Welcome Guest [Log In] [Register]

CAMP JUPITER

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event


Senatus Populusque Romanus!
GENERAL ANNOUNCEMENT

Timeline Term 2.2: 2013/2014
Jadwal New IndoOlympians

Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP
Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB

Jangan sampai terlewat!
Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi


CAMP HALFBLOOD

Batas Tanggal Lahir:
01/06/2001 - 30/06/2002

Jadwal Kelas & Event

Jangan kasih makan Satyr, ingat!
Selamat datang di New Indoolympians!

New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya?

Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB

Join our adventure!


Jika sudah terdaftar, silakan login:

Username:   Password:
Locked Topic
Petualangan Pertama Term 1
Topic Started: Sep 19 2015, 05:00 PM (1,124 Views)
Deleted User
Deleted User

Ponselnya berbunyi lagi, ada lebih dari lima pesan masuk. Cassandra ia membukanya tanpa membalas, dan meletakkan lagi ponselnya ke dalam tas. “Bukannya di sekolah ponsel tidak diperbolehkan?” seorang anak laki-laki datang menghampirinya. Tanpa diundang ikut duduk di bangku yang sama ketika ia sedang melarikan diri ke taman kota sepulang sekolah, yang membuatnya hanya punya jarak sedikit jarak antara dia tasnya dan Jace—anak laki-laki yang ia tahu sebagai temannya di kelas Sejarah Amerika.

“Ini bukan di sekolah.”

“Tapi kau membawanya ke sekolah, aku pikir kau tidak pernah melanggar peraturan. Apa ibumu mengizinkan?”

“Aku pikir kau tidak mau tahu apa yang dikatakan ibuku.” dan bersamaan dengan itu Cassandra berdiri. Anak perempuan itu merapikan bagian belakang roknya, sebelum ia beranjak ke arah keranjang sampah untuk membuang mangkuk es krim kosongnya. “Jaga tasku, mau pretzel?” dan tentu saja, anak itu langsung mendatangi sebuah kedai roti dan membeli dua tanpa persetujuan Jace lebih dulu. Meski ia masih ingat peraturan Denalie nomor dua belas; not allowed give something important for strangers, dan peraturan nomor tujuh; not allowed talking with strangers. Cassandra mengerang, rasanya begitu menyedihkan kalau tahu hidupnya diatur oleh selembar kertas besar di pintu dapur.

Keadaan toko begitu sepi, kasir kosong dari antrean, maka Cassandra berjalan dengan tenang menghampiri seorang wanita di depan konter untuk meminta dua roti. Tapi keraguan tiba-tiba merambatinya, dan ia mengira kalau perasaan itu hanya karena rasa roti yang dijual tidak akan membuatnya datang untuk ke dua kalinya. “Aku ingin—“ katanya sambil mengamati menu di atas meja konter. “—dua Pret… YA AMPUN!” suaranya berubah menjadi lebih keras, ketika wanita yang ia lihat sebelumnya berubah menjadi manusia kelelawar. Giginya tajam, dan seragam kemeja putihnya hilang digantikan dengan tubuh yang telanjang bulat. Cepat-cepat Cassandra berlari menuju pintu keluar, tapi entah apa yang membuatnya lebih sial dari itu, pintunya terkunci.

“Gadis kecil, demigod kecil, rasanya pasti manis.”

Cassandra memukul-mukul pintu kaca sambil terus membukanya dengan sia-sia. “Mundur! Aku tidak mengenalmu dan aku tidak diperbolehkan bicara denganmu.”

[coloy=gray]“Aku tidak akan membagimu pada siapapun, aku akan menghabisimu sendirian.” [/color]Wanita kekelawar itu tertawa. “Kau pasti enak, kau pasti manis, demigod kecil.” ucapannya seperti mantra kematian bagi Cassandra, dan anak itu hanya bisa teriak dan meronta ketika lehernya sudah dalam jangkauan tangan-tangan kurus milik sang wanita. “Kau enak, kau manis.” Jari-jarinya yang kurus kering dan berkuku tajam menjalar di sekitar wajahnya, maka tubuh kecil Cassandra semakin bergetar.

