CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 1 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sep 19 2015, 05:00 PM (1,122 Views) | |
| Milo Jones | Oct 4 2015, 05:52 PM Post #51 |
![]()
|
Versus Monster "DUDE! WHAT THE HELL IS THAT THING?!" "IT'S REALLY HARD TO EXPLAIN AT TIMES LIKE THIS!" "Hah, yeah! Bet it's even harder than explaining your freakishly-goaty-weird legs, isn't it?" "LOOK OUT!" Milo Athanasius Jones merunduk tepat waktu ketika makhluk bermata satu itu melemparkan bak sampah yang terbuat dari logam ke arahnya. Makhluk bermata satu, kemudian temannya, Ed, yang ternyata memiliki sepasang kaki kambing. Luar biasa. Tujuan awal mereka hanyalah bermain cruise sembari menunggu Ryan Jones pulang dari kantor. Waktu itu hari Jumat, dan Ryan sudah berjanji akan mentraktir Milo pizza di sebuah kedai bertajuk 'Pizza Express' di seberang apartemen mereka. Bahkan Ed diundang untuk ikut. Kemudian mereka berbelok ke sebuah gang dan berakhir di jalan buntu. Berakhir dengan bertemu makhluk yang bermata satu dan tampak begitu besar. Berujung dengan niatan makhluk itu, alien mungkin atau ia terlahir cacat, pokoknya makhluk itu berusaha membunuh Milo dan hal itu saja sudah cukup mengerikan. Tiba-tiba Ed melompat dengan sepasang kaki kambing. "Jadi, itu alasan kau tidak suka minum susu kambing?" "WE REALLY HAVE TO GO NOW! LIKE RIGHT NOW!" Ed tentu saja sama sekali tidak menggubris Milo. Keduanya berlari pergi, setelah Ed menancapkan entah senjata macam apa kepada si Mata Satu sehingga makhluk itu tampak kesakitan dan tidak mengejar keduanya lagi. "Telpon ayahmu!" "Lalu bilang apa? Bahwa kita baru saja diserang seorang tunawisma bermata satu?" "Telpon! Katakan, Long Island. Demigod. Camp Half Blood!" Mereka masih berlari menjauhi gang dan menuju jalanan besar, menuju kantor Ryan Jones. "You do not make any sense at all." "Dial his number or I swear to Gods I could turn your legs into one of mine!" "GEEZ!" |
![]() |
|
| Harleth Arrington | Oct 4 2015, 06:18 PM Post #52 |
![]()
|
[Diserang Monster] Ketawa aja sih, nggak usah ditahan-tahan gitu." Harleth menggeleng-gelengkan kepala, tangannya bergerak melakukan isyarat seperti menutup ritsleting, tapi sebetulnya bibirnya tidak berubah masih melengkung menahan tawa. Melihat sepupunya risih dengan riasan yang dipakainya membuat Harleth terhibur. Padahal biasa saja sih, tapi ya, maklumlah betapa membosankannya tempat ini sampai membuat standar pengkategorian-hiburan-layak-nya terjun bebas. Dia sedang di rumah kakek, omong-omong, ceritanya sedang menghadiri perayaan ulang tahun ke 75 pria tua itu. Tentu dia sudah mengira kalau pesta ulang tahun kakek-kakek akan se-seru apa. Seru banget kan. Segera setelah sampai tadi dia langsung mencari keberadaan Lacey dan buru-buru memisahkan diri dari ayahnya dan tunangannya. Pasalnya, semakin lama Harleth semakin risih, kapan pun mereka bertiga berkumpul rasanya seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorakan Harleth. Kepengin muntah. Tidak, Harleth tidak membenci kekasih ayahnya yang sekarang. Aline lumayan baiklah. Hanya saja, tidak benci bukan berarti Harleth suka-suka saja. Sejak hubungan ayahnya dan si Aline semakin serius, Harleth merasa seperti orang ketiga. Nyamuk di antara mereka. Yang paling buruk adalah ketiga mereka bertiga berada di