Welcome Guest [Log In] [Register]

CAMP JUPITER

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event


Senatus Populusque Romanus!
GENERAL ANNOUNCEMENT

Timeline Term 2.2: 2013/2014
Jadwal New IndoOlympians

Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP
Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB

Jangan sampai terlewat!
Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi


CAMP HALFBLOOD

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event

Jangan kasih makan Satyr, ingat!
Selamat datang di New Indoolympians!

New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya?

Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB

Join our adventure!


Jika sudah terdaftar, silakan login:

Username:   Password:
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 3
Petualangan Pertama Term 2.2
Topic Started: May 6 2017, 10:34 PM (420 Views)
Chelsey Waters
Member Avatar

[MIMPI]


Sungguh berfaedah sekali sore hari yang dihabiskan oleh seorang gadis berambut cokelat dengan mata biru. Seperti biasa, ia duduk di depan televisi menonton rekaman ulang tayangan serial remaja kesukaannya. Sofa di ruang keluarga selalu menjadi pelariannya ketika sedang suntuk menunggu tiba waktunya makan malam.

Ibunya belum pulang, begitupun ayahnya. Kakak laki-lakinya juga masih di luar rumah, berlatih American Football. Sedangkan adiknya sedang bertugas piket untuk mengajak anjing keluarga di rumah jalan-jalan. Betapa kurang produktifnya Chelsey, ya? Wajar saja, gadis ini lebih senang duduk diam, berandai-andai tentang cerita dalam film atau buku, atau juga serial yang baru ia tonton.

Apakah jadi siswa sekolah menengah sesulit itu? Saat duduk di sekolah dasar, Chelsey merasa bisa beradaptasi dengan mudahnya. Bisa punya banyak teman, bahkan beberapa kali mendapat juara kelas. Chelsey banyak melihat kejadian perundungan karena persaingan tak sehat di sekolah. Hmm dalam drama sih, seringnya

Apa Chelsey bisa melalui masa-masa gawat seperti itu nantinya? Chelsey harap bisa. Sudahlah, mari kita biarkan Chelsey berkelana sebentar dengan alam mimpinya. Ia mulai menutup mata, pasrah kesadarannya direnggut sementara, dan mulai berjumpa dengan mimpi.

"Datanglah ke perkemahan," seseorang yang tak kenal berkata pada Chelsey. Gadis sebelas tahun itu hanya bergumam tidak jelas, kemah apanya, main di luar ruangan saja jarang-jarang Chelsey lakukan.

"Datanglah, segera. Perkemahan blasteran menunggumu,"

Chelsey membuka matanya segera. Diubahnya posisi tubuh agar tak lagi tersandar pada bantal besar yang menopang bobotnya sejak tadi. Itu siapa sih sebenarnya? Kenapa bisikannya terasa begitu.. nyata? Perkemahan itu juga sebenarnya apa?

Chelsey rasa ada yang bermain-main dengan hidupnya. Atau jangan-jangan semua yang ia alami setiap hari sepanjang hidupnya hanya setting belaka untuk dijadikan lelucon bagi penontonnya seperti film yang pernah ia tonton?
Offline Profile Goto Top
 
Ashleigh Hoffman
Member Avatar


[MIMPI]

Ash —Ashleigh— baru saja menyelesaikan makan malamnya. Ia tidak banyak bicara, seperti biasa. Ia patuh, seperti anak-anak perempuan kebanyakan. Nana, ibu dari ayahnya, Matthew Hoffman, masih sibuk dengan adik perempuannya yang masih balita. Nana tidak pernah membiarkan nanny menyuapi anak bayi itu. Tetapi, pikirnya di dalam hati: ‘terserah deh, yang penting aku tidak usah dekat-dekat dengan anak bayi itu jika sedang makan.’

Bukannya tidak suka, tetapi menurutnya, anak bayi, atau balita, yang sedang makan adalah hal yang paling menjijikan nomor tiga. Setelah pup dan pembicaraan mengenai seks.

Memikirkannya membuat tengkuk anak kecil itu bergidik.

Dengan patuh ia mengangkat piring, meletakkannya di dalam wastafel mencuci piring untuk dicuci oleh pembantu yang akan datang ke rumah besok pagi.

“Selamat malam.” Ucapnya lalu sambil menaiki undakan atas, menuju ke kamarnya.

