CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 1 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sep 19 2015, 05:00 PM (1,123 Views) | |
| Deleted User | Oct 4 2015, 10:59 AM Post #41 |
|
Deleted User
|
[MIMPI] Orange sudah cuci kaki, cuci muka dan sikat gigi sebelum tidur. Dia juga sudah mempersiapkan bahan makanan di kulkas tua di dapur untuk besok sarapan pagi. Dan terakhir ucapan selamat tidur serta kecupan di kening dari kakak kandungnya, Jade Smith, yang baru saja selesai mendongengkan cerita kepadanya. "Selamat tidur juga, bang." Kini rasa kantuknya sudah mengantarkan si gadis untuk tertidur pulas. Seharian ini dia benar-benar sibuk di rumah. Memangkas rumput di halaman rumah mereka, membersihkan daun kering di sekitar tanaman bunganya dan juga membersihkan kandang ayamnya. Tidur pulasnya kini diawali sebuah mimpi. "Helen, Lena, kalian di manaaa??" Suaranya berteriak cukup keras memanggil keberadaan sepasang ekor ayam yang badannya gemuk dan sehat-sehat itu. Orange terkejut karena pintu kandang ayamnya terbuka lebar begitu saja. Dia curiga pasti salah satu saudaranya di rumah yang iseng. Beluk kapok juga ya sama tangisan Orange yang bisa membuat telinga kalian menjadi pengang? Keberadaan mereka juga tidak terlihat sama sekali di rumah? Huh, jadi kesal rasanya. "Helen, Lena, waktunya makan siaaaang!" Biasanya dengan bunyi tepukan dan siulan si gadis, kedua ekor ayamnya itu bakal berisik dan tidak tenang karena menunggu makanan mereka disajikan di dalam kandang. "Nona Orange..." "Wah??!" Hampir saja dia terjengkang karena sosok salah satu ayamnya berada di belakang punggungnya. Berdiri di sebuah bongkahan kayu untuk perapian tua di rumah. Lagi-lagi dia dibuat terkejut karena ayamnya ini bisa berbicara. Jelas pula. Mimpi buruk? "Pergilah ke perkemahan blasteran..." "Hah? Perkemahan apa? Aku mana punya uang yang cukup buat berkemah." Ongkos transportasinya gimana? Makanannya gimana? "Pokoknya pergilah, ini perintah, Nona Orange." Widih. Bisa-bisanya ada seekor ayam memerintah majikannya yang sering memberikan makan sejak masih kecil. "Memangnya penting??!" "Pen-- --kukuruyuuuuuuk. Ptok ptok." "Heh Helen? Kok suaranya berubah lagiiii? Heh maksudmu apaaa?" BUGH. Mendadak dia terbangun dengan posisi yang sudah terjatuh dari kasurnya. Cuma mengaduh sakit di hidungnya yang mencium lantai kayu dingin. |
|
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 11:43 AM Post #42 |
|
Deleted User
|
<< d i s e r a n g • m o m o n >> Sesuka apapun Lavender dengan kebersihan, klinik tetap bukanlah favoritnya. Dia lebih suka tidur-tiduran di taman bunga yang hangat, di bawah pohon yang rindang, sambil menikmati semilir angin sepoi-sepoi—tapi apalah daya, masih jam sekolah ya kali dia kabur ke taman yang letaknya paling dekat satu blok dari bangunan sekolahnya. Lave bisa mendengar dirinya membuang napas ketika selimut tertarik setinggi dagu. Langit-langit yang tinggi dan lingkungan yang serba putih bersih membuatnya merasa amat nyaman. Ia bisa merasakan aroma obat pekat terbawa angin dari jendela klinik, dan Lave tidak suka. Semoga mimpi buruknya pun juga tidak. Napas berat ia buang sekali lagi, tepat sebelum kelopak matanya perlahan merapat. "—th..." Telinganya masih awas, tapi matanya sudah rapat. Dia benar-benar perlu