CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 1 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sep 19 2015, 05:00 PM (1,126 Views) | |
| Lana Saunders | Oct 3 2015, 04:16 PM Post #11 |
![]()
|
[ MIMPI ] Semua bermula pada geng cantik yang diketuai Marlyn berjalan pongah seakan jadi pemilik kafe sekolah mereka, menatap satu persatu dengan pandangan merendahkan. Lana tahu sebaiknya tidak mencari masalah dengan kelompok itu, jadi ia menyingkir lebih jauh lagi seperti biasa; berharap mereka tidak tertarik pada eksistensinya dan membiarkan Lana menikmati sandwichnya dengan tenang. Sayangnya, terlalu berharap malah membuat pemegang takdir mempermainkan sang dara. Seringai puas tercetak di wajah gadis pirang tersebut dan Lana merasakan rambutnya ditarik kuat-kuat tak lama setelahnya. Sakit. Sudah lama Lana ingin pindah sekolah. Tapi percuma saja rasanya, mau kabur kemanapun, yang seperti ini pasti akan selalu ditemukannya. Karena itulah tiap kali bocah-bocah konyol ini melakukan abuse baik lewat kata ataupun fisik, Lana hanya membalas dengan tatapan tegar. Tidak sudi memberi mereka kepuasan dengan memohon ataupun melawan. Seperti saat ini. Sejak mendapat perlakukan tidak menyenangkan tadi, hanya dipandanginya saja manik biru indah layaknya milik boneka mahal itu tanpa sepatah katapun lolos dari bibirnya. Lana yakin, iris sejernih lautan tersebut pasti menyenangkan untuk dilihat seandainya tidak menyiratkan aura kebencian sekaligus lapar yang tertahan. Eh…lapar? Jambakan pada rambutnya berubah jadi cekikan kuat di leher dalam sepersekian detik. Merontalah gadis Saunders itu, berusaha melepaskan diri. Sesak, sesak sekali rasanya. Ia sama sekali tidak dibiarkan bernapas. Warna mata yang semula biru terang, kini mulai berubah menjadi merah, lalu akhirnya hampir sepekat darah. Lana dapat merasakan tangannya yang berusaha melepaskan cengkraman bergetar karena takut. Tapi sebelum semua berubah jadi semakin gawat, kafe sekolahnya, meja panjang, bahkan Marlyn mendadak terbuyar. Lana hanya sempat mendengar desisan kalimat perpisahan dari sosok mengerikan itu. Lalu dia pun terbangun. *** Knock, knock. Ketukan pelan dibuatnya untuk mendapatkan izin masuk ke ruang kerja ayahnya. Lana tahu pria itu belum tidur jam segini. Dan karena mimpi barusan terlalu mengusiknya, Lana tidak bisa sekedar menunggu datangnya pagi untuk meminta saran. Suara ayahnya yang rendah dan lelah terdengar dari dalam ruangan, meyakinkan Lana agar melanjutkan niatnya dan masuk. Setelah sekian menit dihabiskan gadis itu dengan mengunci mulutnya rapat-rapat, akhirnya ia buka suara dan bercerita soal mimpinya sampai detil terkecil yang diingatnya. Manik kelabu dibalik kacamata itu hanya menatapnya lekat, hingga Lana merasa seolah ia sedang diuji ulang oleh Mr. Reed dalam ujian lisannya soal mitologi Yunani bulan lalu. Namun gadis itu tetap membalas pandangan ayahnya. Bertekad tidak akan mengalihkannya hingga lelaki itu buka suara. “Kau berkemaslah, besok pagi-pagi sekali kita berangkat.” Ya, Lana pun langsung sadar kalau ada sesuatu yang tidak diketahuinya di sini. Karena jika ayahnya sudi mengangkat kepalanya dari pekerjaan yang dilakukannya hanya untuk mengatakan hal aneh semacam itu, pasti memang merupakan sesuatu yang penting. Langkahnya pun diseret kembali ke kamar, setengah tidak rela. Tangannya masih gemetar, sungguh. Mimpinya terlalu nyata untuk dianggap sekedar bunga tidur. Tapi yang bisa dilakukannya sekarang memang hanya mematuhi titah ayahnya barusan. “A Demigod, again...” Dan lagi, bisikan itu masih terngiang di telinganya sampai sekarang. Edited by Lana Saunders, Oct 3 2015, 05:24 PM.
