CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 2 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Mar 18 2016, 03:25 PM (291 Views) | |
| Zeus | Mar 18 2016, 03:25 PM Post #1 |
![]()
King of The Gods, God of The Sky and Thunder
|
Selamat Datang di Petualangan Pertama Karakter Yunani Term 2 Silakan cek Panduan Umum untuk lebih lengkapnya! Reply di bawah post ini untuk menceritakan petualangan pertama karakter anda. |
![]() |
|
| Pippa Calombaris | Mar 19 2016, 04:24 PM Post #2 |
![]()
|
{{ dikejar monster }} Biasanya sih setiap pagi Pippa membantu ayahnya melakukan persiapan untuk membuka food trucknya. Kali ini mereka berada di sebuah tempat di dekat laut atau pesisir pantai timur Amerika. Boston, kalau tidak salah? Tapi karena baru tiba, semuanya lelah, mereka memutuskan untuk membuka kedainya besok, malam ini Ayah mengajak Pippa untuk makan di sebuah restoran yang luar biasa. Lebih lagi, Pippa ditemani oleh seorang temannya yang asli Boston, Aiden. Sudah lama mereka tidak bertemu, setahun yang lalu mungkin, maka Pippa begitu senang saat ia bertemu lagi. Ada makanan favoritnya sepanjang masa, fish and chips untuk makan siang dan makan malamnya adalah lobster dan berbagai seafood dengan melihat pantai. Hidupnya sangat menyenangkan! Hari ini ia di pinggir pantai, satu bulan lagi ia akan melihat Grand Canyon atau Yellowstone National Park. Well, tidak juga, entahlah. Biasanya sih membutuhkan waktu dua bulan untuk sampai ke daerah pesisir barat, menurut ayah, paling tidak. Kecuali mereka tidak berhenti sama sekali. Pippa baru saja menyelesaikan piring makanannya yang berisi lobster yang dibumbui lalu dibakar. Itu adalah lobster ter-enak yang pernah ia makan, masih terasa segar dan bumbunya terasa pas, serta tambahan lemon membuat keseluruhannya menjadi sangat enak. "Ayah, terima kasih untuk makanan yang enak, sungguh tidak pernah--" Saat itu juga, ia melihat ada sesuatu yang aneh. Di balik Ayahnya ada mahkluk yang bukan manusia, pasti, tapi Pippa tidak tahu itu apa. Kelihatannya cukup mengintimidasi, sementara Pippa masih ragu, Aiden terlihat panik. Ia mulai bercerita mengenai semuanya, bahwa mereka harus pergi dan ia adalah anak seorang dewi. Itu semua membuatnya bingung, tapi ayahnya tidak terlihat terkejut. Ia malah menyuruh Pippa untuk lari, banyak pertanyaan tersisa, mau tidak mau, tidak ada pilihan selain mereka berlari, kabur dari entah apapun itu. (Dan Pippa baru tahu kalau selama ini Aiden memiliki kaki kambing, apakah itu kostum Halloween atau sesuatu?) |
![]() |
|
| Lycoris Qilin | Mar 19 2016, 06:34 PM Post #3 |
![]()
|
{ M I M P I } "—pergilah kesana," Suara yang sama. Manik biru itu membuka perlahan. Bertemu pandang dengan langit-langit kamarnya yang dilapisi cat berwarna hitam. Mengerjapkan kedua matanya, gadis itu menoleh—mengecek weker kecil pemberian ibunda tersayang yang berada di meja nakas senada dengan ranjang miliknya. Lengannya bergerak untuk menyingkap selimut hangat miliknya—menyelipkan kakinya disandal rumah—sebelum berjalan keluar dari kamar. Insomnia? Bukan sepertinya? Lampu ruang tengah masih menyala? Menemukan sang ibunda yang tengah mereguk sebuah minuman didalam cangkirnya sembari menggerakkan tangannya untuk terus menulis. Dari aromanya—kopi—minuman kafein itu pastilah yang ada dicangkir ibunya. Ibunya pasti bergadang untuk menyelesaikan revisi novel yang baru diberikan oleh penanggung jawabnya tadi sore. Yang datang dengan seenak udelnya