“Jace! Hubungi saluran darutan. Jace!” katanya dengan terbata-bata. Tapi tidak ada reaksi apapun sampai wanita itu membuka mulutnya dengan lebar, berusaha menggigitnya. Cassandra kembali berteriak, sampai tenggorokkannya sakit, dan tubuhnya meronta-ronta meski secara sia-sia. Sampai bunyi yang sangat keras terdengar dan tangan-tangan kurus itu tidak lagi ada di tubuhnya. Jace menyuruhnya berlari dengan suaranya yang sepertinya mengembik, dan dengan tidak ada niatan untuk mempermasalahkan aksennya Cassandra berlari ke pintu belakang, tempat Jace datang. Menjauh menuju jalan yang lebih ramai dan tidak lagi mau melihat ke belakang. Tujuannya adalah pulang ke rumah. Lantas, Cassandra membuka pintu taksi kuning, sebelum tangannya di tarik dan anak perempuan itu kembali menjerit.

“Jangan membuat keributan. Ini aku, Jace.”

“Aku takut, aku ingin pulang.”

“Tidak! Kita harus pergi ke perkemahan sekarang.”

“Ada wanita kelelawar yang menyerangku di toko roti dan kau memintaku pergi keperkemahan? Aku sedang tidak latihan drama.”

“Pelankan suaramu, dan ikut denganku,” tidak ada waktu baginya untuk mengelak, sebab Jace sudah membawanya berlari menuju seberang jalan dan terus berjalan ke arah yang bukan menuju rumahnya.
Goto Top
 
Abed Barakat
Member Avatar

"Abed, berapa kali ayah harus bilang?"

Bocah itu menoleh ke arah ayahnya akhirnya. Sudah cukup lama sang ayah berusaha untuk menarik perhatian bocah itu. Seorang yang pendiam, ia tidak terlalu banyak berbicara dan tidak mempunyai banyak teman. Tapi tidak sekalipun Abed merasa tidak nyaman, sepertinya ia sudah menerima bahwa ia tidak akan pernah masuk ke dalam masyarakat di Amerika.

Tidak perduli berapa lama ia berada di sini, wajahnya seperti sebuah papan neon besar yang bertuliskan 'I do not belong here'.

Well, bukannnya Abed perduli juga.

"Aku pergi dulu, ayah."

Ia mengambil ranselnya, bersiap untuk pergi ke sekolah. Dimana semuanya akan terasa sama saja, orang-orang berbisik setiap ia lewat dan mengatakan bahwa ia aneh. Tapi ia tidak perduli, semuanya akan selalu baik-baik saja, selama ia memiliki TV. Kira-kira show apa yang akan ia tonton hari ini?

"Oi, Abed!"

Seseorang memanggil namanya, merangkulnya dari belakang. Itu seorang tetangganya yang memiliki masalah dengan kakinya, baru beberapa saat pindah ke sekolahnya dan tiba-tiba bertingkah seperti begitu bersahabat dengannya. Abed hanya membiarkannya, menjawabnya seperlunya setiap ada perkataan darinya.

"Kau sudah mengerjakan PR Matematika belum?"

Bocah Barakat itu tidak pintar, membaca saja susah, membuatnya malas mengerjakan tugas. Pasti ia mengejek bertanya seperti itu. Belum sempat menjawab, Abed melihat ada sebuah makhluk yang terlihat tidak normal. Bukan hewan, seperti mahkluk mitologi Yunani.

Mungkin ia sudah gila, tapi mahkluk itu berlari seperti mau menyerangnya.

Mengedipkan mata, ia tidak merasa takut. Biarpun sudah menyadari bahwa ia akan tidak akan selamat jika berdiam diri, Abed mengeluarkan kamera poketnya dan mulai mensyutingnya.

"Kau gila?" Temannya berubah. Ia memiliki kaki kambing, satyr kan? Segera ia menarik Abed sejauh mungkin, memaksanya berlari sejauh mungkin dari mahkluk mitologi itu, oh well.
Offline Profile Goto Top
 
Deleted User
Deleted User

[DISERANG MA(SYA ALLAH)KHLUK BAIK]

Ini tidak benar, sama sekali tidak benar.

Karena yang selama ini Henrietta percayai adalah: kepiting itu basically makhluk laut. Oke, kepiting memang tidak berenang melainkan berjalan di antara pasir atau bebatuan. Tapi Henrietta tidak pernah tahu ada kepiting yang sebesar ini, berjalan di jalanan beraspal—mengejarnya. Dan bagaimana mungkin orang-orang di sekitarnya seolah tidak bisa melihat makhluk itu? Sama sekali tidak masuk akal.