Rutinitasnya selalu sama. Duduk di samping tempat tidurnya, di atas karpet bulu berwarna krem yang dibelikan Da di Turki beberapa tahun yang lalu. Duduk dengan kaki menyilang dengan sebuah buku dan pen di tangan. Ia membuka-buka buku catatan tersebut, lalu menambahkan beberapa hal seperti: buat PR Matematika, dan ulangan Bahasa Perancis minggu depan. Kemudian mencuci muka, gosok gigi, dan mematikan lampu.

Hidupnya biasa-biasa saja.

Matanya terpejam. Siap untuk hari esok.

————————

”Ashleigh Hoffman.”

Tidak seperti orang kebanyakan yang akan bertanya mengapa wanita muda yang tengah duduk di hadapannya tahu namanya, Ash hanya diam.

“Ash,” ia tidak suka jika ada yang memanggilnya Ashleigh. “Ash Hoffman.” Jelasnya sambil memeluk diri sendiri dan mengamati keadaan di sekitar. Tidak familiar. Ia berada di sebuah aula besar, tidak ada siapapun selain dirinya dan seorang wanita yang tengah menyeruput teh di hadapannya.

Ia diam, menunggu wanita di depan tersebut berbicara.

“Perkemanahan blasteran.”

Ia mengernyit heran, dalam hati sesungguhnya takut dengan wanita di hadapannya tersebut. Ia menoleh ke belakang, mencari sosok lain selain dirinya dan wanita tersebut. Ketika kembali, wanita tersebut hilang. Hanya ada meja dan kursi di hadapannya.

“Sekarang juga.” Suara tersebut muncul entah dari mana, membuat Ash membelalakan mata lebar.

Rasanya ia ingin berteriak.

Tetapi kakinya berlari, menuju lorong di bagian ujung aula tersebut.

Lari,


lari,



lari..



Ia terbangun dengan perasaan tidak enak dan sebuah teka-teki yang harus dipecahkan.
Edited by Ashleigh Hoffman, May 14 2017, 06:01 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Juan Gibson
Member Avatar

[MIMPI]

Dapur abuela sepi, seperti biasanya. Nenek-nenek yang sudah dianggap Juan sebagai nenek sendiri itu tentu tengah bersantai di depan TV, terbukti dari sayup suara sinetron siang hari yang menjadi favorit wanita itu. Juan sendiri sedang mencuci piring yang menjadi tugasnya hari ini. Papa tentu tidak tahu hal ini, ia sudah memohon kepada abuela untuk merahasiakan ini dari Papa. Kalau Papa tahu, tentu Papa akan merasa bahwa ia tidak cukup mencarikan uang untuk hidup mereka sekeluarga dan Papa akan berusaha lebih keras lagi untuk bekerja. Yang artinya, waktu mereka untuk bersama akan lebih sedikit lagi.

Juan menggosok piring lebih keras.

"Hey," ada sebuah suara dari belakangnya. Juan menoleh. Seorang pria. Anak abuela? Juan tidak tahu, tidak terlalu mempermasalahkan. Hal itu tidak terasa penting. "Hey kamu."

"Ya," jawabnya, pandangan kembali ke piring yang harus digosok. Kenapa abuela punya cucian sebanyak ini? Ia yakin kalau abuela tidak punya piring sebanyak ini.

"Kau tidak mau pergi ke Long Island?"

"Long Island?"

"Ya, Long Island."

*

Juan terbangun. Astaga, ia tertidur di meja makan abuela. Lengan bajunya basah karena air liur yang menetes tanpa sengaja ketika ia tidur dengan mulut terbuka. Pekerjaan rumahnya setengah selesai masih terbuka di hadapannya. Dari ruang depan ia bisa mendengar suara abuela yang tengah bercakap dengan seorang pria: ayahnya sendiri.

"Papa?" panggilnya, mengucek mata. Juan beringsut menuju ruang depan. Senyumnya terbit melihat papanya dengan tampilan standar: baju sedikit kusut, muka lelah, namun tetap sumringah saat mereka bertemu. Ia melangkah mendekat untuk memeluk papanya erat-erat.

"Tuh kan, apa kubilang. Dia kangen sekali dengan papanya."

Juan cuma bisa membenamkan muka lebih dalam ke perut papanya. Tidak ada yang salah dengan kata-kata abuela.
Offline Profile Goto Top
 
Aithne Khiev

[MIMPI]

Ada dua alasan mengapa suasana hatinya buruk pagi ini.

Pendingin ruangannya tidak bekerja—itu satu, dan Serene Khiev belum berhenti mengoceh dari bawah tangga—itu dua. Anak perempuan itu telentang di atas kasur hanya menggunakan kaus tanpa lengan dan celana pendek, rambut hitamnya yang terurai sepunggung diikat buntut kuda sementara tangan kanannya sibuk mengipas-ngipas, masih mengabaikan Serene—kelopak matanya terpejam.