|
![]() |
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 04:23 PM Post #12 |
|
Deleted User
|
[Dikejar Monster] "Hachuuuu!!" Rose bersin sambil menutup hidungnya dengan tissue. Sudah 2 hari dia tidak masuk sekolah karena sakit flu, gadis itu meringis membayangkan ketertinggalannya nanti--pelajaran sekolah biasa saja sudah sulit untuknya, apalagi harus mengejar ketinggalan 2 hari. Gadis itu menyampirkan selimut wol hangat yang dirajutnya sendiri ke bahu. Krieeeet. Terdengar derit lantai kayu ketika Rose menurunkan kakinya. Rumah besar itu terasa sunyi dengan semua saudaranya berada di sekolah. Bulu kuduk Rose sedikit meremang membayangkan di sendirian saja di rumah tua di pinggiran hutan Salem ini. Perlahan karena tubuhnya masih lemas, dia mengganti baju tidurnya dengan gaun sederhana berwarna putih, rambutnya dikuncir dengan model french braid dan disampirkan menjuntai di pundak kanan, selimut wol hangatnya kembali disampirkan membungkus tubuhnya . Dia berjalan ke luar, hendak membuat teh hangat di dapur untuk mengurangi rasa tidak enak di hidungnya karena flu. Bunyi jam dinding terdengar sangat keras, seolah menegaskan kekosongan rumah itu . Rose berjalan menuruni tangga menuju dapur dan membuat segelas teh hangat untuk dirinya dalam sebuah gelas murahan--hadiah membeli detergen mungkin. Tidak ada makanan yang bisa dimakan, paling hanya ada sekeranjang sayur yang dipetik sepupunya tadi pagi sebelum sekolah dan setangkup sandwich yang pasti ditinggalkan mereka untuk dia. Gadis itu menggigit sandwich yang sudah keras, seperti memakan karton rasanya, tapi dia lapar. Dalam sekejap sandwich dan teh sudah ludes dimakan oleh Rose. Dia bangkit berdiri, tubuhnya sudah terasa sedikit segar. Maniknya menatap seluruh dapur dan hidungnya mengernyit, dia jatuh sakit dua hari dan tempat ini sudah seperti kapal pecah. Rose mengambil sapu dan sudah mulai menyapu ketika terdengar bunyi denting bel. Tergopoh-gopoh kakinya melangkah. Pintu menjeblak terbuka dan dihadapannya berdiri seorang wanita tinggi langsing. Rose menyipit, sinar matahari menyilaukan matanya, menghalanginya untuk melihat wajah wanita itu dengan jelas. "Cari siapa?" "Rose Smith...." Kata-katanya bagai bisikan, Rose bingung. "Eee....?" Rose merasakan jantungnya berdebar, apa mungkin demamnya kembali? Gadis itu memegang erat gagang sapunya, matanya melirik sana sini mencari sosok manusia lain selain dirinya dan wanita ini. "...ikut...." Rose mundur sedikit, "Aku...aku jaga rumah..." dalam sekejap mata, tangannya sudah dicengkeram erat, Rose menatap horor, bukannya telapak tangan yang dilihat malah cakar. Dia berteriak kencang dan berusaha memukul wanita itu dengan sapu yang dipegangnya menggunakan tangan lainnya yang bebas. "ROSE!!!" Terdengar seseorang meneriakkan namanya dan mendadak di hadapan Rose muncul banyak ayam menyerang wanita itu. Tangannya dilepaskan oleh sang wanita, kemudian dia merasa tubuhnya ditarik. "Fernandes?!" dia berteriak terkejut terhadap sosok yang menariknya itu. Dia pekerja di peternakan ayam sebelah. "Huhuhu. Aku mau diculik." Mengadu pada pemuda tanggung itu. Dia takut juga. "Ayo, Rose! Kita pergi, sebelum wanita itu menangkapmu!" tidak ada penjelasan lebih lanjut, Rose disuruh naik ke atas motor scooter milik peternakan dan Fernandes buru-buru melajukan motor itu. "Itu apa? Kita kemana?" "Erinyes. Kita akan ke tempat aman. Tempatmu yang seharusnya. |
