CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 1 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sep 19 2015, 05:00 PM (1,118 Views) | |
| Chiron | Sep 19 2015, 05:00 PM Post #1 |
![]()
The Eldest Centaur
|
Selamat Datang di Petualangan Pertama Term 1 Silakan cek Panduan Umum untuk lebih lengkapnya! Jika sudah merasa yakin, silakan ceritakan petualangan kalian di bawah ya *centaur kisses* |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 03:22 PM Post #2 |
|
Deleted User
|
[Diserang Monster] “Aku—“, “Astaga, cepat sekali kepiting itu berjalan! Dia sudah hampir mencapai perempatan jalan!”, “—tidak butuh bantuan—“, “cepat! Cepat! Gyaaaa! Capitnya, demi segala Dewa di Olympus!”, “—pergi.” (dan sekalian, berhenti menarik-narik tangannya.) Ri—chard? Benar. Kedua alis mengernyit dalam dan batu berukuran sedang berada di balik genggaman, siap dilemparkan menuju lauk makan malam yang dagingnya tentunya berlimpah ruah dengan ukuran sebesar itu. Cengirnya lebar, mendapati malam ini ia dan Sarah akan makan mewah. Sayang, sirna kesemuanya itu ketika seseorang menariknya paksa pergi dari sana, tak sempat membuatnya menghantarkan tinju peringatan agar tak melakukan hal tersebut kedua kalinya. Begitu sadar benar akan situasi yang terjadi, kedua kakinya sudah dibawa berpacu dengan cepat. Meski keinginannya lebih dari sekadar berlari bersama pecundang yang tinggal bersebelahan rumah dengannya tersebut. Yang tak pernah berhenti diam, bahkan ketika desisan kesal terucap di sela kedua bibir dan tangan kanan yang senantiasa ditarik, meminta lepas. Ia bukan seorang anak kecil yang butuh dituntun untuk langkah pertama yang hendak diambilnya. “Kau tuli ya? Tidak dengar aku bicara apa?” Kericuhan yang terjadi di sisi belakang sempat ditatapnya sekilas, namun tetaplah memacu langkahnya. Ada beberapa kalimat terlontar di udara sementara yang ditangkap olehnya hanyalah dua kata. Dewa dan cepat. Einstein pun tak akan langsung mengerti, diberikan dua kata ambigu seperti itu. “Stop talking for a sec, will you?!” Hissing, he is. |
|
|
| Javier Dixon | Oct 3 2015, 03:28 PM Post #3 |
![]()
|
[ setelah diserang mahluk baik ] Usianya masih sebelas, saat sepatu kesayangannya mulai bolong karena digunakan berlari terus menerus, dan tongkat baseball yang diambilnya dari kamar sepupunya Austin mulai kelihatan semakin rapuh. Sudah berapa lama anak ini berjalan, sebenarnya, dengan penampilan semencolok rambut pirang pucat dan kulit yang tak kalah pucatnya, apa itu yang membuatnya jadi santapan empuk mahluk-mahluk seram yang wujudnya tidak bisa ia deskripsikan dalam sekali. Saking menyeramkannya, tapi itu nggak begitu jantan untuk diakui, maka dari itu ketimbang mendeskripsikan dengan kata seram, ganti menjadi buruk rupa saja. “Kamu yakin kamu tahu jalan?” Embikan yang menyambut. Javier hanya bisa menghela napas dengan setengah mati mencoba menutupi hidungnya dari bau khas kambing. Di sebelahnya itu, sosok yang berpenampilan seperti orang biasa dalam lanskap mahluk fana sebenarnya adalah seekor satir, yang lebih terbiasa mengembik daripada bicara soal situs asing di Yunani kuno. Tingginya tidak seberapa, tapi sekarang padang kosong dengan rumah