CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 2 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Mar 18 2016, 03:25 PM (294 Views) | |
| Deleted User | Mar 20 2016, 12:52 PM Post #11 |
|
Deleted User
|
// dikejar makhluk baik "W-whoa..." Tarra dengar belakangan ini memang banyak orang-orang unik (nyaris aneh, malah). Tapi bagaimana dengan raksasa bermata satu? Err--biar kutebak, kalian akan mengatakan bahwa bocah Anderson sedang ngelindur. Oh, bahkan Hugh akan menganggap putrinya konyol jika bercerita apa yang sedang mengejarnya sekarang. "Leave me alone!" Serunya sambil berlari secepat mungkin. Beruntunglah tubuhnya cukup ringan dan rekor lari jarak jauh di sekolahnya tak begitu buruk. Pertanyaannya; cukupkah semua itu? Nama mahkluknya Cyclops, bila Tarra tak salah ingat. Ada dalam gambar di buku sejarahnya tahun lalu. Awalnya bercanda dengan mengatakan ingin bertemu satu. Seru, sepertinya. Tapi tak pikir bagaimana kalau terjadi sungguhan. Ugh--bau amis dan berlendir. Menjijikan. Kalau saja dia bisa berlari sambil menahan napas... Dahinya terus berkerut menahan bau yang dicium indra penciumannya. Ini mengapa Tarra tak suka waktu diajak memancing oleh kakeknya. Selain tidak kuat dengan yang amis-amis, Tarra tak bisa berenang--oke, sudah mulai keluar dari topik. "Ehehe, MAKANAAAAN~" ...Yang benar saja. Mengerang kasar. Lama-lama kakinya juga tidak kuat kalau dipacu sekencang ini. Siapapun, lewat, apa? Supaya bisa dimintai pertolongan-- "Oi, cepat, naik!" --terima kasih, sungguh! Seseorang dengan mobil, taksi--apa lah, lebih baik dari nantinya ikut-ikutan berlari. Skenario terburuk, mereka berdua jadi santapan Cyclops. Naik? Tentu saja. Masih sayang nyawa, kau tau. Napasnya diatur sambil menyeka bulir keringat yang sebesar kacang tanah dari pelipisnya. Barusan itu... Lebih baik dia lupakan... "Nah, bocah, kita langsung ke perkemahan saja, oke?" Kemana? Buru-buru menoleh untuk mengenali siapa yang sudah menolongnya (atau sekarang, menculiknya?). "Kenapa kau menatapku begitu!? Dasar tengik! Itu tidak sopan!" Bentak si manusia setengah kambing. "Namaku Raymond, Satyr." "Satyr?" "Yeah, dan tugasku mengantarmu ke perkemahan. Ibumu dewi, tau?" "Ibunya Tarra apa?" |
|
|
| Eugene Falicea | Mar 20 2016, 05:24 PM Post #12 |
![]()
|
Diserang Makhluk Baik “ Waaah Kebun yang Indah” Eugene yang sedang asyik menyiram tanamannya langsung menoleh ke sumber suara. Dilihatnya seorang wanita tua dengan kulit yang pucat sedang menatapnya. “Aaaah terimakasih, aku sudah merawat kebun ini sedari kecil” jawab Eugene dengan ramah “Yaaah tentu saja kau sangat berbakat dalam berkebun sama seperti ibumu” “Aaah sepertinya anda keliru ibuku Leina sama sekali tidak suka berkebun” “Hehehe” wanita tua itu tertawa “ Bukan ibumu yang fana itu gadis manis, tetapi ibu kandungmu yang kumaksud” Eugene tersentak, ia tidak salah dengarkan, wanita tua dihadapannya ini baru saja mengatakan tentang ibu kandungnya. Selama ini tak ada seorangpun selain ayahnya tentunya yang mengetahui siapa ibu kandung Eugene. Tiap kali ia bertanya pada ayahnya, ayahnya tak pernah mau bercerita sedikitpun tentang ibu kandungnya. Dan sekarang dihadapannya seorang nenek tua mengatakan ia tahu tentang ibu kandung Eugene. “ Maaf apa yang tadi anda katakan? Anda kenal dengan ibu kandung saya?” tanya Eugene tak percaya. “Hihihi sepertinya dagingmu sangat lezat” kata wanita itu sembari menjilat lidahnya. Hah? Apa yang barusan dikatakan wanita tua ini? Dia berkata dagingku lezat? Sepertinya wanita ini sudah gila, pikir Eugene. Wanita tua itu masih terus menatap Eugene, namun kali ini tatapannya terlihat seperti orang lapar. Wanitu itu lantas tersenyum memperlihatkan deretan gigi-ginya yang tajam seprti