tidur, bisa bahaya kalau wajah tampannya terlanjur ternodai kantung mata panda, aaa tidaaak! "Lavender Smith..." Tidak apalah. Orang setampan dirinya ini pasti banyak yang mengagumi. Lave sudah tahu kalau guru kesehatan di sekolahnya sering curi-curi pandang ke arahnya, sudah bisa maklum. Dia yang punya badan saja seringkali tidak kuasa menahan hasrat untuk tidak ngaca kok. Tapi... ...kok lehernya geli ya, seperti ada yang tajam-tajam menyentuh kulit mulusnya. PRANG!! Suara geraman kencang dari samping tempat tidurnya sontak membuat Lave membuka mata lalu memekik kencang. Bukan hanya dia, tapi juga si guru kesehatan yang... panjang kukunya menarik perhatian Lave. Untuk kedua kalinya Lave memekik, kali ini lebih kencang lagi. Sambil koseh-koseh kaki, panik membayangkan kuku panjang tajam tidak higienis itu kemungkinan besar habis menyentuh lehernya. Bagaimana dia tidak berpikir begitu, habis jaraknya dari leher Lave tadi hanya beberapa senti sebelum akhirnya Lave terlonjak mundur dan—, "KESINI, LAVE!" —seseorang muncul dari balik jendela, langsung meraih kasar lengannya dan menariknya keluar klinik. Baru beberapa detik setelah keluar dari klinik, ia sadar siapa yang sedang menariknya. Si beke Fernandes, pegawai peternakan sebelah rumah yang sering ia ledek karena bulu kakinya yang selebat kemoceng. Kakinya bergerak super cepat sampai beberapa kali Lave gagal protes karena napasnya mulai terengah-engah. "Aduduh—hosh hosh—jangan cepet-cepet dong, Fer, nanti aku keringetan gimana?! Kan jijik!" "Pssst! Jangan kencang-kencang bicaranya! Sebentar lagi kita sampai, aku janji." |
|
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 12:31 PM Post #43 |
|
Deleted User
|
[Diserang Makhluk (Tidak) Baik] “Nak.” Kedua mata yang memandang malas itu diarahkan kepada seorang anak lelaki pendek berambut pirang, yang bermata merah dengan ingus meleleh dari hidungnya. Si brunette bernama belakang Verdelet tersebut menghela napas lewat mulutnya, lalu menarik rambut si pirang dengan tangan kanannya. “Nak, jika kubilang tutup mulutmu, maka tutuplah. Jika kubilang pergi jauh-jauh, maka pergilah. Adakah perkataanku yang kurang jelas untukmu?” Bocah ingusan itu (dan ya, ingusan dalam artian sesungguhnya) hanya mengangguk-angguk lemah menatapnya. Tangan kecilnya menggapai-gapai pergelangan Judikael dengan susah payah, mencoba untuk melepaskan rambut kotornya dari genggaman sang Verdelet. Dia dapat mendengarkan bahwa taman bermain, khususnya di belakang pohon tempatnya berdiri saat ini, terselimuti oleh selubung sepi yang tak kelihatan. Mungkin mereka semua tak ingin bernasib sama seperti anak pirang ini, namun entahlah. Yang diinginkan Judikael tidaklah komplikatif, kau tahu? Dia bingung, tidak mengerti. Sudah cukup kebisingan menjadi konsumsinya sehari-hari di rumah, dan berani apa anak-anak kuntet ini untuk mengganggu ketenangannya? Di sini tak ada Daria yang dapat menghentikan kegiatan bersenang-senangnya seenak jidat, jadi untuk kali ini, nasib sang bocah pirang benar-benar ditentukan olehnya—atau, ya, ditentukan oleh keberuntungan juga. Sepanjang penglihatannya, Judikael tidak menemukan sosok anak-anak yang lebih dewasa darinya di taman bermain ini, jadi keberuntungan mungkin akan berpihak padanya. Like he would give a damn about it anyway. Tangan dan