Kepiting raksasa itu muncul entah dari mana, mengejarnya yang baru saja membubarkan diri di hari terakhir sekolah sebelum libur musim panas. Henrietta sempat mengira bahwa dirinya bermimpi. Gadis kecil Erde bahkan sempat mencubit lengannya sekeras mungkin untuk membuktikannya. Namun hanya rasa sakit yang tertinggal, semua ini nyata. Atau di zaman modern seperti sekarang ia bisa merasa sakit meskipun berada di dalam mimpi?

"E-e-e-eh! Kau mau ke mana? Jalannya ke sebelah sini, bukan ke sana, Etta!"

Tangannya digamit agak kasar, mungkin maksudnya baik, untuk segera menyelamatkan Henrietta dari kejaran makhluk aneh itu. Namun barangkali anak laki-laki yang menggamit tangannya itu lupa, bahwa ada peraturan tak tertulis yang menyatakan: `Aku benci disentuh, apalagi oleh anak laki-laki`. Dan semua orang di kelas nampaknya sudah tahu. Barangkali anak laki-laki ini lupa?

Oh, tapi anak laki-laki ini bukan anak laki-laki, kan.

"Lepas." Henrietta bergumam, masih sambil memacu kedua tungkainya dan melepas tangan dari genggaman anak laki-laki bernama Eames tersebut. Awalnya ia tidak percaya, karena Eames hanyalah seorang anak laki-laki pincang di kelasnya yang penuh selera humor. Mereka tidak pernah dekat. Namun makhluk aneh tiba-tiba muncul dan menyerangnya, lalu Eames memintanya untuk mengikutinya. Eames berkata akan membawanya ke tempat aman. Percaya? Jelas tidak. Henrietta tidak pernah percaya pada siapapun. Namun setelah kedua kaki pincang Eames berubah menjadi kaki kambing dan serangan makhluk aneh berbentuk kepiting itu terasa nyata, gadis kecil Erde punya pilihan apa?

Ia takut, dan saat ini ia hanya bisa berlari, mengikuti Eames. Modalnya hanya tekad untuk bertahan hidup. Jangan salah paham, ia masih tidak memercayai Eames terlebih saat anak laki-laki berkacamata itu berkata bahwa Henrietta adalah demigod.


(Dikira ia gampang dibodohi? Kalau soal sejarah Yunani dan Romawi, ia sudah khatam, tahu.)
Goto Top
 
Samantha Cherevin
Member Avatar
Daughter of Hermes
[Diserang Momo—mooo~]

"Mu, mu," Samantha balas menoel, tapi bedanya, matanya terpaku pada monster bermata satu yang sedang merayap mendekati mereka.

"Kayaknya beda. Yang di buku lebih bagus hmmm."

MASIH BISA SOK MIKIR HAH, SAMANTHA?



Ya tidak, lah.

Belum sempat dia berkedip usai mengucapkan kalimat dengan kadar ketololan super tadi, gadis itu merasakan sebuah tarikan pada lengannya. Samantha tidak perlu menoleh untuk tahu tarikan itu berasal dari mana, sebagai ganti, dia memacu kakinya sekuat tenaga, berlari secepat mungkin seolah di depan mereka ada garis finish yang harus dilalui agar selamat dari keruntuhan dunia. Terberkatilah penemu sepeda dan kakek-neneknya yang tidak keberatan membelikan satu, sehingga begitu melihat hadiah ulang tahun mereka yang ke-9, Samantha tidak pakai ba-bi-bu lagi. Langsung tancap gas sekencang-kencangnya.

Kalau kejadian kembar Cherevin ditayangkan dalam adegan lambat, orang-orang yang menonton pasti sudah beranjak dari kursi mereka. Popcorn sudah habis, acara belum rampung juga. EHEM. Maksudnya, kejar-kejarannya lama sekali. Samantha mengumpat-ngumpat makhluk jelek itu dengan semua jenis umpatan yang ada dalam kepala, sesekali menoleh ke belakang, tapi tanpa melakukan itu pun dia tahu bahwa mereka masih dikejar. Suaranya itu--ROAAARRRRR! Jelek dan sangat noticeable. Beruntung tubuhnya dan Samuel sering dipakai lari. Meski ngos-ngosan, mereka belum tepar.

"Kayaknya sudah pergi--GILA AJA KENAPA DIA ADA DI SANA?" Sang monster berdiri tegak di depan gang yang akan dilintasinya. Terpaksa, Samantha menginjak rem.