dan meninggalkan setumpuk kertas dan buku untuk revisi. Ah, sudahlah tidak penting juga. Kenapa harus dibahas... Sepertinya, dia terlarut dalam lamunannya. "Bu?" Suaranya memecah hening. Kali itu barulah dia sadar ibunya tertidur diatas meja. Menghela nafas panjang—sebelum menyelimuti ibunya—ia melangkah membereskan barang-barang diatas meja—menyimpan cangkir kopi ibunya di dapur, membereskan ceceran kertas dan mematikan lampu. Tidak lupa ciuman selamat tidur, sebelum kembali keatas kasurnya. Dan kembali bermimpi. "—pergilah kesana," Kemana? "Kau akan aman disana," Kemudian kilasan-kilasan monster yang berusaha mengejarnya mengisi bunga-bunga mimpinya. Juga suara seorang lelaki yang terus menyuruhnya untuk pergi kesana. Seolah dia terus mencoba untuk memastikan keamanan gadis bersurai pirang itu. Tapi kemana? |
![]() |
|
| Deleted User | Mar 19 2016, 07:01 PM Post #4 |
|
Deleted User
|
mimpi.. “O’hai, Jane.” Senyumnya mengembang, beradu dengan iris kelabunya yang dingin. Entah apa yang dilihat Janette Diggory, gadis sekelasnya yang menjadi incaran teman-teman laki-lakinya. Killian tidak pernah terlalu serius menanggapi Jane, mengingat gadis rupawan itu bisa saja membuatnya terganggu akan kehadiran para pengincarnya. Tidak, Killian tidak pernah mau berurusan terlalu banyak dengan cinta-cintaan. Yang dia inginkan saat ini hanya sampai lebih cepat ke perpustakaan, menempati pojokan yang biasa dipakainya untuk sekadar mearik napas dalam, berlatih keras untuk belajar membaca—mengenyahkan penyakit lamanya: disleksia. ”How’s your day, Kil?” Lagi. Lengkunganan di wajahnya terbentuk, seraya membalas sapaan hangat sang Pustakawan. Cynthia. “Good. Thank you,”. Kakinya melangkah, mencari jarak dengan cepat, sehingga kursinya bisa segera didapat. Hingga, detik berikutnya, Killian tidak tahu apa yang terjadi. -oOo- ”Hey, Dude! ‘sup?! “Siapa? Di mana kau?!” Sekelilingnya putih. Bersih. Tidak pernah terpikir dirinya suatu ruang yang tanpa batas dengan hiasan putih pada seluruh bagiannya. Distorsi ruang dan waktu—meski dirinya sendiri tidak yakin. Kepalanya menoleh ke kanan, kiri, atas, dan bahkan bawah. Mencari tahu siapa yang melempar suara. “Tunjukkan dirimu, heh!” lanjutnya lagi seraya memasang kuda-kuda, meski dirinya sendiri terlalu yakin kalau kuda-kudanya tidaklah benar. Sudah lama tidak ikut kelas bertarung. Ada suara tawa yang membalas seluruh pertanyaannya. ”Sudahlah. Aku ada informasi penting untukmu.” Lanjut sang suara, semakin membuatnya bingung. ”Pergilah ke tempat di mana Demigod akan berlatih. Ke tempat di mana kau harusnya ada di sana,” Pertanyaannya selanjutnya belum tersampaikan, namun sang suara terus menjelaskan apa yang tidak diketahui Killian. Sama sekali. Demigod, sesuatu yang pernah didengarnya di kelas Sejarah Yunani. Tapi apa? Kenapa dirinya harus pergi ke sana. Semakin banyak Killian berpikir semakin banyak yang tidak dapat dijawabnya. Bahkan Killian sendiri tidak pernah tahu siapa yang baru saja bicara. “Di mana—“ ”Perkemahan Blasteran.” -oOo- ”—oh, syukurlah. Kupikir dia tidak akan bangun lagi,” Suara Cynthia. Killian tahu. Suaranya didesak deruan napas yang jelas ditahannya sedari tadi. Mata Killian kemudian melihat seberkas cahaya yang masuk ketika kelopak matanya membuka. “—ouch,” rintihnya sambil mencoba bangkit berdiri dan memegang keningnya yang sudah ditempeli perban. Ada beberapa orang di sekelilingnya, yang ia yakini hanya Cynthia. Selebihnya belum dapat dipastikan. Hingga akhirnya sebuah suara kembali melayang di udara, menyadarkannya kalau Reno Bolden juga sudah ambil tempat di dekatnya. Wajahnya sedikit pucat, ditambah kakinya agak gemetar. Napasnya juga sedikit tertahan. Killian melihatnya agak aneh, bahkan sedikit khawatir sekarang. Namun hal itu tidak dipedulikannya. Sampai Reno membisikkan sesuatu kepadanya. ”Kau sudah dipanggil, Kil. Perkemahan Blasteran. Kau mengigau itu dari tadi,” “A-apa yang kau maksudkan, eh?” ”Kau harus bergeras, Bung! |