dalam mobil. Harleth sebal jika harus duduk di kursi belakang, memberikan kursinya yang biasa untuk Aline dan kadang-kadang dikacangi mereka berdua. "Bosen, cabut yuk." “Oh, aku menunggu-nunggu kapan kau akan berkata begitu. Aku kira kau penggila semua pesta, termasuk pesta penuh gembira bersama kawan-kawan tua bangka.” Harleth mengikuti Lacey masuk ke dalam rumah. Baru saja dia akan menjawab pertanyaan Lacey soal rencana apa yang dia miliki, seseorang memotongnya dan membuat mereka berhenti di tempat. Tak lain seorang wanita muda. Wanita itu bertanya, yang sebenarnya lebih terkesan menuduh mereka kalau mereka mau kabur. “Kau kenal dia?” “Tidak. Eh, dia bukan maling, kan?” Harleth balas berbisik pada Lacey. “Tidak perlu berbisik seperti itu, kalian sungguh menggiurkan.” Harleth mengerutkan hidung melihat wanita itu menjilat bibir. Sorot mata bengis di mata wanita aneh itu membuat Harleth bergidik, instingnya mengatakan ada sesuatu yang janggal. Otaknya belum berputar terlalu jauh untuk membuat spekulasi saat dua hal terjadi di saat yang bersamaan. “LACEY HARLETH CEPAT LARI KESINI!” ”Ohh, demigod lezaaaaat! Tahu-tahu, Ottis sudah muncul entah darimana. Kaki Harleth dan Lacey sudah bergerak tanpa diperintah lagi saat mereka menyaksikan si wanita aneh malah berubah bentuk, jadi memiliki sayap dan cakar-cakar panjang serta taring kuning. Dua kata untuk mendeskripsikannya: sungguh buruk |
![]() |
|
| Leah Knox | Oct 4 2015, 06:41 PM Post #53 |
|
[ MONSTER ] “Leah, hey,” “Busy. Sedang membaca.” “Pf, aku tahu kau tidak bisa membaca. Berhenti berpura-pura.” “Baiklah,” bukunya masih ditelusuri, “aku tidak suka denganmu. Sana pergi.” “Aku tahu kau tidak tidak menyukaiku. Berhenti berpura-pura.” Kali ini Leah mengangkat wajahnya, menatap teman sekelasnya itu lekat-lekat tanpa ragu. “Premis pertama, aku serius.” Terangnya. “Kedua, aku tidak menyukaimu.” “Kalau kamu belajar silogisme, kamu akan paham konklusinya.” Sudah tidak bisa dihitung lagi berapa kali Laurentius mengganggunya sepekan ini. Di mana pun. Leah sempat curiga kalau laki-laki itu menguntitnya karena dia selalu ada di mana pun ia berada secara misterius. Seminggu lalu di supermarket bagian perlengkapan perempuan (demi Tuhan, untuk apa dia jalan-jalan sampai bagian itu). Empat hari lalu di kafe langganan Leah. Dua hari lalu di toko bunga saat ia mau membeli setangkai untuk dijadikan pelengkap vas barunya. Dan bahkan sekarang, hari ini. Ini perpustakaan paling lengkap di New York. Dan akhir pekan. Ignatius sedang ada tugas jaga di rumah sakit sehingga Leah mencari kesibukannya sendiri. Yang mengejutkannya, seolah muncul dari ketiadaan—dari ruang hampa—Laurentius muncul di hadapannya saat ia tengah mencoba membaca buku dengan normal. (Pikirnya disleksia akan bisa disembuhkan kalau ia mulai membiasakan matanya melihat alfabet). Lagi. “Kubilang padamu untuk di rumah saja. Jangan kemana-mana. Tapi kenapa kau bandel sekali dan tidak mau menurut. Itu kan bahaya.” “Menuruti saran orang asing terdengar lebih ‘berbahaya’ di telingaku.” Buku yang tadi dibaca ia tutup, lalu bangkit dari kursi dan berjalan dengan santai menuju wanita yang menjaga perpustakaan tersebut. “Lagipula bagaimana kamu bisa tahu kalau aku tidak pernah ada di rumah?” Ia mengeluarkan kartu anggota perpustakaan dan menyodorkan buku yang mau ia