Welcome Guest [Log In] [Register]

CAMP JUPITER

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event


Senatus Populusque Romanus!
GENERAL ANNOUNCEMENT

Timeline Term 2.2: 2013/2014
Jadwal New IndoOlympians

Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP
Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB

Jangan sampai terlewat!
Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi


CAMP HALFBLOOD

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event

Jangan kasih makan Satyr, ingat!
Selamat datang di New Indoolympians!

New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya?

Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB

Join our adventure!


Jika sudah terdaftar, silakan login:

Username:   Password:
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 3
  • 4
Petualangan Pertama Term 2.2
Topic Started: May 6 2017, 10:34 PM (417 Views)
Jupiter
Member Avatar
King of the Gods; God of Sky and Lightning
Selamat Datang di Petualangan Pertama Karakter Yunani Term 2
Silakan cek Panduan Umum untuk lebih lengkapnya!

Reply di bawah post ini untuk menceritakan petualangan pertama karakter anda.
Offline Profile Goto Top
 
Finn Johnson
Member Avatar

[MIMPI]


Sudah menjadi kebiasaannya untuk menunggu Kate pulang dari kantor, tapi tidak untuk hari ini karena Finn telah melakukan banyak kegiatan hari ini. Finn bersepeda dengan anak tetangga sebelah, mengelilingi komplek rumahnya siapa cepat dia pemenangnya. Alhasil Finn memenangi taruhan soal bersepeda paling cepat, walau sangat terpaksa ia menyenggol bokong seorang pria yang sedang membeli roti. Karena ia memenangi balap sepeda tersebut, Finn mendapatkan panekuk gratis dilapisi oleh es krim vanilla dilumuri saus cokelat. Finn makan panekuk gratisnya di atas pohon tongkrongannya, sambil menunggu matahari tenggelam.

Walau tetangganya yang sekaligus menjadi rivalnya itu, cemberut kesal karena melihatnya mendapatkan panekuk dan diakhiri oleh suara pintu yang dibanting. Tapi Finn sama sekali tidak peduli karena itu sudah kesepakatannya dari awal, dan keduanya sudah menyetujui siapapun yang menang atau kalah harus tetap berteman.

“Finn jangan tidur di sofa, tidur di kamar saja. Biar tante yang menunggu mamahmu.”

Kiara yang tak lain adalah tantenya dan masih saudara dengan Kate, kali ini yang ikut menjaga Finn karena sedang tidak ada kerjaan juga. Wanita tersebut menyuruhnya untuk bangun dari sofa, dan bergegas ke kamarnya untuk tidur. Lantas Finn Johnson memasuki kamarnya setengah sadar, kedua matanya terbuka sedikit. Johnson kecil pun berbaring pada kasur empuknya, sambil memeluk guling menjadi kebiasaannya sejak kecil.

“Pssst!”

“Ngapain sih manggil-manggil.”

“Ayo kita harus cepat pergi ke perkemahan blasteran!”

“A—apa?”




—dug!

“Aw!” Finn terbangun dari tidurnya karena kepalanya terbentur oleh tembok, lantas ia bangun dari tidurnya dan masih bertanya-tanya pada benaknya mengenai perkemahan blasteran. Sebelumnya ia tidak pernah dengar soal perkemahan blasteran, tempat macam itu? Dia pelum pernah melihat berita maupun mendengar cerita dari orang-orang soal perkemahan blasteran.
Offline Profile Goto Top
 
Celia Adams
Member Avatar

[MIMPI]

"Kau tunggu di sini saja, ya. Jangan lupa, kerjakan tugasmu."

"'Ke, Mom."

Celia hanya mengangguk dan tersenyum dari tempatnya tiduran kasual di sofa panjang dekat pintu tatkala ibunya berlalu keluar, full-costume; interkom di langit-langit sana sudah mulai memainkan overture produksi kali ini. Ya, ini adalah satu dari banyak hari ketika Celia tidak pulang ke rumah selepas sekolah, melainkan mengunjungi gedung teater tempat ibunya bekerja. Broadway, Off-Broadway, sudah berapa banyak gedung yang ia jelajahi sejak zaman dahulu kala?