Musim panas. Udara di Binghamton sudah sumpek.

Suara ibunya ("Musim panas bukan alasan untuk malas, Aithne Khiev!") terdengar bagai kicauan burung kematian.

Well, halo. Bukankah itu tujuannya libur musim panas? Aithne tidak pernah suka diperintah, apalagi ia tahu Serene bermaksud menitahnya pergi ke gudang dan mengambil penyedot debu untuk ruang tamu. Biar saja, ia akan pura-pura tidur sampai Serene lelah memanggil, lagipula Aithne tidak sepenuhnya membual soal rasa kantuk. Semalaman suntuk menghabiskan waktu di depan layar komputer demi serial action favoritnya berdampak pada kelopak yang seakan digantungi batu padahal jam dinding baru menunjukkan pukul 10 pagi.

Gadis cilik itu menjadikan ocehan sang ibu sebagai nina bobo. Perlahan, suaranya makin hilang, makin sayup-sayup. Sampai akhirnya tidak terdengar lagi.
_________
"Aithne!" bahunya ditepuk keras sekali. Anak itu terbangun; ia masih di kamarnya, tetapi kamar itu dipenuhi kabut tebal hingga Aithne nyaris tak mengenali area sekelilingnya. Lantas di tengah kesusahan matanya mengidentifikasi, sebuah suara muncul—memanggil-manggil dan matanya menangkap wujud seseorang di kamarnya. Sontak ia melonjak dan memasang kuda-kuda. Sosok itu tinggi dan besar. Tidak, bukan ayahnya. Ia mengenal dekat figur Francois Khiev sampai bisa mengenalinya tanpa membuka mata. Ibunya? jelas bukan. Sosok itu lebih mirip laki-laki.

Tiba-tiba, dari balik kabut muncul sebuah tangan kokoh yang menarik pergelangannya. Aithne menjerit—"Ibumu bohong. Kau harus ke perkemahan. Sekarang."—refleks tungkainya diayunkan menendang-nendang. Sel abu-abunya mengirim sinyal panik yang membuat kepalanya seolah berisik. "Lepaskan! Lepas—"

Anak perempuan itu terbangun. Di kamarnya. Tidak ada apa-apa.

Oh.

Bajunya basah oleh keringat. Aithne mendengar langkah kaki terburu-buru di tangga dan pintu kamarnya menjeblak terbuka. Ibunya datang dengan wajah panik, tetapi sebelum Serene mampu menyusun kata, Aithne lebih dulu menodongnya dengan pertanyaan.
Edited by Aithne Khiev, May 15 2017, 04:39 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Darius Kaspar
Member Avatar


[Dikejar Monster]



Mengarungi jalanan sendiri bukanlah hal baru yang dialami Darius Kaspar. Gelap di antara gang-gang pintas menuju rumah atau terang ketika bunyi klakson menggebu-gebu merusak gendang telinga sudah biasa menemani perjalanan pemuda berambut gelap ini, jadi tidak perlu memacu kakinya segala di antara keramaian sore kira-kira pukul empat. Di sudut bibirnya yang pecah masih tersisa bekas darah yang belum kering sepenuhnya. Lidahnya mencecap-cecap rasa darah bercampur saliva sambil menghabiskan sisa rute pulang dari sekolah. Berkelahi lagi, ya. Hei, bukan ia yang mulai kali ini, tapi Walter, murid terbongsor di kelas bertampang mirip babon bloon berulah duluan karena mengolok-olok.

Dipegangnya lagi bagian terluka itu, akibatnya ia mendesis nyeri.

Makan gigi rontok jelekmu, Walter. Lain kali bukan cuma gigimu yang habis.

Darius menghentikan langkahnya kemudian berbalik. Sudah lebih dari sekali ia membalikkan badan. Iris abu hijaunya menyipit tajam, lagi, dan menyapu habis apa yang ada dalam radius pandang. Ketahuilah, dari tadi remaja bermarga Kaspar ini merasa ada yang mengekori di belakang. Apa, siapa? Walter? Nyali babon banci itu tidak mungkin lebih panjang dari pentul korek api. Darius tidak percaya lelaki berambut licin klimis itu berani mencegat hingga pusat kota. Akan tetapi, tidak ada yang aneh di belakang punggungnya selain pejalan kaki di seberang jalan sana berjalan cepat-cepat seakan diburu waktu.