yang sepertinya berjarak satu kilometer sekali itu tampak sangat mengganggunya. Dia berjalan sudah lama sekali, permisi, kakinya pegal bukan main. Kembali ke rumah, komentar ayahnya barangkali adalah ‘kamu habis naik gunung’. Apparently, yes, dad, dia habis naik gunung, melewati beberapa jalan, hanya karena enggan bertemu dengan mahluk yang membuatnya berlari sejauh ini. Dan apa kata satir yang mengaku bernama Kuryack itu? Oh, perihal statusnya yang setengah dewa. Terserah, pasang senyum saja, pokoknya sekarang harus cari tempat aman. |
![]() |
|
| Callum Ashworth | Oct 3 2015, 03:58 PM Post #4 |
![]()
|
Diserang Monster “Hei Callum.” Callum menoleh. Bocah itu mengeratkan pengangannya pada tasnya yang ia panggul di bahu kanan. Iris hitamnya yang segelap malam memperhatikan Bradley yang mendekatinya. Bradley adalah tukang tindas di sekolahnya yang reputasinya sudah cukup lumayan di antara anak-anak seangkatannya, sedangkan Callum adalah sasaran dari kekerasan Bradley sehari-hari. “Apa? Aku sudah tidak punya bekal makan siang lagi. Uangku sudah kau ambil tadi.” Brad tertawa mengecek. Callum menatapnya dengan pandangan bosan dan tidak tertarik. Ia benar-benar tidak tertarik untuk diganggu lagi dalam perjalanan pulang. Sebenarnya Callum selama satu minggu terakhir sudah menahan diri dan tidak pernah membalas walaupun berkali-kali diganggu. Anak baru saja sudah banyak ulah. Walaupun begitu, ia menatap Brad dengan wajah datar dan malas. “Aku yakin kamu masih punya makanan yang tersisa untukku.” “Kamu ini keras kepala sekali. Baiklah.” Tidak, Cal tidak punya makanan lagi. Tetapi ada satu hal yang bisa ia lakukan untuk bocah besar ini. Mungkin ia akan dihukum setelahnya, tetapi tidak apa-apa. Lebih baik dihukum daripada ia ditindas sekali lagi. Callum membuka tasnya, mengeluarkan kotak yang isinya jangka untuk pelajaran Geometri, lalu segera menancapkan ujung jangka tersebut ke mata Brad. Orang itu pasti kuat sekali sampai-sampai jangka milik Callum bengkok. Bahkan matanya kelihatan baik-baik saja. Aneh. Bocah sebelas tahun itu tertegun sementara menyaksikan tubuh Brad tumbuh semakin besar. Matanya berkurang sehingga tinggal satu. Bulat, besar, di tengah-tengah. Sial, apakah ia berhalusinasi? Brad mencengkram leher Callum dengan mudah dan mengangkatnya seperti boneka kain. Untunglah dari belakang Brad muncul Xavier. Dari segelintir anak di sekolahnya, Xavier salah satu yang bersikap baik kepada Callum. Ia membawa tongkat kayu. Bocah itu kelihatan seperti biasa, rambut keriting tak beraturan, pakaian kusut, dan senyum percaya diri seolah-olah tidak ada yang tidak bisa ia hadapi. Xavier mendekati Brad dari belakang dan memukul makhluk itu dengan sekuat tenaga. Seketika itu juga, Callum lepas dari genggaman Brad. Ia segera membungkuk dan mengambil tasnya “Hey, mate! Sini, ikuti aku!” Callum tergopoh-gopoh bangun dan segera lari mengejar Xavier, meninggalkan jangkanya yang bengkok. Tangannya gemetar dan ia berkeringat dingin. Ya ampun, ya ampun. Beberapa saat setelah mereka kabur, barulah ia menyadari kalau Xavier memiliki kaki berkuku belah yang berbulu. Apa yang sebenarnya terjadi? Edited by Callum Ashworth, Oct 3 2015, 03:59 PM.