kakinya fleksibel, kau tahu? Tidak pernah pandang umur. “M-Maaf, Sir. Aku hanya—“ “Listen to me, buddy. Dengarkan perkataanku baik-baik atau kutarik lepas rambutmu dari akar-akarnya, oke?” Anak itu mengangguk cepat; Judikael mendekatkan wajahnya pada si anak lelaki, kedua mata masih berpandangan malas dan tanpa minat. “Pergi. Pulang. Lari ke bawah ketiak ibumu sekarang juga. Jangan tunjukkan wajahmu lagi.” Judikael melepaskan helai-helai rambut bocah itu dengan satu sentakan. Keras; cukup dapat membuat si bocah pirang mundur selangkah ke belakang, hingga akhirnya berlari pergi setelah menyeka ingus bodohnya yang menjijikkan—cukup untuk membuat Judikael Verdelet menjulurkan lidahnya dalam gestur kejijikkan, sebelum berbalik meninggalkan taman bermain dan pulang ke rumah. Ya, ke rumah; ke sarang membosankan itu; ke tempat berpenerangan minim dengan dekorasi-dekorasi absurd yang hanya membuatnya memutar mata. "Piece of sh-t." Bocah itu meludah ke sebelah sepatunya, berjalan menjauhi pohon besar tersebut. "Wasting time." "Ah, halo, Sayang." Irisnya menyipit, menengadah memandang seorang wanita macam guru taman kanak-kanak yang tersenyum padanya. "Kau siapa?" "Come, come." Wanita itu tersenyum, menarik tangannya dengan lembut dan menuntunnya lebih ke dalam barisan pepohonan yang memagari taman bermain—terusan hutan. "Lepaskan!" Dia memberontak, menarik-narik tangannya yang entah bagaimana seolah terperangkap di tangan kuat wanita itu. Matanya berkeliaran, mencari pertolongan, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Jemarinya merayap ke dalam saku celana, meraih belatinya, hingga ketika mereka sudah melewati batang pohon besar kesekian, anak lelaki itu menusukkan belatinya ke tangan sang wanita—dan percayalah, dia bisa jadi menyesali perbuatannya. Karena selanjutnya, jubah kelam wanita itu sobek dan sepasang sayap muncul di punggungnya. Darah mengucur di pergelangan tangannya, sementara wajahnya—well, Judikael tidak dapat menemukan deskripsi yang tepat untuknya. "Holy—" "AWAS!" Sang wanita menyerang bahu kanannya dan Judikael hampir jatuh terpelanting jika tidak ada orang yang menarik hoodie-nya, menggusurnya menjauh. Kepalanya menoleh sejenak, panik, menemukan Spencer Fancypants—ARGH, Spencer Fanziper dengan kakinya yang.... "WHAT THE F--K ARE THOSE?!" "Kaki, bego! Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera pergi dari sini ke Perkemahan!" "PERKEMAHAN APA?! KAU BICARA APA?!" Wanita yang menyerangnya tadi, tersinggung karena dilupakan, mengayunkan tangannya lagi, dan Judikael tidak punya pilihan lain selain ikut bersama Fanziper atau kehilangan nyawanya. |
|
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 12:31 PM Post #44 |
|
Deleted User
|
“Wah.” Karl cuma merespon dengan mulut yang terbuka lebar dan sepasang mata yang tak hentinya berkedip. “Wah, wah,” sekarang giliran kepalanya yang menggeleng ke kanan dan kiri, sementara tubuh yang seharusnya gemetar itu (mengertilah, yang ada di hadapannya saat ini merupakan seekor kepiting raksasa dengan capitnya yang begitu tajam) malah tetap diam di tempat, seakan ini adalah momen langka yang jarang dijumpainya. Jelas saja, ini pertama kali. Kok bodoh, sih. Mana ada kepiting raksasa yang meliriknya dengan mata menyipit dan terkesan seperti ingin memakannya? “Gila. Dibawa