Welcome Guest [Log In] [Register]

CAMP JUPITER

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event


Senatus Populusque Romanus!
GENERAL ANNOUNCEMENT

Timeline Term 2.2: 2013/2014
Jadwal New IndoOlympians

Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP
Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB

Jangan sampai terlewat!
Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi


CAMP HALFBLOOD

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event

Jangan kasih makan Satyr, ingat!
Selamat datang di New Indoolympians!

New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya?

Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB

Join our adventure!


Jika sudah terdaftar, silakan login:

Username:   Password:
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 2
  • 4
Petualangan Pertama Term 2.2
Topic Started: May 6 2017, 10:34 PM (421 Views)
Arnau Cartagena
Member Avatar

[Dikejar Monster]

Jantung Arnau Eloi berdegup kencang. Bagaimana tidak? Saat ia berjalan-jalan di tepian kebun anggur dengan Isabelle Feldgrau, adik tiri kesayangannya yang masih berusia tujuh tahun, ia mendengarkan suara-suara aneh yang bergemerisik di belakangnya. Kerimbunan kebun anggur membuatnya merasa semakin tidak aman, Arnau selalu menganggap bahwa pekerja-pekerja kebun mereka tidak akan membahayakan mereka. Meskipun itu adalah pikiran naif dari seorang bocah dua belas tahun.

Langkahnya menjauh dari kerimbunan, menyusuri deretan pohon palem yang ditanam berjejer sebagai peneduh. Isabel kini berada dalam lindungannya. Gadis berusia tujuh tahun sudah terlalu besar untuk digendong. "Isabelle, kau bisa berlari cepat tidak?" Arnau mendadak merasakan sebuah simpul di dasar perutnya. Gadis itu menggeleng pelan, ketika suara gemerisik itu semakin keras.

Dua makhluk mewujud seperti monyet yang seukuran tubuh manusia bisa tiba-tiba keluar dari kerimbunan. Mereka berjarak sekitar dua puluh meter, namun penglihatan Arnau Cartagena tidak mungkin salah. Setidaknya hingga kini, ia belum pernah salah membedakan mana monyet dan mana manusia.

"Lari Belle, lari!" serunya keras, sambil menarik tangan adiknya kuat-kuat. Ketika gadis itu mulai kehabisan napas, Arnau Eloi terpaksa berjongkok di depannya. "Cepat naik ke punggungku!" serunya yang segera dituruti oleh Isabelle. Arnau berbelok ke dalam salah satu barisan panjang sulur-sulur anggur untuk mengecoh musuhnya. Lari, lari, melangkah lebar, bernapas. Isabelle merintih ketakutan di belakang telinganya, membuat rasa horor itu berlipat ganda.

Ketika bocah itu sudah hampir mencapai ujung seberang perkebunan anggur milik keluarganya, ada satu tarikan kuat untuk menariknya melewati sulur-sulur anggur yang merimbun. Bukan manusia, namun ia berjalan dengan kedua kakinya. Kepalanya seolah mengecoh, mulai menyadari mungkin ini adalah mimpi. Namun jantungnya berdegup kencang, Isabelle masih menggigit pundaknya dengan keras karena ketakutan.

"Ayo cepat kemari!" ujar makhluk dengan bentuk kaki belakang seperti kambing yang jalannya sangat cepat. Arnau tidak lagi memikirkan siapa sosok tersebut, namun ia hanya mengikutinya selama keselematan mereka terjamin. Ia membimbing kedua bocah cilik itu ke arah istal kuda, mereka segera menerobosnya. Semula Arnau merasa aman karena pasti ada pekerja kebunnya yang sedang mengurus kuda, sayangnya nihil. Tidak ada siapa pun di sana, melainkan mereka bertiga dengan napas terengah-engah.

Makhluk itu menerobos hingga ke pintu belakang istal, keluar menuju setumpuk jerami setengah kering yang ditumpuk tinggi. Lantas makhluk itu membuka topinya.

"Ka-kau siapa?" tanya Arnau sambil kehabisan napas. "Maksudku, kau apa?"

Makhluk itu tampak tersinggung, "Aku adalah seorang Satyr. Namaku Melvin."

"Satyr?" nada suaranya meninggi. Semakin banyak penjelasan dari seorang Melvin, maka Arnau akan semakin banyak menelurkan pertanyaan baru.