|
![]() |
|
| Lacey Arrington | Oct 3 2015, 04:01 PM Post #5 |
![]()
|
[Diserang Momon] Demi kakeknya, Lacey rela pakai dress. Dengan rambut di sanggul, dan sedikit riasan pada wajahnya. Seperti badut. Oh ya ampun, rasanya seperti memakai topeng tebal. Berkali-kali, Lacey berkedip cepat agar bulu mata palsunya jatuh. Perayaan ulangtahun macam apa ini? Sampai-sampai Lacey harus berias-ria dulu. Lihat, si Harleth yang dari tadi menahan tawa karena Calla—ibunya yang mendandaninya seperti ini. Tangannya terlipat di dada, "Ketawa aja sih, nggak usah ditahan-tahan gitu." Lalu, pandangannya menyebar. Pesta ulangtahun kakeknya yang ke tujuh puluh lima memang sengaja dibuat besar, meski perayaannya masih di halaman rumah, tapi lihat dulu dong rumahnya yang super-duper besar ini. Mengalahkan ballroom yang ada di hotel-hotel bintang kejora. Tamu yang datang lumayan banyak—yeah, masa sih umur tujuh puluh lima temannya dikit. Tapi jangan pernah tanya Lacey untuk mengingat siapa saja orang yang datang, karena butuh waktu dua bulan bagi Lacey untuk mengingat nama teman dikelasnya. "Bosen, cabut yuk." Tujuan Lacey datang kesini cuma satu sih; makan. Lacey menyukai pesta, ia bisa betah berlama-lama diam di sebuah pesta, tapi kalau pesta yang datangnya orang-orang botak atau rambut yang sudah mulai memutih sih membosankan juga. Tidak bisa loncat-loncat, mendengarkan musik yang membuat telinga bising (maklum, nanti gendang telinganya bisa mudah pecah). Jadi, lebih baik pergi saja, bukan begitu? Lacey yang menunjukkan jalan. Sebenarnya mudah, tinggal masuk saja ke dalam rumah, lalu diam di kamarnya (oh jelas Lacey punya kamar sendiri dirumah kakeknya!). Tapi itu lebih membosankan lagi, "Kau punya rencana?" justru ketika Lacey memiliki banyak waktu luang, ia malah kehabisan ide. “Selamat siang anak-anak,” ternyata di dalam rumah ada orang juga. Salah satu asisten rumah tangga—yang baru. Lacey belum pernah melihat wanita itu sebelumnya, meski ia sulit mengingat nama orang, tapi ia tidak terlalu kesulitan untuk mengahapal wajah orang. “Mau kabur?” “Menurut L aja sih,” jawab Lacey bosan. Keningnya agak berkerut tadi, kemudian sikutnya menyenggol Harleth, dan berbisik, “Kau kenal dia?” “Tidak perlu berbisik seperti itu, kalian sungguh menggiurkan.” Wanita itu menjilat bibirnya, lalu menatap Lacey dan Harleth seperti sedang menatap sirlion steak gratisan. “LACEY HARLETH CEPAT LARI KESINI!” Ditambah lagi seorang laki-laki berkulit coklat yang agak pendek berteriak dibelakang si wanita aneh itu—yang ternyata memiliki paruh dan sayap seperti burung. bareng Haleth Arriongton, sudah izin ' ')/ Edited by Lacey Arrington, Oct 3 2015, 04:02 PM.
|
![]() |
|
| Keelan Kim | Oct 3 2015, 04:04 PM Post #6 |
![]()
|
[ diserang makhluk baik ] ”Demi kuil Olympus, Keelan, kita harus cepat kabur! Kau ingin dilahap mereka habis-habisan?” Berisik. Sudah beberapa hari semenjak dia meninggalkan rumah ol’ man Hank di sebelah rumah Kim, sudah beberapa hari juga semenjak Mervyn (awalnya dia tidak tahu nama si bocah berambut merah ikal dan penuh bintik di wajah itu siapa, sampai dia ingat kalau bocah ini yang pernah dia dorong ke dalam loker orang dan dicuri makan siangnya) menemukannya dan mengikutinya sambil berkoar—dan mengembik? Keelan pura-pura tidak mendengar embikan yang kadang disuarakan Mervyn dalam akhir perkataannya, dia pura-pura tidak sadar saat Mervyn berbicara sambil mengunyah kaleng kosong soda di tangannya, dia benar-benar tidak melihat kaki kambing yang digunakan Mervyn untuk berjalan. Keelan juga pura-pura tidak melihat ada sosok besar dengan satu mata yang sedang memegang gada dan berlari ke arah mereka. Raksasa apaan, yang dari tadi dia lihat hanya sekumpulan berandalan yang sempat mencegatnya di Pleasantville (pleasant apanya). Dia tidak akan kalah lawan berandalan jalanan, enak saja, lebih baik Keelan menghajar mereka sampai mereka tidak bisa bangun dan dia bisa pergi lagi—dan mencari cara untuk mengusir Mervyn dari perjalanannya. ”Keelan, ayo cepat kita lari—awas!” Kali ini gada yang diayunkan padanya terasa begitu nyata, hingga Keelan terperanjat untuk beberapa detik dan Mervyn menggunakan kesempatan itu untuk kembali menariknya, memaksa kakinya untuk berpacu mengikuti tapak kambing Mervyn. Keelan menoleh, pada raksasa yang meraung kesal dan ucapan-ucapan tidak jelas dari Mervyn. Anak dewa? Menyusahkan? Apa-apaan sih ini, sebenarnya. |