ke kebun binatang kayaknya bakalan dapat uang banyak, nih.” Pikirmu, Karl Cogsworth. Saat dia hampir mendekati kepiting itu, nyatanya makhluk raksasa berukuran tiga kali tinggi badannya tersebut mengayunkan capit ke arahnya—hampir mengenai (dan memotong!) salah satu tangan Karl. Beruntung ada seseorang yang datang dan mendorongnya dari samping, mengakibatkan sepasang capit milik sang kepiting mengenai tangan si penyelamat. Ada darah yang mengucur dari sana ketika Karl menoleh dan memperhatikan sosok berbadan setengah kambing itu. Percaya nggak percaya, dia mendengus kesal, dalam hati menyediakan kata-kata makian bagi si makhluk tak terdefinisi ini. “Goblok.” Makanya jangan berusaha menyelamatkannya. “Ngapain sih? Jadi luka, kan.” Keningnya berkerut, heran akan entitas asing yang mati-matian menolongnya hingga terluka ini. “Lagian kamu siapa? Sok-sokan.” Mau jadi pahlawan? Gila aja. Karl bukan siapa-siapa. Orang ini nggak bakal dapat pujian bila berhasil menyelamatkan Karl dari serangan makhluk raksasa berwujud kepiting ini, yang ada hanyalah penyesalan karena bocah bandel seperti Karl dibiarkan hidup lebih lama. Aneh banget. Perasaan orang-orang sekitarnya pada nggak nyadar ada makhluk sebesar ini di tengah kota. Kok bisa? “Enak aja dibilang sok-sokan. Yaudahlah, cepetan lari duluan. Kita pergi ke Perkemahan Blasteran biar kamu aman.” Yaelah. Ternyata bawel. “Perkemahan apa?” “Kecil-kecil udah tuli aja. Cepetan ayo lari.” “YA, GIMANA AKU BISA TAHU. BARU DENGAR SEKARANG.” Asem. Dibilang tuli. Karl masih memendam kata-kata makian, namun orang aneh itu buru-buru menggenggam tangannya dan mengajaknya kabur dari sana. Apaan, sih. Bangun aja, deh, kalau mimpinya bakalan seseram ini. |
|
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 02:17 PM Post #45 |
|
Deleted User
|
Kembang Tidur Kaki-kakinya serasa mau copot. Aubrey menghabiskan terlalu banyak tenaga ketika ditugaskan membantu orang tua dan menjual kue kering dari rumah ke rumah. Sekarang ia separuh menyeret tubuhnya menuju mobil yang dikendarai oleh Mom. Addison tidak bodoh untuk bertanya bagaimana kabar anaknya -- jelas kelelahan, tapi lumayan puas. Target selusin kue berhasil dicapai, tho. Kelopak mata kian berat setelah Mom menyetel radio yang membosankan. Hanya Aubrey cukup keras kepala untuk tidur setelah sampai di rumah, bukan di mobil. Kepala bersandar pada kaca mobil dan maniknya menerawang jauh ke depan. Ah, tidak seberapa macet, lima belas menit juga sampai, pikirnya. Tangannya iseng memainkan bungkus permen. Diremas, dilipat, sebelum masuk ke tong sampah kecil di dekat jok belakang. ... Addison berbaik hati membawakan tas anaknya. Sementara yang dimaksud justru langsung masuk ke kamar mandi. Hei, biar begini Aubrey juga perempuan. Dia tidak mau tidur dengan keringat yang menempel. Apa tuh, kata Mom -- banyak kuman dan bakteri, bikin sakit, hii! "Mom, habis mandi aku tidur dulu, ya. Nanti kalau sudah makan malam pasti bangun, kok." -- gara-gara wangi masakan atau makanan yang dihangatkan, apapun itu lah. Dia punya waktu sekitar dua jam sampai makan malam, lumayan. Lantas mendapat jawaban 'iya', gadis Jordan keluar dari kamar mandi menuju kamar tidurnya. Sekedar informasi, dia sudah tidak tidur dengan Mom. Tubuhnya ambruk di atas kasur empuk. Tidak makan