CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 1 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sep 19 2015, 05:00 PM (1,125 Views) | |
| Ashleigh Einbech | Oct 3 2015, 05:02 PM Post #21 |
![]()
|
Diserang Monster Ash to ash dust to dust Ia sedang berada di pemakaman, tapi bukan sanak keluarga bukan juga orang yang ia kenal. Kalau bukan karena empat puluh dolar per jam, ia pun tidak akan berada di sini. Siapa juga yang mau berlama-lama di pemakaman, pura-pura menangis demi seorang kakek tua yang sudah tidak bernyawa, mati karena obat kuat dan ditemukan di sebuah kamar hotel bintang lima? Lagi-lagi, kalau bukan karena empat puluh dolar per jam ia tidak mungkin mau. Yap! Betul sekali, ia seorang aktor kacangan yang kedatangannya hanya ada jika bayaran di depan mata. Ini sudah tiga jam ngomong-ngomong, sudah lelah pura-pura menangisi sambil berteriak "Kakek, kenapa pergi terlalu cepat!" —oh, ayolah Ash! dua jam lagi sudah bisa beli game console sendiri. Tidak perlu menunggu Jac pulang subuh sambil merayap seperti cicak di kasur queen size yang dibagi untuk berdua. Jac itu orang yang melahirkannya ngomong-ngomong, tapi jauh sekali dari kata ibu. "Demi bapak di surg—" "ASHLEIGH!!! ASH LARI!!!" Si pincang, namanya Richard 'Dick' Lynch yang tetiba dikecup keajaiban atau apalah namanya berlari menuju pemakaman. Dick tahu kemana ia pergi, karena hanya ke sahabat satu gedungnya itu lah ia bercerita--tapi ia tidak tahu sama sekali kalau si Asian-American itu bisa berlari karena seingatnya mahluk itu pincang. "SI BEGO! ASH LARIIII!" Lari dari apa coba? Baru ia ingin mengatai kawannya balik seorang wanita cantik yang awalnya dipikir salah satu yang melayat, kini berdiri tegap. Wajahnya tertutup jaring-jaring hitam dengan bibir terpulas lipstick merah merekah perlahan muncul taring, sepasang mata meruncing dan mulai mendesis berjalan ke arahnya. "Oh sheeeet of papers, mother father! RUN!" Dua bocah kini tunggang langgang dari tempat pemakaman. Habislah impiannya punya game console sendiri, tapi ia tidak sebodoh itu untuk tetap berada. Kalau dimakan sama mahluk tersebut? Yikes! |
![]() |
|
| Malcolm Marois | Oct 3 2015, 05:18 PM Post #22 |
|
[Diserang something—Monster] “Oi! Jangan kabur kau!” Siapa itu? Oh, hanya salah satu korbannya saja. Ya, Malcolm kembali mencuri makanan yang sekiranya bisa ia kantungi dan dibawa ke rumah dan kini kabur ke dalam hutan. Seperti biasa, dengan wajah tanpa dosa ia menyodorkannya kepada Miranda yang kemudian akan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Malcolm harus melakukan sesuatu agar dia dan ibunya dapat tetap makan karena semua uang yang dihasilkan oleh Miranda digunakan untuk membayar keperluan rumah dan sekolahnya—walau sebenarnya dia sering sekali membolos dan tidak peduli akan hal itu. Malcolm beristirahat sembari menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang besar. Nafasnya tersengal ketika ia merosot dan duduk di tanah. Tangannya merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan dua kaleng sarden dan sekaleng kornet sapi. Ya, nanti di perjalanan pulang Malcolm akan melancarkan aksinya lagi ke toko lain yang belum pernah dia kunjungi dan semoga saja kali ini tidak tertangkap seperti tadi. Masih dalam mode istriahat, telinganya kemudian menangkap sebuah suara. Jantungnya langsung berdegup kencang dan rasa khawatir menyelimutinya. Ada suara lain yang sangat dekat—mungkin ada di balik pohon yang sama dengannya. Malcolm mendongak ke atas dan melihat satu mata menunduk menatapanya. Kedua mata miliknya membulat melihat sosok yang akhirnya menampakkan diri. Makhluk bermata satu. “Ssshhhhh—!” Malcolm langsung berlari lagi kali ini lebih cepat. Dan