Dan yap, kau juga sudah tahu dari Samuel kalau rem mereka berdua blong.

Sebagai adik, Samantha tidak banyak protes. Dia cuma mengikuti Samuel yang lagi-lagi menariknya untuk menjauh. Saat Jeremy muncul di belokan, gadis itu tidak bisa untuk tidak memekik.

"Jeremy--KAU!" Saking terkejutnya, dia bahkan tak bisa berkata-kata lagi. Beneran kaki kambing? Samantha mengerjap-ngerjap sebanyak yang dia bisa, mengira di salah satu kerjapan semua situasi gila ini akan kembali normal: dia dan Samuel menghabiskan sore di peternakan sambil memenuhi tempat makan sapi dengan jerami bertumpuk agar mereka kenyang sampai bulan depan; oh yeah, ini normal sekali.

Setidaknya, jauh lebih normal dibanding kejar-kejaran dengan makhluk jelek dipimpin manusia separuh kambing.
Offline Profile Goto Top
 
Lucy Ellmore
Member Avatar

M I M P I

Lucy baru saja kembali dari kegiatan rutinnya ketika libur; menari dengan anak-anak jalanan. Ya, dia menyukai kegiatan seperti itu. Di sana ia bisa bebas berekspresi walau berujung diganggu dan disiuli oleh anak-anak lelaki yang satu sekolah dengannya. Terlalu sering Lucy mendengar siulan dan mendapat lirikan dari mereka terutama dia yang mengaku sebagai sang alpha, membuat gadis itu bersikap tak peduli dan mengabaikannya saja.

Gadis itu melangkah masuk dengan terburu dan tidak melepas sepatunya, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke ranjang empuknya. Lelah dan ia tahu dia masih berkeringat. Tetapi begitu ia berguling dan mendapatkan posisi nyaman, kedua matanya langsung terpejam dan birunya menghilang begitu pula kesadarannya.

Beberapa saat, ia hanya merasakan udara lembut menyentuh kulitnya. Lalu suara-suara seperti…, nyanyian? Tidak, lebih seperti panggilan dengan suara mendayu-dayu halus nan lembut, membuatnya ingin tertidur dan bangun pada saat yang bersamaan karena penasaran siapa yang memanggilnya. Oh, jika ternyata tidurnya diganggu oleh anak-anak lelaki yang bisa saja nekat memanjat pohon dekat jendela kamarnya, lihat saja apa yang akan terjadi esok hari. Lucy tidak segan untuk mengkonfrontasi mereka yang mengganggu tidur cantiknya.

Namun yang ia lihat kemudian bukanlah halaman rumah atau kamarnya. Tempat itu putih semuanya dan hanya ada kilap-kilap emas yang ternyata berasal dari daun-daun pohon tempat ia bersandar. Sejak kapan juga ia bersandar ke pohon?

“Pergilah,”

“Pergi?”

Lucy bertanya-tanya suara siapa itu. Gadis itu berdiri dan mendapati dirinya sendiri memakai toga berwarna putih dan keemasan, sangat cocok dengan rambutnya. “Siapa di sana?” gadis itu berseru seraya mendongak ke atas, mencoba melihat ke langit-langit namun yang tampak hanyalah warna putih tanpa noda. “Aku bisa mengadukanmu ke pamanku jika tidak mengaku! Dia detektif!” Bluffing. Lucy bahkan tak begitu menyukai pamannya. Dia berjalan dan merasakan basah di ujung kakinya. Ada kolam kecil di bawahnya dan Lucy dapat bercermin. Namun panggilang-panggilan itu kembali terdengar dan sebuah nama tempat yang asing diserukan sementara Lucy menatap semakin dalam ke air. Dia membungkuk dan terus membungkuk sampai rasanya ia tersedot masuk dan—

—ia terbangun dan terkesiap.

“Aku harus bersih-bersih,” mungkin itu arti dari air di mimpinya. Selesai melaukan ritual di kamar mandi, gadis Ellmore itu bercermin dan menyisir rambut emas panjangnya. “Hmm, dimana pula tempat yang disebutkan tadi itu?” Masih dengan penuh tanya, gadis itu melangkah keluar kamar mandi.
Offline Profile Goto Top
 
Luna Lamperouge

[Serangan M O N S T E R]



Saat itu mereka sedang menyeberangi Golden Gate, bertopang dari wilayah di utara menuju selatan, atau justru sebaliknya. Karena yang bisa Luna lihat adalah kilap dari matahari di sebelah kanan kaca mobilnya. Sebentar lagi matahari tenggelam dan mereka belum juga sampai di rumah. Mungkin orang akan bertanya, 'rumah yang mana lagi', karena keluarga Lamperouge memiliki banyak sekali rumah. Namun rumah manapun sebenarnya tidak masalah asalkan ada seseorang yang menyambutnya di sana.