Tidak zaman dahulu kala juga, ding. Yang pasti Celia sudah terlalu terbiasa dengan hiruk pikuk di gedung teater sehingga lebih udah baginya untuk merasa nyaman di tempat-tempat seperti itu dibanding di apartemen ibunya yang sepi. Well, sesepi yang mungkin dialami di New York; lagipula, lokasi sekolah Celia yang juga di Manhattan lebih dekat ke teater yang satu ini dibandingkan ke Brooklyn.

"Panggilan final untuk Cecily Adams dan Matt Jones, segera ke wing kanan..."

Yak, bahkan percampuran antara pemberitahuan stage manager dengan orkestra yang musiknya semakin mendayu-dayu itu juga sudah biasa. Hanya saja, malam ini berbeda. Kala Celia melihat piano elektrik yang disimpan di sudut ruang ganti ibunya, rasanya ia tidak ingin lari dan bermain seperti biasanya. Rasanya... hanya ingin... tidur...
"Celia... Celia, kau harus pergi ke Long Island."

"Huh? Siapa di sana?"

Rasanya seperti mabuk—kalau Celia pernah mabuk. Seperti cerita ibunya ketika mabuk—dunia berputar, yang terlihat hanya warna-warna acak. Dan suara-suara aneh. Musik? Apa ia mendengar musik?

"Perkemahan Blasteran, Celia. Ini penting. Kau harus ke sana, sebelum—"

Suara itu makin sayup-sayup dan Celia semakin bingung—panik. Warna-warna yang ia lihat berpusar semakin cepat.

"Sebelum apa? HEI! Jangan pergi dulu—"

"...Sebelum makhluk baik menemukanmu."

"H-hah?"

Celia terduduk tegak, linglung. Kelopak matanya mengedip sekali, dua kali, sebelum akhirnya pandangannya terfokus pada orang di hadapannya: Seorang stage hand yang sampai sekarang Celia tidak tahu umurnya, sering dipanggil Sam oleh kru-kru teater. Sam adalah orang yang paling Celia percaya di gedung ini—Sam pula lah yang suka mengantarnya keliling setiap sudut gedung, yang jalannya cepat meski pincang.

"Sam? Tadi kau bilang apa? Makhluk—"

"Makhluk Baik, Celia Kecil. Yah, bukan makhluk yang baik, sih, itu hanya nama yang kami berikan untuk mereka. Makhluk yang suka memburu anak-anak sepertimu. Blasteran."

"Anak-anak sepertiku? Blasteran?" Celia mulai tertawa. Pelan, awalnya. Terus jadi kencang—seperti kebiasaannya. "Kau meracau apa, Sam? Aku tidak tahu ayahku siapa, dan ibuku juga jelas-jelas orang Amerika asli."

"Bukan blasteran yang begitu yang aku maksud." Sam mendesah. "Lebih baik kita tunggu ibumu selesai pentas sebelum aku jelaskan."

Celia berhenti tertawa, kemudian diam. Matanya mempelajari Sam baik-baik, berusaha menilai apakah ia sedang bercanda. Sepuluh detik berlalu, lalu sepuluh lagi.

"Oke. Tapi kalau kau ternyata bercanda, kau harus membelikanku satu tub es krim besok."
Edited by Celia Adams, May 13 2017, 09:03 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Diaz Hedlund
Member Avatar

DI KEJAR MONSTER

Cantik atau jelek itu relatif. Setidaknya itu yang ia pelajari ketika Diaz Hedlund memiliki ruang main yang notabene galeri seni, dimana seni kontemporer yang terkadang malas dan carut-marut bisa saja dihargai ribuan dollar. Jadi anak lelaki sebelas tahun itu sedang menelisisik sang sosok bermata satu —persis seperti yang biasa dilakukan ayahnya, Artur Hedlund ketika kedatangan benda seni baru —sebelum kerahnya ditarik oleh anak lelaki satpam galeri.