![]() |
|
| Ludwig Amsel | Oct 3 2015, 04:04 PM Post #7 |
![]()
|
[dikejar monster] “Al, mataharinya hilang.” “Hah?” “Soalnya kamu nggak senyum.” Dan Ludwig langsung menunduk menghindari tonjokan mengarah ke wajah sambil terkikik geli, tambah terbahak begitu tonjokan itu mengenai bahunya. Tipikal. Mengusili Alphaerio Arcanus seperti ini merupakan salah satu hobinya, tak peduli bahwa mereka berdua sedang ditugasi untuk berbelanja (... sebenarnya awalnya hanya Alpha, tetapi dasar, ia bersikeras untuk ikut karena entah kenapa, ia khawatir). Padahal langitnya cerah, pun semuanya tampak baik-baik saja, tetapi perasaan tak enak ini tak kunjung hilang, hanya berusaha ditutupi sedikit dengan bersiul sumbang atau menjahili sang sobat. “Hai, nak.” Langkahnya langsung berhenti. Bersamaan dengan dingin yang menjalar hingga kuping. Ada seorang wanita yang menghentikan langkah mereka—wanita cantik, dan semuanya terjadi begitu cepat. Wanita itu berubah—bukan lagi menjadi sosok manusia. Sayap-sayap itu muncul, dan refleks ia melangkah mundur. Berlari, mereka berdua dari kejaran wanita itu—opsi terbaik yang mereka punya saat ini (tidak mungkin melawan, memanggil polisi? Ia tak yakin itu dapat membantu). Tanpa sadar, ia melangkah lebih cepat dari Alpha, berada di depannya. Ketakutan, terengah, kebingungan mengenai apa yang tengah terjadi sekarang. Kenapa bisa? (dan mungkin, ia sudah menemukan jawaban mengapa perasaannya tidak enak.) “Ludwig! Tunggu!” Dan ia menoleh ke belakang. “Alpha!” Tanpa membuang waktu, ia mengikuti langkah teman satu pantinya. Cepat, cepat berlari menuju arah yang ditunjukkan, sebuah gang sempit yang ada di beberapa blok dekat panti asuhan mereka. Setelah ia berhasil menyusul Alpha, digenggamnya tangan itu kuat-kuat (dan sadar bahwa tangan mereka berdua sama-sama dingin dan berkeringat—ketakutan). Napasnya tertahan. Ia yakin monster itu tak akan menemukan mereka (lagipula yang menentukan tempatnya adalah Alpha, yang selalu punya solusi terbaik atas semua masalah), tetapi tetap, ia tak dapat berhenti khawatir. Bagaimanapun, Ludwig masih anak-anak yang baru mengalami efek kejut berkat bertemu monster seperti komik-komik milik Conrad. “... sudah aman?” Suaranya lirih, takut didengar siapapun kecuali Alpha. Suara kepakan sayap itu spontan membuat mulutnya bungkam, hanya dapat mengangguk begitu mendengar intruksi Alpha dan mengikutinya. Kakinya melangkah pelan, merapat ke dinding dan bersembunyi di balik bayang-bayang. Aman. Terus, terus melangkah pelan dengan jantung berpacu cepat. Beberapa meter lagi sebelum mereka berdua tiba di panti asuhan, hal pertama yang harus mereka lakukan adalah bersembunyi sampai kepakan sayap serta teriakan histeris itu menghilang dan— —atau tidak. “Shane?” Terkejut, jelas dengan apa yang dilihat matanya. Tukang kebun panti yang menunggu mereka di sisi ujung celah—dengan kaki kambing? Astaga, ini mimpi atau justru realita? Belum hilang keterkejutannya, ia menemukan sosok lain yang datang mendekat, juru masak Port Sunshine, Brown, dengan penampilan yang tak jauh berbeda. Tersenyum cerah dan berkata, “Ludwig! Syukurlah kau juga ada di sini, ayo cepat. Kita tak ada waktu lagi!” Tangannya tiba-tiba ditarik, dan pegangannya dengan tangan Alpha terlepas. Kakinya mau tak mau ikut berlari, menyamakan langkah dengan kaki-kaki kambing Brown, sementara manik kelamnya melirik ke arah Alpha dan Shane yang berada tak jauh dari mereka berdua. Tunggu sebentar, matanya menangkap bibir Shane yang bergerak (suaranya tak begitu terdengar, sayangnya) kemudian membulatlah maniknya. “Tunggu, kita mau ke mana?” “Ke tempat di mana kalian aman.” Eh? sudah izin dengan pmnya Edited by Ludwig Amsel, Oct 3 2015, 04:05 PM.