ketika dia menoleh ke belakang, makhluk itu mengikuti. “Ah, sia—hah?!” Tak jauh darinya ada sosok lain. Seperti kambing yang berdiri. Yang benar saja! Mungkin sebenarnya dia tertidur dan dihukum dalam mimpinya karena mencuri agar dirinya jera? Ha, kau bercanda. Malcolm berblaik dan melemparkan satu kaleng sarden ke makhluk itu. “Sialan! Tidak kena!” Ia berlari dan terus berlari, namun si kambing berdiri itu mendekatinya dan tiba-tiba saja tangannya ditarik. “Hei! Lepaskan aku, kambing!” Namun Malcolm tersadar bahwa itu tangan manusia. Makhluk aneh lain yang terus menariknya dan membawanya ke suatu tempat dimana pada akhirnya salah satu kaki panjang itu tersandung akar pohon. “Argh…, sardenku…” Malcolm mengaduh sembari mengingat barang curiannya. |
![]() |
|
| Alexandrina Elliott | Oct 3 2015, 05:59 PM Post #23 |
|
[Diserang makhluk baik] Ini merupakan pengalaman pertama bagi Alexandrina alias Sondra untuk dipaksa berlari sejauh lebih dari satu kilometer. Hal ini bermula dari ajakan Deven untuk pergi meninggalkan kantin sekolah. Deven merupakan anak baru di kelasnya yang kemudian entah bagaimana berubah menjadi salah satu teman terdekat Sondra di sekolah. Padahal Sondra tidak terlalu mengetahui latar belakang bocah gemuk berambut merah itu. Yang dia tahu, hari ini perilaku Deven mendadak berubah dan tiba-tiba bocah itu menariknya pergi tepat di saat Sondra hendak menyantap makan siangnya. Belum sempat Sondra meminta penjelasan dari Deven, tiba-tiba muncul sesosok makhluk besar bermata satu menyeramkan di koridor sekolah. Keduanya langsung melarikan diri dengan Deven yang memimpin jalan. “Aduh!” tiba-tiba Deven jatuh terjerembab. Sondra yang berlari di belakangnya berusaha mengendalikan dirinya untuk menghindari Deven yang kini tersungkur di jalan. Gadis kecil itu lantas menghentikan langkahnya dan menghampiri Deven untuk menolong bocah itu. “Tinggalkan aku... Jangan sampai tertangkap...” ujar Deven dengan napas tersengal-sengal karena kelelahan dan menahan sakit. Sondra diam saja dan tetap membantu bocah itu berdiri. Saat itulah sepatu kanan Deven terlepas dan memperlihatkan sesuatu di luar perkiraan Sondra. Sebuah kaki yang jelas-jelas bukan merupakan kaki manusia. Sondra ternganga dan menatap Deven juga kakinya secara bergantian. “Deven—siapa kau?” Sondra menatap temannya itu penuh curiga. Tapi tidak ada waktu bagi Deven untuk menjelaskan karena makhluk menyeramkan yang sejak tadi mengejar mereka berdua muncul dari tikungan. |
![]() |
|
| Marla Coleman | Oct 3 2015, 06:00 PM Post #24 |
![]()
|
(diserang monster Yang lagi dilakukan Marla? Berdecak-decak kesal sembari duduk di kursi yang berada di beranda rumah nenek (yang juga tempat Marla tidur sekarang, pfft). Seenaknya banget, sih, si Benny ini, bikn orang menunggu lima belas menit. Katanya mau bantuin menghafalkan naskah asem yang satu ini, si Benny, tapi malah ditungguin nggak datang-datang. Dikira Marla nggak kesal? Dasar, si aneh. Tiba-tiba muncul kayak hantu, tapi kalau ditunggu...malah nggak kasat mata begitu wujud rupanya. Kayak sekarang. Sudah dibilang, juga, kalau Marla nggak suka menunggu? Dan sadar nggak sih, kalau menghafalkan naskah buat audisi peran Snow Queen itu ada di puncak prioritasnya Marla sekarang, gitu? Padahal sudah sering banget ngomong berulang kali juga, kan.... Marla akan ngambek dengan keren begitu Benny muncul. Masa bodoh lah kalau Benny umurnya lebih tua satu tahun, tapi yang salah jelas Benny. Titik. Dan Marla mau marah dengan keren begitu Benny muncul. Harus berkacak pinggang, memelototi, pose ala ibu tiri tapi yang lebih keren sedikit, terus pakai injak bumi keras-keras, gitu? Ada ruang untuk perkembangan, sepertinya, sih, tapi, kayaknya