Ia berbalik lagi ke depan menuju jalan pintas lebih sepi, kemudian tiba-tiba tubuhnya ditabrak dalam kecepatan cepat. Darius menyingkirkan badannya ke tembok bangunan. Kepalanya terangkat. Setengah tidak percaya dengan yang dilihat. Satu makhluk dengan mata berdarah-darah mengingatkan pada sebuah film horor, bersayap kelelawar, lalu ular meliat-liat di kepala (atau rambutnya itu ular?), gila, monster?! Dan ia sedang ditarget? Ia berpikir ini mungkin cuma bunga tidur atau efek berkelahi dengan Walter, tapi tabrakan barusan masih terasa bahkan menyerempet siku.

Abu hijaunya segera mencari benda apa saja yang bisa dipakai untuk melawan. Batang besi bekas langsung diraih sambil menyiapkan kuda-kuda menghadapi makhluk itu.

"LARI!"

Suara dari belakang membuatnya menoleh. Ia kenal wajah itu. Jonah, teman senasib di jalanan yang keras, sedang berlari ke arahnya. Tapi, tunggu, apa itu di bawahnya.... kaki kambing?

"Kakimu kenapa?!"

"Bukan waktunya cerita-cerita. Sekarang ikut aku kab---"

"WHAT?" Refleks Darius menundukkan kepala dan menekan kepala Jonah ke bawah sampai karibnya mengaduh dan mengomel. Batang besi itu langsung ditusuk ke arah datangnya makhluk bersayap itu. "Diam, Jonah! Aku baru saja menyelamatkan kepalamu." Makhluk jelek itu tiba-tiba menabrak, lalu sekarang Jonah berkaki kambing menyuruhnya kabur? Yang benar saja.

Tanpa menunggu respon lanjutan Jonah menarik kerah kemeja Darius, mendorongnya menjauh ke ujung jalan lain. "Ikut aku sekarang!"

"Ke mana?" Seruan melawan seruan sambil keduanya berlari. Entah mata pejalan kaki di sana buta sampai bisa-bisanya tetap tenang atau Darius terlalu sinting sampai bisa melihat semuanya. Darius menoleh sebentar ke belakang, kembali menatap temannya yang tidak lagi normal di matanya. Berani taruhan, Jonah pasti tahu sebenarnya apa yang terjadi.
Offline Profile Goto Top
 
Cecile Valen
Member Avatar

[MIMPI]


Danau biru, hijaunya rerumputan, dan semburat warna kuning di ufuk awan. Kira-kira begitulah pemandangan sempurna menurut Cecile, namun tidak demikian adanya dalam beberapa bulan terakhir. Putih, hanya itu warna yang terlihat sepanjang mata memandang, putih.

Cuaca extreme? Bukan kok, ini hanya salju yang terus turun selama beberapa bulan terakhir, tidak aneh sama sekali di desa tempat tinggalnya ini. Walaupun ada beberapa orang sok tahu yang bilang cuaca ini disebabkan oleh yang namanya pemanasan global.

"Pemanasan global? Terakhir kali aku mengecek, yang namanya salju itu dingin lho." Gerutu Cecile sambil berjalan menuju kamar tidurnya sendiri. Tidak butuh waktu lama sampai Cecile terlihat asik merawat peralatan yang sering dia gunakan, memberi minyak sedikit di sini, dan oli disebelah sana.

"Mereka akan datang sebentar lagi, kau dalam bahaya, cepatlah menuju kemah blasteran."

Seketika itu juga, Cecile mengambil obeng yang tergeletak di sebelahnya, dengan waspada dia mencari sumber suara yang baru saja di dengarnya.

Obeng di tangan kanan, Cecile mulai menelusuri kamarnya sendiri dengan sedikit berjinjit agar tidak ada suara yang ditimbulkan, kamarnya sendiri tidak begitu luas, hanya ada kasur , lemari pakaian dan meja tempat dia berada sekarang. Dari jendelakah? Tidak, tidak mungkin ada orang di tengah lebatnya salju seperti sekarang ini. Yang tersisa tinggal lemari pakaian yang ada di ujung ruangan.

Saat ujung mata Cecile memandang ke lemari pakaiannya, saat itu juga lemari pakaiannya mulai terbuka perlahan.

"Cepat, tidak ada waktu lagi!!"

Gelap, selanjutnya hanya itu yang dapat dia lihat.

"Ceci, cepat bangun, makan malam sudah siap."

Dengan kaget, Cecile bangun dari tempat tidurnya, mengacak-acak kembali rambutnya, menambah kusut rambut baru bangun tidurnya.

