembali dengan susah payah menengok ke arah suara tersebut. Nampak se...seorang yang...entahlah, cahaya dari api unggun terlalu remang untuk melihat wanita itu dengan jelas. Sosok tersebut kemudian berlutut di sampingmu, dan mengangkat kepalamu sedikit sembari menyodorkan satu mangkuk berisi air ke arah mulutmu. Saat mulutmu sudah menempel pada mangkuk itu, ia pun perlahan menggerakkan mangkuk dengan hati-hati agar air yang ada di situ mengalir perlahan, masuk ke dalam mulutmu. Setelah beberapa lama, air di dalam mangkuk itupun habis, dan sosok itu kembali meletakkan kepalamu dengan hati-hati. Saat dirimu melihat ke arah sosok itu, dirimu pun mulai bisa menyadari bahwa sosok itu adalah seorang perempuan. "...ma...makasih ya...mbak..." Perempuan itu seperti yang hendak akan berdiri, namun gerakannya terhenti, dan ia kembali melihat ke arahmu. "Coba lihat dirimu sendiri sekarang. Lihat apa yang terjadi pada dirimu akibat kecerobohanmu sendiri" Dirimu mendengarkan suara perempuan itu---dan nampaknya dirimu cukup mengenali suara tersebut. "Dan coba lihat, apa yang terjadi kepada yang lain karena kamu menghilang seperti itu? Pada akhirnya, kamu hanya membuat susah orang lain" "Siapa yang menyuruhmu untuk pergi tanpa persiapan yang matang? Kenapa kamu tidak bertanya dulu kepada yang lain sebelum kamu pergi?" "...e...eh?" Perempuan itu berhenti sejenak sambil menghela napas panjang. "...tapi seharusnya aku berkaca dulu ya sebelum berbicara seperti itu..." "Lagipula, kamu begini juga gara-gara mencariku, kan?" "...Ti...ng...Ting...?" Perempuan itu kemudian memperbaiki posisi tidur dan selimutmu dengan hati-hati. "...maafkan aku..." Sebelum sempat dirimu mengatakan apapun, perempuan itu berdiri dan berjalan meninggalkan dirimu. Kamu hanya bisa memandangi punggung perempuan itu yang berjalan semakin jauh darimu. Dan setelah itu, pandanganmu pun mulai mengabur lagi. Kali ini, dirimu berada pada sebuah balkon, dengan seorang perempuan yang sedang memainkan dizi di depanmu. Setelah selesai, ia pun hanya menggenggam dizi miliknya dan menatap ke arah langit malam yang bertaburan bintang. Dirimu pun perlahan mendekatinya, dan kemudian berdiri di sampingnya. "...bagaimana dengan permainanku barusan, Wan-jie?" "Sangat bagus, sepertinya itu permainan terbagusmu yang pernah kudengar. Terutama jika dibandingkan dengan saat pertama kali kamu memainkan alunan lagu itu." "Itu sudah tiga tahun yang lalu, Wan-jie. Wajar saja bukan jika permainanku semakin bagus?" "Haha. Ya, kakak rasa itu juga salah satu penyebabnya. Namun, ada yang lebih dari itu" "Hm? Apa maksudmu, Wan-jie?" "Kamu tadi bermain dengan mencurahkan segala hati dan perasaanmu pada permainan yang tadi, dan itu kamu mainkan bukan untuk kakak ataupun saudari-saudarimu yang lain." "Uh huh? Lalu?" "Mungkin ini hanya perasaan kakak saja, tapi...kakak sendiri merasa kamu sudah banyak berubah dibandingkan pada saat kita baru meninggalkan Xi Chuan." "Oh ya? Aku merasa sama saja sepertinya." "Ahaha, benarkah? Kakak malah merasa, bahwa kamu sekarang sudah lebih bisa menerima kehadiran orang lain dalam kehidupanmu." "Itu...hanya perasaan Wan-jie, itu saja." Dirimu hanya tertawa kecil mendengarkan ucapan perempuan itu. "Oh ya, Wan-jie. Tiba-tiba aku terpikir sesuatu---apa kira-kira memungkinkan jika kita suatu saat kembali sebentar---ke Xi Chuan?" "Hm? Entah juga...kakak pun belum pernah terpikirkan seperti itu. Ada apakah gerangan?" "Tidak ada apa-apa...hanya saja, kita sudah tiga tahun meninggalkan Xi Chuan---dan sudah selama itu juga kita tidak pernah mengunjungi Ayah maupun Ibu..." "...ah, benar juga...bagaimana kakak bisa lupa soal itu..." "Apa boleh buat, Wan-jie. Banyak hal yang terjadi selama tiga tahun ke belakang ini. Wajar saja kalau sampai terlupa hal yang seperti itu." "Haha, tetap saja, itu bukanlah alasan untuk sampai lupa dengan hal penting seperti ini..." Kemudian, dirimu melihat ke arah langit. "Hmm, mungkin nanti perlu kita bicarakan kepada Teng-xiongdi. Bagaimanapun juga...kita meninggalkan Xi Chuan dalam kondisi yang---tidak biasa saat itu..." "Begitu ya..." Perempuan itu kembali melihat ke atas langit, sebelum berbalik untuk meninggalkan balkon. "Mungkin sebaiknya aku beristirahat dulu. Sekali lagi---terima kasih, Wan-jie." Dirimu pun berputar dan menghadap ke arahnya. Sebelum dirimu sempat berkata apapun, perempuan itu sudah berjalan ke arahmu dan memelukmu. "...maaf jika selama ini aku telah banyak menyusahkanmu..." "A-ada apa ini tiba-tiba, Ting Er...? Kamu benar tidak apa-apa...?" Perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "...tidak ada apa-apa, hanya ingin berkata seperti itu saja..." Setelah mendengar itu, dirimu hanya tersenyum sambil membalas pelukannya. "Tidak apa-apa, Ting Er. Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Adalah kewajiban seorang kakak untuk membantu adiknya yang sedang berada dalam kesulitan. Jadi, tidak perlu meminta maaf seperti ini, ya?" Perempuan itu hanya mengangguk pelan dalam pelukanmu. Kemudian dirimu pun melihat ke arah langit, yang masih diterangi oleh taburan bintang. Kemudian, perlahan-lahan pandanganmu pun mulai mengabur... Kali ini, dirimu kembali berada di sebuah balkon, yang mungkin sama seperti yang sebelumnya. Kali ini, di hadapanmu, ada seorang perempuan berambut panjang, yang mengenakan atasan dan rok panjang berwarna hijau, dengan perut dan punggung bagian bawahnya yang dibiarkan terbuka. "Saya dengar, kamu mencari saya, Ting Er. Ada yang bisa saya bantu?" Perempuan itu berbalik dan kini ia menghadap ke arahmu. "Oh, anda rupanya." Ia pun kembali kembali berputar dan memunggungimu lagi. "Ya, begitulah. Saya memang mencari anda, walaupun mungkin alasannya tidak terlalu penting." "Katakan saja. Apabila dirimu membutuhkan bantuan, saya akan melakukan yang saya bisa." "Saya hanya ingin...memastikan sesuatu saja." "Yaitu?" "...mengenai janji anda saat itu...pada hari saat ibu kami meninggal..." "...ah...soal itu...apakah ada sesuatu?" Perempuan itu menengok ke arah dirimu. "Saya hanya ingin memastikan---bahwa anda akan tetap menjaga saudari-saudari saya---terutama Wan-jie...apapun yang terjadi, bukan?" "Tentu saja, termasuk juga dengan dirimu, Ting Er." "Kalau begitu, apabila terjadi sesuatu dengan saya, anda tidak akan menjaga mereka? Begitu?" "...mengapa kamu berkata seperti itu, Ting Er? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Perempuan itu kembali membelakangimu sambil memegang pagar pembatas balkon. "Tidak ada apa-apa. Hanya bertanya soal suatu kemungkinan saja. Apalagi saya sangat jarang berada di Duwang." Dirimu hanya terdiam saja. Kemudian, perempuan itu kembali berbalik menghadap ke arahmu. "Baiklah, begini saja. Apabila suatu saat terjadi sesuatu dengan diri saya, maka anda harus membayarnya dengan cara...berjanji untuk menjaga Wan-jie, Ma Yan, dan Chu-er, apapun yang terjadi. Bagaimana? Dengan demikian, anda tidak perlu merasa terlalu bersalah karena anda tidak dapat menepati janji anda kepada mendiang ibu saya." "...rasanya itu tidak menyelesaikan apa-apa..." "Jadi? Anda akan berhenti untuk melindungi saudari-saudari saya jika terjadi apa-apa dengan saya?" "...baiklah, jika itu maumu, Ting Er. Aku akan berjanji kepadamu untuk melindungi Wan-jiemei, Yan-er, dan juga Chu-er, apapun yang terjadi ke depannya. Apakah itu cukup bagimu?" "Baiklah, cukup bagus untuk saya." Perempuan itu kembali membelakangimu, namun kali ini sepertinya ia melihat sesuatu dari arah bawah, dan melambaikan tangannya sedikit ke arah tersebut. Kemudian, ia menengok kembali ke arahmu. "Hm? Ada apa?" "Sepertinya ada yang sedang mencari anda." "Hm? Siapa?" "Kemarilah dan lihat saja sendiri." Dirimu berjalan perlahan menuju ke sampingnya. Kemudian, dirimu melihat ke arah yang perempuan itu lihat. Dan di bawah sana, dirimu melihat ada seorang perempuan lain---dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi. Perempuan itu memberi salam dengan tata cara seperti seorang penampil, dan dirimu pun membalas salam tersebut. Kemudian, tatapan kalian pun saling bertemu untuk beberapa lama, sebelum akhirnya perempuan itu kembali berbalik dan berjalan menjauhi kalian. "Tidak mau mengejarnya? Nanti sia-sia dia sudah berkeliling kota hanya untuk mencari anda." "Hm? Mungkin besok saja saya menemuinya. Dia...sepertinya terburu-buru" "Begitu ya? Yah, terserah anda saja lah" "Ada lagi yang bisa saya bantu, Ting Er?" "Tidak, tidak ada apa-apa lagi." "Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." Dirimu pun memberikan salam kepada perempuan itu, sebelum melangkah untuk pergi meninggalkannya. "Oh ya, Guan Teng" Dirimu berhenti melangkah, lalu berbalik menghadap kepada perempuan itu. "...terima kasih karena sudah mau datang ke sini dan mendengarkan permintaan saya." Perempuan itu memberikan salam kepadamu. Melihat itu, dirimu pun membalasnya dengan salam yang serupa. "Tidak apa-apa. Senang bisa membantumu, Ting Er." Perempuan itu tidak berkata apa-apa lagi, dan kembali berbalik dan melihat ke arah langit. Sementara, dirimu pun kembali berbalik dan lanjut berjalan. Dan setelah itu---pandanganmu pun perlahan-lahan menjadi kabur... Edited by Western Wind, Nov 3 2017, 08:47 PM.
|
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Xīfēng Jùyuàn · Next Topic » |







2:13 AM Jul 12