|
|
| Samuel Cherevin | Oct 3 2015, 04:24 PM Post #13 |
![]()
Son of Hermes
|
[Diserang Momo—mooo~] “Ma, ma,” jari telunjuknya, sibuk menoel sosok si adik kembaran yang tengah berdiri tepat di sampingnya. “Pas kita kecil dulu, pernah baca monster bermata satu kan? Yang sedang jalan di depan kita ini, kok mirip banget?” Titik titik sampai dunia kiamat. “WOI ITU BENERAN?!” Tangan si adik kembar ditarik dengan cepat dalam hitungan detik. Sepeda tua yang dimiliki keduanya, pemberian hadiah ulang tahun kesembilan mereka dari Jeffrey dan Kayla segera dikayuh dengan kecepatan maksimal. Tentunya, setelah memastikan adik kembarnya juga mengikuti langkahnya. Awal kisah mereka bisa sampai seperti ini—rumit. Sapi-sapi belum diberikan makan, jadi Jeffrey memberikan tugas untuk mereka berdua memberikan selagi memiliki waktu luang. Dan berakhirlah mereka pada jerami yang terselip di antara anakan rambut dan pakaian yang dikenakan. Hasil perbuatan kembar Cherevin, kapan pernah melakukan tugas dengan damai dan tenteram? Sekehendaknya kembali, langit sudah berganti warna menjadi kuning kemerahan, menandakan waktu mereka untuk kembali dan di sanalah—mereka mengayuh dan mengayuh seperti ada setan yang mengejar di belakang mereka. Bukan setan sih, tapi mirip-miriplah. Tubuhnya besar sehingga tak membutuhkan waktu untuk menyusul mereka dengan cepat, dan menginjak jalan tepat di belokan menuju gang sempit sehingga mereka harus menghentikan sepeda. Baru ingat, rem sepedanya sendiri belum selesai dibenarkan. “Uwaaaaah!” Efek bunyi jatuh nan merdu di sini. Susul-susulan dengan si adik pula, satu jatuh semua jatuh. Bersatu kita teguh. Belum selesai mengaduh ria, tangan Samantha kembali ditariknya. Monster itu sepertinya berniat sekali menginjak mereka, untung saja kedua kakinya dan Ma cepat—sontak berteriak (tidak manly, tapi dia nggak bakal mengakui) ketika melihat Jeremy, muncul di belokan secara tiba-tiba. “Astaga, jangan muncul mendadak, bisa nggak—KAKIMU?!” Mereka sudah terburu-buru, kenapa pula harus dikagetkan, jantungnya kan kasihan. Sudah habis jatuh pula, nggak lihat ini lecet-lecet di lutut apa. Dan itu, kaki kambing, kambing, bing, mbeek, yang menghiasi kaki Jeremy—apa? Mungkin, ini karma. Atas kenakalan yang mereka lakukan selama ini, pula, menarik Ma ngibrit tak tentu arah. Sekarang, gilirannya yang ditarik tangannya. Bertiga saling tarik-menarik, boleh sembari bernyanyi kereta-keretaan nggak? ROAAAAR! Sepertinya tidak. sudah ijin karakter ybs. |
![]() |
|
| Tristan Reichenbach | Oct 3 2015, 04:31 PM Post #14 |
|
[ MIMPI ] "Tristan, baru pulang?" Bocah itu, menatap dari sudut matanya ke arah bibi kandungnya yang bernama Catarina. Tas sekolahnya dia lempar begitu saja ke sofa empuk besar berwarna krem kecoklatan di ruang tengah, begitu pun bokongnya. Bocah sebelas tahun itu menutup kedua kelopak matanya, menghalangi sinar cahaya yang bahkan masih mendesak masuk dengan kedua tangannya. Dirinya sudah terlalu lelah bahkan hanya untuk sekedar pergi ke meja makan, melahap beberapa potong ayam dan sedikit pasta yang disiapkan oleh sang bibi untuknya. Pasalnya hari ini di sekolah dia menjadi bahan olokan dan intimidasi teman sekelasnya lagi. Bahkan untuk hari ini, semuanya berlangsung lebih parah. Tidak hanya ulangan matematika dan bahasa yang mengkhianatinya, tetapi bahkan