"Nanti kujelaskan dalam perjalanan, sekarang ucapkan selamat tinggal pada adikmu. Antarkan dia ke tempat yang aman. Jika kau bisa, bawalah perbekalan. Jangan membawa telepon seluler. Tenang saja, adikmu tidak akan melihat apa yang kita lihat."

"A-aaku tidak paham."

"Cepat, sebelum Cercopes itu bisa mencium aromamu! Aku akan menahan mereka dan menunggumu di sini."

Isabelle mulai menangis ketakutan. Ia tidak yakin apa wujud kedua makhluk yang mengejarnya tadi. Namun Arnau Eloi tidak berpikir dua kali untuk berlari ke kediaman Cartagena, mencari pengasuh Isabelle. Mengambil beberapa makanan dari dalam lemari es, meninggalkan pesan yang ia tempelkan dengan magnet di kulkas.

Ibu, aku akan berkelana. Jangan khawatir, aku akan menghubungimu setelah semuanya aman. Tolong jaga Isabelle, mungkin dia akan sering bermimpi buruk beberapa hari terakhir nanti.


Salam sayang,

Arnau


Arnau Eloi Cartagena lantas berlari keluar rumah, mencari Melvin yang sudah melakukan ancang-ancang ingin menendang kedua makhluk aneh itu. Well, Melvin juga aneh, tapi setidaknya Melvin tidak tertarik untuk mencincang tubuhnya. Melvin segera mengajaknya berlari ke arah jalanan utama segera setelah menyemprot kedua makhluk itu menggunakan cat semprot berwarna kuning yang ditemukan Melvin di belakang istal.


Offline Profile Goto Top
 
Shannon Walker
Member Avatar

{ mimpi }

Tidak biasa tidur siang, tapi, ya, hari ini lumayan lelah entah kenapa. Suara televisi dalam waktu lima menit kurang terdengar sayup di telinga dan kelopak matanya berat. Shannon sempat mengucek matanya dua kali sebelum menyerah akhirnya. Bantalan sofa ditumpuk dengan lengan yang dilipat rapi sebagai alas kepala. Kipas angin di langit-langit ruang tengah semacam main-main dengan rambutnya tapi siapa yang peduli---sudah ngantuk. Bunyi 'tuk' yang berasal dari remote televisi yang jatuh dari sofa saja diabaikan.

Sekejab, lelap sudah.



...



"Mau bantu, tidak?"

"Bantu apa, ya?"

"Selamatkan dirimu sendiri. Pergi ke perkemahan blasteran."

"...Ya?"

Nadanya bertanya, bukan ya yang 'iya'. Dahinya berkerut. Dari membantu kakek menanam bunga favorit nenek di kebun sampai menjalankan aksi sosial macam membersihkan sekitaran sungai dari sampah plastik dan kaleng, ini yang... entahlah, Shannon tidak bilang permintaannya aneh. Hanya tidak familiar dan tidak bisa langsung dicerna. Memangnya dia kenapa, kok, harus diselamatkan segala? Seingatnya Brenda sudah tidak pernah menggencetnya sejak Patrick memberikan teguran soal jangan menganggu orang lain (dan Brenda naksir sama Patrick jadi manut, omong-omong).

"Percaya padaku, oke? Sebelum kamu dikejar Makhluk Baik."

---satu pertanyaan, Perkemahan Blasteran ini jenis perkemahan pramuka atau hanya titel kegiatan outbound?

"Aih, waktuku tidak banyak. Dengarkan baik-baik sekali lagi, ya; Perkemahan Blasteran sebelum Makhluk Baik mengejar."

"Makhluk baik itu ap---"




Guncangan.



Guncangan lagi, sedikit lebih kuat. Di bahu.



"Shannon Walker," loh, suara nenek? "Bangun. Jangan tidur di depan televisi. Sana, ke kamar."

"Y-hng?" ish, nenek. Mimpinya belum selesai padahal. "Tadiii..." Shannon mengusap pipinya yang mencetak motif garis-garis bantal sofa. "Aku mimpi." yha, Shan, very important mimpinya, ya, sampai harus laporan ke nenek segala? Mendingan makan puding di kulkas sebelum om yang makan.
Offline Profile Goto Top
 
Thandie Lawrence
Member Avatar

Mimpi


”Ke perkemahan…”

“Maaf?”

Suara itu terdengar begitu jelas, entah milik siapa. Pemiliknya tak tampak, sementara ia sendiri berada di sebuah ruangan penuh kaca, persis seperti ruang latihan di akademi balet.

”Perkemahan blasteran…”

“Apa ada yang berniat mengerjaiku?”