|
![]() |
|
| Karlotta Meadow | Oct 3 2015, 04:06 PM Post #8 |
![]()
|
[Diserang makhluk baik] Rasanya pusing sekali. Tidak tahu apakah yang membuatnya merasa seperti ini, tetapi dunia terasa berputar di sekitarnya. Jangan bilang Karla terkena vertigo seperti Auntie Bonnie yang terlalu sering membuat Dad susah kalau vertigonya kambuh. Tetangga flatnya itu mungkin menaruh hati pada ayahnya, tetapi Karla tidak akan membiarkan tante-tante genit itu sampai menggoda sang ayah. Sembari memijat pelipisnya, Karla terus berjalan menuju apartemen. Jalanan kecil itu terlihat sepi—tidak seperti jalanan yang sebelumnya ia lewati, yang penuh kendaraan dan padat oleh manusia. Aneh sekali. Karlotta mengeratkan genggamannya pada strap tas sandangnya. Entah kenapa firasatnya tidak begitu baik hingga kakinya refleks melangkah cepat menuju arah apartemen. Telinganya menangkap suara aneh yang berasal dari gorong-gorong di bawahnya, tetapi Karla beranggapan itu hanya halusinasi. Sudah terlalu banyak yang mengatakannya aneh karena hal-hal tidak biasa yang dirasakan maupun dialaminya sehingga Karla memilih untuk diam. Kalau soal dirinya yang tidak bisa tenang dan sering sekali berbuat hal yang sampai membuat temannya sebal, itu sudah bisa diatasi. Jangan kira Karla tidak punya teman gara-gara itu—tentu dia bisa berteman dengan siapapun yang ia mau. Namun tidak ada seorang pun yang dianggapnya sahabat ataupun teman dekat, just because. Suara di balik gorong-gorong itu semakin jelas terdengar. Karla mulai takut, ia nyaris terjatuh saat berlari. Firasatnya semakin buruk hingga ia memilih untuk lari ke dalam gang kecil. Tiba-tiba saja terdengar suara debam yang keras hingga Karla nyaris terjerembab ke lantai beton. Benar saja, firasat anehnya ternyata terbukti. Seekor kepiting raksasa menggerakkan capitnya dengan gesture mengancam di hadapannya, membuat Karla menjerit dan berusaha berlari sekuat tenaga. “LEWAT SINI!” Lalu seketika itu juga tubuhnya terasa seperti ditarik seseorang(?) yang tidak dikenal. Kata Dad, kalau bertemu dengan orang asing tidak boleh sampai mau dibawa kabur. Makanya Karla berusaha berontak sambil berteriak minta dilepaskan. Namun orang itu malah memarahinya dan berkata soal demigod. “JANGAN NGOMONG SEMBARANGAN! HIDUPKU SEDANG TERANCAM NIH!” “KAMU YANG JANGAN BICARA TERUS! SUDAH IKUT SAJA KE PERKEMAHAN DEMIGOD!” “NGGAK MAU! ENGGAK—KYAAA!” Kepiting raksasanya sepertinya marah dan nyaris saja memotong tubuh Karla menjadi dua jika saja ia tidak melemparkan tasnya untuk melindungi diri. Hah, menyebalkan. Kenapa dia harus berada dalam situasi ini. Perjalanannya berlari juga cukup jauh hingga membuatnya capek sebelum akhirnya orang tersebut berhenti dan memberinya air minum. Barulah Karla tahu bahwa orang itu bukan manusia sesungguhnya. “K-kamu siapa?!” Karla gemetar, matanya membelalak ketakutan. Namun kakinya tidak bisa bergerak lagi, mungkin dia akan pingsan sebentar lagi. “Jangan bicara lagi. Kamu harus masuk perkemahan agar tidak diincar makhluk baik terus. Tidak ada penolakan,” ucap manusia setengah kuda(?) itu dengan ekspresi masam. Lalu yang Karla ketahui selanjutnya adalah suara cemas si manusia aneh dan sekelilingnya yang mendadak gelap. |
![]() |
|