waktu sampai sepuluh menit hingga Aubrey terlelap. Segala kegiatan pramuka benar-benar mengurasnya. Meski cocok untuk anak yang berlebih aktif, mereka bilang. ... "Aubrey Jordan?" "Ya, saya? Kenapa, ya?" Rasanya seperti mau dipanggil ke ruang guru karena tidak konsentrasi di kelas. "Pergi ke perkemahan blasteran. Sekarang." "W-wha?" Tapi -- tapi dia akan ke panti jompo lusa besok! Pengabdian kepada orang tua, kau tau? Ini penting sekali karena Aubrey yang jadi ketuanya! "Aku tidak bisa." Jawabnya sembari mengerutkan kening. "Minggu depan memang tidak bi --" "Sekarang." Nada suara itu lebih tegas. Lebih otoriter. Dan lebih menakutkan dari suara Mr. Clarkson, guru matematikanya. Dengan yang barusan, Jordan muda hampir tak bisa membalas lagi. Hanya kebingungan di tempatnya berdiri, entah apa yang harus dilakukan. Tidak ada tanda kalau suara itu mau menjawab pertanyaannya yang lebih dari dua. ... "Aubrey Fressia Jordan!" "Y-ya??" Apa lagi sekarang? Suaranya seperti Mom yang memaksa Aubrey membuka mata. Erangan protes dia luncurkan tanpa tanggapan berarti. Terpaksa akhirnya dia yang mengalah, membuka mata. Masih di kamar, oke. Masih di ranjang juga. "...Perkemahannya?" Ngimpi apa. |
|
|
| Johann Riesling | Oct 4 2015, 02:39 PM Post #46 |
![]()
|
((Mimpi)) "Nggak usah nangis." Johann berkata sambil menelungkupkan wajahnya di atas lutut. Suaranya serak hasil masih mengantuk. Walaupun ia berujar datar begitu kepada Margo, Johann menggenggam tangan saudara kembarnya yang terisak. Terlalu malas mengangkat wajah karena buat apa sih tengah malam begini dia harus berhadapan dengan adik perempuannya yang menangis? Iya tahu, pasti karena mimpi yang tadi mereka dapat. Mimpi yang aneh-tak-aneh sama dengan yang mampir dalam bunga tidur Margo. Suara dalam mimpi mereka berkata bahwa mereka harus pergi. Sudah saatnya mereka pergi dari rumah Renaldi yang bau. Meninggalkan Pamannya yang bodoh dan tak berguna. Mendatangi sebuah tempat seolah-olah tempat itu menjanjikan sesuatu yang tidak akan Johann dan Margo dapatkan di tempat ini, atau dari Renaldi, atau bahkan ibu mereka sendiri. Johann menghela napas. Tangannya yang bebas bergerak menggaruk belakang rambutnya yang belum keramas. Pemuda 11 tahun itu melempar pandang `Sudah. Kubilang nggak usah nangis.` pada Margo lalu beranjak dari tempat tidur. "Masih 6 dini hari." Johann berkata, lebih terdengar seperti separuh mengutuk. "Kita packing. Margo, kamu siap-siap sana." "Moron di sofa tengah itu tidur ngebiarin TV nyala." Pelan-pelan Johann membuka pintu lebih lebar. Johann Gregory Riesling bukan pencuri handal, tapi Renaldi yang sedang dia yakin sedang mabuk dan tertidur sebelas-dua belas dengan moron gila yang sedang koma. Untuk pergi ke tempat tujuan dalam mimpi mereka, bocah-bocah Riesling ini butuh uang dan ia butuh dompet pamannya. Johann cuma berharap suara saluran TV yang menyala bisa menyembunyikan langkah kakinya yang mengendap-endap—kalau dia tidak mau kena hajar Renaldi yang murka. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 03:59 PM Post #47 |
|
Deleted User
|