“Buat apa kamu lihat-lihat!? Lari!” Eduard mendelik, sementara Diaz kini menampis tangan berkulit aren itu agar dirinya tak lanjut tercekik. Berjengit sedikit ketika disentuh kasta sudra.

“Memang apa salahnya melihat?” membenarkan kerah-nya, dengan tatapan biru safirnya yang selalu terlihat merendahkan —walau si bocah Hedlund masih perlu mendongak untuk menatap Eduard Torres yang usianya tujuh belas. Tapi Diaz tak lanjut bertanya dan Eduard pun kini bisa melempar tanggung jawabnya untuk menjelaskan kelakuannya yang kasar, ketika si mata satu itu mulai berubah beringas dan mengejar mereka seperti anjing rabies yang pernah ia lihat di acara TV.

—hingga kakinya pun ikut berlari tanpa sadar. Membuatnya terengah pula.

“Hell.” Diaz lalu mengerutu. Si anak lelaki yang awalnya berniat meminta pemuda Torres untuk memperpendek langkah kakinya kini menyerengit. “Sejak kapan kau punya kaki kambing? Sedang tren?” menyeplos asal, walau nada kanak-kanak jernih milik putra Artur Hedlund itu selalu membuat para ibu-ibu menitiskan air mata di gereja. Eduard nyaris mengembik. Wajah bocah itu boleh tersenyum seperti malaikat jibril, walau sang satir sudah terlalu terbiasa untuk menerka nada menyebalkan di balik topeng cakap milik Hedlund muda.

“Lari dulu, bocah.”

“Aku sedang berlari kalau matamu tak berubah juga jadi telur ayam, Eduard sayang.” melantun manis, sembari Diaz menengok kebelakang. Monster mata satu itu terlihat begitu mencolok di siang hari bolong dengan para pedestrian di grand street sedang membludak pada jam makan siang.

Tapi tak ada yang bergeming, dan itu aneh.

“Ayo masuk.” tubuhnya kini didorong untuk masuk ke Audi hitam.

“Tak perlu dorong, bukakan saja pintunya Eduard.” hingga si setengah kambing kini membuka pintu belakang dengan dengusan, mempersilakan si tuan muda Hedlund, sebelum Eduard Torres kini mengambil posisi di depan setir, bersiap menginjak gas untuk meninggalkan monster mata satu yang kini terkesan melambai-lambai akrab dari kejauhan. “Apa itu tadi? Ilusi heatstroke?”

“Bukan, itu makhluk baik.”

“… yang benar saja, kenapa namanya makhluk baik. Apanya yang makhluk baik??”

Anaphora.
Edited by Diaz Hedlund, May 13 2017, 09:41 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Anastasia Chamberlain
Member Avatar

[DIKEJAR MONSTER]
"Kau makan apa tadi?"

Anastasia Chamberlain, usia dua belas tahun, berdiri di depan pintu apartemennya dengan ekspresi bosan. Di hadapannya adalah seorang anak laki-laki berambut keriting dengan tubuh yang tinggi dan kurus, baru saja mengajaknya untuk kabur dari rumah.

Bernie, nama anak itu, mendesah panjang sebelum ia melanjutkan argumennya, "aku serius, Anya! Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi kita harus pergi sekarang—"

"Aku juga serius, Bernie. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku merasa bosan dan tidak ingin pergi," balas Anya dengan tatapan yang seolah berkata `kau-pasti-bercanda`.

"Anya, aku akan menjelaskannya, tapi tidak bisa sekarang. Yang paling penting adalah kita pergi dari tempat ini. Nanti aku akan mentraktirmu makanan, deh!" pinta Bernie, tampak terburu-buru dan putus asa. Alis Anya terangkat, heran dengan lagak anak itu. Tidak biasanya ia melihat Bernie, yang biasanya pemalu dan terbata-bata saat berbicara, bisa mengajaknya kabur dari rumah. Padahal, anak ini termasuk anak baik-baik.