Ia pikir ini adalah pekerjaan guru tarinya. Miss Lawson terkadang bisa jadi sangat iseng. Namun, ini tidak lucu. Thandie merasa dipermainkan, sebab, hello, di mana si empunya suara berada? Perkemahan blasteran apa?

“Miss Lawson, tolong henti—“

”Cepat! Kita tidak punya waktu lagi!”

“Aku tidak menger—“

Duk!

”Tertidur, T?”

“Uh…” suaranya serak, kesadarannya belum seratus persen pulih. Dahi Thandie Lawrence baru saja mencium kaca mobil dengan epik. “Kurasa begitu.”

Ia melirik Bob dari kaca spion tengah. Pria botak itu tersenyum kepadanya dari kursi pengemudi. Thandie membalas senyum tersebut, sumir, masih agak-agak kesal dengan mimpi yang tidak jelas dan rasa nyeri yang berdenyar di sepanjang dahinya. Kelelahan membuatnya berpikiran aneh, anak perempuan itu pikir. Sekolah, lalu latihan balet yang ekstensif membuatnya tidak bisa menata isi kepalanya, bahkan mimpinya sendiri. Tetapi, toh Thandie tak bisa mengeluarkan soal suara dan perkemahan blasteran itu dari tempurung kepalanya.

“Bob,” anak kecil itu mencondongkan tubuh. “Apa kamu tahu sesuatu soal Perkemahan Blasteran?”

Siapa tahu itu adalah tempat yang dipromosikan oleh kolega Ma untuk anak-anak pageant[/i ] sepertinya. Terdengar seperti suatu kamp musim panas.

“Hm?” Sekilas, Bob yang merupakan intern kantor Da menatap Thandie dari spion lagi. “Sudah mulai, ya.”

“Apanya?” Kebingungan menjarah nada bicaranya. Thandie menekuk dahi saat ia menyadari sesuatu. “Tunggu. Bob, kita mau kemana?”

“Perkemahan Blasteran.”
Offline Profile Goto Top
 
Brianna Morgenstern

[MIMPI]

Brianna Morgenstern mengangkat tangannya dengan alis terangkat. Paman kesayangan di hadapannya hanya menatapnya tak mengerti. "Apa?" tanyanya. Morgenstern kecil ini memutar bola matanya jenaka. "Gitarku, Paman. Gitarku. Kalau hanya satu gitar saja yang kau bawa, kita latihannya gimana?"

Philip Morgenstern tampak kebingungan untuk beberapa saat, hingga kemudian ingatannya kembali dan ia menepuk jidatnya. "Aku lupa! Tunggu di sini sebentar," katanya seraya menujuk sofa di ruang tengahnya. Brianna mencibir, sudah kuduga, batinnya.

"Cepat ya, Paman. Awas kalau lama!" ujarnya seraya menyamankan diri di sofa dan menyalakan televisi. Samar-samar terdengar dari ruang lainnya di apartemen itu suara sang paman yang berkata, "Iya, iya. Dasar cerewet!"

Brianna terkikik. Tentu saja ucapannya itu main-main. Terakhir kali ia memegang gitar mungkin tiga hari lalu dan ia sendiri lupa menaruhnya di mana. Paman Philip bukan orang yang teliti, jadi ia tahu pencarian ini mungkin akan memakan waktu lama.

Ah, pikirnya saat melihat tayangan di televisi. Aku sudah nonton episode ini. Bibirnya mengerucut lucu. Batal deh, mengusir kebosanan dengan televisi. "Paman Philip! Sudah ketemu belum gitarnya?!" ia berteriak.


Semenit. Dua menit. Tak ada jawaban.

"Whatever," Brianna berucap, aku mau tidur saja.

Meluruskan kaki dan menyamankan punggungnya, Brianna Morgenstern pun akhirnya memejamkan matanya.

***

Tempat itu sekolahnya menimba ilmu beberapa tahun terakhir. Tak ada yang berbeda dari biasanya, sampai suara dari speaker saat sedang berjalan di lorong membuatnya terlonjak.

"Brianna Seraphina Morgenstern,"

Namun, bukan itu yang membuatnya merasa heran. Melainkan reaksi orang-orang di sekitarnya yang seolah tak mendengar, bahkan teman terdekatnya pun seolah tak dengar.

"Siapa...?" katanya pelan, entah bagaimana ia yakin suara itu pasti mendengarnya.

"Sudah waktunya kamu datang."