Mister B (singkatan yang digunakannya untuk guru olahraganya yang bernama Blake) mengkhianatinya dengan memberikan mereka latihan baseball tambahan yang menurutnya tidak penting. Kalau saja dia tidak tertangkap basah oleh guru PEnya—dan disuruh keliling lapangan sembari jalan jongkok lima putaran itu, mungkin saat ini wajahnya tidak semasam sekarang. Yea, rite. Terdengar lagi suara bibinya yang menanyakan keadaannya, namun sayangnya tenaganya yang terkuras hari ini sudah melebihi batas normal sehingga tak lama setelah matanya terpejam, dia terlelap dalam tidurnya. Tak mempedulikan apapun di sekelilingnya lagi, bahkan tak menanyakan kabar Ibunya hari ini. Bocah lelaki itu kemudian tertidur masih dengan menggunakan pakaian yang tadi dia pakai ke sekolah. —————————— "Go." —what? "Go to Camp Halfblood." Camp—what? "Go, immediately." —————————— —thehll?! Bocah itu mengerjapkan matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya yang tiba-tiba menusuknya bagai hujaman seribu jarum. Terdapat kunang-kunang bayangan yang terlihat di sepasang obsidiannya. Segera saja bocah lelaki itu bangun, mendapati dirinya masih di sofa ruang tengah keluarga Mcarthur dan melihat ke sekelilingnya, mengatasi titik butanya. Sedikit terengah, keringat dingin mengalir dari balik punggungnya dan di dahinya, mendapati diri mimpi aneh seperti tadi adalah pertama kalinya bagi bocah ini. Mimpi aneh dengan suara rendah yang asing namun familiar. Obsidiannya kembali mengobservasi, mendapati bibinya sudah tak tampak di peredaran lagi. Mungkin tengah mengurusi Ibunya, atau mungkin juga sedang pergi, entahlah. Hanya tinggal si bocah yang saat itu sudah bangun dari sofa tempatnya tertidur tadi, bersama dengan makanan di atas meja makan dan catatan kecil bibinya; panaskan saja makanannya kalau sudah dingin. Mendadak saja, dia merasa haus sekali. |
![]() |
|
| Drake Yoxall | Oct 3 2015, 04:33 PM Post #15 |
![]()
|
[Diserang makhluk Drake mengumpat beberapa kali. Sial, sial, sial! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa hal in iterjadi pada mereka? Mereka? Ya, Drake dan Chris. Mereka berdua berlari berusaha menjauh dari makhluk jelek yang mengejar mereka. Makhluk berbentuk wanita dengan sayap dan cakar burung yang entah hanya khayalan mereka saja atau asli. Sepertinya asli. Kalau tidak mana mungkin gadis itu ikut berlari dengannya kan? Drake tahu mereka dalam bahaya. Keadaan mereka tidak begitu bagus. Padahal tadinya mereka hanya berjalan-jalan di taman, lalu ada seorang wanita yang menanyakan jalan dan BAM! Wanita itu berubah tiba-tiba. Menunjukkan sayap dan cakar super tajam. Respon pertama? Berlari tentu saja. Panik. Siapa yang tidak panik? Walau Drake ingin sekali melayangkan satu atau dua tinju ke arah makhluk jelek itu. Sayangnya, makhluk itu bisa terbang. Bukan keputusan bagus meninju udara kalau serangannya meleset. “Chris! Kesini!” Hening. Tidak ada jawaban. Drake langsung menoleh dan tidak menemukan gadis itu dimanapun. Apa mereka terpisah? Sial! Apa gadis itu dikejar makhluk jelek itu? Tidak. Belum lebih tepatnya. Karena sekarang makhluk itu berhenti dan sedang melayang di udara. Sepertinya bingung untuk memutuskan mana sasaran yang bisa dikejar. “HEI! JELEK! SINI KAU!” Melempar batu ke arah makhluk jelek itu. Makhluk itu merespon. Tapi, belum sempat Drake melancarkan serangan kedua, dirinya bisa merasakan