pinjam ke penjaga. “Leah.....” Yang dipanggil menghela napas pendek melihat ekspresi Laurentius yang mendadak pucat. “Oh, please. Jangan di sini. Tidak lagi.” Biasanya, laki-laki itu akan menampilkan raut muka sok pesakitan untuk mendapatkan perhatian Leah (ayahnya adalah seorang dokter dan sedikit banyak Leah tahu aturan-aturan atau prosedurial dasar untuk orang yang sakit ringan—dan Laurentius selalu memanfaatkan hal ini untuk membuatnya repot). “ITU ERINYES! AYO CEPAT KITA LARI KE PERKEMAHAN! SEKARANG!” Leah Knox tidak akan mengerti apa yang dikatakan Laurentius semisal tangan penjaga perpustakaan yang mengambil kartu anggotanya tidak berkuku hitam panjang dan mendadak memandang ia seperti mangsa-siap-makan…. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 07:04 PM Post #54 |
|
Deleted User
|
[ MIMPI ] Saat-saat seperti ini jarang sekali terjadi. Dad ada di depannya, sedang vakum dari kegiatan travelling yang sedang ditekuni. Ayahnya duduk tepat di kursi seberang, dan sedang mengobrolkan pertandingan football beberapa hari lalu—tim kesayangan Dad kalah, dan sampai sekarang Kat harus terima telinganya dijejali oleh rutukan yang sama setiap kali Dad mulai berkomentar. Grandma duduk di sebelahnya, baru saja menuangkan sirup maple ke atas panekuknya yang tebal dan kecokelatan. Grandma juga pasti sudah terbiasa mendengarkan Dad bicara buruk seperti itu, dan Kat tidak ingin pura-pura terlihat simpati lalu ikut menjelekkan. Kat tidak mengerti apa-apa, dia hanya bisa mendengar saja. Kemudian Grandpa datang dari dalam kamar, terlihat mengantuk tapi jelas sekali bugar. Kakeknya terlalu sehat di usia setua ini, Kat terkadang iri. Panekuknya mulai dipotong kecil-kecil, dan dimakan dalam diam sembari tetap mendengarkan sang ayah berbicara. Sekarang mulai memaki, duh. Katanya tim lawan curang. Mungkin saja benar, tapi bisa jadi salah. Kat tidak mau ambil pusing mengomentari apapun, yang Kat tahu saat ini adalah panekuknya terasa agak pahit sebab gosong di bawah. Ah, Grandma. Baru saja potongan ketiga masuk ke dalam mulut, tiba-tiba seorang tetangga mereka datang tergopoh-gopoh. Robin—tumben sekali sudah bangun sepagi ini? Kat tidak sempat mengucapkan salam, terlebih dahulu Robin berbicara tentang hal-hal yang tidak bisa dipahaminya dengan baik. Kat mendengar potongan-potongan kata yang kemudian secara magis terngiang di dalam kepala. Kat, perkemahan blasteran, saat ini juga, tidak ada waktu lagi. “Tapi aku sedang makan...?” Sarapan itu penting. Kat tidak pernah lupa melewatkan makan pagi, Grandma bilang tidak baik. Maka itu Kat selalu menurut, dan memang benar, jika satu hari saja Kat tidak menyantap sarapan, selama satu minggu dia akan terkena sial. Serius. Tapi Robin terus-menerus memaksanya untuk berdiri dan pergi, ke tempat yang bahkan visualisasinya tak terbayang oleh Kat—kali ini Robin bahkan menarik lengannya dan Kat mengerutkan dahi, tidak suka. “Robin, aku sedang—“ “Kat?” Uh-oh. Katherine Evans mengerjapkan matanya, beberapa kali, dan ia tersadar dalam keadaan terbaring di atas sofa ruang tengah. Uhm. Mana Dad? Robin? Kat hanya melihat Grandpa yang terlihat kebingungan di depan matanya, dan tampak khawatir. “Kau masih pusing? Ayo cepat, dokternya hanya praktek sampai jam empat,” Ah, ya. Benar. Kat harus ke dokter. Dia demam sejak dua hari yang lalu dan tidak sembuh meski sudah minum obat. Ya, benar, baiklah—jadi, tidak ada Dad, dan Robin yang tiba-tiba muncul, apalagi perkemahan blasteran yang disebut-sebut di dalam mimpi. Kat mengangguk dan cepat berdiri lalu merapikan ujung pakaiannya yang kusut mengerut karena tertimpa saat ia tidur. “Grandpa, pernah dengar tentang ‘perkemahan blasteran’?” |