"Datang? Datang ke mana?" tanyanya bingung. Kali ini, ia berhenti dari jalannya. Matanya mencari-cari, meski tak tahu siapa yang pasti dicarinya.

"Semakin lama kamu di sini, semakin besar bahaya itu mengintaimu. Kamu berbeda. Baumu berbeda."

Apa-apaan itu? Jantungnya bertalu-talu menyakitkan, hingga terasa ke telinganya. Entah kenapa ia takut.

"Kau bahkan belum menjawab--"

"Perkemahan Blasteran. Temukan dan datanglah. Sebaiknya, kau cepat bergerak sebelum kau yang ditemukan mereka."
***

Brianna bangun dari tidur kilatnya dengan napas tersengal-sengal dan baju basah oleh keringat. Apa maksudnya itu?
Offline Profile Goto Top
 
Silvia Coschatch
Member Avatar

[Mimpi]

Ladang itu luas. Sekelilingnya dipenuhi dengan ilalang yang tumbuh setinggi badannya. Silvia menarik nafasnya dalam-dalam. Ia ini anak rumahan, ayahnya jarang sekali membiarkannya keluar. Setiap hari yang ia cium hanya aroma buku-buku dan kertas, bukan berarti ia tidak suka. Ia hanya ingin memecahkan sebuah misteri; mengapa ayahnya begitu tidak menyukai dunia luar? Ia tahu buku-buku itu menarik, jendela dunia katanya, tapi kenapa harus melihat melalui jendela kalau kita bisa keluar melalui pintu?

Tubuhnya ia rebahkan, beralaskan rerumputan dan beratapkan langit cerah. Tanpa sadar sudut bibirnya sudah tertarik sangat tinggi. Matanya terpejam sebentar.

Rasa panas merambati tubuhnya, sebuah tangan sudah mengguncang-guncang tubuhnya. Kini ia sudah berada di tempat yang berbeda. Silvia sudah tidak lagi berbaring, ia kini berdiri tegap di sebuah rumah yang sudah terbakar separuhnya. Atap di hadapannya rubuh, menghalangi jalannya. Dan sebuah tangan di belakangnya menariknya dengan tergesa-gesa.

“Silvia, ayo!”

Untuk kejadian yang sangat jarang, ia mengikuti intuisinya. Tidak ada waktu untuk berpikir siapa orang yang menariknya sekarang, ia perlu menyelamatkan diri. Dan iapun berlari, selagi matanya menghadap ke belakang, mengamati bangunan yang ia tidak ketahui habis terbakar. Pandangannyapun dialihkan kembali kea rah depan, mendapati pemandangan berbeda sudah berada di depannya. Ia sedang berjalan di tengah kota. Namun ada sesuatu yang janggal, semua papan reklame, billboard, bahkan poster-poster yang tertempel di bangunan semuanya memiliki gambar berpola sama. Bukan hanya itu, tulisan dalam papan-papan itu juga menyerukan hal yang sama.

‘Pergilah ke Camp Halfblood, Long Island.’

Ia berjalan, mendekat ke salah satu poster di jendela restoran hendak membaca deskripsi dalam tulisan lebih kecil di bawahnya. Tetapi cahaya yang amat terang menyakiti matanya. Lantas iapun terbangun, menemukan ayahnya yang membuka jendela dan membiarkan cahaya memasuki ruang tidurnya.

“Ayah,” ia berseru, agak ragu apakah hal ini penting untuk diceritakan. Tetapi instingnya mengatakan ya. “Aku mendapatkan mimpi aneh, sangat aneh, mimpi itu seperti menyeruku untuk ke Long Island dan Camp Halfblood,” dahunya berkerut. “Apakah ayah pernah membaca buku tentang itu?” Karena ia sama sekali tidak tahu apa Camp Halfblood yang dimaksud mimpinya.

Gerakan tangan ayahnya di tirai berhenti, ayahnya memandangnya sejenak sebelum kemudian bergegas menyambar koper di kamarnya.

“Kita perlu bersiap-siap, Silvia.”
Offline Profile Goto Top
 
Madeleine Page
Member Avatar

[Dikejar Monster]

Di bangku taman sebelah barat yang menghadap langsung The Res, duduk seorang anak perempuan yang kepala cokelatnya ditutupi topi hitam dengan centang putih pada bagian depan, tengah menikmati air mineral yang dibawanya sendiri sembari memandang panorama ketika suara anak laki-laki yang kedengarannya baru puber memanggilnya dengan nama pertama. Anak perempuan itu mengernyit dari bawah alisnya yang tebal, menyipit memandang arah datangnya suara yang ternyata berasal dari March-sesuatu, teman sekolahnya yang agak aneh dan selalu jadi target bulan-bulanan siswa-siswa menyebalkan di sekolah mereka. Dengan setengah berlari, wajah tegang, dan napas yang terputus-putus, March menghampiri.