"Ya ma...."

Jadi semua yang tadi hanya mimpi? Apa yang kupikirkan sampai bisa bermimpi seperti tadi? Kemah blasteran, apa itu? Siapa yang akan datang?
Offline Profile Goto Top
 
Lemuel Charlton
Member Avatar

Dikejar Monster



"Morning darling," kecupan itu menempel pada kening Lemuel, menimbulkan dengusan dari anak lelaki tersebut, tanda penolakan secara halus—menurutnya. "Kenapa?" Wanita bersurai pirang itu bertanya sambil terkekeh, tentu ia sudah tahu alasan anak semata wayangnya itu, hanya ingin mendapatkan jawaban secara langsung.

Anak lelaki itu terdiam sejenak, ia duduk disebuah bangku meja makan. Satu mangkuk berisikan sereal cokelat tanpa susu tersaji didepannya. Ia menghela napas sebelum akhirnya menjawab, "I'm going 12, ma, no more ki—" terdengar suara bel yang ditekan satu kali, membuat anak lelaki bersurai pirang kotor itu memutus kalimatnya. Lalu, memilih beringsut berdiri menuju pintu. Tidak perlu bertanya siapa yang memencet bel, karena Lemuel tahu itu adalah Phelps.

"Phel—" Pintu terayun terbuka tapi bukan Phelps yang berdiri disana melainkan seorang wanita paruh baya yang mengenakan kardigan dipagi musim panas. "What? I mean, who are you?" Dengan nada ketus yang tanpa disengajanya. Lemuel selalu bermaksud baik, tapi dunia berkonspirasi menyatakan bahwa Lemuel bukanlah anak baik-baik. Seperti selalu saja ada masalah yang membuat Greta Charlton harus dipanggil kesekolah, bahkan ketika Lemuel merasa tak berbuat salah.

"Hai, Mrs. Witson, ayo masuk." Lemuel membuka kan pintu lebih lebar, lalu menyingkir dari depan pintu kesampingnya, mempersilahkan wanita itu masuk sesuai apa yang dikehendak Greta.

Sepasang irisnya terus memandangi wanita yang bernama nyonya Witson itu, tubuhnya mendadak merinding seperti baru saja disentuh makhluk halus (begitu kata orang-orang). Tatapan curiga terus membuntuti ny. Witson, dengan tatapan tak jauh kejam dari Greta menusuk matanya pula. Dalam bahasa isyarat yang Lemuel ketahui sebagai: jangan pandang orang lain dengan tatapan seperti itu, Lemuel! Kemudian, ia hanya mengangkat bahunya, lalu hendak menutup pintu.

"Hei, aku belum mendapatkan jatah sarapanku." Pintu itu tertahan tidak tertutup oleh satu kaki Phelps. Tanpa menunggu balasan lagi dari Lemuel, Phelps masuk kedalam dengan cengiran lebar khasnya yang lebih mirip seperti cengiran kuda. "Hai, Ms. Charlton!" Seolah baru mendapatkan nilai F disemua pelajaran, wajah Phelps kini pucat pasi.

"Ha. Selapar itu kau, Phelps?" Goda Lemuel, "Atau kaget lihat mama melotot?" Ia terkekeh tanpa kaget melihat Greta semakin melotot kearah Lemuel, dan mendapatkan isyarat lainnya kalau jatah uang jajan Lemuel untuk liburan musim panas akan dipotong dua puluh persen.

"Aku punya rencana lebih baik kita sarapan diluar, aku yang teraktir, eh, kau deh, aku kan tidak punya uang."

Ada jeda keheningan yang membuat Lemuel bingung. Ada sesuatu yang salah, ia yakin. Kemudian, nyonya Witson terkekeh—bukan, dia terkikik seperti nyanyian horor. Dia bergumam, "Mau pergi kemana anak-anak?" Setelah itu, waktu mendadak dipercepat, karena yang diingat Lemuel hanyalah wanita paruh baya itu berubah dengan cepat menjadi makhluk mengerikan, jelek, dan bersayap dengan cakar-cakar yang lancip. Lemuel mengumpat dengan bahasa buruk didepan ibunya yang tidak melihat kejangalan sedikit pun.

"Tidak, ma! Awas monster!" Melempar payung yang ada didekatnya ke kepala makhluk jelek itu, tanpa menimbulkan sedikit pun kesakitan untuknya "Lemuel!" Bentak Greta, "Kau sungguh tidak sopan! Kau dihukum tidak ada uang jajan penuh satu bulan!"