|
|
| Karlebacher Duveen | Oct 4 2015, 08:40 PM Post #55 |
![]()
|
[MONSTER] Tidak, tidak, tidak—ini sama sekali tidak benar. Apapun itu yang terjadi hari ini, mulai dari ternyata Leonard Watson berkaki kambing sampai seekor minotaur sempoyongan mengejar si bocah Duveen sehabis menabrak sebuah bus yang supirnya agaknya kaget entah kenapa, semuanya hanya bagian dari imajinasi terliar Karl. Illogical! Tapi kalau dipikir-pikir kembali, agaknya logis tak pernah jadi bagian dari hidup Karl. Karl dan Leonard Watson ngos-ngosan sehabis berlari… entah berapa ratus meter… yang jelas, berlari sejauh-jauhnya dari halte terakhir yang serasa seperti berabad-abad lalu habis Karl lihat. Karl mulai kangen ibunya, padahal dia bertemu dengan ibunya pagi ini. Karl juga mulai kangen Captain Elias, kakeknya, yang entah mengapa mulai membuat Karl mulai kangen juga kepada paman-pamannya. Hari menjelang petang dan Karl dapat membayangkan makan malam di rumah. Neneknya selalu mengomel gara-gara ibu Karl tak pernah hati-hati kalau membopong mangkuk besar kentang tumbuk, neneknya selalu mengomel gara-gara paman-paman Karl kadang punya lelucon-lelucon jorok padahal ada anak-anak di rumah, neneknya selalu mengomel kalau ada yang ketahuan belum cuci tangan… well… Nana memang selalu mengomel, dan lagi-lagi Karl mulai kangen. “Okay,” ujar Karl sehabis ia berhasil mengatur nafasnya. “Sekarang jelaskan padaku apa yang terjadi!” “Kupikir sudah kujelaskan tadi,” ujar Leonard Watson dengan tarik-ulur nafas yang masih agak ngos-ngosan. Karl menatap Leonard Watson lurus, bertanya-tanya siapa yang sinting di sini. Entah dirinya memang yang kurang beres di kepala, atau Leonard Watson yang kurang beres di kepala, atau jangan-jangan dia dan si Leonard Watson memang agak sinting! “Oh, I know that look,” ujar Leonard Watson meletakkan telapak tangannya di pundak Karl. “Sebagai satyrmu, kusarankan kita lari lagi.” “Err… kenapa?” Leonard Watson menolehkan kepala Karl ke ujung jalan. Mulanya Karl tak melihat apapun, jalan tersebut cukup gelap dan hanya ada peternakan luas di kanan-kiri. Namun sayup-sayup Karl dapat mendengar suara raungan. Hanya butuh sepersekian detik sebelum akhirnya Karl menyadari makhluk apa yang berada jauh di ujung jalan. “Run, Watson. Run!” I know that look : Aku kenal tatapan itu. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 09:17 PM Post #56 |
|
Deleted User
|
mimpi Gadis ini terbangun dengan teriakan yang tercekat di tenggorokan dan rasa pening yang semakin menjadi-jadi. Selama ini, beristirahat seharusnya membuat jetlag-nya lebih baik, bukan sebaliknya. Ini adalah kali pertama dimana gadis ini terbangun dengan keadaan yang lebih buruk, dengan rasa pusing yang menjalar semakin parah. Sekujur tubuhnya terasa pegal, seakan-akan ada sebuah beban berat yang menindih tubuhnya. Dan mungkin, sungguhan ada. Bukanlah sesuatu yang wujudnya konkret, tetapi hal yang sifatnya abstrak. It was the nightmare. (Oh, Dearest, sweet child