"Halo, March," sapanya hangat.

"Madeleine."

"MV." March bengong. "MV saja, jangan Madeleine." Jujur, ia lebih senang ketika seseorang memanggilnya dengan MV saja, karena Madeleine kedengaran terlalu panjang dan ia tidak senang bila dipanggil Maddy oleh orang selain ayahnya sendiri. MV bertanya-tanya apa gerangan March memanggilnya dengan keadaan kacau seperti itu.

"Aku... perlu... bicara... padamu."

"Ya, kau sedang melakukannya, kalau kau lupa," ucapnya setengah prihatin melihat kondisi teman sekolahnya. "Sini duduk dulu. Barangkali kau butuh air? Aku bisa membagi minumku denganmu."

March malah mengibaskan kedua tangannya dengan dramatis. "Tidak, tidak, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini kalau mau selamat."

"Kita?" ulangnya seolah tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan March. Alis-alis MV bertautan semakin dekat, tambah bingung dengan bualan aneh yang keluar dari mulut temannya. Mungkinkah March terlalu banyak minum obat batuk? Atau apakah anak itu sedang bergurau, tetapi melihat gelagat March, agaknya sulit memastikan bahwa ia sedang mengajak MV bercanda.

Tiba-tiba saja, MV mendengar suara gemuruh yang berasal dari waduk. Ia menyipitkan matanya kembali, namun ketika melihat apa yang terpampang di hadapannya, matanya melebar saking cepatnya sampai-sampai rasanya bola mata hijaunya dapat terjatuh kapan saja. Sesosok makhluk yang kelewat besar untuk disebut kepiting biasa tahu-tahu muncul dari dalam air. Warnanya merah-jingga, dengan empat pasang kaki beruas-ruas, dan sepasang capit besar bergerigi tajam yang tampak dapat menghancurkan pesawat lewat dengan sekali jepit. Botol air mineral yang tadi digenggam MV merosot jatuh hingga airnya membasahi sepasang sepatu larinya, tetapi ia terlalu sibuk terperangah memandangi makhluk aneh yang ada di depan matanya sehingga tidak memedulikan lingkungan sekitar. Detik-detik berlalu cepat dan telinganya mulai dapat menerima suara-suara lagi, yang kini, paling banyak bersumber dari March.

"March, bilang kalau kau juga melihatnya...."

"Ayo bangun! Kita pergi dari sini, MV! Kau dengar aku tidak, sih?"

"Gila! Kita pasti sudah gila! Ayo hubungi ayahku agar dia,"

"Tidak ada gunanya, MV!" March menarik sebelah tangan MV yang terkulai lemas, berusaha membuat MV melepaskan pandangan dari kepiting raksasa yang mulai bergerak ke arah mereka, menciprati air kemana-mana, membuat permukaan waduk yang tadinya tenang jadi berombak-ombak. Anehnya, tidak ada satu pun manusia di sekitar mereka yang merasa terkejut, terganggu, atau takut seperti yang dialami MV. Setelah beberapa kali guncangan hebat pada lengan dan bahunya, MV dapat menarik pandangan. Ia melotot menatap March. "Apa-apaan, March?!"

"Dengar, kau bisa lari, 'kan?" Sepertinya MV belum sempat merespon dengan kata ya atau tidak atau sekadar menggerakkan kepalanya, March sudah membuka mulutnya lagi. "Larilah secepat yang kau bisa, jangan sampai terpisah dariku. Anggap saja kita sedang berada di dalam pertandingan."

"Sinting apa?! Aku tidak pernah bertanding dengan kepiting raksa—OH ASTAGA DIA SEMAKIN DEKAT!" Mendadak dikejutkan dengan setrum, seluruh tubuh MV berfungsi dengan normal kembali. Ia bangkit dari bangku, menubruk March, dan mendorong-dorongnya menjauhi waduk sambil mulutnya tidak berhenti komat-kamit. MV berusaha berlari sekuat yang ia bisa, naik-turun, berlari zig-zag menghindari pohon, terantuk batu-batu, mengikuti jejak March yang demiapapunjuga sekarang punya kaki berbulu yang aneh dan menggelikan. Ia penasaran dan ingin bertanya, tetapi pikirannya kalut sekarang dan yang keluar dari mulutnya di tengah aksi pelarian mereka adalah, "TERUS APA, MARCH?!"