nggak jelek-jelek banget— Sebelum gadis ini sempat memikirkan cara membuat kemarahannya lebih spektakuler, tapinya, ada sesuatu yang tiba-tiba merusak pagar. Sesuatunya, itu, sesuatu banget. Ya iya lah, yang tiba-tiba muncul merusak pagar dan kini berada di halaman rumah neneknya, kan, .....kepiting raksasa? Marla diwajibkan melongo saat melihat fenomena ini. Ya kali saja. Kayaknya divisi properti teater komunitasnya aja nggak bisa bikin properti kepiting raksasa semeyakinkan ini. Kepiting raksasanya jelas-jelas beneran kepiting, biarpun kadang dia dibilang kebanyakan berimajinasi. Tapi, percayalah, itu betulan kepiting ukuran super-jumbo. HEH! Kurang ajar juga ini si kepiting raksasa, mau mencapit Marla saja. Kasihan deh, kepitingnya gagal, soalnya refleks Marla nggak jelek-jelek banget. Latihan fisik teater, ingat? Marla nggak payah-payah amat sampai nggak bisa menghindar gerakan si kepiting raksasa yang lelet banget begitu. Cuma tinggal berdiri dan geser dikit, tahu. Sekarang, Marla ambil-ambil kursi yang tadi diduduki. Kayaknya nggak ampuh, tapi supaya Marla nggak sedih-sedih banget keadaannya, bisa melawan sedikit. Kursinya digerakkan buat menghalau si kepiting raksasa, tahu palingan juga nggak ampuh, tapi ini kan, sementara. Sementara Marla kini berpikir. Marla masih memikirkan cara untuk menghabisi si kepiting raksasa dan lantas memasaknya (...kepitingnya kayaknya enak, tuh, dagingnya mungkin empuk), tapi sebelum Marla bisa berpikir banyak, tiba-tiba ada sosok yang terlambat dua puluh menit memasuki halaman rumah. Si Benny mau memanggil, "Mar—", tapi gadis ini jelas langsung asal potong. "Bego." Dasar, Benny, pahlawan kesiangan. "Buruan, sini, bantuin aku memasak kepiting ini." Tapi sama Benny, tangannya keburu ditarik untuk lari. Hih. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 06:01 PM Post #25 |
|
Deleted User
|
[Diserang Monster] Hari sialnya tidak punya lagi kesempatan untuk membaik setelah kolam renang sekolahnya kedapatan penghuni baru. Turnamen musim panas sudah selesai, dengan juara satu diraih oleh tim dari sekolah Mapple Mountain. Seisi tim Loyola mengamuk karena perbedaan skor tipis sekali antara runner up dan juara pertama. Hunter tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk membenturkan pemukulnya ke mading sekolah yang memasang iklan 'PERKEMAHAN KEPRIBADIAN MUSIM PANAS'. Tapi kemudian dia dihentikan Jeff, seorang temannya. Dan mereka memutuskan untuk pulang saja. "Tunggu, aku baru ingat, kemarin aku meninggalkan sesuatu di loker kolam renang," Hunter bisa mendengar Jeff mendengus kelelahan, sudah bisa dipastikan karena menjadi orang pincang itu melelahkan. Tapi kemudian mereka tetap pergi. Sesampainya di sana, Jeff menunggu di sisi gerbang, sementara Hunter menghampiri lokernya. Hunter tidak memperhatikan kolam, namun ekor matanya sekilas menangkap kilat kemerahan dari bawah sana, hanya sekilas, karena ia langsung berbelok ke lokernya. "Sepertinya ada seseorang yang menjatuhkan barang ke dalam kolam. Warnanya merah." "Oh, biar kulihat," Hunter bisa mendengar langkah Jeff mendekat, tapi kemudian disusul keheningan, dan suara berbuih. "Hei, Hunt. Kita harus pergi, sekarang juga." "Sabar, sedikit lagi." "SEKARANG, HUNT!" Tepat setelah Hunter mengunci kombinasi lokernya, suara berbuih itu kini berganti menjadi cipratan air, dan ia bisa merasakan sekujur punggungnya basah. Ketika berbalik, ia tidak tahu kapan terakhir kali matanya pernah nyaris keluar seperti itu. Kepiting. Kepiting raksasa. Dengan mulut berbuih yang terlihat kelewat jelas dan menjijikan. Hunter mendengar Jeff berteriak sekali lagi sebelum ia mengikuti kawannya itu keluar gerbang. Tapi sebelum benar-benar