of summer, one day, you'll have your own personal symphony, and it'd be the greatest the world would ever witness but sweet, sacrifice must be made, and you, yourself, would have to make this I will accept no cheats, sweet, so be prepared and be ready) Dirinya bukan sosok yang asing dengan mimpi buruk, namun mimpinya pada siang ini jelas tidak bisa dikatagorikan hanya sekadar mimpi buruk. Bulu kuduknya masih berdiri tegak; mimpi buruk tersebut masih bisa terekam jelas dalam kepalanya. Vivid. Ada kualitas mengancam di sana; ini lebih dibandingkan sekadar bunga tidur yang akan perlahan layu tatkala dirimu terbangun. It was more like a bad omen, of sort—si gadis kerap kali mengecek halaman horoskop di majalah, namun dirinya belum pernah mendengarkan ramalan yang terdengar begitu sinister. Untuk beberapa saat setelah ia terbangun, dirinya berusaha mengumpulkan kesadaran—juga composure—yang berserakan. Setelah dirasa dirinya cukup sadar dan cukup mampu berpikir dengan lebih jernih, barulah gadis ini bangkit dari kasurnya. She really could use some aspirin. Setengah berjinjit, putri tunggal Sandra March menggapai isi kotak P3K di dapur apartemennya, mengambil satu strip aspirin. Sebuah air putih ia tenggak bersamaan dengan aspirin, tetapi itu tidak membuat pusingnya sirna begitu saja. Dan mimpi buruknya tadi, masih terekam jelas di sudut benaknya. (Go to the Camp, Daughter of God, and learn your greatest achievement and sorrow) Mimpi itu adalah sebuah peringatan yang harus diingat, biarpun masih terlalu dini bagi Deborah Grace March untuk menyadarinya. |
|
|
| Petra Lyon | Oct 4 2015, 09:51 PM Post #57 |
![]()
|
[ MONSTER ] Beberapa hari lalu ia diserang oleh ibu kantin yang ternyata monster. Petra sedang asik menunggu makan siangnya malah terkagum-kagum melihat sosok wanita tua itu berubah menjadi wanita bersayap dengan wajah mengerikan. Dia pikir ibu kantin sedang melakukan atraksi sihir. Lyon cilik itu bertepuk tangan dengan senyum sumringah tepeta di wajahnya. Sempat ia mengulurkan tangan, setuju bila diajak pergi dengan ibu kantin. Hei siapa yang tidak ingin bisa terbang dengan sayap? Tetapi ia langsung ditarik oleh Tuan Felix, seorang janitor di sekolahnya, yang sering menemaninya menunggu jemputan sekolah. Petra langsung dibopong seperti karung gandum. "Dadah nyonya kantin.." ucapnya waktu itu sembari melambaikan tangan di udara. *** "Masukan kepala mu." Tuan Felix mengingatkan sambil menarik Petra jauh-jauh dari jendela. Barusan kepalanya ia keluarkan seperti anjing yang keasikan diajak jalan-jalan dengan mobil. Tawa kecilnya menderu. Dalam hati ia bersenandung untuk membunuh waktu. "Masih jauh ya?" "Masih. Sabar ya." Satyrnya mengangguk. Lucu mengetahui ternyata Tuan Felix itu setengah kambing. Katanya sekarang ia sedang menuju Perkemahan Blasteran. Katanya ibunya itu Dewi Olympia. Katanya, katanya, katanya. Yang jelas ini semua membuat Petra kecil sangat bersemangat. "Masih jauh ya?" "Uh hum." Hening. Mungkin sekitar lima menit. "Masih jauh ya?" "Masih.." Satyrnya gemas sendiri. Petra lagi-lagi hanya tertawa. Namun tepat ketika ia tertawa, ada sesuatu yang sedang terbang mendekati mobil sewaan mereka. "Tuan Felix lihat itu lihat." ucapnya sambil menunjuk-nunjuk angkasa. "Apa itu? Besar sekali. Apakah itu burung?" Bukan jawaban yang ia terima. Sumpah