"JANGAN SAMPAI MATI!"





Gila...
Edited by Madeleine Page, May 14 2017, 10:27 AM.
Offline Profile Goto Top
 
Charles McDavid
Member Avatar

[MIMPI]

Charles, rambutnya yang pirang kotor baru saja dipotong pendek, usianya memang masih muda, bahkan sangat muda untuk tapi tangannya sudah cekatan untuk mengikat tali sepatu luncur dengan rapih dan sesuai ketentuan. Tongkat hoki bersemayam tepat di samping tubuhnya begitu juga dengan pelindung kepala yang juga pelindung wajah.

“Sedang apa kamu?”

Ucap seorang pria yang mungkin seumuran dengan ibunya. Pria tersebut terbilang tampan dengan rambutnya yang kelam dan sepasang mata warna biru terang, kontras dengan kulitnya yang pucat.

“Bermain hoki?” Ucapnya dengan nada datar, ia tidak terbiasa dan suka berbicara dengan orang asing, walaupun sekiranya ia bisa sadar kalau pria ini teman bermain ibunya untuk saat ini.

“Waktu kecil aku selalu bermain baseball, kau tahu Mets? Aku penggemar mereka.”

“Aku tidak suka Rangers.”

Pria itu tertawa lalu mengambil posisi duduk di sampingnya. “Aku tidak mengerti hoki sama sekali.” Tali sepatunya sudah terikat dengan benar, tangannya meraih tongkat di samping. Charlie menghela nafas sejenak sebelum akhirnya ia menatap pria itu dengan wajah ramah namun tidak sampai tersenyum lebar.

“Sini, aku ajarkan kau bermain hoki.”



Ia duduk di kursi belakang sedan BMW terbaru, wajahnya merah bukan main, air mata tidak henti-hentinya keluar dari setiap sudut matanya, belum lagi idungnya yang berair tidak diindahkan walaupun kadang lengannya menyeka sesekali. Ada jok bayi di samping tempat ia duduk dan orang tuanya tentu berada di bangku depan. Charles masih menggenggam seragam hoki es dengan lambang C terjahit apik dibagian dada.

“Kau masih bisa main hoki di tim New York, sayang.”

Entah untuk keberapa kalinya, ibunya mencoba untuk menenangkan Charlie yang masih tersedu memeluk seragamnya sendiri.

“Tapi aku bukan kapten di sana.”

Entah untuk keberapa kalinya juga jawaban itu tercetus dari bibirnya. Lambang C pada seragamnya bukan kegiatan amal dari pelatihnya. Ia mendapatkanya dengan bersusah payah, penuh kerja keras sebagai pemain, juga sifat kepemimpinan untuk menjadi seorang kapten. Ia sudah diutus oleh pelatih dan dipercaya oleh teman-teman satu timnya, dan kini semua itu hanya lambang di jersey semata karena ia sadar kalau Charles harus memulai semua dari awal.



Rink hari ini cukup penuh walaupun tidak bisa mengalahkan keramaian musim reguler dari NHL, tapi semua orang bersorai bahagia saat tembakan dari Charles menembus goal post lawan beriringan dengan suara terompet yang menyatakan permainan selesai.

“A winning goal from McDavid, look at that beaut slapshot!”

Charles mengangkat tangannya tinggi-tinggi saat satu persatu teman satu timnya mulai mengerubungi dan memeluk, beberapa yang duduk di bangku pun berarakan keluar, ia mendengar kawan-kawannya chanting ‘Charlie’ untuk tiga menit penuh. Tapi anak itu tidak terlalu mengindahkan kawan-kawannya, sepasang matanya hanya tertuju pada satu bangku di kursi penonton. Bangku itu kosong, tapi ia merasa ada penghuninya di sana. Terbayang seakan tengah menatapnya dengan penuh bangga, perlahan Charles tersenyum terhadap bangku kosong sebelum akhirnya teman-teman benar-benar menarik kesadarannya sepenuhnya.

Hockey god is among him.
Offline Profile Goto Top
 
Iker Vargas
Member Avatar

[DIKEJAR MONSTER]


Musim panas tahun ini dimulai dengan matahari yang bersinar cerah, debur ombak Pantai Huntington yang sedikit terlalu kencang, dan serangan mendadak dari seekor kepiting raksasa.