Desah pelan terlepas dari bibirnya. Anya lalu menoleh ke dalam apartemen, manik hazelnya mencari-cari jam dinding—pukul tiga sore. Ia sudah bertahun-tahun melakukan ini—Hanna, pengasuh yang telah mengurusnya sejak kecil, akan datang sebentar lagi. Ia paling malas kalau harus berhadapan dengan wanita gemuk satu itu, apalagi hari ini. Suasana hatinya saat ini bosan, malas bergerak kemana-mana.

Tapi, mata Bernie yang tampak memohon itu...

.

.

Anya baru paham apa yang dimaksud Bernie ketika mereka melangkah keluar dari kawasan apartemen. Ia bisa mendengar suara meraung keras dari arah kiri, disusul dengan lemparan beton berukuran raksasa ke arah mereka—dan saat itu Bernie menarik tangannya dan membawanya pergi.

"Tadi itu apa!?" tanyanya, di sela-sela napas yang memburu. Anya hendak menoleh ke belakang, tapi Bernie tidak memperbolehkan. ("Tetap lihat ke depan!") Ia bingung, tapi di saat yang sama, curiga dengan kepribadian Bernie yang sebenarnya. Apa selama ini, semuanya itu palsu? Yang lebih aneh lagi, meskipun ada monster yang sedang berlari di trotoar pejalan kaki, tidak ada satupun yang melarikan diri. Aneh.

Bernie masih berlari di depan, tangannya menggenggam pergelangan Anya. Tanpa menoleh ke belakang, anak itu menjawab, "makhluk baik."

Keningnya mengernyit. "Kau tahu, kau tidak perlu memberi nama sebagus itu untuk monster," ujar Anya sambil memeragakan gerak-gerik monster, "dan kau berutang penjelasan padaku, Bernie. Kapan kita istirahat?"

Bernie hanya tersenyum canggung. "Anya... kita harus pergi ke New York dulu."

Anya melepas pegangan tangan Bernie, masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia sengaja menunjukkan ekspresi sok dramatis yang pernah Tatiana Chamberlain gunakan. "Kau siapa?"

"Aku Bernie! Sumpah, demi dewa-dewi, Anastasia Chamberlain—menurut saja untuk sekali ini, oke? Aku akan traktir makanan. Anggap saja kita sedang jalan-jalan."

Anya hanya mendesah.

Offline Profile Goto Top
 
Josephine Banks
Member Avatar

[DIKEJAR MONSTER]

Di bawah tiang lampu jalanan, berdiri seorang gadis dengan tas yang disampirkankan bagai selempang. Ia berdiri di pinggir jalan bukan tanpa maksud. Menunggu lampu merah jalanan, hingga ia bisa menyeberang jalan tanpa harus takut tertabrak. Di jam-jam seperti ini penyeberang jalan memang lebih sepi. Sekerang saja hanya ada ia dan segerombol anak-anak kecil yang tanpa pengawasan bersiap untuk menyeberang jalan.

Hey. Tak habis pikir di mana para orang tua dan pemandu jalanan saat ini? Tsk. Gadis ini merapat kea rah mereka, memastikan semuanya tidak ada yang menyeberang sebelum lampu merah. Jalanan begitu padat kendaraan hilir mudik silih berganti berkejar-kejaran dengan kecepatan tinggi. Bagaimana tidak bahaya. Apa orang tua zaman sekarang banyak yang tidak waras?

Enam orang anak kecil yang bersiap berangkat menuju sekolah taman kanak-kanak. Dari seragam mereka ia tahu bahwa anak-anak ini bersekolah di sekolah St. Angela seberang jalan sana. “Di mana orang tua kalian?” Josephine, gadis ini, menghela napas. “Baiklah, semuanya. Berpegangan tangan. Tidak boleh ada yang lepas, okey?” Josephine berseru, dan anak-anak itu mengangguk dengan raut wajah yang semula ceria menjadi sedikit tegang. Josephine adalah seorang yang jarang tersenyum, untuk kali ini entah mengapa bibirnya reflek tersenyum ketika melihat anak-anak itu menuruti kata-katanya.

Lampu jalanan menandakan penyebrang jalan untuk dipersilakan berjalan. Joshepin menuntun, memegang tangan dua anak dari mereka. Sementara yang lain berpegangan saling menuntun. Hingga akhirnya mereka sampai di seberang jalan dengan aman. Ia kembali menghela napa, dan hanya tersenyum ketika anak-anak itu mengucapkan terimakasih seperti paduan suara.