| Chriselda Ammondt | Oct 3 2015, 04:10 PM Post #9 |
![]()
|
DIKEJAR MONSTER Apakah ini mimpi, atau bukan? Tapi mengingat siapa gerangan yang bersamanya ini, rasanya ia sedang tidak bermimpi. Lalu apa—ilusi? Sepertinya bukan ilusi juga kalau melihat beberapa kerusakan yang entah besar satu kecil yang muncul berkat makhluk mengerikan yang punya sayap,taring dan cakar yang tajam, dan juga yang sedang mengejar Chriselda dan Drake. Makhluk yang awalnya berwujud wanita cantik yang sedang menanyakan jalan pada kedua anak lucu ini—tunggu, Drake itu tidak lucu. But anyway, dari sekian banyak orang kenapa Chriselda yang dikejar? Terlebih bersama Drake pula. Wajar saja sih kalau ia dikejar bersama Drake, toh hampir setiap hari Chriselda bertemu dan berada di sisi Drake—uhuk—istilah kasarnya karena mereka sudah menjadi teman berkat orang tua Chriselda dan Drake. Ahem. Sudah cukup mengenai Chriselda dan Drake, sekarang waktunya menghilanf dari hadapan makhluk menyeramkan itu. Chriselda sudah tidak tahu lagi yang mana yang nyata dan bukan, karena katanya makhluk itu hanya ada di buku-buku bagian mitologi, dan sekarang ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Yang perlu ia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya hilang dari pandangan makhluk itu. Setidaknya Drake harus selamat kalau makhluk itu benar-benar mau membunuh mereka berdua. Tapi bagaimana caranya? Ya dengan berpencar. Oleh karena itu Chriselda langsung berlari ke area yang dipenuhi oleh pepohonan, yang agak gelap juga. Ia sembunyi di balik satu pohon yang sekiranya sedikit lebih besar dari yang lain, sekalian mencoba mengatur napasnya karena lelah berlari. Ia berharap makhluk itu mengejar dirinya, bukan Drake, mengenai bagaimana caranya selamat dari makhluk itu akan dipikirkan lagi nanti kalau Drake setidaknya sudah tidak ada di tempat ini— “HEI! JELEK! SINI KAU!” —or not. ‘Oh my—Drake, you fool!’ pikirya, menoleh untuk melihat anak lelaki itu. Tapi belum sempat ia benar-benar melihat kondisi Drake Yoxall, tiba-tiba ada yang menariknya dari belakang! Tidak tanggung-tanggung, yang menariknya itu juga menutup mulut Chriselda sampai gadis ini tidak sempat teriak! Mau teriak juga tidak bisa sih karena ada makhluk itu. Hanya bisa melirik-untuk saat ini sebut saja—tuan penculiknya dengan tatapan curiga, waspada, agak galak juga. Ya siapa sih yang mau diculik. “Sst. Kita akan pergi dari sini.” Ujar si tuan penculik sembari menarik, membawa Chriselda pergi jauh dari hadapan makhluk tadi “Masuk, dan kita akan menunggu temanmu sebentar sebelum benar-benar pergi dari sini.” Ujar si tuan penculik lagi, sementara Chriselda masuk ke dalam mobilnya dan berpikir teman yang dimaksud. Pasti Drake. Pasti. Tidak lama kemudian Chriselda melihat sosok anak lelaki itu yang masuk ke dalam mobil. “Elda! Euh, Chris maksudku.. Selamat, eh?” “…” Yha. Mau ngomel tapi kok rasanya lelah sekali. “Kelihatannya kau juga selamat,” balasnya dengan tatapan datar. Setidaknya tatapannya masih datar sampai ketika ia mendengar tuan penculik nomor dua. “Tunggu sebentar, perkemahan blasteran…?” perkemahan macam apa pula itu. Tapi kelihatannya kedua penculik ini akan menjelaskannya sebentar lagi. Edited by Chriselda Ammondt, Oct 3 2015, 04:30 PM.