Sejenak Luna terlelap dalam alunan lagu klasik di earphone-nya, sedangkan Shion, supir yang mengantarnya menuju rumah, berulang kali mengintip melalui kaca spion bagaimana keadaan nona mudanya yang setengah terlelap. Situasi terkendali, setidaknya sampai mereka melewati tiang pancang utama jembatan besar itu, dan Shion menginjak pedal rem kuat-kuat hingga Luna terpelanting menubruk kursi di depannya.

"Apa yang terjadi, Tuan Shion?"

Namun Shion tidak menjawab, hanya memberikan gestur agar Luna keluar dari mobil secepatnya.

Kemudian dentuman terdengar. Mobil yang ia tumpangi terpelanting, berbalik, dengan Luna yang meringkuk di dalam sambil memegangi kedua kepalanya. Saat tersadar, Shion tak terlihat, hanya pintu samping yang sedikit terbuka sampai akhirnya ia memutuskan untuk merangkak keluar, perlahan. Apa yang terjadi? Berulang kali Luna berbisik dalam hati. Sayang, ia harus menghentikan bisikan itu karena napasnya tertahan melihat sosok monster yang ada di sana; tepat di hadapannya.

"A-apa..."

Sesosok makhluk berwujud singa yang berdiri dengan kedua kakinya. Bedanya, singa ini memiliki sayap seperti kelelawar, dan ekor seperti kalajengking. Sosok itu terlihat aneh memang, apalagi ketika tawanya membahana dan perlahan mendekati Luna seakan sedang menggertaknya. Tentu saja, ada ketakutan yang menyelubungi benak gadis muda itu, ditambah ini adalah pertama kali ia melihat sosok seperti itu.

"Nona, Lari!"

Kemudian sebuah suara kecil memberinya peringatan.

Itu suara Shion yang tiba-tiba menariknya untuk menghindari serangan dari si monster.

"Apa yang terjadi?" tanya Luna sambil mempercepat langkah. Larinya memang tidak cepat, tambah lagi rasa penasaran membuatnya berulang kali berbalik menatap monster tersebut.

"Kujelaskan nanti! Yang penting kita lari!"
Offline Profile Goto Top
 
Olivia Hartnell
Member Avatar

{MIMPI}

Olivia ingat, bahkan seolah ia masih merasakan udara yang sama seperti di waktu yang sebelumnya. Tempat yang sama, keadaan yang sama – bahkan pakaiannya pun sampai teringat dengan jelas di dalam memori anak perempuan ini. Seolah apa yang ia lihat itu adalah hal yang familier untuknya, rumahnya di Michigan. Bagaimana tidak familier jika yang dilihat adalah rumahnya sendiri?

Ia menunggu, mungkin.

Sembari memejamkan matanya sejenak sambal menikmati angin yang menerpa badannya tersebut. Seharusnya, sebentar lagi, batinnya. Dan memang benar apa yang ia pikirkan – samar samar anak perempuan ini berhasil menangkap suara yang sama. Suara aneh yang pertama dikiranya adalah suara sang ayah yang memanggil namanya, lambat laun Olivia sadar kalau ternyata suara tersebut jauh berbeda dengan ayahnya. Nadanya lebih tinggi sekalipun tiap katanya di ucapkan dengan lembut.

“Liv,”

Dan ia, yang namanya terpanggil, berusaha untuk memastikan darimana sumber suara tersebut.

Pergilah

Hah. Apa, sih? Lama-lama jadi semakin konyol saja.

“Pergilah kesana!”

Kali itu, anak perempuan ini tersentak kaget.

Matanya yang semula terpejam langsung terbelalak lebar dan bahkan ia sudah terduduk di atas ranjangnya. Kamarnya tersebut gelap, tapi Olivia masih bisa merasakan debaran jantung sekaligus keringat yang menempel pada keningnya. Ini sudah ketiga kalinya ia bermimpi akan hal yang sama, bahkan beberapa hari berturut-turut. Tidak bisa apa, lebih aneh lagi dari ini? Kenapa mimpinya harus mendengarkan suara-suara mistis coba. Ia mendesah, seraya membaringkan tubuhnya lagi ke atas ranjang. Besok… besok Olivia akan bilang pada ayahnya kalau begini terus, sekarang tidur dulu masih subuh.