|
|
| Deleted User | Mar 19 2016, 11:03 PM Post #5 |
|
Deleted User
|
[ Dikejar Monster ] Menjalani waktu bersama keluarga di akhir pekan merupakan pilihan terbaik bagi seorang Sixtine Clifford, meski ia tidak luput dari tugas-tugas akademisnya. Maka, tidak ada salahnya bila ia meminta sang ayah untuk turut membantu tugas-tugasnya, sementara Claire Clifford, sang ibu membuat beberapa camilan untuk mereka. Toh dengan begitu tercipta waktu bersama keluarga, bahkan lebih lama dari sekadar waktu mengobrol ria, bukan begitu? Tugas-tugas milik Sixtine lebih memakan waktu dibandingkan dengan mengobrol hal-hal serius atau jika hanya untuk menonton film yang durasi paling lama adalah dua jam sekian. Memang pada awalnya waktu kebersamaan ini berjalan baik-baik saja meski Sixtine sendiri tidak banyak berbicara. Ia hanya diam. Mengedikan dagu bila diperlukan, seperti bila ia ditanya mana yang harus dibantu lagi oleh sang ayah. Bukannya tidak sopan atau bagaimana, tetapi Sixtine hanya terlalu malas untuk mengeluarkan suara. Lagi pula hal kecil itu tidak dijadikan masalah oleh siapapun. Bahkan oleh sesosok tamu aneh yang datang secara tiba-tiba dari balik halaman belakang. Uhm. Apa itu sesosok monster? Di Chicago ada monster? Mustahil. Atau mungkin itu cuma akal-akalan ayahnya saja? Tetapi ulang tahun Sixtine masih lama. Baru saja beberapa bulan terlewat. Apa ini sebuah kejutan yang belum sempat ia terima? Tetapi ayolah, waktunya benar-benar tidak tepat. Lagi pula muka ayah tidak menahan tawa. Lelaki itu malah sedikit panik, sepertinya tamu itu bukan komplotannya. Lalu dia siapa? Mana mungkin orang meminta belas kasih memakai kostum seperti itu. Menakut-nakuti anak kecil, yang ada. Untungnya Sixtine bukan anak kecil yang dimaksud. "Lari!" Hah? "Lari, Six! Ayo, ikut kemari!" Iya, tapi kemana? Tidakkah Ayah lihat monster itu berusaha meraihku? Ingin kulawan, rasanya. Tapi sedang malas karena tugas-tugas ini. "B-baik." "Ikuti lelaki itu! Dia akan mengantarmu ke tempat yang aman." Iya, tapi kemana? |
|
|
| Deleted User | Mar 20 2016, 09:21 AM Post #6 |
|
Deleted User
|
-Mimpi- Aiden jadi enggan tidur hari ini. Menoleh ketempat tidurnya barang sebentar dan ia sudah dihantui monster-monster dari mimpinya. Belakangan ini mimpinya semakin aneh. Seru? Mungkin. Tapi tidak asyik kalau mereka terasa lebih nyata daripada realita. Apa mungkin ini efek samping dari makan masakan ibunya? Ia terlalu sering menemukan banyak tanaman aneh di dalamnya―hobinya memang memasak, tetapi belum tentu hasilnya bisa dimakan semua. Bocah itu garuk-garuk kepala lalu memutar menjauhi kamar. Ibunya mungkin sudah tidur pulas sekarang, ia jadi tidak punya hati untuk membangunkannya dengan alasan aku tidak bisa tidur atau aku mimpi monster aneh. Aiden tidak begitu yakin ia pergi kemana, tetapi kakinya berhenti berjalan tepat di depan sebuah pintu bercat gelap yang identik dengan pintu-pintu di seluruh penjuru rumahnya. Ia memutar