serapah meluncur begitu saja dari bibir Tuan Felix dalam bahasa yang tidak Petra mengerti. "Itu bukan burung! Itu Enrinyes. Sama seperti yang di sekolah waktu itu! Pasang sabuk pengaman mu. Aku harus injak gas dalam-dalam." Petra mengangguk. Tetapi sebelum ia memasang sabung pengamannya, ia sekali lagi mengeluarkan kepala di jendela sambil berteriak "Sampai jumpa lagi ibu kantin. Semoga kita bertemu lagi.." "HEH KAU BILANG APA BARUSAN?!" |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 4 2015, 10:12 PM Post #58 |
|
Deleted User
|
Serangan Monster Hari Selasa, dalam jadwalnya, adalah hari berbelanja. Dawn menurunkan catatan belanjanya dari garis pandang, berganti fokus pada tumpukan lobak di hadapan. Harganya murah, ada potongan lima sen dari harga biasanya, sayang sekali, minggu lalu semua hidangan di meja makan mereka berisi lobak; kalau diamati lebih teliti, kau akan menemukan noda-noda kecokelatan pada tubuh putih si lobak. Puh, sisa musim semi? Kepalanya digelengkan, lobak dicoret dari dalam daftar. Beralih pada bagian lain—terong, tomat, labu. Kira-kira setengah jam kemudian, ia selesai membeli semua keperluan (termasuk tisu gulung dan sebungkus deterjen) dan sedang menjinjing belanjaannya ketika seseorang menangkap bahunya. Dan seseorang itu, yeah, seseorang. "Bisa lari?" Pertanyaan itu membingungkan, Dawn menyipitkan matanya untuk menatap siapa yang mengajaknya berbicara, namun si penanya jauh lebih membingungkan. Kau akan mengira sedang bermimpi—atau terjebak di taman bermain bernuansa negeri dongeng mitologi—apabila berhadapan dengan seorang, eh, seekor... kambing. Tepatnya, manusia berkaki kambing. "Lari?" "Yep. Dengan sepatumu yang tumitnya runcing itu." Sebelum sempat bertanya lebih lanjut, tiba-tiba ada suatu kekuatan berkecepatan tinggi tertuju ke arahnya, dan Dawn hanya bisa mengerjap ketika ia ditarik menjauh. "Ei!" tanpa sadar memekik dan melemparkan kantung belanjaan berisi gulungan tisu ke arah `sesuatu` yang berusaha menghantamnya. "Apa it—," bahkan sebelum pertanyaannya sempat terujar lagi, ada semburan api ke arahnya. "Kubilang juga apa, kau bisa lari?" "Ke mana?" Ia tidak suka percakapan yang bertele-tele ini. Membingungkan. "Ke rumah?" "Ke suatu tempat yang aman!" Ada bola api yang lain. "Dan itu bukan ke rumahmu." Tiarap, ia tidak mengerti kenapa bisa bereaksi secepat itu, dan pada satu kesempatan putri Tiger menggunakan salah satu terong yang dibelinya, dibidik ke arah makhluk mengerikan—ugh, apa itu—walau tembakannya meleset jauh. Apa yang dikatakan makhluk ini, sih? Pergi ke tempat yang aman selain rumahnya? "Kita sempat ke rumahku dulu?" "Tidak." Si kambing mulai nampak tidak sadar. "Kalau begitu, tidak." "Tidak?" Sebuah bola api lagi melayang, Dawn merasakan tubuhnya ditarik ke arah berlawanan sehingga terhindar dari jilatan api. "For God's sake, kau mau mati di sini?" Keningnya berkerut, kesal. "I didn't bring my hairdryer, stupid goat!" Kesal. Ia tidak suka diperintah-perintah seperti itu—meskipun sadar bahwa kemungkinan besar makhluk itu mengincarnya. Memangnya ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Pada hari Selasa yang biasanya, Dawn Tiger akan berbelanja dengan tenang tanpa perlu menghadapi fireball atau ledakan meriam. Huh. Tidak ada kambing berisik yang terus menyuruhnya lari, lari, lari— Kambing itu menatapnya dengan tidak percaya. "Kau masih memikirkan pengering rambut di saat-saat seperti ini? Kau tidak mau berumur panjang, ha?" Detik itu juga, ia ditarik menjauh sebelum otaknya sempat memproses, tanpa berpikir panjang ikut berlari—di saat yang bersamaan ia mendengar ada benturan dan ledakan. Hei, apa itu? Apa arti semua ini? "Hei, Mbek. Jelaskan padaku arti kejadian ini kalau kita bisa duduk santai dan mengobrol." "Oh, God. Kenapa kau masih bisa santai seperti itu?" |