Bertemu dengan si mata satu yang menggemaskan Ada kalanya kehidupan Portland yang sepi bisa terusik oleh satu dua kendaraan yang melaju. Ya, hanya melaju tanpa sekalipun melemparkan tatapan kepada sebuah rumah butut di jalanan sepi itu. Pun para pengendara dan penumpang-penumpangnya tidak ambil pusing saat melihat seorang anak kecil menatap bongkahan besi bernama mobil itu dengan raut wajah penasaran. Terkadang, seorang anak akan memberi tatapan iba kepada Hotman dari balik kaca mobilnya, kemudian ibu mereka--dengan pandangan setengah jijik--akan mengalihkan pandangan bocah-bocah lugu itu dari Hotman. Setelah mobil melintas, keadaan kembali sunyi. Lalu mobil lain akan datang beberapa menit, bahkan jam, kemudian. Mereka semua memberikan reaksi yang sama ketika melihat seorang anak lelaki yang bertelanjang dada sedang menggenggam sebotol penuh pupuk cair. Mata yang iba, sekaligus... jijik? Hotman kembali pada rutinitasnya. Menyiram pupuk cair kepada tanaman-tanaman yang sedang dikembangkan oleh ayahnya. Ia penasaran kapankah ayahnya akan kembali dari memancing. Ketika sedang termenung memandang helai-helai dedaunan sawi, sebuah suara mengagetkannya. Itu ayahnya! "Hotman, kemari! Kita akan pesta daging malam ini!" Dari kejauhan, suara ayahnya mengundang Hotman untuk membantu membawakan ikan-ikan lezat yang dipancing dari sungai dekat rumah. "Yes, sir!" Hotman melempar botol pupuk cair tersebut, dan bergegas berlari sebelum sesuatu yang mengembik menubruknya dari kanan. Akibat tabrakan tersebut, Hotman terlontar ke tepi jalan beraspal. Sosok itu mengembik pelan di dekat telinganya seraya berbisik, "Jangan berisik! Dia bukan ayahmu!" Apakah orang tersebut gila? Hotman belum pernah melihat orang gila secara langsung, tidak ada orang gila yang cukup gila, well terdengar aneh, yang ingin berjalan beberapa kilometer di jalanan Portland yang bahkan tidak tercantum dalam peta. "Apa kau gila?!" Hotman ingin berteriak memaki orang tersebut, namun yang keluar dari mulutnya adalah bisikan tertahan. Mengapa Hotman bisa ikut-ikutan berbisik, ia tidak tahu. Mungkin itulah yang dinamakan insting alam liar. Dan Hotman sudah terbiasa dengannya. "Namaku Proust, datang ke tempat antah berantah ini hanya untuk menjemputmu. Dan kita harus cepat!" Terdengar nada takut dan terburu-buru dari orang berjenggot lebat bernama Proust itu. Tangan Proust menggenggam tangan Hotman dan setengah menariknya. Sesuatu dalam diri Hotman ingin menolaknya, namun hati kecilnya berteriak lain. Ketika ia bimbang sesaat, sesosok makhluk berukuran dua setengah meter muncul dari arah yang sama dengan arah suara Karrol berasal. Hotman tidak dapat menangkap detail sosok itu, ia hanya terfokus pada satu bola mata sang sosok yang memindai pemandangan di sekitarnya. "Hotman, di mana kau?" Sosok besar itu berseru, dengan suara yang sama persis seperti Karrol McCabe. Proust mencengkeram tangan Hotman dengan kuat. Tanpa sempat menunggu jawaban Hotman, Proust menarik lengan Hotman menjauhi sosok-apa-itu. Kali ini, Hotman tidak ingin berdebat dengan Proust. Kemanapun Proust membawanya, ia yakin akan lebih baik daripada bertemu dengan sosok bermata satu itu. |
|
|
| Aidan Hyde | Oct 4 2015, 04:11 PM Post #48 |
![]()
|