dirinya diangkat. Kaget tentu saja. Apalagi yang membawanya juga bukan manusia. “Lepaskan aku!” “Tidak. Kita harus pergi. Sekarang.” Drake melotot ke arah makhluk yang membawanya pergi itu. Tak disangka dirinya dibawa ke sebuah mobil dan ternyata ada makhluk lain disana, bersama Chris. Gadis itu selamat rupanya. “Elda! Euh, Chris maksudku.. Selamat, eh?” Menatap gadis itu dan mausk ke dalam mobil saat disuruh. Tempat aman katanya. Sebenarnya dia masih ingin menimpuki makhluk jelek itu dengan batu, tapi sudah terlanjur ke sini, apa boleh buat kan? “Perkemahan blasteran. Kita harus kesana,” Ucap pria berbadan setengah kambing berbulu coklat yang baru saja membawanya kemari. Drake sudah akan protes saat mobil melaju. Nampaknya dia harus sedikit menurut sekarang ini, eh? Pertanyaannya juga sudah ditanyakan oleh gadis di sampingnya. bersama Chriselda. Sudah ijin sama yang bersangkutan. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 04:39 PM Post #16 |
|
Deleted User
|
( diserang makhluk baik ) “Angel, kau hebat!” Seorang gadis kecil berambut cokelat sebahu menatap Angela dengan berbinar-binar penuh kekaguman. “Di saat semua anak di kelas dapat nilai ulangan Fisika kurang dari 60, kau sendirilah orang yang berhasil mendapat nilai 100.” Mendecak kagum, masih tidak percaya juga. “Beri tahu aku apa rahasianya, please, Angel?” Angela tersenyum, tapi respon yang diberikan Angela hanyalah sebuah gelengan lemah, “Eli, itu tidak ada rahasianya. Yang aku lakukan hanyalah belajar saja. That’s all.” Elizabeth Wilson menggembungkan pipinya, sebal. Sedikit tak terima mendengar respon dari sahabat terbaiknya hanyalah sekadar `aku belajar` saja. Eli juga belajar semalaman suntuk, tahu? Ya! Tapi kenapa Angela yang juga sama-sama belajar, bisa mendapat poin penuh, 100 yang sempurna, sementara yang tertoreh di kertas Eli hanyalah torehan tinta merah yang membentuk angka lima puluh? Sama saja tidak memberi solusi. “Al, kau ini nggak memberi solusi deh,” tetangga sejak kecilnya itu memang agak… Ajaib. Nilai bahasa Inggrisnya tidak pernah lebih dari enam puluh, tetapi eksaktanya tidak pernah di bawah angka tujuh puluh. Sungguh kebalikannya. “Well, Eli...seems like I forgot my pencilcase at the class. I’ll see you tomorrow, okay? Jangan lupa belajar untuk ulangan matematika besok!” Angela menghambur lari ke ruangan kelas, meninggalkan Eli yang melongo, kemudian menggeleng melihat tingkah teman baiknya sejak kanak-kanak tersebut. Dasar aneh, batinnya. *** Here it is! batinnya, lega. Angela tak habis pikir kenapa ia begitu ceroboh bisa meninggalkan kotak pensil berwarna magenta terang itu bisa ditinggalkannya di bawah meja. Ia memasukkan kotak pensil itu ke dalam ransel setelahnya, bersiap meninggalkan ruangan kelas, dan pu— PRANG!!!! Dalam selang waktu beberapa detik berikutnya, lidah Angela kelu. Tubuhnya tak bisa bergerak. Bulu kuduknya merinding. Monster, masuk ke dalam kelasnya melalui jendela. Tubuhnya sepintas seperti wanita, namun wajahnya buruk. Taring tajam, sayap hitam, serta tangan bercakar yang nampaknya akan dapat segera mencabik kulitnya kapan saja. Memorinya kembali pada sebuah buku mitologi Yunani yang pernah dibacanya beberapa waktu lalu. Ini—erin--- Belum sempat Angela bergerak, makhluk itu hendak melahapnya. Mulutnya yang penuh dengan taring terbuka, cakar teracung, siap memakan bulat-bulat