Ulangi: Kepiting. Raksasa.

“W—WAAAAAAH!”

Itu bukan teriakan kagum. Sama sekali tidak mendekati kekaguman bahkan, karena Iker Manuel Vargas kemudian menyadari kalau kepiting itu sedang mengejarnya. Berusaha mengoyak kedua kaki Iker dengan capit raksasa yang ia miliki. Lebih parahnya lagi, hanya dirinya yang bisa melihat kepiting raksasa itu, sebab ketika Iker berteriak memperingatkan orang (“KEPITING RAKSASA!” lengkap dengan terjemahan bahasa Spanyol “CANGREJO GIGANTE!” untuk yang serumpun dengannya), yang ia dapatkan malah tertawaan bahkan tatapan mencemooh yang seolah menyiratkan kamu-sudah-gila.

Di persimpangan, seseorang menariknya masuk ke gang dan kembali anak pemuda itu syok tatkala menemukan sepasang tanduk di atas rambut keriting yang bersangkutan. “Siapa kamu?! Kenapa kamu punya—hei, tunggu dulu!” Malah ditarik.

“Tidak ada waktu untuk berdebat! Sudah ikut saja—mau hidup nggak?!” ujar pemuda bertanduk itu, mencengkram tangannya kuat-kuat agar tidak lepas. Sayangnya, karena kecepatan luar binasa dari dua manusia (ralat, satu manusia dan setengah kambing!) ini, papan seluncur yang dipapah oleh Iker menabok seorang perempuan gendut yang tengah menikmati es krim. Dan meski Iker sudah berteriak minta maaf, tetap saja ia tidak punya kesempatan untuk mengganti es krim yang berakhir di wajah wanita itu.

“Kita harus ke New York sekarang! Kamu akan lebih aman dalam lindungan Perkemahan Blasteran!”

“New York?! Bibi Maria akan marah kalau aku tidak pulang!”

“Di sini sudah nggak aman buatmu—”

“Aku harus pulang—”

“Tidak bisa—”

“Masa aku pergi ke New York setengah telanjang?!”

Basah kuyup pula. Bisa-bisa ia dikira gila betulan.

Offline Profile Goto Top
 
Caleb Walworth
Member Avatar

[DI KEJAR MONSTER]

Napasnya tersengal.

"K-kau lihat itu Derrick?!" ia telan salivanya sambil setengah menunduk dengan posisi rukuk, dadanya naik turun, tarikan napasnya belum stabil betul setelah di kejar-kejar oleh makhluk aneh berbentuk kepiting yang mengerikan. Membayangkannya saja sudah membuat Caleb mual. "DEMI TUHAN YANG TADI ITU APA?!" kepalanya menoleh ke arah Derrick dengan pandangan menuntut meminta jawaban.

Untung saja Caleb belum sempat menginjakkan kaki ke minimarket yang akan ia tuju. Jauh lebih mengerikan apabila monster kepiting itu berbuat kerusakan ditengah banyak orang.

"Hm..., itu....," ada keraguan yang tampak pada kawan baik sekaligus pengajar privat Caleb yang berkulit hitam tersebut. "Kau aneh. Apa pun itu, kurasa kita harus segera kembali ke apartemen, Derrick."

Sudah pukul sepuluh malam. Matahari telah terbenam sempurna. Caleb tidak seharusnya berada di sini, meski hanya sekadar berniat mengunjungi minimarket beberapa waktu lalu. Namun, niat tersebut lenyap begitu sosok jahat dan beringas mengejarnya bak daging yang lezat untuk dilahap.

"Kita tidak bisa kembali ke apartemen, mate," Derrick berujar ragu pada bocah dua belas tahun yang tampak bimbang dan gelisah. Bulir-bulir peluh yang membasahi kening dan tengkuknya mulai lenyap disapu sepoi angin malam yang berembus ringan.

"Lalu kita akan ke mana?" Penekanan di akhir kalimat tanya anak laki-laki tersebut disisipi dengan kernyitan kontras di dahi. "Tak ada yang lebih aman ketimbang apartemen milik Berlin," Caleb bersikeras.

Derrick menghampiri Caleb, lantas mendekatkan wajahnya yang legam pada wajah pucat milik Caleb. "Kau harus segera pergi ke Perkemahan Blasteran," lalu berbisik di telinga si bocah tanggung.

Sepasang alis hitam tebalnya bertautan.

