CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 1 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sep 19 2015, 05:00 PM (1,121 Views) | |
| Alice White | Oct 5 2015, 08:59 PM Post #61 |
![]()
|
“Jangan buru-buru, Matt, kakiku sakit.” Dengan sepatu berhak lima centi disuruh berlari-lari mengejar langkah milik Matthew Hall terang saja Alice akan kepayahan. Tumitnya terasa seperti memar dan ia hanya bisa berlari-lari kecil tanpa bisa menambah kecepatan dan hasilnya hanya bisa mengeluh dan menggerutu dibalik punggung sahabat kecilnya itu. Terus terang saja kalau ini anak laki-laki lain, mereka pasti akan dengan senang hati memperlambat langkah atau bahkan mungkin menggendongnya pulang. Tapi ini Matthew Hall, mereka sudah saling mengenal dan dia tahu benar Alice ini seperti apa. Lalu saat suara milik Matthew terdengar heboh dan panic, Alice lantas mengangkat kepalanya yang sedari tadi sibuk memperhatikan kaki. Itu apa-apaan? Kepiting? Dan ukurannya kenapa sebesar itu seperti Raja Kepiting saja. Alice memekik ketakutan, berlari sana-sini menghindari kepiting yang seperti ingin memakannya saja. Alice tak makan kepiting seminggu ini, lalu kenapa jadi dia yang harus dimakan kepiting? “Menjauh kemana? Dia mengikuti terus, Kya!!” Tas tangannya kini terlempar ke arah kepiting yang hampir menerjang ke arahnya. Lalu pergi, begitu saja? Alice yang menundukkan kepala karena takut melihat kepiting itu kemudian mengangkat kepalanya dan bengong melihat sesuatu yang kini di hadapannya. Jadi kepitingnya menghilang karena mahluk ini? Dia manusia? Alice White menolehkan kepala penuh harap kearah Matthew seolah meminta penjelasan. Namun Mat juga sepertinya tak tahu maksudnya dan mereka terpaksa mengekor sang manusia setengah mahluk berkaki empat itu. Alice baru saja ingin mengeluh, berharap Matthew mau menggendongnya karena kakinya sakit, namun pemuda Hall itu lebih dulu mengucapkan kalimat bahwa Alice baik-baik saja sebelum dia mengeluarkan kalimatnya. Huh, selalu saja begitu. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 5 2015, 09:47 PM Post #62 |
|
Deleted User
|
[ m i m p i ] Dengan keras pisau stainless steel yang berada di genggaman tangannya ia adukan ke atas daging, menembusnya dan sengaja ia biarkan berlama menggesek piring dengan suara yang cukup memekikkan telinga. Sebelum akhirnya garpu di tangan kirinya menusuk kasar sepotong daging yang masih berwarna kemerahan di bagian tengahnya tersebut, masih dengan bunyi yang ribut. Hingga kemudian ia mengunyahnya cepat sebelum menelannya. Dilanjutkan dengan adegan mengusap bibirnya dengan lap sewarna putih gading. Matanya menatap lekat ayahnya yang duduk berdampingan dengan wanita bertampang buruk—di matanya—berambut coklat tua. Dengan satu sentakan, gadis kecil ini memundurkan kursinya dan berdiri tegak di hadapan keduanya. Dengan tampang datarnya, “aku mengantuk,” kemudian berpaling sebelum menaiki tangga menuju lantai dua rumah sederhana yang ia tinggali bersama ayah dan beberapa asisten rumah tangga mereka. Dengan sengaja, pintu kamarnya ia tutup dengan bantingan memekakkan telinga. Tidak peduli apa yang terjadi dengan keduanya di bawah sana. Bukan wanita pertama, wanita yang dibawa ayahnya ke rumah mereka ini. Dan Freya sama sekali tidak menginginkan kehadiran wanita lain dalam rumahnya kecuali dirinya. Tidak ada yang boleh mendapatkan atensi ayahnya selain dirinya. Dia tidak pernah begitu membutuhkan atensi dari orang lain kecuali ayahnya. Maka dari itu gadis ini menarik selimutnya menutupi seluruh wajahnya