Itu pun kalau ingat cerita, hhh.
Offline Profile Goto Top
 
Deleted User
Deleted User

[MIMPI]


“Temui aku ketika kau bangun.”

Kelopak matanya mengerjap tak beraturan. Mendadak kepalanya terasa pusing harus mencerna mimpi aneh yang baru saja ia alami. Sebuah tanda tanya besar bersarang dalam kepalanya sekarang. Apa yang barusan itu?

Benaknya kembali menelusuri ingatan akan mimpi tersebut. Dalam memorinya langit terihat temaram. Kabut tipis menyelimuti pohon-pohon yang menjulang tinggi ke angkasa. Mungkin ada banyak gugusan bintang di langit pada saat itu, namun bocah Riesling itu tidak memerhatikan. Go menolehkan wajah dan melihat Johann ada di sana. Kembarannya itu berdiri berdampingan dengannya. Mungkin sama-sama tidak mengerti apa maksud dari semua ini.

Lalu suara itu muncul.

“Datanglah. Sudah saatnya.”

Suara yang terdengar tegas namun tetap lembut menyapu gendang telinganya. Kemudian apa yang tertangkap visualisasinya mendadak berubah-ubah. Seakan dirinya dan Johann terjebak dalam sebuah lintasan imajiner. Kembar coklatnya disuguhkan imaji-imaji perjalanan panjang. Jalan mana yang harus ditempuh, kendaraan apa yang harus ditumpangi. Dan suara itu terus berdengung di telinganya. Lama-lama memberikan sensasi tidak enak menjalar di sekujur tubuhnya.

“Datanglah. Sudah saatnya.”

“Datanglah. Sudah saatnya.”

“Datanglah..”


Margo menundukan kepala dengan kedua tangan terangkat menutupi daun telinganya. “Hentikan!” ia menjerit.

“Sudah saatnya. Datanglah.”


“Hentikan!!”

Segalanya kembali normal seperti sedia kala. Langit berbintang sudah berganti dengan langit-langit lapuk kamar tidurnya. Johann tetap berada di sisinya. Namun saudaranya masih memejamkan mata—masih tertidur. Kedua tangannya kini mengguncang-guncangkan tubuh Johann tanpa malu-malu. “Bangun, bodoh! Dasar tukang tidur. Ayo bangun!” ia setengah terisak.
Goto Top
 
Christabel Truscott
Member Avatar


[DISERANG MAKHLUK (NGGAK) BAIK]

Christabel Seraphine Truscott pada awalnya hanya sedang berjalan pulang dari sekolah seperti biasa. Naik bus. Karena selain ibunya pasti masih di kantor sekarang, jarak sekolah dasar kesekiannya ini tidak begitu dekat dari rumah sehingga tidak bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Oh, mungkin saja bisa tetapi akan berujung patah kaki atau pingsan sebelum mencapai rumah.

Dan ia masih belum berminat menguji ketangguhan diri. Jauh lebih baik membayar ongkos dan mendudukkan diri di jok plastik bus yang keras, membiarkan pengemudi membawa dirinya ke jalan dekat rumah walau harus menerobos kemacetan Manhattan yang parah. Bagus, setidaknya ia dapat menyicil tidurnya yang tidak pernah cukup selagi—

DUAAAAAAAAAR.

Gadis muda Truscott kebetulan duduk di baris depan hari ini, hanya dua baris di belakang pak tua pengemudi bus. Sehingga ia hanya bisa menutup telinga dan merundukkan badan hingga menempel ke belakang kursi di depannya ketika terdengar suara ledakan dari belakang. Ia ingin berusaha mengintip sekilas namun kepalanya tidak dapat berputar begitu jauh, ia bukan burung hantu.

Akhirnya malah menanti, mencoba mencari-cari kesempatan yang tepat untuk kabur dari bus. Karena, anehnya, orang lain tidak kelihatan seperti sedang panik seperti dirinya. Apakah ledakan itu hanya halusinasi? Tidak. Ia yakin ledakan itu begitu keras, lebih keras dari saat ia salah memodifikasi perangkat sederhana di sekitarnya. Namun belum juga ia temukan ada orang lain yang bereaksi sepertinya.