|
|
| Deleted User | Oct 5 2015, 03:43 AM Post #59 |
|
Deleted User
|
{ m i m p i } I will be home late. Take care of your dinner. Hela nafas tatkala keluar dari bibir si gadis bersurai cokelat panjang. Sebuah catatan kecil yang ditempel di kulkas itu kemudian ditariknya dan diremas, hendak dibuangnya nanti ke tempat sampah. Botolair mineral dingin di kulkas ia raih dan dengan sebuah gelas kaca, ia berhasil membiarkan likuid itu mengalir di tenggorokannya yang kering. Tak henti-hentinya ia berharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi namun begitu banyak ia berharap, begitu pula lah harapannya tidak terkabul. Mungkin memang benar kata mereka, dimana seorang Ibu pastilah akan mirip dengan putrinya. Bahkan hingga ke nasib yang mempermainkan pun begitu. Irene tidak menyangka tepat satu tahun sudah kejadian ini selalu berulang-ulang tejadi. Dimana sang Ibu akan bekerja terlalu sibuk, mencapai cita-cita dan mimpinya yang kandas sewaktu ia melahirkan Irene ke dunia ini. Irene tentu saja sangat menyayangi Ibunya dan selalu berharap agar Ibunya dapat kembali ke panggung yang sangat dicintainya itu. Namun bukan begini akhir yang diinginkannya. Seharusnya, mereka hidup bahagia selamanya setelah sang Ibu mendapatkan cita-citanya, bukan? Jadi mengapa yang ia rasakan hanya sepi dan sedih? Gelas yang tadi dipakainya dibiarkan di atas kitchen island dan gadis Nightingale itu pun merebahkan tubuhnya yang lelah karena sekolah di sofa ruang TV mereka. Mengerjap pelan, sebelum kemudian menutup matanya dan merengkuh dunianya yang lain. (So, she ran away to her sleep and dream of paradise.) . "In five nights, you will have to run. This world will no longer be safe. You, child, are no longer be safe. Take yourself and go to Half-blood hill. There, you will learn to survive." Namun alih-alih kilasan gambar, cahaya warna-warni dan berbagai dunia aneh namun menyenangkan yang biasa ditemuinya di dunia mimpi, ia malah berada di satu ruangan kosong berwarna putih yang sangat cerah. Begitu silau, sehingga ia tidak dapat memandang dengan benar. Pandangannya begitu kabur dan yang ia dengar hanyalah satu kata jelas; kata yang mengungkit perihal bukit blasteran.., —dan demigod. Bukanlah sebuah hal yang aneh mendapati Irene Nightingale ini tertidur lelap namun bukanlah hal yang biasa ketika kamu mendapati tidurnya tidak nyaman. Gadis itu matanya terpejam, namun hela nafasnya cepat. Keningnya berkerut dan sudut bibirnya tertekuk ke bawah, membiarkan bibirnya mengerucut seakan ia sedang memimpikan hal yang tidak menyenangkan. Bahkan tak hanya itu saja, bulir-bulir kecil keringat mengalir di dahinya. Keringat dingin yang entah mengapa dapat timbul dalam tidur yang seharusnya lelap itu. Dan kemudian matanya akan mengerjap terbuka dan yang ia tahu adalah sesuatu akan berubah dalam waktu dekat ini. Firasat dan mimpinya mengatakan hal itu. |