kenob pintu itu dan mendapati lukisan-lukisan ibunya berjejer rapi di atas lantai. Warna-warni itu spesial karena mengingatkannya bahwa mimpi itu memiliki banyak sisi. Mungkin segala mimpi aneh ini merupakan pertanda bahwa mimpi adalah realita, dan realita adalah realita? Itu tidak masuk akal. Malam itu ia tertidur di lantai ruang lukis. Namun tidak seperti biasanya, mimpinya sama sekali aneh dan begitu riil malam ini. Kegelapan yang remang-remang serta suara seseorang mengelilinginya. Memberitahukan bahwa ia harus pergi, kalau ia tidak bisa tinggal jika ia ingin terhindar dari monster-monster itu. "Pergilah kemana mimpimu membawamu." Lalu ia bermimpi berpamitan kepada ibunya melalui surat, berdalih kalau ini merupakan Panggilan Alam yang sama dengan yang dilakukan ibunya saat muda, hanya saja ini lebih awal dan lebih mendesak. Ia juga bermimpi pergi meninggalkan San Fransisco dan menjelajah hutan luas di teritori asing yang namanya pun ia tak pernah kenal. Tunggu, apa itu semua mimpi? Ia tidak yakin lagi akan apa yang terjadi. |
|
|
| Caitlin Grayson | Mar 20 2016, 09:39 AM Post #7 |
![]()
|
[Mimpi] Sinar matahari hari itu tidak tertutup awan, sama seperti kebanyakan hari di San Luis Abispo. Dan seorang anak perempuan dengan rambut pirang yang diikat menjadi high ponytail memilih untuk beristirahat dari mendaki puncak Bishop di hutan oak kecil yang terdapat di sana. Earphone terpasang di telinganya, Caitlin Grayson menyandarkan diri di salah satu pohon rindang di sana sesudah menaruh tas ranselnya. Keringat membasahi pelipisnya, angin sejuk yang berhembus dan naungan dari terik matahari siang yang disediakan oleh pohon oak di sekitarnya membuat matanya mulai terasa berat. Alunan pelan lagu dari iPod birunya membuatnya merasa tenang lebih lanjut. Matanya perlahan-lahan menutup. Aku hanya akan mengistirahatkan mataku sebentar, pikirnya seraya mencari posisi yang lebih nyaman. "My de...ild..." Caitlin mengernyitkan dahinya. Bisikan suara itu terdengar tidak asing di telinganya, walaupun dia yakin belum pernah dia mendengar suara itu sebelumnya. "...sin...haya...gi..." Siapa? Melihat sekelilingnya — yang entah mengapa terlihat buram dan somehow dreamy, seolah dunia di sekelilingnya kehilangan titik fokus — dan tidak melihat siapapun, Caitlin beranjak dari tempatnya bersandar. Warna di sekelilingnya tampat lebih cerah daripada hutan yang dikenalnya. "Siapa?" "...dak am...harus per...kemahan..." Suara itu kini terdengar lebih jelas. Lebih menggema di sekitarnya, seolah dia sedang berdiri di dalam sebuah ruangan dengan akustik yang cocok untuk bernyanyi. "Halo? Siapa di sana?" "...gegaslah pergi Ca...ni tidak aman unt...perkemahan blesteran di Long Is...Sound...cepat!" Caitlin terlonjak bangun, jantungnya berdebar di dadanya. Mata coklat mudanya secara otomatis melihat sekelilingnya. Melihat hutan yang sidah dikenalinya dengan sangat baik, Caitlin menarik nafas lega dan bersandar kembali ke pohon oak di belakangnya. Tadi itu... Mimpi? Tetapi suara yang bergema itu terasa sangat nyata, seolah dia masih bisa mendengarnya. Musik bermain pelan di telinganya dari earphone yang masih dekenakannya, Caitlin mengingat-ingat apa yang suara di mimpinya itu coba untuk memberi tahunya. Suara itu tidaklah jelas, tetapi dia masih bisa mendengar beberapa kata. Pergi... Tidak aman... Perkemahan Blasteran... Long Island Sound... ETA: Membetulkan typo. Edited by Caitlin Grayson, Mar 20 2016, 07:33 PM.