Padahal di belakangnya, di belakangnya—kaca bus pecah, mungkin badan busnya juga runtuh, bus yang masih berjalan bergetar tetapi bukan karena mesinnya menyala, seperti ada langkah-langkah pergerakan makhluk yang tak jelas bentuknya. Sungguh, ada apa dengan hari ini? Palu yang hari ini sedang ia bawa ke sekolah disita pak guru, disangkanya dia ingin menjadikannya senjata…

…yah, kalau cakar-cakar makhluk tersebut mulai melukai tubuhnya seperti ini, tentu saja ia ingin menjadikannya senjata! Tetapi, tidak mungkin, kan pak guru tersebut sudah memprediksi hari ini ia akan diserang makhluk tidak jelas? Tunggu. Pak guru yang mengambil palunya tadi pagi barusan memecahkan kaca pintu bus dan merangsek masuk dengan mudahnya, padahal seingat Christabel ia pincang.

Tetapi malah punya kaki seperti kambing.

”Truscott! Kabur! Sekarang! Kau pasti tahu ada yang tidak beres, Nak!”

“Apaan,” adalah satu-satunya kata yang berkali-kali keluar dari mulut gadis itu ketika berusaha lepas dari jeratan si entah apa. Apaan kenapa tiba-tiba kaki kambing, kenapa tiba-tiba jadi santapan enak buat si makhluk tidak jelas, apaan dengan hari ini, apaan yang bakal menantinya nanti kalau kabur—
Offline Profile Goto Top
 
Deleted User
Deleted User

[Mimpi]

Suara langkah sepatu membuatnya terbangun. Ia membuka matanya, terkejut menyadari ada seseorang yang baru saja masuk kamarnya. Seingatnya, kamarnya telah dikuncinya sebelum tidur tadi. Ia bangkit dari tidurnya dan kemudian duduk. Indra pendengarannya memastikan kebali bahwa itu adalah suara langkap sepatu. Sekelilingnya masih gelap. Sementara langkah sepatu tersebutu semakin dekat ke tempat tidurnya.

"Dad?"

Tidak ada jawaban. Emily menghidupkan lampu tidur di sebelah tempat tidurnya untuk melihat siapa yang datang. Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang. Orang asing yang tidak dikenalnya. Seorang pria paruh baya yang menatapnya dari mata kelabunya.

"Siapa kau?" Tanya Emily yang ketakutan.

"Kau harus cepat pergi dari sini." Suara berat milik pria paruh baya itu terdengar seperti perintah.

"Kemana?"

"Kemah blasteran. Sekarang!"

"A-aku belum ganti baju," jawab Emily tergagap.

"Cepat! Mereka mengejarmu!"

Sungguh Emily tak percaya dirinya baru saja mengatakan itu. Saat ketakutan ia masih bisa memikirkan tentang penampilannya. Namun memang benar, ia hanya mengenakan piayamanya. Semua ini terlalu membingungkan dan menakutkan. Seorang pria asing baru saja masuk ke dalam kamarnya. Menyuruhnya pergi ke perkemahan apapun itu. Dan mengatakan ada yang sedang mengejarnya. Namun ia tahu pasti apa yang harus dilakukannya. Ia harus mandi dan ganti baju kemana pun ia harus pergi.

Namun bukannya mengikuti sugesti dirinya sendiri, Emily malah pergi ke luar dari kamarnya. Tujuannya adalah perkemahan itu. Masih mengenakan baju piayamanya dan sendal rumahnya. Ya Tuhan, dia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang. Ia baru saja keluar dari rumahnya hanya dengan piayamanya!

Orang-orang di jalanan menatapnya aneh. Ia merasa malu sekali. Sementara pria paruh baya tadi menghilang.

Emily membuka matanya lagi. Menatap ke langit-langit kamarnya dan menatap ke sekeliling ruangannya. Ia masih di dalam kamarnya. Ia belum keluar rumah. Tadi itu hanya mimpi saja. Ia menghela napas lega. Namun, mimpi tadi sangatlah aneh. Siapa pria itu? Kenapa ia harus pergi ke perkemahan? Dan siapa yang sedang mengejarnya?

Emily benar-benar bingung.
Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
Learn More · Sign-up Now
Go to Next Page
« Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic »
Locked Topic


|| Black Water created by tiptopolive of IDS || Modified by Zeus ||