keluar, Hunter sempat melayangkan satu pukulan pada kepiting itu. Jelas saja tidak banyak berpengaruh. Ini kepiting raksasa, bukan dungeness yang biasa disajikan di restoran. "Kita harus ke perkemahan!" Seru Jeff sambil berlari. Ya, dia tidak salah, berlari. Dan Hunter akan jelaskan nanti apa yang sekarang ada di balik celana Jeff. "Perkemahan kepribadian?!" "BUKAN! Pokoknya kita harus cari ibumu!" Semuanya membingungkan. Hunter merasa seakan ia berlari tak tentu arah, tanpa alasan--oke, kepiting itu jelas suatu alasan. Tapi kemudian apa? Oh, dia akan segera tahu jawabannya. Tentu saja. |
|
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 06:13 PM Post #26 |
|
Deleted User
|
[MIMPI] Semenjak kematian Hallena, ia jauh lebih sering berada di kamar. Contohnya, malam ini. Gadis cilik itu menepuk bantalnya sekali sembari melempar pandangan ke langit Manhattan malam ini, lantas memanjatkan doa sebelum memejamkan matanya. Berharap ia mendapatkan mimpi indah yang bisa membawanya keluar dari sekolah asrama yang belum ada seminggu jadi rumah kedua. Penyiksaan. Kalau bisa dibilang kiamat kecil, sekolah asrama ini adalah contoh kiamat kecil baginya. Teman satu kamarnya sudah memejamkan mata terlebih dahulu sehingga dengkur halus terdengar. Hari ini adalah hari terberat selama di sekolah. Pertandingan voli antar kelas. Cukup kasar. Beberapa murid terlihat lebih sangar dan lapar. Kebetulan anak perempuan yang masih sibuk berusaha memanjatkan doa di atas tempat tidur itu bukan termasuk penyuka olahraga voli. Lebih baik lepaskan dia di kolam renang dan membiarkannya bermain air seperti anak bebek, kwek. Itu lebih baik dibanding mengejar satu bola. Bola bisa dibeli, kenapa harus ada sih olahraga yang khusus diadakan dengan mengejar satu bola? Bibirnya masih bergerak, yang seolah berkata agar membiarkan mimpi indah membelainya. Setelahnya ia membuka mata kembali. Disadarinya ia berada di satu tempat luas. Sendirian. Matanya bergerak mencari siapa saja yang mungkin berada di dekatnya. Mungkin ibunya atau ayahnya. Sayangnya, nihil. Tempat itu sepi, kecuali papan penunjuk jalan dan suara-suara aneh. "Sudah datang?" Seseorang mengucapkan satu kata ke arahnya, tanpa ada wujud nyata. Summer hanya bergerak mundur perlahan kemudian menabrak seseorang di belakang. Tak ada rasa sakit meskipun ia jatuh. Mimpi. Aneh. Anak perempuan itu menoleh dan mengernyitkan keningnya. Alisnya bertaut. Mencari sumber suara yang menanyakan perihal kedatangannya. Aneh. "Jangan bengong. Ayo, kesini! Perkemahan Blasteran." Tangannya diarahkan ke mulut. Menahan teriakannya. Kemudian jarak pandangnya berubah. Dia bukan berada di satu tempat luas yang nampaknya tadi adalah hutan. Masih sama sebenarnya sih, di hutan juga. Hanya sayup-sayup suara itu menghilang. Lalu muncul lagi. Mengucapkan hal serupa. Berulang-ulang dan jelas itu terdengar mengganggu bagi Summer. Tangannya menampar pelan pipinya. Tidak sakit sama sekali. Lalu diulang lagi, kali ini cubitan. Masih tak ada perubahan. Mimpi? |
|
|
| Seanna Abbott | Oct 3 2015, 06:23 PM Post #27 |
![]()
|
M I M P I Ia selalu suka seperti ini. Berada di tepian pantai dengan skop dan ember sembari menatap lautan sesekali. Kedua tangannya sibuk menumpuk pasir basah dan mulai membentuknya menjadi tembok -benteng. Deburan ombak yang terpecah di karang layaknya nada yang menenangkan. Sejak kecil ia sudah mengenal tempat ini. Ibunya sering membawa Sean kesini. Jauh di sana, bersama gulungan ombak, Apryl Abbott nampak sangat terampil dengan papan selancar. Sean enam tahun ini masih belum diijinkan belajar selancar meski faktanya gadis kecil Abbott sudah bisa secara tak sengaja. Mungkin bakat turunan. Senyum si kecil