|
![]() |
|
| Deleted User | Mar 20 2016, 09:57 AM Post #8 |
|
Deleted User
|
Dikejar mahluk baik Percobaan kesekian dan ia hampir frustasi dibuatnya. Thomas mengatakan ia boleh melakukan apapun untuk percobaan selama kegiatan tersebut tidak membentuk bekas pada tubuhnya, dimana hal tersebut terbilang mustahil. Untuk menyayat pergelangan tangan saja pasti ada bekas garis yang mungkin akan dikira orang lain ia mengidap depresi berkepanjangan hingga self-harm menjadi hobi. Tidak, ia tidak juga immortal, ia masih bisa mati kehabisan darah hanya satu yang ia bingungkan—mengapa dirinya tidak bisa merasakan rasa sakit fisik. Pernah ia membiarkan kembarannya memukuli sehabis-habisnya (tentu saja Thomas akan melakukan hal tersebut dengan senang hati) namun tidak juga ia meringis. Papa dengan cepat melerai mereka, karena ya memang dibuat terlihat sebagai pertengkaran antara mereka. “Masih belum bisa merasakan sakit?” Jack, mentornya, pemuda berusia penghujung dua puluhan dengan senyum tenang menatapnya yang membentuk kerutan pada wajah dengan bibir mengerucut. Mereka sedang berada di Central Park, tepatnya di daerah dimana patung Alice dan kawan-kawannya berada. Thomas memanjat satu jamur ke jamur lainnya, sementara ia mengeleng kepala menatap ranting runcing dalam genggaman. “Mungkin kamu spesial, Linus.” “Or birth-defect and Thomas is the good one.” Pesimis ia mematahkan ranting dalam genggamannya. Jack tidak mengelak terburu-buru, pria itu hanya mengela nafas seraya mengacak rambutnya yang terang. “Go get your brother, kita harus kembali sebelum makan malam atau Dad tidak mau membayarku.” “Kalau begitu minta bayaran sama Papa.” “Oh Linus, seperti kau tidak pernah tahu tabiat Papa maupun Dadmu, huh?” Berakhir menghela nafas dibuangnya ranting sembarangan, langkah menuju salah satu jamur menatap satu lagi si rambut merah terang yang tampak sekilas serupa dengannya. “Thomie, ayo pulang. Jack mulai meracau tidak akan dibayar Daddy—lagi.” Namun pandangannya terkunci pada seorang wanita yang membawa kereta dorong tepat beberapa kaki di balik Thomas. Wanita yang awalannya begitu cantik dengan sundress warna merah terang serta rambut panjang tersenyum ke arahnya. Tersenyum, sampai akhirnya— “Thomas…” Gigi wanita tersebut hanya taring…. |
|
|
| Deleted User | Mar 20 2016, 11:50 AM Post #9 |
|
Deleted User
|
{ monster } Elore yakin, bahwa hari ini adalah hari dimana ia akan mati. Matanya menatap pemandangan aneh dihadapannya—seorang pemuda berkaki kambing tengah bertarung dengan makhluk mengerikan bermata satu dan bertanduk satu. Pertarungan yang tak seimbang karena pemuda berkaki kambing itu sudah terlihat sangat kelelahan menghadapi monster yang memiliki energi tak terbatas. Elore merasa bahwa ia tengah menjadi bagian dari sebuah film—seseorang tak guna yang tengah dilindungi oleh orang lain. Awalnya, makhluk itu mendadak muncul dan menyerangnya saat ia tengah melakukan perjalanan untuk pulang ke rumahnya. Beruntung baginya