masih dengan bibir yang tertekuk, berusaha meredam emosinya. *** “Bangun, Freya, kita kehabisan waktu,” suara yang dengan samar ia kenal. Fred kah? Manager ayahnya? Matanya mengerjap. “Uhh..,” masih menolak membiarkan keduanya terbuka sempurna. “Ada a—” “Perkemahan blasteran, sekarang, kita kehabisan waktu!” “Perkemahan apa? Aku tidak suka berke—” “Kau akan bisa bertemu ibumu.” Kemudian matanya mengerjap dan kembali tertidur. *** “Freya, Dear. Apa yang salah?” Kali ini tangan yang ia kenal mengguncangnya. Kali ini matanya sempurna terbuka ketika mendapati jam dinding kamarnya yang mengatakan bahwa ini tidak lebih dari jam dua belas malam. Ayahnya berada di tepi tempat tidurnya memandangnya bingung, sementara dirinya balas memandang dengan tatapan tidak kalah bingungnya. “Kau berbicara dalam tidurmu, tidak biasanya,” kali ini ayahnya memasang wajah serius sementara kepalanya berpikir apakah ayahnya akan menganggapnya gila jika ia menceritakan mimpinya. Tapi toh ini hanya mimpi. Dan ia tidak pernah berbohong. “Tadi aku bermimpi, seseorang—Fred—berkata kalau aku, aku bisa bertemu ibu,” matanya mengerjap ragu menatap ayahnya. “Aku tahu ibu sudah tidak ada atau menelantarkanku atau apapun, t-tapi, ia mengatakan sesuatu juga tentang kehabisan waktu dan perkemahan blasteran, Dad,” sementara ayahnya memandang menerawang. Seperti memikirkan tindakan yang harus ia lakukan dengan cepat. “Dad? Kau tahu sesuatu?” Tampang rupawan ayahnya kian lama kian berekrut, membuatnya berubah khawatir. “Dad?” ETA : membenarkan typo |
|
|
| Deleted User | Oct 5 2015, 10:43 PM Post #63 |
|
Deleted User
|
mimpi. Ia berada di dalam hutan. Yang aneh sekali, karena seingatnya di Newark tidak ada hutan. Hutan beton, mungkin iya. Tapi hutan sungguhan? Tidak mungkin ada di tengah kota bukan. Paling banter, yang ada itu taman. Tapi seingatnya tidak ada taman di kotanya yang pohonnya selebat ini. Tapi peduli amat, yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah berjalan mencari jalan keluar. Adanya jalan setapak yang berlantaikan tegel-tegel batu di tengah hutan juga tidak dipertanyakannya. Semuanya entah mengapa masuk ke dalam logikanya, tidak ada yang terlalu aneh. Sean terus berjalan. Berjalan, dan berjalan mengikuti jalur yang telah disediakan untuknya. Oleh siapa, ia tidak terlalu peduli. Jalur batu itu dipenuhi dengan serakan dedaunan berbagai bentuk yang jatuh, menguning dan memerah. Sean selalu menyukai musim gugur. Padahal sekarang bukan musim gugur. Ia tiba di sebuah jembatan kecil, memberi jalan melintasi sebuah kali kecil berbatu-batu yang tidak terlihat dimana ujungnya. Tentu saja, ini di tengah aliran dan bukan di hulu apalagi di hilir. Sean tertawa sendiri, sebelum berhenti di pinggir kali itu untuk mencuci muka, saat suara itu terdengar. Sean, perkemahan blasteran, sekarang juga, sebelum terlambat! Huh? Sean, cepat pergi Sean, cepat "Sean, cepat bangun." "Uhh?" Hutan berganti menjadi langit-langit putih yang begitu ia kenal. Dan wajah seseorang yang tidak lagi asing. Ayahnya, yang dari kelihatannya baru saja pulang kerja, lengkap dengan kemeja dan dasinya. Nir jas, tapi. "Makan malam. Sudah kerjakan PR?" Ia bangkit dari posisi berbaringnya tadi di sofa. Apa itu perkemahan blasteran? "Sudah," jawabnya singkat. Sean mengikuti ayahnya pergi ke dapur untuk memesan makan malam. "Dad, akhir minggu ini kosong? Ayo kita kemping." |
|
|
| Deleted User | Oct 5 2015, 11:39 PM Post #64 |
|
Deleted User
|