Abbott terulas. Sejenak. Ya, hanya sejenak karena tiba-tiba saja langit berubah gelap dan badai datang. Iris hijau Sean menangkap sosok ibunya yang kepayahan dalam gulungan ombak. Tidak lama. Lalu entah dari mana seorang pria datang. Sean kecil berteriak namun tak ada suara. Hanya mulutnya yang megap-megap dan gambaran ibunya semakin lama semakin mengecil dan kabur. Sean terhempas. Ia berada di trotoar Sixth Avenue dengan sebuah stik golf di tangan. Di ujungnya nampak cairan kehijauan yang membuat Sean merasa jijik. Kemudian ia dengar suara geraman dan teriakan bersamaan. Seseorang meneriakkan kata seperti 'Tuhan' atau 'Dewa' atau entah semacamnya. Entahlah. Yang Sean tau sebuah cengkeraman hinggap dibahunya. Kuat dan sakit. Lalu seseorang kembali berteriak. Meneriakkan kata 'Long Island' dan 'Blasteran' dan 'Perkemahan' dan (lagi-lagi) entahlah. Lalu penglihatannya mengabur. Tick. Tock. Tick. Tock. Matanya kembali terbuka. Nyata dan jelas Sean berada di atas kasurnya. Selimutnya berantakan. Apryl, ibunya, duduk di tepi ranjang dengan sebuah ransel dan mengatakan bahwa jemputan Sean sudah datang. "Jemputan apa?" |
![]() |
|
| Sebastian Bates | Oct 3 2015, 07:27 PM Post #28 |
![]()
|
Diserang Makhluk Baik Mereka bilang ini adalah bulan-bulan terbaik setiap tahun. Bass bilang ini tak ubahnya bulan-bulan yang sama, terlebih karena ia harus kehilangan ayahnya jauh lebih intens. Ingat musim panas adalah ladang uang bagi ayahnya, dimana artis-artis seperti kerasukan meminta lagi dan lagi gaun malam terbaru untuk pesta, atau sekadar pakaian dalam sensual yang menarik untuk diumbar di tepi pantai. Jelas berarti waktunya terkuras habis di ujung Amerika bagian Barat-Selatan, meninggalkan Bass dengan seorang assisten rumah yang baik tetapi perlu diajari privat fashion for dummies. Hidup tak bisa lebih membosankan lagi. Beruntung di sekolah barunya di pusat kota super sibuk ini, ia seketika berteman dengan dua gadis bersaudara, sekonyong-konyong sudah membuat keributan di sana-sini dan membolos sekali-dua kali (seingatnya). Style kedua gadis itu adalah yang paling bisa ditolerir dari semua anak di sekolahnya, faktor penting yang membuatnya nyaman. Faktor kedua terpenting, sama-sama (yang mereka bilang) hiperaktif dan sulit membaca alfabet, membuat mereka sama-sama tak betah berlama-lama di kelas. Hari-hari pertamanya di Manhattan jadi tak terasa membosankan lagi. Ha. Tidak untuk hari ini. Entah mengapa kedua kakak-beradik itu sulit dihubungi hari ini. Benar-benar mengecewakan di saat yang tak tepat. Sweater biru langitnya kusut dipakai untuk tiduran seharian ini sejak mandi pagi tadi. Tidak ada esensi lagi baginya mengenakan parfum. Duh. Tambah lagi, apa pula yang Daniel kerjakan seharian ini batinnya. Pembantu mudanya itu, sekitar dua puluh tahunan barangkali, sibuk mondar-mandir di ruang tamu tempat pemuda Bates berbaring santai di sofa. Seolah pekerjaan rumah tangga pada umumnya tidak sepenting membuat Bass kesal berkali-kali lipat. Belum lagi ekspresi cemasnya seharian ini. Sebenarnya Daniel adalah asisten baru. Asisten perempuan yang lama mengundurkan diri tanpa sebab jelas dan tanpa berganti hari tiba-tiba ayah memekerjakan asisten baru. Lelaki. Dengan jalan agak pincang. Aneh. Lengkap sudah. “Cukup, Niel. Aku muak. Ada apa sih?” sembari duduk di sofa empuknya. “Maaf, Tuan.. Anu.. Saya.. Aduh bagaimana ya..” Lihat bagaimana asisten rumah tangganya membuat emosi Bass semakin mendidih di hari yang membosankan ini. Bass hanya diam menunggu sebelum ketel di kepalanya meledak. “Begini.. Beberapa barang telah hilang..” Bass bangkit sebelum akhirnya ia disela lagi, “Tuan, tuan.. Saya mohon dengarkan dulu. Saya tahu siapa