[MIMPI] Ada satu penjelasan yang bisa ditarik dari kondisi bocah Hyde itu. KECAPEKAN. Sedari pagi ia sudah dibawa neneknya ke lokasi syuting sebuah iklan vitamin untuk anak-anak. Kemudian setelah syuting iklan itu selesai, neneknya langsung membawanya ke lokasi pemotretan untuk sampul majalah anak-anak. Neneknya itu berlaku sebagai manajernya, mengurus semua jadwal Aidan dari A sampai Z. Kadang-kadang nenek gaulnya itu lupa kalau Aidan masih kecil, dan butuh liburan dan bergaul dengan anak-anak seumurannya. Bukan diseret ke sana sini. Tahu jika neneknya tidak punya maksud buruk, Aidan jadi tidak pernah bisa mengeluh. Lagipula, ia sedikit menikmati pekerjaannya. Terutama saat ia harus berurusan dengan musik, dan bernyanyi. Masalahnya sekarang, Aidan sangat mengantuk. Ia duduk di depan kamera dengan pakaian yang sudah dipilihkan oleh penata busana, rambut ditata sedemikian rupa, dan penata gaya sedang memberikan aba-aba padanya. Tapi Aidan sedang bengong, kelopak matanya lama-lama semakin berat. Turun. Turun. Akhirnya tertutup sempurna. AIDAN! CEPAT PERGI KE PERKEMAHAN BLASTERAN! CEPAT! Teriakan aneh itu membuatnya tersentak bangun dan menyadari kembali di mana dirinya berada. "Perkemahan blasteran?" gumamnya bingung. Siapa yang berteriak tadi? Kenapa ia merasa perintah itu benar-benar penting? Tapi apa itu perkemahan blasteran? Di mana letaknya? |
![]() |
|
| Matthew Hall | Oct 4 2015, 04:52 PM Post #49 |
![]()
|
“Aku akan meninggalkanmu kalau tidak cepat, Al.” Alice White, nama gadis itu. Namun Matthew lebih senang memanggilnya dengan Al. Ranselnya disandangkan pada salah satu bahunya, berjalan cepat menerobos kerumunan orang-orang di jalanan raya kota New York yang sibuk. Matt harus kembali ke rumah sekarang setelah mendapati kabar bahwa ibunya jatuh sakit. Ada yang mengobrak-abrik rumah, katanya. Entah kabar yang diterimanya dari salah seorang tetangga itu benar atau tidak. Yang Matthew tahu, dia hanya harus kembali ke rumah secepatnya. Sedetik dia menoleh ke belakang, di mana gadis White berlari-lari kecil mengejarnya. Namun tak sedikit pun Matthew melambatkan langkah hingga sesuatu yang besar menghalangi jalannya. Apa ini? Kepiting raksasa? “Whooow!” Dia melompat kecil saat si monster kepiting menyerang kakinya. Belum habis kebingungannya, dia kembali diserang dan membuat Matthew harus mundur beberapa langkah. Apa maksudnya ini? “Easy, boy! Easy!” Namun jelas si kepiting tidak ingin tenang sama sekali. Berulang kali Matthew harus menghindar, berteriak pada Alice, “Menjauh, Al!” lantas kembali fokus pada gerakan si kepiting. Hingga seseorang (atau seekor?) tiba-tiba menjadi penengah antara dirinya dan si kepiting. Aneh sekali. Matthew belum pernah melihat orang berkaki kambing seperti itu. Dan bagaimana ceritanya, monsternya pergi (kabur, lebih tepatnya), dan si laki-laki berkaki kambing mengatakan bahwa mereka–Matthew dan Alice–harus mengikutinya. “Kemana?” Namun si kambing manusia (apapunlah namanya) tidak memberikan jawaban memuaskan sama sekali. Matthew melirik Alice, memperhatikan gadis itu dari bawah ke atas, sebelum bergumam, “Kau tidak apa-apa.” Pernyataan. |
![]() |
|
| Andy Rhodes | Oct 4 2015, 05:34 PM Post #50 |
![]()
|