Diserang Makhluk Tidak Baik[/i] "Mom, t-shirt favoritku ada dimana?" Tidak ada jawaban. "MOM?" Masih tidak ada jawaban. "DAD?" ..... "SESEORANG?" ................. "Demi ketiak tapir, kemana perginya orang-orang di rumah ini?!" Kemana perginya ayah, ibu, Rosie, dan Heather padahal sepuluh menit yang lalu Marco yakin kalau mereka berada di ruang tamu, membicarakan bagaimana cara unta menggaruk punuk mereka jika gatal: meminta bantuan temannya atau menggunakan lidah (dan keduanya menjijikan), sambil menunggu Marco bersiap-siap. Hari ini mereka sekeluarga akan pergi ke kebun binatang, yang percaya atau tidak, akan menjadi kali pertama Marco mengunjungi sebuah kebun binatang. Tentu dia sangat antusias namun ditutupinya karena, hei, dia adalah anak tertua dan anak laki-laki satu-satunta di keluarga, kau pikir Marco akan melompat dan bertepuk tangan seperti Heather saat menonton Disney Channel? Dia tak akan membiarkan imagenya hilang. Tidak. Akan. "Hei sejak tadi aku berteriak tapi kenapa tidak ada yang—" Marco menghentikan langkah ketika dia sampai di ruang tamu dan melihat ibu, ayah, dan dua orang adiknya tertidur di sofa. Sangat lelap. Lalu dia menyadari kehadiran orang selain anggota keluarganya, "—whoa siapa kau dan kau apakan keluargaku?!" Ada seekor kepiting raksasa tengah bertarung dengan laki-laki sepantaran Marco yang mengenakan jeans kebesaran namun kaki anak laki-laki itu agak aneh, seperti...bengkok. "Marco, akhirnya datang juga!" Marco mengeryitkan kening dan menatap anak itu dengan mata terpincing, "Ini bukan acara televisi di mana aku harus melakukan sesuatu tanpa script alias spontan, kan?" "Kamu ini bicara apa sih, ini keadaan genting! Ayo cepat ikut aku, kita akan menjauhkan monster ini dari keluargamu yang entah-bagaimana-caranya bisa tertidur seperti bayi." Dalam sepersekian detik yang singkat, Marco lupa kalau ada seekor kepiting raksasa di dalam apartemennya. Instingnya mengatakan untuk mengikuti apa kata anak lelaki itu jadi he did. Dia berlari melewati reruntuhan yang dulu dikenal sebagai 'pintu' bersama anak laki-laki berkaki bengkok. Dia benar-benar tidak sadar kalau itu mungkin saja menjadi saat terakhirnya menjalani kehidupan normal. |
|
|
| Teo Herschel | Oct 6 2015, 04:16 PM Post #65 |
![]()
|
"Wake up, Teo!" Teo tersentak. Kaget dan bingung. Kepalanya sedikit pusing akibat dibangunkan saat tengah terlelap. Kepalanya ditelengkan ke arah jendela yang masih gelap sementara sosok yang membangunkannya itu masih terus berbicara tentang harus pergi sekarang dan bahaya sambil memasukkan entah apa ke dalam tas Teo. "Who are you?" tanya Teo setengah sadar. "What are you doing in my room?" tanya Teo lagi. Ini pemandangan paling aneh yang pernah dia temui. Seseorang sedang membongkar lemari pakaiannya, menjejalkan bajunya ke dalan tas miliknya, dan kamarnya tiga kali lebih berantakan dari biasanya. Bahkan, banyak kaleng soda yang sepertinya... Bekas di makan. "KUBILANG TURUN DARI TEMPAT TIDURMU DAN AMBIL SEPATUMU!" "Berhenti berteriak. Tidakkah kau tahu bahwa teriakan dan suara keras hanya akan membuat masalah semakin rumit? Pertengkaran dan perang adalah dua hal yang membuktikan bahwa suara keras adalah sumber dari—hmpt mph mmm." Orang itu tiba-tiba saja menyumpal mulut Teo dengan kain. Entah bagaimana dia juga berhasil mengikat tangan Teo dan kakinya, lalu menaikkan Teo ke bahunya. "Kau lebih ringan dari kaleng kerupuk. Seharusnya aku melakukan ini sejak awal." PRANG! BOOM! Suara kaca pecah dan entah apa terdengar dari lantai bawah. Penculiknya langsung menyambar tas Teo dan keluar dari jendela. Lalu, dia melompat dari lantai dua. Jadi, Teo berteriak sekuat tenaga meskipun suara yang terdengar hanya Hmmmmmm panjang diakhiri suara buk pelan ketika mereka mendarat di tanah. "Hrnnkm emm mkm mmmmmm," protes Teo tapi penculiknya terus saja berlari. Ini malam yang sangat aneh baginya, mungkin ayahnya mendaftarkannya sebagai salah satu peserta acara TV karena sepertinya Teo melihat seseorang terbang mengejar mereka dan dia terbang dengan sayap kelelawar. |