Ia harus lekas, sebelum Galeri yang ditujunya terkunci. Karena pameran sudah berlangsung beberapa menit lalu. Ya, ia terlambat. Untung saja dari sini tidak terlalu jauh. Hingga sampailah ia di depan sebuah Galeri. Sepi. Perlahan ia membuka pintu masuk. Dan benar-benar sepi seperti taka da kehidupan. Apa ia salah alamat? Tak lama seorang laki-laki mengejutkannya. “Rowan?” Ia kenal siapa laki-laki itu.

”Lari!!” Sontak, Jospehine membuka matanya lebar-lebar. Ia tersentak kaget? “Eh? Ada apa?” tapi diucapkannya sambil berlari. Ia menoleh, dan mendapati sesuatu bergerak lamban lalu berubah cepat. “Rowan!” Ia bertanya kembali. Namun Rown yang dilihatnya tiba-tiba merubah tampilan kakinya. “Kau siapa?!” ia benar-benar kebingugan, Rowan berubah menjadi manusia kambing?

”Ini, aku. Kau harus percaya kepadaku, Josephine! Kita harus meninggalkan kota ini sekarang juga!” Sambil berlari. Josephine tersengal, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya selain berlari.
Offline Profile Goto Top
 
Aubrielle North
Member Avatar

[dikejar momon]

“Oi! North!”

Hah?

Gadis belia yang tengah memilih kertas origami warna-warni di sebuah toko buku itu terpaksa memalingkan pandangan karena satu panggilan. Ada seorang pria paruh baya berkaki pincang berjalan mendekatinya. Apa North kenal? Enggak. Ini New York, kota besar yang sekedar jadi tempat persinggahan mereka dalam perjalanan mengantarkan hasil ladang. North tidak kenal siapapun di sini kecuali Pa (meski sedari tadi penjaga toko berwajah manis itu bersikap ramah padanya, anak kampung seperti North hanya termanggu culun).

Jadi... dia siapa?

North mengerut ke sudut meja seperti hamster ketakutan. Dua dollar di tangannya diremas kuat seraya mencari jalan keluar. Ma bilang tidak boleh percaya orang asing, terutama di kota besar, sebab ada banyak penjahat mengincar anak kecil seperti North. “K-kamu siapa... kenapa kenal...?” Suaranya berupa cicitan tanpa disasari. North menyesal tak membawa kotak perkakasnya ke dalam toko, padahal dalam situasi gawat seperti sekarang North bisa menggunakannya saat terdesak.

“Ayo cepat kabur, sebelum dia datang lagi!”

Si anak perempuan nyaris menjerit nyaring kalau saja bekapan kuat tak menghalangi. North memberontak kuat-kuat, namun kalah tenaga dengan pria itu.

Penculikan!!

“Hmph! Tolo—hmpp.”

Tangannya menggapai, sepuluh senti lagi berhasil menggapai barang pajangan. Sayangnya North keburu diseret menjauh keluar dari toko. Ke mana si penjaga? Di mana Pa? North diculik pria asing! Organ tubuhnya akan dijual?! “Hmmppppph!” Berbagai pikiran buruk berseliweran, semakin lama makin liar. Begitu pula tindak memberontaknya. “Sstttt! Kau akan menarik perhatian dia. Bisikan kuat diberikan pada North, bukan jenis kalimat yang akan menenangkannya. Dia siapa, coba? Pria ini pasti mengada-ada!

“Kauuuuuuu!”

Geraman baru menghentak. North terkesiap.

“Demigod lezatttt sssssh, mati kau!”

Satu hal yang ditangkap North, nenek jelek bertaring itu memakai seragam toko buku di belakangnya, berwarna kuning cerah seolah mengejeknya.

“Kabur!”

Astaga!
Offline Profile Goto Top
 
Esben Fronimakis
Member Avatar

[Dikejar Monster]


Sembur!