|
|
| Kristoffer Wood | Oct 5 2015, 08:31 AM Post #60 |
![]()
|
MIMPI Akhir pekan Kris memang sering pergi ke tempat dance yang paling digrandrungi anak-anak seusianya; menari dan minum bir sampai puas, menghisap kokain yang ditawarkan sang bandar, hingga kadang-kadang, Kris tidak bisa pulang malam harinya. Tepar, bro. Jalan saja rasanya berat sekali. Sensasi anggur yang memabukkan membuat seluruh organ seakan tidak bisa berfungsi sebagai mestinya. Tetapi entah ada angin apa, saat melihat seorang gadis melenggang pergi dari lantai dansa, Kris jadi ingin buru-buru pulang. Sebut saja insting, karena detik berikutnya mereka mendengar sirine berbunyi. Damn it. Terkadang markas mereka memang suka direcoki pihak keamanan yang sedang patroli. Awalnya biasa saja, namun lebih banyak berujung pada penangkapan orang-orang yang dianggap provokator dalam acara itu. Padahal acara tersebut suka rela. Maksudnya, ayolah, tempat yang menyediakan pleasure itu memang menyesatkan. Tetapi itu ganjaran yang adil, tho? Kau dapat kesenangan, kau harus membayar harga yang pantas. “Sampai di sini saja deh.” “Kau yakin, Kris? Hell, dude, kau selalu menolak tiap ingin kuantar pulang.” Kristoffer Wood menyeringai, “Bad conditions, bro.” Lelaki itu mengambil dompet dan menyerahkan uang dollar dalam jumlah banyak pada rekannya. Dia tahu seseorang di balik kemudi--supir sewaan mereka--memperhatikan isi dompetnya, tetapi, hell, memang uangnya banyak dari lahir. Biarkan saja. “Kau yang urus.” Sebagai kewajiban sebagai sang alpha, semua biaya dalam kegiatan bersenang-senang hari ini, Kris yang tanggung. Anak buahnya hanya datang bermodalkan mobil dan membawa tubuh saja. Harga tersebut dianggap pantas untuk menghargai loyalitas teman-temannya pada buronan seperti Kristoffer. Kepala Kris masih berputar sampai dia tak sadar sudah melewati dua blok menuju rumah dalam keadaan diam dan petugas keamanan yang membawa senapan di depan kediamannya. Menaiki anak tangga, Kris terus berjalan sambil memegangi kepalanya yang terlalu pusing. Hangover. Efek terlalu banyak minum anggur. Berapa botol tadi? Lupa, Kris tidak menghitungnya. Toleransinya terhadap anggur lumayan baik. Maklumlah, keluarganya suplier anggur. Apakah tidak ada larangan dari orang tuanya? Tidak ada. Tristan itu bos mafia, dude. Pria itu bilang 'laki-laki baru bisa disebut lelaki jika dia bisa minum anggur'. Makanya, sebagai pembuktian pada Tristan sekaligus menyelami naturenya yang memang seperti itu, Kris mengenal dan sekaligus mencintai wine. Sampai di kamar, langsung saja Kris merebahkan diri di atas ranjang yang seprainya acak-acakan. Langit-langit kamarnya gelap, dan sialan, dia tidak bisa melupakan bagaimana tadi ekspresi Lucyana saat menari. Cantik. Lalu detik berikutnya, Kris sudah tiba di alam lain. Murahan sekali, ya? Tetapi hell, ini nyaman sekali. Suara-suara lembut mendendangkannya; membuainya sekaligus memanggilnya. "Camp Halfblood. Datanglah. Aku menunggumu di sana." Suara ini... milik Lucyana? Kris menggeliat dalam tidurnya, keningnya berkerut, tetapi seringaian tersungging di bibirnya. Hell, yang benar? Cewek itu memanggilku? Sebuah ajakan kencan? Who knows, mungkin ini efek hangover. |
![]() |
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|










1:59 AM Jul 12