badan kecil Angela. “Angela!” Kesadarannya seakan baru saja ditarik kembali ke dalam tubuh saat suara berat familiar memanggilnya, dan sebuah tangan menariknya, kencang—menghindari serangan maut makhluk itu. “Seharusnya kau pulang, Angela!” Itu Mr. Will, janitor sekolah yang dikenal ramah, namun berkaki pincang. Apa yang dia lakukan di sini? Yang membuat Angela semakin heran lagi, kenapa ia bisa berlari dengan begitu sempurna—mengingat bahwa kakinya cacat? “A-aku—“ terbata, vokalnya seakan masih kelu akibat serangan mendadak barusan. “—kotak pensilku, tertinggal.” Derap langkah makhluk itu bisa terdengar jelas oleh auditorinya. Mr. Will mengeratkan pegangannya dan mempercepat langkah larinya. “Kita harus cepat.” “Ke mana, Sir? P-pulang?” “Kau tidak bisa kembali ke rumahmu, Angela… Kau harus ke Bukit Blasteran.” Whatever that place is, Angela tidak pernah mendengar suatu tempat bernama Half-blood Hill di Amerika Serikat. Tidak ada di peta manapun. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan nanti. Sekarang, ia terlalu pusing untuk bertanya. Mr. Will akan berkenan untuk menjawab semuanya nanti, setelah kita selesai berlari menjauh dari makhluk ini, kan? Berharaplah begitu. |
|
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 04:40 PM Post #17 |
|
Deleted User
|
[Diserang Makhluk Baik] Sampai lima menit yang lalu, sosok Jesselyn Kinleigh masih berupa seorang senior cantik yang banyak omong. Uh, bukannya berarti sekarang si Jessa jelek itu sudah nggak banyak omong lagi sih. Mulutnya masih terus berkicau diiringi dengan kikikan yang membuat gendang telinganya minta diistarahatkan. Biasanya Aurora hanya akan menganggap nyanyiannya sekedar angin lalu karena toh ia bukan tipe yang hobi berbaur dengan senior cantik yang hobi cekikikan, tapi sekitar tujuh menit yang lalu saat dirinya akan beranjak setelah selesai mengulang latihan untuk pertunjukan musim panasnya minggu depan, Jessica dan tiga temannya menyuruh Aurora untuk menunggu karena ada beberapa hal yang ingin dibicarakan. Sekali lagi, sesungguhnya bukan hal yang biasa mengingat lingkaran pertemanan mereka tidaklah sama dan Aurora tidak pernah berencana untuk masuk dalam lingkaran seniornya tersebut. Serentetan komplain baru akan keluar saat tiba-tiba sayap yang menyeramkan muncul dari punggung Jessabel dan kedua anak buahnya. Aurora nggak pernah tahu kalau manusia bisa terbang tanpa pesawat sih. Tapi yang ini, sama sekali nggak keren. "Jadi, apa kau sudah siap untuk mati sayang?" Idih. Aurora bahkan nggak bisa memutuskan lebih bijaksana untuk merinding atau lari terlebih dahulu. "Kenapa nggak kau saja yang mati, burung bau?!" Lima detik kemudian, sepatu kanannya terbang mengenai mulut yang segera menjerit nyaring tersebut. Dara Callaghan lalu menyambar tasnya yang tergeletak di lantai dan berlari setelah melempar sepatu kirinya untuk menghalau teman Jess--siapa lah yang sedang sibuk menertawai kawannya yang kesakitan. Rasanya mau mati saja. Pelajaran olahraga tidak pernah menjadi favoritnya dan berlari jelas tidak akan pernah menjadi fortenya. Aurora hampir menyerah menghadapi koridor yang rasanya tak berujung hingga jemarinya diraih oleh objek kasar yang memaksa kakinya untuk berlari lebih cepat. Sialan. "HEI!! Pelan-pelan saja, kaki kambing! Kau mau kakiku patah beneran ya?!" ......Kaki kambing? "Hah?" Mungkin Daddy benar waktu bilang minum soda banyak-banyak itu nggak baik. |