pelakunya. Mereka adalah..” Dan bunyi-bunyian gaduh dari ruang sketsa ayahnya berhasil menahan ledakan amarah Bass. Secepat kilat berganti ke dapur, dan tiba-tiba saja dua sosok hewan—Bass tidak yakin—seperti monyet sudah berada di dekat jendela besar. Bass hanya bisa melongo penuh kengerian. Seolah belum selesai semua keanehan itu, Daniel mengeluarkan sebuah suling aneh dan mulai memainkan lagu, yang entah dari mana menumbuhkan berbagai macam tumbuhan sulur dan menjerat monyet-monyet—atau apapun itu. “DANIEL? WHAT THE ACTUAL F*** IS THIS?” sukses membuat pemuda Bates mematung tak bergerak. “Tuan, Saya mohon. Persiapkan semua perlengkapan untuk menginap. Semua pakaian, semua kebutuhan. Sekarang. Kita pergi. Saya mohon. Percayalah, akan Saya jelaskan.” DEMI TUHAN APA-APAAN INI. |
![]() |
|
| Anthony Whillock | Oct 3 2015, 07:46 PM Post #29 |
![]()
|
[Diseran makhluk baik] "Whoaaa!!!" Anthony terperanjat. Makhluk yang berjalan menyamping itu memiliki ukuran yang tidak biasa. Tanpa perlu berpikir lama, dia tahu kalau dirinya sedang terancam bahaya. Dia langsung berbalik arah dan berlari. Ember berisi peralatan berladangnya ia jatuhkan begitu saja. Dia terus berlari, ladang milik keluarganya. Apapun yang terjadi, sekalipun ia akan mati, jangan sampai kepiting raksasa itu membuat ladang keluarganya jadi hancur. Anthony tahu bahwa mereka masih punya ladang lain baik itu yangdi Washington atau di negara bagian lain, namun dia tidak mau kalau satu-satunya ladang tardisional ini jadi korban. Lagipula, bagaimana caranya menjelaskan, semisal Anthony masih hidup saat ladang mereka hancur begitu. Anthony menggeleng kepalanya selagi berlari. Ia gembungkan pipinya dan menatap lurus ke depan. Otaknya itu, aneh kadang. Di saat yang genting begini, sempat-sempatnya bisa dipakai untuk merenung, merenungkan hal negatif, malah. Dia harus optimis, dia harus berusaha untuk bertahan hidup. Kasihan, kan, keluarganya nanti. "Cepat, cepat! Kita harus kabur!" Anthony menoleh ke samping. Dia membelalakan matanya. Alasan pertama karena wujud sosok yanga da di smapingnya sama anehnya dengan makhluk yang mengejarnya, kedua adalah karena dia kaget kalau ternyata dia tidak berlari sendirian. "I-iya. Ini udah kabur, kok." Bahkan Anthony tidak berani menoleh ke belakang, hanya lihat ke depan saja sambil mencari-cari tujuan. "Kita ke perkemahan. Belok kiri, kiriiii!!!" "Hah? E-eh! I-iya kiri!" Anthony tidak paham maksudnya, tapi tetap mengikuti instruksi makhluk asing itu. Perkemahan apa, coba? Setahunya di sekitar sini tidak ada lahan untuk membuat kemah. Mereka terus berlari sekalipun warna langit telah berubah menjadi kemerahan. ANthony tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke perkemahan yang dimaksud. Tahu-tahu tangan makhluk itu menarik lengannya. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Anthony terkejut dan hendak melancarkan serangan lantaran reflek yang terlatih. Namun belum sempat ia bergerak untuk menyerang, tubuhnya sudah oleng dan dia--atau mereka tersungkur di balik semak-semak. "Aduh, duh." Katanya sambil mengusap lengannya. Dia lalu bergerak untuk melongok keadaan sekitar. Kepiting raksasa yang tadi mengejarnya sudah hilang entah kemana. "Tadi itu makhluk apa? Kau si... apa? Perkemahan apa?" semua pertanyaan yang membayanginya selagi berlari tadi akhirnya ia ungkapkan. "Tsk. Satu persatu, dong." Dilipatnya tangan serupa kaki kambing itu di depan dada. "Akan kujelaskan sambil jalan. Kita harus cepat sebelum monster lain datang" Ia mengedikan kepala dengan dua tanduk di puncaknya. Anthony menelan ludah. Duh, bagaimana caranya dia menjelaskan semua ini pada orang tuanya. Edited by Anthony Whillock, Oct 3 2015, 07:47 PM.