bahwa ia ternyata cukup gesit dan mampu menghindari serangan tersebut sehingga ia tak terluka. Sebelum makhluk tersebut dapat menyerangnya lagi, seorang pemuda muncul dan menyerang makhluk tersebut. Dan kini, Elore tengah menyaksikan langsung pertarungan antara seorang satir dan seekor Kiklops, yang mungkin akan menjadi pertarungan terunik yang Elore saksikan selama hidupnya. Apalagi, jika ia mati hari ini. Pertarungan ini adalah pertarungan terakhir yang ia saksikan. Pemuda ini berhasil menusuk satu mata monster itu, membuat sang monster meraung dan kesulitan melihat. Kesempatan tersebut digunakan oleh sang pemuda untuk menghampiri Elore dan membantunya berdiri. “Hai, saya Eric,” ucap pemuda tersebut, dengan wajah datar, “Saya satirmu dan kita harus lari sekarang.” Elore hanya dapat berkata, “Huh?” . . . “Bu, sudah kubilang—“ Elore menarik nafas lelah, “Aku tak sedang bercanda.” “Elore, Dear,” Ibunya berkata, dengan nada lelah yang sama dengan nada lelah Elore, “Aku sudah tak di umur untuk mempercayai cerita khayal mengenai monster lagi. Dan ayah kandungmu itu manusia, bukan dewa.” “Tapi ini bukan khayalan, Bu!” protes Elore, tangannya melipat di dada dan memandang ibunya dengan kesal, “Ini kenyataan.” Elore mengira, bahwa ibunya tahu bahwa ayahnya bukanlah seorang manusia biasa. Mungkin ia yang naif karena mempercayai perkataan Eric begitu saja, seluruh cerita mengenai kenyataan bahwa Elore bukanlah manusia biasa. Sejujurnya, ia ingin mendengar perkataan ibunya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mempercayai Eric. Namun setelah mengetahui bahwa Flavia tak tahu mengenai perkemahan blasteran ini dan juga tentang dewa, Elore masih ingin mempercayai cerita Eric. Itulah mengapa mereka tak langsung pergi ke perkemahan seperti yang Eric harapkan. Menjadi anak seorang dewa terdengar mengagumkan, bukan? Belum lagi ia penasaran siapa ayah kandungnya. Setiap ia bertanya pada Flavia, Flavia hanya menjawab 'Seseorang yang tak perlu kau kenal.' dan itu tak cukup bagi Elore. Jika ada sedikit kesempatan bahwa ia dapat mengetahui siapa ayahnya, maka Elore akan mengambil kesempatan tersebut. Hanya karena sebuah rasa penasaran. “Elore, kamu benar-benar ingin berkemah, huh?” Ibunya berkata, menggelangkan kepalanya seakan ia kecewa terhadap Elore, “Sampai berbohong seperti ini.” Elore kini merasa kesal. Ia benci dituduh melakukan hal yang tak ia lakukan. Apakah kekotoran tubuhnya saat ini tak cukup bukti bahwa ia tak berbohong? “Bu, kau tahu aku hampir tak pernah berbohong.” Ibunya menghela nafas, “Ingat, kamu masih memiliki banyak latihan dan lomba, kamu tidak bisa menyia-nyiakan musim panas untuk berkemah.” “Tapi, Bu, aku tak pernah berkemah.” Jika Flavia berpikir bahwa ia berbohong karena ia ingin berkemah, baiklah. Elore akan bersikap seperti itu. Lagipula seumur hidupnya, ia hanya ingat bahwa ia terlalu sering bermain piano. “Berkemah itu tak menyenangkan.” Ibunya memberitahunya, “Lupakan saja soal itu, kamu akan lebih menyukai bermain piano dibandingkan berkemah.” “Bu—“ Ucapnya, siap untuk berargumen lebih jauh. “Elore.” Flavia berkata dengan nada tegas, pertanda bahwa ia sudah tak menerima argument apa pun lagi. Siang itu, saat sang ibunda tengah lengah, Elore kabur dari rumah. |