|
|
| Jade Smith | Oct 3 2015, 04:45 PM Post #18 |
![]()
|
[MIMPI] "Selamat tidur, Orange," dikecupnya dahi sang adik semata wayang. Sebuah cerita di malam hari, penuh dengan petualangan pangeran menyelamatkan sang putri dan mereka berbahagia selamanya. Bergerak sehening mungkin, Jade mematikan lampu kamar Orange, kemudian menutup pintu. "Fuahm~" sambil menguap, anak sulung Smith itu menyeret kaki-kakinya ke kamarnya sendiri. Pintu kayu ditutup. Kaus yang ia kenakan dibuka. Dengan bunyi 'blugh' berat, Jade Smith melemparkan diri ke atas tempat tidur. Sekali pejam dan dunia melayang, lalu ia tenggelam dalam kegelapan. Tidak ada apa-apa di depan matanya. Ia berdiri sendirian, termenung tenang. Dalam damai, si sulung Smith berbalik badan hanya untuk menemukan satu pot tanaman di tengah fokus cahaya. Didekatinya pot tanaman itu. Jade berjongkok sambil terus memandanginya. Tak seberapa lama, tanaman hijau itu bergerak, sulur-sulurnya memanjang, daunnya melebat, serta kuncup tunggal yang berada di tengah pun mekar. Jade menahan napas melihat betapa cantiknya bunga besar berwarna merah darah itu. "Perkemahan blasteran..." Jade menoleh untuk mencari siapa yang berbisik barusan. Saat tidak menemukan, ia balik memandang si bunga. "...Yang tadi itu....kamu?" ucapnya lirih, setengah takjub. "Pergilah ke perkemahan blasteran, Jade Smith, dan akan kau temukan..." Hening. "Temukan...apa?" Namun bunga itu diam seribu bahasa. Tiba-tiba, sang bunga layu begitu saja. Seluruh tangkai dan daunnya menghitam, kemudian kelopak demi kelopak bunganya yang indah pun berguguran. Tepat saat itulah, ia terbangun. Setengah telanjang dan tidak memakai selimut, ia menggigil ketika mengingat kembali mimpi barusan. Jade Smith tak mampu menyimpulkan apapun, selain bahwa ia harus pergi ke tempat yang disebut 'perkemahan blasteran', dimanapun itu. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 04:58 PM Post #19 |
|
Deleted User
|
DISERANG MONSTER Kalau membayangkan dirinya dikejar penonton yang tidak puas dan telah menjadi korban pencurian, Dalton tidak heran. Sama sekali, malah. Bahkan, dikejar polisi dan dimasukkannke dalam penjara remaja. Pernah dia membayangkan hal itu. Tolong ingatkan Dalton juga untuk tidak asal ikut orang asing hanya karena dia berkaki kambing (langka, woohoo! Kamera ponselnya rusak, sayangnya) dan juga karena berkata dia tahu siapa ayahnya. Siapa tahu kena tipu. Harga dirinya seperti dikoyak karena dikibuli oleh orang lain, padahal itu salah satu bakat terpendamnya. Dan kini dia harus menerima konsekuensinya. Napasnya tersengal-sengal karena berlari dari kejaran monster yang sepertinya ingin memakan dirinya. Masih lebih baik dikejar manusia dan dikirim ke penjara. Seenggaknya, di penjara dia tidak usah takut akan kehilangan sebagian kecil, kemungkinan terburuk, sebagian besar dari badannya. "Kalau aku kecoh itu makhluk pakai trik sulapku bakal berhasil gak?" "MENURUT LOE?" Santai, Bos. Ya, namanya juga terlalu optimis sampai dikejar monster masih bisa bercanda atau dia memang berniat mengecoh musuh itu dengan trik sulapnya. "Yah...," gumamnya, sedih. Masih sempat-sempatnya juga merasa kecewa. Padahal, dia sudah belajar trik baru menggunakan kartu main poker. Padahal, maunya pamer. Tapi, untung fisiknya terbiasa untuk lari begini karena kegiatan main basketnya. "Padahal... Pengennya bikin pertunjukan. Kapan lagi ditonton ama monster?" "Berisik! Lari yang benar napa, sih? Gue masih mau hidup. Gak mau jadi makanan pembuka itu monster." "Oh, gitu." Larinya pun semakin cepat. "Woi, jangan tinggalin gue!" "Yang nyuruh lari cepat siapa coba!" Masih sempatnya debat di saat genting seperti ini. |