PffhkK!” Ia mengusap bibirnya seketika. Lidahnya terbakar. Kopi pahit minuman wajib pagi hari.

”Jorok! Masih panas, bego.”

Stinky si remaja julung-julung selalu mengajak ke kedai kopi yang selalu buka dua puluh empat jam di pinggir jalanan Abbey Mount. Dan yang barusan, sepertiga kopi dari cangkirnya terbuang sia-sia karena ketidaksabaran anak laki-laki bernama Esben yang memsan kopi pahit panas seperti biasa. Harganya tidak seberap, tapi seharusnya cicipan pertama kopi itu harusnya menjadi kenikmatan lahir-bathin tersendiri. Orang-orang selalu mengekspresikan rasa nikmatnya dengan desahan ketika kopi itu meluncur mantap ke dalam kerongkongan.

Mereka hanya berdua, tidak seperti biasanya. Paling teman-temannya ketiduran di hari sabtu pagi setelah semalam mengganggu tetangga dengan membuat kegaduhan berupa perkusi dadakan dari galon kosong dan wajan-wajan serta spatula besi. Dan yang bertahan hidup adalah Esben dan Stinky, nongkrong di kedai maha gaul.

“Esben!” si jangkung Mikkel memanggilnya. “Hoy! Sini ikut ngopi.” Yang bersangkutan memanggilnya dari luar kaca jendela kedai. Dengan tampang serius, sekaligus menegangkan, Mikkel bergulir dari luar menuju dalam kedai dan benar-benar menghampirinya.

”Ini serius. Kau haru pergi dari kota ini, sekarang juga.”

Esben bingung, apa geragan yang membuat Mikkel yang pendiam menjadi seperti ini. Keluar kota? Memangnya ada apa? Ia menjadi tawanan kota?

“Ya, ya. Kita mau ke mana? Ke Makam Michael Jackson?”

Ucapnya dengan nada santai. Ini pertama kali Mikkel seperti ini. Dan tidak mungkin pula Mikkle bergurau, anak itu tidak pernah bercanda, selalu serius dan apa yang diucapkannya selalu benar. Maka, Esben benar-benar memikirkannya lagi.

”Aku tidak pernah bercanda! Sekarang ikuti aku.” ucap Mikkel dan secara tiba-tiba sesuatu muncul dari balik dinding kedai yang sedikit lapang. Esben terbelalak, begitu juga dengan Mikkel sedangkan Stinky seakan tidak merasakan apa-apa, bocah itu hanya menikmati kembali kopinya. “Mikkeljelaskan padaku, apa itu!” dengan lekas, Mikkel menari lengan Esben untuk keluar dari kedai. Sesegera mungkin mereka berlari. Sementara Stinky kebingungan karena tidak merasakan apapun dan kedua temannya itu melah berlalu meninggalkannya.

“Apa itu?!” kembali Esben bertanya penasaran. Namun Mikkel tetap berlari dan Esben mengikutinya. Kejanggalan terjadi, Mikkel berkaki kambing. Sekali lagiberkaki kambing.

“Oh! Gila! Ini benar-benar gila, woy! Kau ini siapa?!”
Offline Profile Goto Top
 
Amabelle Verte
Member Avatar

[DIKEJAR MONSTER]


"Aku menyerah!" tukas Amabelle Verte sembari melempar pensilnya ke atas meja dengan kasar, mengabaikan tatapan tidak menyenangkan dari guru privatnya yang tengah membaca sebuah buku dengan judul yang tidak dipahaminya.

...

"Kubilang aku menyerah, cukup sampai di sini saja belajarnya. Kau bisa pulang." setelahnya ia menutup kasar buku pelajaran sastra dan mulai merapikan buku-buku pelajaran serta alat tulisnya. Disleksianya memaksa untuk berhenti berkencan dengan tugas mengarang yang harusnya dikumpul lusa, dan disleksianya pulalah yang membuat kepalanya sedikit pening. Saat ini yang paling dibutuhkan adalah istirahat atau menikmati kartun favoritnya sembari makan camilan di ruang keluarga, bukannya terus-menerus berduaan dengan Robert—guru privatnya yang terlihat tidak dekat dengan anak-anak. Bah, darimana ayahnya mendapatkan guru privat macam Robert?