"But, ma! She's a monster! Look her—" satu tangannya ditarik membuatnya terhuyung menabrak tembok. "Ups, sori, salah. Tapi tidak ada waktu menjelaskan, ayo pergi!" Lemuel masih berdiri disana dengan bimbang, ia tak percaya dengan apa yang terjadi, mungkin ia sedang bermimpi? Tapi ini terlalu nyata, sampai ia sadar bahwa memang ini nyata dengan nyeri yang menggerogoti punggungnya. Ia bisa merasakan darah yang menetes merembes keluar dari kulitnya.

"Shit!" Ia mengumpat lagi. Dari sudut ekor matanya Lemuel melihat Phelps melemparkan sesuatu mengalihkan perhatian si monster jelek itu, kemudian menarik Lemuel lagi, "I told ya, ayo cepat! Aku temukan kunci mobil nih kita bisa kabur."

"Tapi bagaimana dengan ma?"

"Dia tidak menginginkan ibumu, tapi kau—karena kau anak setengah dewa."

Whoa, tidak menyangka jadi sepanjang ini (.....)
Edited by Lemuel Charlton, May 16 2017, 11:17 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Chelsea Harper
Member Avatar

Dikejar Makhluk Baik

“Apa kau menggangu Sam lagi, Chelsea?”

“Nggak kok, Nek! Aku nggak mengganggunya. Dia saja yang nggak suka padaku,” jawab Chelsea sambil mengemas barang-barangnya ke dalam mobil. “Aku kan cuma mengganggunya sekali waktu temannya, Gideon, berulang tahun. Setelah itu aku nggak pernah dekat-dekat lagi kok.” Nadanya penuh dengan pembelaan. Gadis Harper itu melirik ke arah sang nenek untuk melihat ekspresi yang dipasangan seperti apa. Ternyata hanya geleng-geleng kepala sambil menghela napas.

“Sudah, sudah. Ayo berangkat! Kau mau duduk di depan, kiddo?” ajak kakeknya yang langsung membuat Chelsea sumringah.

“Mauuuu!”

Lagipula, Chelsea tidak mau mengngat-ingat Sam Beauford yang pernah ia jegal kakinya karena anak lelaki itu berlari terus dan membuat keributan. Ia juga mengambil permen di kantung Sam saat dia jatuh. Sejak saat itu, Chelsea dianggap pengganggu oleh Sam dan teman-teman ‘macho’nya. Dan sejak saat itu pula, Chelsea jadi sulit bermain dengan laki-laki. Tapi terserah saja, sekarang ia sedang dalam perjalanan menuju pantai!

Herannya, di pantai itu ada seorang pemuda yang menghampirinya dan mereka bercakap-cakap dengan cukup santai. Tentu saja Chelsea langsung senang bukan kepalang. Namun ia menyadari sesuatu; pemuda itu memakai celana panjang dan sepatu juga jalannya tak seimbang.

Ketika ditanya berapa sering pemuda yang mengenalkann diri sebagai Timmy itu ke pantai, yang ia dapat adalah gelengkan kepala dan menjawab bahwa dia baru pertama ke pantai dan anehnya lagi, dia tak mau jauh-jauh dari Chelsea. Merasa tak aman, Chelsea sempat berusaha menjauh dengan berlari—ia cukup pandai—sampai langkahnya terhenti karena ada kepiting. Kepiting sebesar tangannya yang entah bagainana caranya hewan itu bertambah besar.

“CHELSEA!” Panggil Timmy. Gestur tangannya menyuruh Chelsea untuk berlari; kabur. Ia lebih terkejut karena tidak ada yang sadar kepiting itu menjadi sangat besar kecuali dirinya dan Timmy. Kakek dan neneknya juga diam saja.

Begitu capitnya bergerak hendak menangkap Chelsea, gadis itu langsung menghindar. “TIMMY!” Panggilnya keras. Timmy berlari—tunggu, berlari? Ya, Timmy berlari dan sama cepatnya dengan Chelsea. Tahu-tahu mereka sudah mau masuk ke daerah yang penuh dengan pepohonan, seperti hutan. Suara capit kepiting masih terdengar begitu jelas.

“Timmy! Kenapa kepitingnya besar sekali?! Timmy! Kau bisa lari!”

Fokus, Chels. Fokus.

“Lari terus ya ke depan! Aku akan mengulur waktu!” Timmy tiba-tiba berhenti dan melepaskan sepatunya, memperlihatkan..., apa itu? Kaki kuda atau apa? tanya Chelsea dalam hati. Jadi, Timmy itu bukan laki-laki tapi kuda? Jadi, Chelsea tetap belum bisa berkawan dengan laki-laki?