![]() |
|
| Deleted User | Oct 7 2015, 11:10 AM Post #66 |
|
Deleted User
|
Diserang Mahluk Baik Suara ambulan terdengar dari lantai sembilan Sutton Regency, salah satu gedung apartement diantara gedung-gedung bertingkat lainnya di Manhattan. Upper East side, perbatasan dengan Lennox Hill lebih tepatnya, pemandangan di bawahnya merupakan sekumpulan orang berlalu-lalang dan hari pertama liburan musim panas ia sudah terlampau bosan karena ibunya sibuk menggarap EP baru hingga jarang sekali pulang. Sesungguhnya ia bisa saja pergi menginap ke rumah kawannya, teman di sekolah (walaupun hitungannya ia masih anak baru di sana) mereka baik sekali, namun ia masih merindukan kehidupannya di Essex. The food, the ambience, the people, the accent? Gosh! He can do anything to go back to Essex. "Packed?" Pete, bukan pengasuh melainkan mentor khusus subjek sejarah karena, ia selalu lemah dengan sejarah. Datang yang katanya akan mengajak untuk berkemah di sebuah situs sejarah penting dengan kegiatan arkeolog lainnya. Ibunya mengiyakan karena sadar wanita tersebut tidak memiliki waktu untuk dihabiskan bersamanya. Ia menganggukan kepala, ada wajah panik tersirat pada pengasuhnya. "Pete are you alright?" Ia memandang segerumbulan monyet-monyet mulai berdatangan dari sela gedung, dan sungguh pemandangan yang ia dapatkan saat ini bukanlah pemandangan yang lazim. Sepertinya semua orang tidak bisa melihat apapun yang ia lihat karena di bawah orang berlalu lalang tanpa sadar monyet berwajah aneh saling menggantung, mencoba untuk berlari ke arahnya. "Hurry! Raleigh! We have to go!" |
|
|
| Deleted User | Oct 7 2015, 12:30 PM Post #67 |
|
Deleted User
|
[Diserang Cyclops] Mencopet bukan lagi masalah perut; ini tentang kebebasan, tentang kebiasaan, tentang rasa tertantang, tentang kecerdikan dan kecepatan, martabat, atraksi, aksi dan seni, dan tentang ketololan-ketololan korban—bagaimana mudah terdistraksi dan tak acuhnya mereka pada kejahatan kecil di depan mata, di muka dunia yang tidak melulu disepuh warna putih berupa kebaikan, kepolosan dan kebajikan, tapi pelangi; ada jingga dan hitam, biru hingga nila ke ungu kemerah-merahan. Mencopet adalah permainan kesempatan dan peluang yang dimanfaatkan, diciptakan, mengacaukan fokus, mendistraksi lawan. Dan Amie, dia adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia ini. Ia mencuri karena bisa mencuri. Karena mencuri itu mudah. Karena semua orang bisa dikelabuhi. Anak perempuan itu sudah mendaftarkan dirinya untuk ikut kompetisi tahunan mencopet di Massachusetts, tergabung dalam Syndicate, salah satu kompetitor dalam perlombaan untuk mencari siapa pencopet terbaik di Amerika, lalu dunia. Menjadi pencopet berarti menasbihkan diri juga sebagai seorang aktor, dengan medan laga jalanan yang disesaki tiga jenis orang; para penjahat, para korban, para penegak keadilan. New Orleans, Louisiana (H-7 kompetisi mencopet tahunan) Amie merenggangkan tubuhnya, melemaskan otot-ototnya, keluar dari salah satu hotel yang ia sewa atas nama Douglass Perkins Shand-Tucci Kerschbaum Sr; yang kartu kreditnya ia curi lalu pakai untuk