"Kau tidak dengar, ya?" kali ini ia sudah berdiri, berkacak pinggang, dan bersiap untuk menarik paksa buku yang tengah dibaca Robert. Saat kakinya melangkah mendekati Robert, tiba-tiba saja pemuda delapan belas tahun itu menutup kasar bukunya—membuat Belle terlonjak kaget dan memasang ekspresi luar biasa kaget. "Bahaya."

Dahinya berkerut ganjil ketika mendengar kalimat super singkat yang dilontarkan Robert. Bahaya katanya. Ia tidak tahu maksud kalimat Robert, sungguh. Karena saat ini mereka tengah berada di kediaman Verte dengan deretan pengawal yang sedang bersantai di ruang belakang serta beberapa satpam yang berjaga di gerbang masuk. Kalaupun ada perampok, yang ada perampok tersebut sudah terlanjur babak-belur sebelum diserahkan ke pihak berwajib. "Maksudmu bahaya kalau aku tidak menyelesaikan pr mengarangku? Memang bahaya sih, karena aku akan mendapat hukuman lagi dari Mrs. Gardner. Tapi aku sudah biasa mendapat hukuman kok, jangan khawatir."

"Kita pergi dari sini." Robert kemudian bangkit, memasukkan ponsel milik Belle ke dalam saku jaket yang tergeletak begitu saja di sofa sebelum akhirnya menyerahkan jaket berwarna merah muda itu ke dalam pelukan lawan bicaranya. Memberi isyarat pada muridnya untuk segera memakai jaket tersebut. Setelahnya memaksa tubuh kecil itu masuk ke dalam Audi hitam pribadinya.

"Kita mau jalan-jalan? Kau mau mentraktirku es krim?" berseru gembira ketika Robert menutup pintu,"Rob—oh, astaga!" kedua tangannya kini tertangkup di depan mulut, tak percaya dengan wujud hakiki yang telah duduk di sebelahnya dan mulai menyalakan mesin.

"Aku mau buat pengakuan."

"Kalau kau manusia setengah err..." otaknya berusaha mencari kata yang pas, namun tidak ketemu. "kambing? Tidak masalah, aku tak akan mengadukannya ke Papa supaya kau tidak dipecat. Tenang saja."

"Bukan, nona muda. Kau blasteran, dan aku tengah menyelamatkan nyawamu dari makhluk baik."

Blasteran?

Makhluk baik?


Kepalanya dimiringkan empat puluh lima derajat,"Aku memang blasteran, kok. Papaku setengah Prancis." kalimatnya diakhiri dengan sebuah senyum lucu, yang seharusnya ikut mengundang tawa orang yang melihatnya. Tetapi Robert sama sekali tidak terpengaruh dengan senyum lucu andalannya, tsk.

Frustasi, gadis itu bisa melihat ekspresi luar biasa frustasi yang tergambar dengan jelas di wajah Robert. Tapi ucapannya tidak sepenuhnya salah, kan? Toh kakeknya memang orang Prancis asli, papanya setengah Prancis, dan dirinya sendiri seperempat Prancis. Ada yang salah?

"Lihat ke spion."

OH!

Irisnya yang sewarna emerald nyaris tak berkedip ketika melihat makhluk bermata satu yang tengah berlari sekuat tenaga di tengah padatnya lalu lintas jalan raya dari kaca spion mobil. Anehnya, orang-orang sama sekali tak terganggu dengan keberadaan makhluk yang jelas-jelas masuk dalam kategori luar biasa besar itu. Apa makhluk itu tembus pandang? Ilusi? Hologram?

"Kenap—"

"Diam dan jangan ganggu konsentrasiku kalau kau tidak mau remuk di tangan makhluk baik."