|
|
| Zeno Rawling | Oct 3 2015, 05:01 PM Post #20 |
![]()
|
[Mimpi] Tiap malam, sebelum ia terlelap, Papa akan selalu membacakan buku untuk Zeno sebagai dongeng nina bobo. Anak-anak lain akan memiliki seorang ibu untuk melakukan hal ini, tapi Zeno sudah cukup dengan memiliki Papa. Mama sedang berada di tempat yang jauh dan belum bisa pulang, Zeno akan tetap sabar menunggu bersama Papa di rumah. Orangtua kebanyakan mungkin akan mendongengkan cerita-cerita petualangan untuk anak laki-lakinya, tapi Papa mendongengkan sejarah filsafat barat tiap malam. Kadang merembet ke filsafat timur jika mood-nya sedang baik. Dan Zeno tidak pernah sekalipun menganggap itu membosankan. "Jadi siapa yang mengatakan bahwa 'Tuhan sudah mati'?" Pertanyaan seperti biasa, ketika buku sudah ditutup dan Papa kini memandang Zeno dengan pandangan teduhnya. Keluarga kecil Rawling ini tengah berada di ranjang, dengan posisi Zeno sudah terbungkus rapat oleh selimut sementara Papa duduk di sisi ranjang. Bocah Rawling menguap lebar sebelum menjawab, kuapan keluar disertai tawa kecil Papa yang kini mengacak-acak rambutnya penuh sayang. "Nietzsche," gumamnya dengan suara mengantuk. "Friedrich Nietzsche." "Good boy." Papa tersenyum puas dan bangga sambil bangkit dari ranjang. Zeno kembali mengeluarkan kuapan ketika Papa sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan hendak mematikan lampu. "Selamat tidur, jagoan." "Selamat tidur, Papa." Dan lampu pun padam. Zeno sering bermimpi. Ia memimpikan banyak hal tiap malam. Papa berkata Zeno kadang mengigau memanggil-manggil `Mama`, dan biasanya jika sudah begitu Zeno akan langsung terbangun dan sulit untuk tidur lagi. Kali ini, ia tidak yakin apa ini mimpi atau bukan. Sepertinya baru beberapa saat lalu ketika Papa selesai mendongengkan tentang aliran eksistensialisme dan mematikan lampu kamarnya, tapi kini Zeno sudah berada di ruang kelas tengah mendengarkan ocehan Mr. Lambert, guru Matematika yang paling ia benci di sekolah. Ada sesuatu yang janggal, tapi Zeno tidak tahu apa tepatnya. Tulisan-tulisan di papan tulis kali ini bisa terbaca olehnya, padahal selama ini ia selalu kesulitan tiap kali diperintahan di depan kelas untuk membaca. Mungkin karena ini mimpi, di dalam mimpi semua hal aneh bisa terjadi. Ia bisa menjadi apa pun yang ia mau. "Zeno, kau harus segera pergi!" Sosok bapak-bapak yang bukan Mr. Lambert tahu-tahu muncul di hadapannya. Ekspresinya khawatir bukan main, keringat membanjiri wajahnya, dan Zeno untuk sesaat ingin menawarkan sapu tangan untuk membantu bapak ini menyeka keringat. Tapi belum sempat mengeluarkan sapu tangan dari tas, bapak ini bersuara lebih keras. "Di sini sudah tidak aman untukmu! Meet me at Montauk!" Apa? Zeno baru saja mau bertanya `Apa bapak penggemar film Eternal Sunshine of the Spotless mind? Ayahku juga suka film itu` tapi kemudian kaca jendela pecah dan ia terbangun di ranjangnya dengan napas memburu. What the heck is that? |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|










1:59 AM Jul 12