Dikejar Monster Video di iPod warna biru neon itu rancu dan tidak masuk akal. Tapi, yang bisa ditangkap oleh pasangan Romulus dan Katarina adalah: “Fck off, you freak! Leave me alone!” ”Andy, please. Ini aku, Jim, tetanggamu. Ayolah.” “Jim nggak punya kaki kambing!” GRAAAOOO! “Bangs—Teddy!” Anak perempuan itu berlari menyongsong bocah berusia lima. “Teddy, jangan ke sana! Ted—“ BLAR! “Dammit. Little man, you okay?” Bocah dalam pelukannya yang hampir menangis itu mengangguk. Seekor entah-apa berlari menyasar-nyasarnya seperti kesetanan di belakang Andy yang tersungkur di tanah setelah menyambar sepupu kecilnya. “Good. Ayo, pegang tanganku. Kita lari.” ”Sebelah sini!” “… ergh! Fine!” Lalu rekaman itu mati. ”Teddy, apa ini?” Katarina mendekati anaknya yang menangis sesenggukan. ”Andy ada di mana, Sayang?” ”Is this some kind of movie project she’s been telling us, Kat?” Romulus menekan tombol reply. Dalam sekejap gambar rancu, goyang, tidak masuk akal menjurus sinting dengan suara gaduh mengisi dapur mereka. “Animasinya cukup meyakinkan.” Dahinya berkerut. ”Terlalu meyakinkan malah.” Jari bankir itu bermain-main di layar sentuh iPod milik keponakannya. Tiba-tiba, air muka Romulus berubah. ”Tunggu. Masih ada lagi.” Suaranya mengawang, tertelan suara berisik video lain. ”Kat, coba kesini. Kat!” Istrinya mendekat panik. Teddy kecil sudah dalam gendongan mengisap ibu jari dengan bahu yang masih naik-turun pasca menangis. Andy-ku hilang ditarik monster kambing—hanya itu yang dari tadi dia ucapkan setiap ibunya bertanya mengapa Andrea tak kunjung pulang setelah acara jalan-jalan mereka ke taman. Sebuah video diputar. Isinya tentang Teddy yang berhasil meniup gelembung sabun, menjilat es krim, cengiran Andy ketika skateboard-nya berhasil menyusuri pinggir bangku taman, serta obrolan-obrolan keduanya yang diselingi gelak tawa. Semuanya normal, sampai seorang wanita paruh baya menghampiri keduanya dan lalu berubah menjadi sosok gigantik mengerikan. Jeritan Teddy, bercampur pekik panik Andy yang lari menyeberangi jalan, tak sadar iPod-nya masih merekam. Gambarnya buram, bergoyang tak karuan sampai ketika Jim, tetangga mereka yang biasanya tampak gemuk dan gemar mengisap cerutu, memakai kostum. ”Monster kambing!” celetuk Teddy di tengah video. Telunjuknya teracung ke layar. Pasangan suami istri itu saling bertatapan. Video menunjukkan bagaimana Andy dan Jim, juga si kecil Teddy yang tak sengaja ikut terseret, dikejar perempuan monster, berlari melewati gang sempit hingga berakhir di area belakang perumahan mereka. Suara serak dan letih keponakan mereka terdengar setelah bermenit-menit teriakan serta suara derap sepatu. “Teddy hafal jalan pulang, kan?” Bocah itu mengangguk. Andy mengecup dahinya, memeluknya erat-erat sampai iPod bergesekan dengan punggung si kecil. “Maaf aku tak bisa pulang dulu sementara waktu. Bilang sama Mom dan Dad, oke? Bilang aku sayang mereka,” gadis kecil itu tercekat. “Jangan nangis. Please jangan nangis.” Sekali lagi Andy memeluk sepupunya. “Ini. Kasih ini sama Mom. Jangan ke siapapun selain dia. Ngerti?” Teddy mengangguk, nyaris menangis. “Jangan jatuh. Simpan baik-baik. Pokoknya harus ke Mom.” Kini, layar berganti mengarah ke wajah Andrea yang pasi. Peluh bercucuran dari dahinya. “Mom, Dad, I love you. I don’t have much time. I’m sorry. I gotta go. Something’s going on. I’ll be back. I will. I’m sorry. I hope this is not a goodbye.” Dan mati. Meninggalkan keduanya terperangkap keheningan. “This is definitely a movie project. Paling dia mau pamer lagi.” ”Yeah. Tunggu saja sampai makan malam. Nanti juga pulang sendiri.” |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|









1:59 AM Jul 12