|
![]() |
|
| Deleted User | Oct 3 2015, 07:57 PM Post #30 |
|
Deleted User
|
[Dikejar Monster] Aileas bersumpah dia selalu menjadi anak yang baik. Dia bahkan tidak pernah bolos mengikuti kegiatan keagamaan yang rutin diadakan di hari Minggu, tidak seperti anak-anak lain yang kadang bahkan berbohong untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut. Namun yang didapatkan di belakangnya sekarang sungguh sesuatu yang tidak diharapkannya akan terjadi pada anak baik-baik. Aelias sungguh tidak menyangka dia bisa dihadapkan dalam situasi yang tidak terduga seperti sekarang ini. Bertemu dengan seseorang yang memiliki suara mengembik yang terdengar natural sudah agak sedikit aneh, dan semakin aneh lagi dengan kelakuannya yang begitu menempel pada Aelias setiap mereka bertemu pada kegiatan hari Minggu. Anders perempuan tersebut yakin dia bukan anak yang menarik untuk diajak berteman dengan kepribadian seperti ini, atau mungkin memang Aileas terlihat cocok didekati. Fred yang terlihat memiliki kekurangan itu mungkin dijauhi oleh orang lain, dan Aelias tidak terlihat seperti anak lainnya. Dan sekarang dia harus melihat seseorang memburunya, paling tidak tadi sosok di belakangnya itu memang berbentuk seperti manusia bernama Diana Wegner, teman yang sering dia lihat dalam kegiatan mingguannya, anak perempuan yang sering tersenyum (yang sebenarnya lebih seperti menyeringai) ke arah Aileas dalam beberapa minggu pertemuannya dengan anak tersebut. Sekarang yang mengejarnya sudah bukan lagi Diana, rambut hitam panjang dan tubuh kurus itu sekarang sudah berubah menjadi, entahlah, sosok menyeramkan tinggi besar dengan mata memburu dan napas yang terdengar berat, bahkan dari jarak lima meternya sekarang, Aileas bisa dengan jelas mendengarnya. "Ai! Ke sini!" Sekarang mungkin Aileas cuma bisa percaya pada Fred, anak laki-laki pincang yang anehnya sekarang bisa berlari secepat angin itu, untuk bisa menyelamatkannya dari serangan makhluk entah apa itu. Anak perempuan Anders tersebut sedang tidak bisa berpikir apakah perkataan Fred tadi yang menyatakan bahwa dia bisa membawa Aileas ke tempat yang aman itu bohong atau tidak, yang penting sekarang Aileas menyelamatkan diri terlebih dahulu. "Fred, kita mau ke mana?!" Di antara deru napasnya, Aileas sempat berteriak dengan suaranya yang hampir tidak pernah dipakai untuk berteriak, mungkin lebih terdengar seperti cicit saja. "POKOKNYA LARI SAJA!" Yeah, genius. Aileas bahkan sekarang tidak berpikir apakah dia bisa pulang tepat waktu atau tidak. Benar kata Fred. Yang penting lari saja dulu. |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Our users say it best: "Zetaboards is the best forum service I have ever used." |
|
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|










1:59 AM Jul 12