membayar tagihan-tagihannya. Menjadi seorang pencuri berarti satu hal; tidak perlu khawatir kehabisan uang, ini masalah kecerdikan untuk mendapatkannya, dan orang tidak akan mencurigai seorang anak perempuan berpakaian necis dengan pembawaan menarik-menawan. Orang juga tidak akan mencurigai karena status sosial ibunya yang bagus, seorang dosen yang mengisi seminar-seminar, seorang konsultan yang dicari FBI untuk bantu memecahkan kasus-kasus kejahatan, seorang psikiatri yang membuka praktek sendiri dengan klien orang-orang terkenal. Sekarang, ibunya sedang keluar kota sampai 3 hari ke depan, dan Amie selalu memanfaatkan momen-momen seperti ini untuk mengasah kemampuannya. Di sekolah dia bukan anak yang menonjol dan tidak pernah membuat masalah, jadi selalu aman memalsukan ketidakhadirannya. Dihirupnya udara New Orleans sore itu dalam-dalam, lalu ia mulai mengayunkan langkah, berjalan memasuki kawasan pedestrian, masuk lebih dalam ke titik-titik perbelanjaan yang ramai. Di sana matanya memindai, awas, mencari komplotan penjahat yang bisa menghubungkannya dengan pamannya, Martin. Ia mengamati setiap gerak-gerik yang khas, tidak sadar jika ia diawasi oleh empat orang yang berbeda, sampai bahunya ditepuk dan ia diseret. “Run..” Perintah orang itu. ”Run.. Run.. Ruuuuun!” Ia didorong-dorong, dipaksa berlari, “Idiot—“ Umpat orang itu. Dan ia pun berlari, dari sisi lain seseorang mengejarnya, dan saat menoleh, orang itu hanya memiliki satu mata, jantungnya mencelos, pergelangan tangannya terus ditarik, menabrak tubuh orang-orang yang sedang berbelanja dan membuat pasar itu semakin kacau oleh teriakan-teriakan. Untuk pertama kalinya Bellamy Queen merasa bingung dengan situasinya. Keluar dari pasar mereka memelankan langkah tetapi tidak berhenti, terus berjalan menyusuri gang-gang yang lenggang dan terasa berbahaya, keringat mengucur, dan nafasnya pendek-pendek, ia atur, menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Di depan dua orang muncul dari tikungan, menghadang mereka. ”Oh syit maaaan—“ Baru ia sadari orang itu berjalan terpincang-pincang, kulitnya coklat, memakai kemeja belel kotak-kotak, ia terlonjak saat belum mengenali profil dua orang itu. “Brengsek, kalian mengagetkanku..” “Kau berlari seperti orang kesetanan Freddie..” Yang berjanggut kambing terkekeh pelan. ”Cannot help it, Joey, Cyclops sialan itu kelihatan beringas dan lapar.” “Cyclops?” ”Ya, Cyclops, darling, kau pasti baru pertama kali lihat mereka tanpa tertutup kabut persona.” Jelas Freddie. “Kabut persona?” Tampangnya bego. Tidak mengerti omongan mereka. “Maksudmu yang baru saja mengejar kita—“ ”Exactly, dia seperti dugaanmu—“ Kalimatnya dipotong seorang pemuda dan dia cuma melongo. ”Oi, meeen, kita membuatnya bingung..” Celoteh Joey. ”Dia belum tahu siapa dirinya.” “Hah?” “Memangnya aku siapa?” ”Bellamy, ini Joey Maguire, itu Lucky Amore Young, dia sama sepertimu Halfblood putera Ares. Aku Freddie Hunt, satyr yang akan memandumu sampai ke perkemahan campuran, meskipun sepertinya kau tidak akan membutuhkan bantuanku karena bertemu Lucky.” Freddie nyengir ke arah Lucky. ”Iya kan Luck?” Lehernya menoleh-noleh tolol, irisnya berganti-ganti menatap bingung, “sebentar.. sebentar..” ia mengangkat sebelah tangannya menyuruh mereka diam. “Aku tidak mengerti sama sekali obrolan kalian.” Wajahnya datar menyedihkan. Dan kepalanya pusing. Ingatannya tentang kejadian-kejadian aneh semasa ia hidup mulai membuncah. OOC: udah ijin PM Lucky buat godmod & deskrib |
|
|
| Deleted User | Oct 11 2015, 01:16 AM Post #68 |