“Timmy! Aku harus kemana?!”

“Perkemahan, Chelsea! Perkemahan!”

“Tapi aku menginap di motel, Tim!”

“CHELSEA! LARI!” Baru kali ini Chelsea dibentak oleh..., seorang pemuda berkaki kuda dan ia menurut-nurut saja. Kakinya terus bergerak dan ia juga tak menolehkan kepalanya ke belakang. Begitu ia sudah merasa jauh, barulah ia ingat dengan nenekdan kakeknya. Aduh, perkemahaan apa pula yang Timmy maksud?
Offline Profile Goto Top
 
Mikaela Laursen
Member Avatar

[ Mimpi ]
___


Entah sudah berapa jam Mikaela berada di taman, duduk berselonjor dengan sebuah buku album foto terbuka di atas pangkuannya, dengan betah membiarkan rumput-rumput liar menggelitik betis dan telapak kakinya yang tak beralas. Pastinya cukup lama, sebab di kejauhan matahari tampak tak akan lama lagi menyentuh garis cakrawala. Rasanya Mikaela pun tak lagi peduli jika Bibi Camilla memarahinya—toh wanita itu memang tidak pernah menyukai apapun yang Mikaela lakukan, termasuk bernapas, barangkali. Jadi, yeah, tidak akan ada pengaruhnya.

Jemari rampingnya yang dipoles cat kuku berwarna hijau mint itu berlama-lama mengusap salah satu foto yang tampak paling lusuh—seolah foto itu sudah terlalu lama berada di dalam dompet seseorang sebelum di tempel di sana. Dalam foto itu tampak seorang pria berambut cokelat gelap dengan cengiran jumawa berdiri di atas dermaga sembari memegang seekor ikan besar; dan berdiri di sampingnya, seorang anak perempuan dikuncir dua dengan tinggi badan yang tak melebihi pinggang si pria, memasang air muka yang tampak seolah mau menangis keras-keras.

Seulas senyum getir terkembang di wajah pucat Mikaela kala kilasan memori buram tersebut berkelebat dalam benaknya. Namun dengan cepat lekuk bibirnya turun lagi saat telinganya menangkap bunyi gemerisik dari arah semak-semak rimbun di belakang. Bukan kali pertama sejak gadis Laursen itu berada di sana. Kepalanya menoleh, mengamati selama beberapa saat—suara itu hilang. Mikaela mengangkat bahu sekali lagi, lalu kembali menekuri buku album foto di pangkuannya.

Di sisa halaman berikutnya, tampak hanya ada foto-foto pemandangan. Dahinya mengernyit heran, membuka halaman-halaman sebelumnya, mendapati foto-foto ayah dan anak itu telah hilang seluruhnya dari album, digantikan dengan gambar-gambar pemandangan juga. Mikaela dapat melihat foto pepohonan rimbun—pedalaman hutan—jalan setapak di kawasan perbukitan, sebuah pohon pinus besar, dan apa yang kelihatannya seperti kebun stroberi. Di samping foto-foto itu terdapat tambahan keterangan yang tertulis dengan tulisan tegak bersambung. Matanya memicing ekstra untuk dapat membaca kata-kata tersebut. Anehnya, dilihat-lihat lagi semua foto itu sebetulnya terasa familiar. Seolah ini bukan kali pertama Mikaela melihat tempat-tempat tersebut.

Bukan kali pertama Mikalea ditunjukkan tempat-tempat tersebut.

Perkemahan Blasteran?

Bunyi gemerisik itu kembali, kali ini lebih keras dan diiringi embusan angin yang membuat rambut di tengkuknya meremang. Kepalanya tertoleh kembali ke belakang—sontak Mikaela bangkit berdiri dan memutar badan sepenuhnya untuk menyaksikan sebentuk bayangan hitam tinggi besar mewujud di hadapannya. Matanya terbelalak, kakinya melangkah mundur perlahan dan perlahan sampai bayangan itu bergerak mendekat ke arahnya, lantas Mikaela langsung memacu langkah menuju hamparan ilalang yang menjulang tinggi. (Sejak kapan ada padang ilalang di taman itu? Entahlah). Jatungnya berdegup amat cepat, ia memaksa tungkainya untuk berlari sekencang-kencangnya—yang membuat frustrasi, sebab langkahnya terasa berat seolah ia sedang mencoba berlari di kolam.