Setelahnya Belle bersedekap, bibirnya mengerucut lucu. Astaga, ia benar-benar tidak mengerti dengan kejadian yang tengah terjadi di sini.
Offline Profile Goto Top
 
Arthur Wolfram
Member Avatar

[Dikejar Monster]

Miami hari itu panas. Sinar matahari membuat aspal hitam terasa seperti wajan penggorengan yang dipanaskan di atas kompor. Mobil dan sepeda motor berlalu-lalang di jalanan, menimbulkan suara bising yang familiar di jalanan kota. Arthur tidak terlalu memusingkan itu semua. Biarlah orang lain mengurus diri mereka masing-masing. Asalkan mereka tidak mengganggu Arthur, ia tidak mau repot-repot berurusan dengan mereka.

Arthur bersandar pada tembok bata. Saat ini ia sedang berada di salah satu gang yang sepi dan lenggang. Bocah 12 tahun itu melahap burger dengan lahap, mencoba untuk menghilangkan rasa lapar yang mengganggunya sejak pagi. Makanan gratis memang enak rasanya. Well, sebenarnya kata 'gratis' disini berarti makanan tersebut baru saja ia curi dari restoran cepat saji. Sesekali, Wolfram muda tersebut menenggak lemon yang melengkapi menu makan siangnya hari itu.

Dari ujung gang, muncul seorang pemuda dengan tubuh yang cukup tinggi dan berotot. Ia mengenakan snapback hitam dan baju putihnya nampak basah oleh keringat. Akhirnya Barrett kembali juga. Arthur kenal baik orang ini karena pemuda ini yang membantunya untuk melarikan diri dari Washington. Barrett memandangnya dengan muram dan bergegas mendatangi Arthur. Tongkat baseball miliknya sesekali mengenai tembok bata saat pemuda itu berjalan.

"Ayo Arty. Waktunya berangkat."

"Santai saja, polisi tidak bisa menemukan kita di sini."

"Bukan polisi yang aku khawatirkan, tetapi—"

Sesosok makhluk muncul sambil menggeram keras dari ujung gang yang lain. Tubuhnya yang tinggi besar memiliki kulit yang berwarna seperti muntah. Badannya kekar dan berotot, tetapi tidak terlihat manusiawi. Seolah-olah steroid adalah camilan orang ini sehari-hari. Matanya berwarna biru pucat.

Saat pertama kali melihatnya, Arthur tertawa keras-keras. Jelek sekali orang ini! Tetapi setelah diperhatikan lagi, matanya yang biru itu hanya ada satu di tengah. Segera saja tawanya menghilang.

"Jangan berbuat bodoh Arthur."

Ketika Barrett selesai mengatakan kalimat tersebut, sosok besar yang berada di sana segera menerjang ke arahnya. Sialan! Sudah aneh, suka mencari masalah pula!

Setelah 8 bulan berada di jalanan, Arthur dengan mudah mengelak dari terjangan sosok tersebut. Tubuhnya yang ramping membuatnya lebih mudah untuk bergerak di gang ini. Dengan satu kali lemparan, ia mengirimkan botol kaca (yang tadinya berisi limun) ke kepala makhluk tersebut.

Mampus.

Rasa senangnya tidak bertahan lama karena botol kaca tersebut tidak menimbulkan efek yang berarti pada sosok di depannya ini. Arthur mengangkat alis dan mengerutkan dahi. Apakah kepala orang ini terbuat dari batu?

Ia baru mau menyerang lagi ketiga Barrett menariknya mundur. Lengannya yang kuat menahan tubuh Arthur dan menyeretnya pergi meninggalkan gang tersebut. Arthur memberontak, merasa kesal karena pertarungannya belum selesai. Hanya pengecut yang kabur dari pertarungan.

Beberapa saat berselang, barulah ia sadar kalau Barrett sudah melepaskan celananya dan temannya itu ternyata memiliki kaki hewan berkuku belah. Ah, Arthur tidak mau repot-repot berkomentar. Mungkin burger yang ia makan barusan terkontaminasi jamur sehingga membuatnya berhalusinasi.

Benar-benar hari yang aneh.
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Free Forums with no limits on posts or members.
Go to Next Page
« Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic »
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 3
  • 4


|| Black Water created by tiptopolive of IDS || Modified by Zeus ||