"Maksudmu? Lalu bagaimana dengan Berlin?!" Bagaimana pun berengsek dan menyebalkan ibu kandungnya itu, Caleb merasa harus memberitahunya terlebih dahulu.

"Dia sudah tahu kalau cepat atau lambat kau harus pergi meninggalkannya."

Mustahil. Bagaimana bisa?!
Offline Profile Goto Top
 
Freesia Endzela
Member Avatar

[Dikejar Monster]

"Pak Bruno, kita akan kemana?" tanyanya untuk kelima kalinya dalam tiga puluh menit terakhir.

Mobil hitam itu melaju dengan cepat di jalanan California siang itu. Tak ada kemacetan lalu lintas dan jalanan cukup lengang. Di dalam mobil, Freesia tampak gelisah karena pak Bruno belum berbicara dengannya sejak tiga puluh menit lalu. Pria tersebut tak biasanya diam seperti itu. Pak Bruno sendiri adalah seorang pria berusia kepala tiga yang bekerja sebagai sopir pribadi ayahnya. Pria berperawakan tegap itu menjemputnya dari sekolah saat jam makan siang dan mengatakan ada hal mendesak yang membuatnya harus membawa Freesia pulang lebih awal. Tentu saja Freesia sangat senang saat pak Bruno menjemputnya, yang artinya pak Bruno telah membebaskan Freesia dari pelajaran matematika setelah jam makan siang. Namun, tiga puluh menit terakhir di dalam mobil, kesenangannya berubah menjadi rasa gelisah dan curiga.

"Kau mau menculikku ya?" Pertanyaan tersebut meluncur dari bibirnya begitu saja. Yah, tidak mungkin juga sih jika pak Bruno berniat ingin menculiknya. Freesia cukup dekat dengan pria yang sudah bekerja selama lima tahun sebagai supir ayahnya.

"Ya..."

Jawaban tersebut membuat Freesia menutup mulutnya rapat. Ia kaget.

"Tetapi bukan aku yang akan menculikmu. Makhluk baik itu semakin dekat, dia yang akan menculikmu."

"Apa?" Ia mengerjapkan matanya. "Ma-maksudku, siapa? Mana ada seseorang yang baik tetapi ingin menculik."

"Bukan seseorang, nak. Dia itu makhluk. Makhluk baik."

"Aku tidak mengerti apa yang bapak bicarakan."

Bagaimanapun juga Freesia tak dapat memahami yang dikatakan oleh supirnya itu. Bahkan ia tak tahu makhluk itu apa dan bedanya dengan manusia atau hewan. Yang ia tahu, pasti makhluk baik bukan sejenis tanaman. Tanaman yang baik sekalipun tak akan menculik Freesia.

"Kau akan melihatnya sebentar lagi," ucap pak Bruno sembari menghembuskan napas berat.

Benar saja, beberapa menit kemudian Freesia merasakan tubrukan keras di bagian belakang mobilnya. Freesia sempat menoleh ke belakang dan dari kaca mobil ia melihat sebuah truk bermuatan beratlah yang telah menabrak mobilnya. Tetapi bukan hal itu yang mencuri atensinya, melainkan pengemudi di balik truk tersebut yang saat ini sedang berjalan keluar dari truk dan mendekat ke arah mobilnya. Makhluk tersebut bertubuh manusia tetapi berkepala banteng.

"Pak Bruno, apakah dia makhluk baik?"

Namun dari raut wajah pak Bruno yang terlihat sangat khawatir dan was-was telah membuat Freesia mengerti bahwa makhluk itu tidaklah baik seperti julukannya.

"Freesia, keluarlah dari mobil! Cepat! Larilah dan jangan tunggu aku. Kita sudah dekat dengan bukit blasteran. Aku akan menyusulmu lagi begitu aku selesai menangani Minotaurus itu."

"Mino apa? Dan itu bukit apa?"

"Cepat!"

Freesia kemudian berlari secepat yang ia bisa. Sementara pak Bruno menghalangi minotaurus tersebut dengan sebuah belati. Ia tak sempat memikirkan dari mana pria itu mendapat benda tajam seperti itu. Pun ia tak sempat peduli ketika melihat pak Bruno menjadi setengah manusia dan setengah kambing. Ia akan menanyakan semuanya nanti setelah keadaannya aman.

Ngmong-omong, dimana bukit blasterannya?
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today.
Learn More · Sign-up Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic »
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 2
  • 4


|| Black Water created by tiptopolive of IDS || Modified by Zeus ||