|
Deleted User
|
(diserang makhluk baik) “Ben, aku menuntut penjelasan,” seru Irene Nightingale di tengah napasnya yang putus-putus. Mereka baru saja berlari jauh sekali, Azrael bahkan tidak percaya sampai pada detik ini Irene belum pingsan atau apa. “Dengar aku, Ben? Kau. Harus. Menjelaskan. Semuanya!” Yah. Azrael angguk-angguk saja. Memang mau bilang apalagi? Ia sendiri lelah sekali. “Semuanya terjadi tanpa dapat kuprediksi!” Ben Orloav membentak balik, tampak kepayahan membenahi kruk sementara keringat menetes tanpa henti dari pelipisnya. Azrael mengernyit; ia belum pernah melihat Ben dalam keadaan sekacau ini. Biasanya bocah Orloav itu merupakan anak pendiam di kelas yang tidak akan mau diajak-ajak untuk main keluar saat istirahat. Kerjaannya cuma baca buku dan menggerutu di sepanjang hari. Semua anak yang menggunjing tentang cacat fisik Ben selalu mendapat balasan setimpal; walaupun larinya tidak bisa kencang (apa itu fungsi kruk, gheh), tapi tinjunya lumayan. Ergh, wait. `Larinya tidak bisa kencang` terasa tidak lagi bisa menggambarkan Ben Orloav, sebab, hei, kau harus lihat sendiri seberapa kencangnya dia berlari tadi. Tadi, mereka cuma sedang berjalan pulang seperti biasanya dari sekolah. Bergerombol tiga-tiga, dan kebetulan Azrael kedapatan harus jalan bersama Ben dan Irene karena bocah lain sudah keburu pulang duluan. (Ibunya selalu bilang kalau setidaknya harus ada seorang atau dua orang lain yang berjalan pulang bersamanya—penculik ada di mana-mana, dan menculik dua bocah pasti akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama daripada cuma satu. Yah, terserahlah, setidakpeduli apapun Azrael tapi toh ia tetap menjalankan nasihat itu juga.) Lalu, Ada bayangan mengerikan di belokan pertama yang tumben sekali siang itu lengang. (—dan Azrael bersyukur ia gak pulang sendirian.) Ben langsung memberi aba-aba, `LARI`, begitu tadi katanya sementara dia sendiri memimpin di depan. Azrael dan Irene cuma bisa diam mengikuti, sebab mereka... bingung. (Bagaimana tidak bingung kalau pada kesehariannya Ben menggunakan kruk sebagai alat bantu jalan? Bagaimana ia dan Irene tidak hilang akal ketika mendadak Ben yang itu bisa berlari sebegitu kencang?) Namun ketika mereka saling menatap mata satu sama lainnya, mereka sama-sama tahu bahwa bayangan mengerikan di belakang pastilah merupakan sesuatu yang harus dihindari. Yea, Benny? “Kita—pokoknya, sekarang ke perkemahan.” Untuk sekali itu, alis Azrael bertaut jadi satu. “...perkemahan apa?” godmod atas persetujuan ybs. |
|
|
| Deleted User | Oct 11 2015, 02:15 PM Post #69 |
|
Deleted User
|
(Diserang monster) Maunya tertawa, tapi nggak bisa. Karena Noir tahu yang dialaminya sekarang ini bukan sekedar permainan bocah, “Bryan! Tungguin, dong!” Biasanya Noir akan dengan mudah mengejar tetangganya itu namun kali ini keadaan berubah 180 derajat. Noir sudah kelelahan; nafasnya tersengal dan berkali-kali anak perempuan itu minta istirahat sebentar. Sayang Bryan bicara lain, “Nggak ada waktu istirahat, Bee—” kalau nama panggilan begitu sudah keluar artinya Bryan nggak senang, “—KAU MAU KITA DISERANG SI KEPITING LAGI?!” Padahal Noir juga nggak sempat lihat yang menyerangnya beberapa menit lalu itu kepiting atau bukan. Cuma sempat lihat capitnya, sih, dan baru akan melempar obeng ke arah yang bersangkutan sudah keburu ditarik pergi oleh Bryan. Entah darimana datangnya karena saat itu Noir berada di gudang sekolah, keluar dari sana ada yang menyoleknya, dan KABOOOM! Eh, nggak sampai ada ledakan. Tapi intinya