|
![]() |
|
| Alphaerio Arcanus | Oct 3 2015, 04:12 PM Post #10 |
![]()
|
[Dikejar Monster] Kakinya yang kurus itu nyaris tersandung batu. Namun ia terus berlari. Menyeruak tak peduli ketika sepatunya menginjak genangan air di atas jalanan berlapis aspal, menyebabkan percikan air keruh mengotori celana panjangnya. Mata abu-abu itu memandang lurus, sesekali mengerling mencari celah. Telinganya awas mendengarkan suara kepak sayap yang membelah udara—di belakang sana, ada monster yang mengejar. Makhluk bersayap, wanita yang sebelum berubah menjadi monster menyapanya dengan ramah, satu blok dari supermarket tempatnya berbelanja buah-buahan yang dipesan Nyonya Agnes. (dan hal itu terjadi setelah Ludwig melancarkan gombalan tidak bermutu padanya, yang disambut tinju ke bahu anak itu) “Ludwig! Tunggu!” Ia tidak sendirian, di depannya ada seorang anak laki-laki, temannya sesama penghuni panti. Sama, mereka dikejar makhluk bersayap yang mengerikan. “Belok sini!” Jalan di belakang bangunan ini cukup dihafalnya. Kurang lebih, dua blok dari Port Sunshine—panti asuhan tempat tinggal mereka. Terengah-engah, ia membelokkan langkah kakinya menuju sebuah gang sempit. Di bibir celah antara dua bangunan, ia menunggu Ludwig mengikutinya. Memastikan mereka tidak terpisah. Ia merasakan tangannya digenggam, Ludwig sudah berada di sampingnya. Balas menggenggam tangan yang sama-sama terasa dingin, sementara suara wanita monster bersayap itu mulai terdengar makin jelas, kepak sayap, dan pekik murka. Mengerikan. Anak laki-laki bertubuh kurus itu berdecak, antara kesal dan panik mencari tempat bersembunyi. “Ludwig, jalan pelan-pelan. Merapat ke dinding, jangan sampai bersuara. Ikuti aku,” perintahnya dengan suara berbisik. Sambil merapat ke dinding, berjalan menyamping dan tidak melepaskan tangan kawannya itu. Terus menyusuri celah itu. Di dekat sini ada jalan tembus menuju panti. Tidak terlalu jauh. Di ujung sana. Keberadaan mereka tertutupi bayang-bayang gedung. Setidaknya cukup untuk menyembunyikan dari monster terbang itu. Jantungnya berpacu cepat, sesekali ia menoleh untuk memastikan monster bersayap tak ada di belakang sana. Sedikit lagi sampai. Jalan tembus itu. “ALPHA!” Ia nyaris terjungkal. Sangat terkejut karena di sisi ujung celah ini tiba-tiba berdiri seorang pria pendek yang dikenalinya sebagai tukang kebun di Port Sunshine—Jordan Shane. Shane, tetapi tidak berpenampilan seperti biasa. Mata Alpha terbeliak, melihat kaki pria itu tampak seperti kambing. Astaga. Ia berhenti. “…tunggu dulu. Siapa kau?” Bertanya, waspada. Jangan-jangan monster itu menyamar menjadi Shane. Shane yang berkaki kambing, cemberut. Mencibir seperti anak kecil. “Alphaaaa! Ini aku! Sudahlah, ayo sekarang cepat kemari,” dan sempat merajuk di awal sebelum meyakinkan Alpha serta membuatnya mengerenyit. Ia bukan anak yang mudah percaya, tetapi hatinya tergerak. Menoleh, ia mengangguk ke arah Ludwig. Berjalan cepat menghampiri Shane—yang ternyata ditemani koki panti, Brown (dengan penampilan sama; berkaki seperti kambing). Mereka tidak punya banyak waktu mengobrol walau Alpha menyimpan begitu banyak pertanyaan, suara monster bersayap itu makin dekat. Shane bicara entah apa—dan langsung menarik Alpha. Mereka berlari, dan Alpha hanya bisa berdoa semoga ini jalannya terlepas dari maut. Ludwig bertanya mereka akan ke mana, dan jawaban Shane adalah ke tempat di mana mereka akan aman. Benar, ia hanya bisa berdoa. bersama Ludwig, sudah seizin ybs. CMIIW. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|














1:59 AM Jul 12