|
|
| Deleted User | Mar 20 2016, 12:30 PM Post #10 |
|
Deleted User
|
Dikejar Makhluk Baik Sebetulnya Thomas sudah ingin jalan-jalan sejak dua hari lalu. Tapi dua hari lalu hari Rabu, dan Thomas harus memperbaiki tugas-tugasnya secepat mungkin seandainya Thomas ingin liburan musim panasnya segera dimulai, dan hari Kamis adalah hari dimana dia latihan anggar (Dad sendiri yang mengantar, ugh). Lalu hari ini, Jumat, yang harusnya hari dimana dia bisa bebas melakukan apapun sesukanya, Jack malah datang bawa-bawa buku aljabar yang seingat Thomas telah ia buang entah kemana. Jadilah setelah sejak pagi tadi ia melakukan aksi mogok bicara, mogok makan Hersey, dan mogok memegang alat tulis, Jack menyerah juga dan membawa mereka berdua jalan-jalan. Thomas baru saja menyelesaikan satu cone es krim, yang dimintanya tadi, lalu Linus tiba-tiba sudah mengajak pulang. “Whaaaat?” ujar Thomas kecewa. “Tapi aku kan baru selesai makan es krim.” Protes, soalnya mereka berputar-putar mencari truk es krim, kemudian begitu menemukan dan beli kudapan mereka hanya berkeliaran tidak jelas di sekitar Si Alice ini. Thomas pun melompat turun dari patung jamur tersebut. “Kupikir kita mau nonton film?” “Thomas…” “Oh, aku tidak mau pulang sebelum nonton film.” Butuh sepersekian detik bagi Thomas untuk menyadari kalau Linus tidak tengah menatap ke arahnya. Reflek Thomas menoleh ke belakang—yang sebetulnya, terlambat. Karena wanita itu telah merenggangkan sayap pucatnya (dengan entah bagaimana caranya!) dan perlahan mulai berubah menjadi… uh, Green Goblin Abu-Abu. Jack mengumpat, dalam bahasa asing sekaligus familier yang rasanya Thomas pahami. “Lari!” seru Jack kemudian, yang sebetulnya tidak perlu karena pada momen ketika wanita itu sepenuhnya merenggangkan sayapnya, baik Thomas maupun Linus tahu kalau sesuatu yang (sangat) tidak beres tengah terjadi di sini. Makhluk itu menukik ke arah mereka, beruntung semuanya berhasil masuk ke dalam mobil tepat sebelum makhluk itu sempat menyambar seorang pun. “Buckle up!” seru Jack ketika makhluk tersebut dengan geram meninju kaca mobil. “What the—” “Language!” seru Jack segera menginjak pedal gas, lari dari makhluk apapun itu yang tak mau kalah segera terbang memburu mereka. “Jack, itu apa?” tanya Linus, tepat sebelum Thomas betulan menanyakannya. “Oh, Demi Dewa-Dewi… Erinyes,” jawab Jack, nada suaranya berat. Jack tak melirik sedikit pun ke arah Linus maupun Thomas ketika mengucapkannya. Pria itu melirik ke kaca spion, mencaritahu dari sisi mana makhluk itu hendak menyerang. “Jangan panik, aku bisa mengatasinya. I’ll keep you safe—both of you.” |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|









1:59 AM Jul 12