begitu—Bryan menjerit panik sementara Noir bengong mengerjap baru kemudian tersadar seharusnya menjerit juga; bayangkan sosok tomboy sepertinya mengeluarkan jeritan persis anak perempuan sebayanya. Noir yakin Bryan sampai nggak kebingungan harus respon gimana mendengarnya. Anyway! “Seenggaknya—heh—Bryan—heh—PELAN DIKIT, NAPA?!” Berat, tubuh Noir yang kurus itu mulai kepayahan dengan beban ransel berisi perkakas ala tukang tambal pipa. Maksudnya ingin sedikit minta belas kasihan Bryan paling nggak bantu bawa setengah atau gimana, berhubung mereka kabur secepat kilat dan Noir nggak sempat bawa apa pun selain ransel kulit sapi-nya, “Nggak lebih baik kita pulang dulu? Aku harus ke rumah, ambil beberapa barang, dan—” “Nggak ada waktu, Bee,” Bryang menghentikan langkahnya dan menyibak semak belukar di hadapan. Jangan tanya Noir mengapa mereka saat ini sudah berada di tengah hutan belantara padahal di San Fransisco satu-satunya hutan yang Noir tahu hanyalah taman di tengah kota, “Kalau pulang malah makin bahaya. Monsternya mengendus baumu, diarahkan ke rumah berarti—” “Oh,” anak perempuan itu akhirnya paham, “baiklah.” “Jadi jangan banyak tanya dulu, oke? Pokoknya sekarang kita harus—” “Perkemahan. Got it,” Noir mengangguk. Kakinya berjalan mengikuti Bryan dari belakang, mengendap hati-hati sembari menoleh ke sekeliling. Sejauh ini si monster belum menunjukkan keberadaannya lagi. Tapi kalau dibilang begitu, biasanya malah suka mun— “CAPIIIIIIIIIT!” Tuh, kan. |
|
|
| Deleted User | Oct 11 2015, 03:47 PM Post #70 |
|
Deleted User
|
(Diserang monster) Kalau ada orang yang melihat sosok yang lagi sibuk sendiri dengan jam di halaman sekolah, itu adalah Troy Moreland. Dia lagi iseng-iseng mengotak-atik jam tangan yang dibelikan Mom kemarin. Iseng-iseng saja, sembari menunggu dijemput oleh Grandma. Kesannya iseng banget? Yah, namanya juga bocah. Padahal, sih, sudah nggak bisa dibilang anak-anak lagi. Cuma, ya, memang mau ngapain? Daripada mengisengi murid lain, kan? Ya, biarpun semuanya juga sudah pulang, sepertinya. Atau malah mengotak-atik barang sekolah, semacam mengotak-atik proyektor sekolah (....iya, beberapa minggu yang lalu Troy dihukum gara-gara mengotak-atik proyektor sekolah dan malah berakhir rusak total.) Setidaknya, nggak bakal merugikan sekolah. Cuma, semua berubah saat si kepiting raksasa menyerang. Seingat Troy, harusnya nggak ada kepiting raksasa di sekolah. Aquarium di sekolahnya saja kecil sekali. Cuma, percayalah, tiba-tiba ada kepiting muncul dari atas atap. Dan kepitingnya mau mencapit Troy. Nggak bangetlah. Troy jelas berusaha menghindar, dan berhasil menghindar, sih, tapi malah jamnya yang jadi tergores capit begini. Apakah Mom bakal marah kalau jamnya tergores parah begini? Entahlah. Mungkin, setidaknya cuma kacanya yang baret, karena jam tangan digital tersebut masih berfungsi, tapi tetap saja...disayangkan. Ya, seenggaknya kalau cuma kacanya yang baret, bisa diganti, sih. Sekarang, fokus Troy cuma harus lari, makanya kini Troy berlari secepat-cepatnya.... ...dan menabrak salah satu temannya. Hmm, si Alex? Dan Troy belum sempat minta maaf ketika Alex buru-buru menarik tangannya dan menyeretnya. Ya ampun. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi, sih? Mulai diserang kepiting, terus ditarik-tarik begini pula tangannya tanpa ada aba-aba... "Kok, ditarik?" "Itu...kan ada kepiting mengejarmu! Kita harus lari!" Ya iya, lah. "Kok ngejar aku? "Nanti saja kujelaskan." Hih. |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|







1:59 AM Jul 12