“Cepatlah—“ sayup-sayup Mikaela mendengar suara misterius yang terdengar seolah berasal dari segala penjuru, membuatnya menoleh ke sana kemari dengan panik. “pergi ke Perkemahan Blasteran sebelum—"

"Apa?"

Lalu kakinya terlilit sesuatu—gedebuk.



Mikaela tersentak bangun, bersamaan dengan kepalanya membentur kaca jendela taksi yang tengah ditumpanginya. Gadis itu mengerjap, mengusap pelipis, dan menutup kuap dengan sebelah tangannya yang lain. Mimpi itu lagi, pikirnya. Melihat ke luar jendela, Mikaela sama sekali tidak memiiki bayangan apakah ia sudah dekat dengan Perkemahan Blasteran atau belum. Apa ia salah arah atau tidak.

Tapi jika memang melenceng harusnya ada mimpi tentang petunjuk tambahan, eh?
Offline Profile Goto Top
 
Laura Alldridge
Member Avatar

[Dikejar monster]

Tidak ada hal yang lebih dibenci Laura daripada rencana yang berantakan.

Rencananya hari itu sederhana saja, sebenarnya—pergi ke Barnes & Noble sepulang sekolah dan membeli buku baru sebagai hadiah untuk dirinya sendiri, karena telah mendapatkan nilai yang sempurna semester ini. Diikuti oleh seorang laki-laki besar aneh bermata satu dan hanya mengenakan cawat jelas tidak termasuk dalam rencananya.

Halusinasi? Mungkin saja. Barangkali tadi pagi dia kelebihan dosis Adderall. Tapi dia yakin seratus persen bahwa geraman yang didengarnya bukan bayangannya semata.

Dia berlari ke Stasiun Union Square. Sungguh, masuk ke stasiun bawah tanah saat kau sedang menghindari penguntit—Cyclops, makhluk aneh, apalah—bukanlah ide yang baik.

Oh, yang benar saja!

Bukannya lolos, dia malah terjebak di antara makhluk itu dan kereta yang sedang berhenti. Masuk ke kereta barangkali bukanlah pilihan yang terbaik.

Dia sedang memikirkan rencana untuk kabur, saat seseorang tiba-tiba menariknya masuk ke dalam kereta—tepat sebelum pintunya tertutup, alhasil menjepit makhluk itu di pintu kereta. Laura menendangnya keras-keras, membuat pintu kereta menutup.

”Tendangan bagus.”

Laura menoleh ke arah penolongnya dan mendapati teman sekelasnya dari Simon Baruch Junior High School, Torrance.

“Torrance, kau—“

”Tidak ada waktu menjelaskan, Laura,” potong Torrance. ”Kau harus ikut denganku ke perkemahan, sekarang juga.”

“Ap—“

”Perkemahan Blasteran, Laura. Kita harus—“

“Tunggu dulu!” potongnya. “Pertama, yang barusan itu apa? Kau bisa melihatnya, kan? Dan kedua, perkemahan apa yang kau maksud?”

”Sudah kubilang, panjang ceritanya.” Torrance mengentakkan kaki kanannya sampai sepatunya terlepas. Laura nyaris pingsan saat melihatnya.

“Torrance, itu ... kaki—“

”Ya, ya, ya,” sergahnya tidak sabar. “Itu kaki kambing betulan yang di situ, Laura. Akan kujelaskan nanti. Sekarang, kau mau selamat atau tidak?”

Laura mengangguk, tidak tahu harus merespon apa lagi. “Tapi, ayahku—“

”—akan baik-baik saja,” lanjutnya. ”Kita bisa menghubunginya nanti. Yang terpenting sekarang kau sampai dulu di perkemahan.”

Puluhan, barangkali ratusan pertanyaan berputar di otaknya. Dia masih berusaha memproses semua yang terjadi.

”Kau siap untuk lari?” tanyanya saat kereta mulai melambat dan akhirnya berhenti di Stasiun Bleecker. ”Tunggu aba-abaku.”

Laura mengangguk lemah dan mengikuti Torrance keluar dari kereta. Dia bahkan tidak bertanya saat Torrance mengendus-endus udara. Anak laki-laki itu kontan menegang, pandangannya tertambat pada satu titik di ujung stasiun—pada sesosok laki-laki besar bermata satu lain.

“Lari, Laura,” katanya. “SEKARANG!”
Offline Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create your own social network with a free forum.
Go to Next Page
« Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic »
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 3


|| Black Water created by tiptopolive of IDS || Modified by Zeus ||