taring. Tunggu dulu! Ia tak salah lihat kan, gigi wanita tua itu mana mungkin terdiri dari taring berwarna kuning. Perlahan Eugene berjalan mundur ke arah rumahnya, ingin rasanya ia segera berlari meninggalkan wanita aneh itu. Namun entah mengapa seprtinya kakinya tak bisa diajak kerjasama, rasanya sulit sekali untuk menggerakkan kakinya. Eugen kembali melihat wanita tua itu, kali ini sekujur tubuh wanita itu seperti meleleh, dan hei! Apakah mata wanita itu sebelumnya bewarna kuning? Kejadian selanjutnya membuat Eugene berfikir pasti saat ini dia sedang bermimipi, dilihatnya dari punggung wanita itu kini keluar sepasang sayap seperti sayap kelelawar. “Ya tuhan!!! Apa ini, pasti aku sedang bermimpi!!!” teriak Eugene sembari ia mencubit pipinya sendiri, “Awww! Mustahil masa iya ini bukan mimpi?” Segera saja makhluk mengerikan bersayap kelelawar itu terbang melewati pagar kebunya, kini jarak ia dan makhluk itu hanya beberapa meter saja. “Naaah anak maniiiis, bersiaplah kau menjadi sarapanku!!!” kata makhluk itu sambil bergerak menyerang ke arahnya. Seluruh tubuh Eugene gemetar, ia kemudian jatuh terduduk dan hanya bisa teriak “Toloooong!” Lalu tiba-tiba saja sebuah kursi kayu melayang melewatinya dan mendarat tepat ke makhluk aneh tersebut, dan membuat makhluk itu jatuh ketanah. “Rasakan itu makhluk baik!!!” “Max!” Sedang apa dia disini dan tunggu dulu, apa yang yang terjadi pada kaki Max? Mengapa kakinya terlihat seperti kaki kambing? “Ayo Eugene kita harus segera pergi, sebelum makhluk baik itu kembali sadar!” “Pergi? Pergi kemana? Aku sudah di rumah? Dan makhluk apa itu sebenarnya? Dan lagi apa yang terjadi pada kaki mu?” tanya Eugen yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. “aaah ceritanya panjang, akan aku cerita diperjalanan nanti!” kata Max sembari menarik tangan Eugene dan mengajaknya berlari meninggalkan rumahnya. “perjalanan? Kita mjau kemana” “Kita akan pergi ke Perkemahan Blasteran, satu-satunya tempat yang aman bagi Demigod macam dirimu” jelas Max. “Apa? Demigod?” penjelasan Max malah semakin membuat Eugene bingung. “Ya, demigod, setengah manusia dan setengah dewa, kau salah satu dari mereka, itulah alasan makhluk tadi menyerangmu” Jedeeeeer!!! Bagai disambar petir perkataan Max barusan, membuat Eugene sakit sakit kepala, tidak cukup hari ini ia bertemu makhluk aneh menyeramkan, dan salah satu temannya ternyata berkaki kambing, kini ia harus menerima bahwa ia merupakan keturunan seorang dewa. |
![]() |
|
| Deleted User | Mar 20 2016, 05:41 PM Post #13 |
|
Deleted User
|
Ragne tidak ingat pernah melakukan kesalahan apa hingga harus mengalami ini. Secara pribadi ia tidak terlalu mempercayai hal-hal yang terlalu gaib meskipun kakek dan neneknya rajin ke gereja dan walau ia senang main kartu monster sihir. Kemarin ia sempat tidur di kuburan pamannya Edmund di bukit sebelah sana (dia lupa namanya) tapi, masa rumor itu benar? Bahwa tidak baik berurusan dengan kuburan orang? Bagaimana bisa orang mati memberi sial pada orang hidup? Lalu yang di belakangnya ini apa?! Ragne terus berlari, sekali-sekali mengintip ke balik bahunya. Kencannya dengan Lyn--yang membuatnya kepikiran dua empat per tujuh itu--terlupakan semua. Semuanya ditinggal di belakang, seperti makhluk berwajah perempuan, berbuah dada, bersayap, berbulu, berisik, dan berteriak-teriak entah meneriakkan apa Ragne tidak peduli. Ia terus berlari hingga kakinya terasa mau lepas. Yang pertama dilihatnya kemudian adalah air mancur. Secara refleks bocah lelaki itu mengingat bagaimana seekor kucing masuk ke dalam sungai untuk kabur dari kejaran kawanan lebah. Maka ia melakukan hal yang sama. Ia masuk ke dalam air mancur, merunduk dan berharap cewek burung itu tidak bisa menemukannya. Dua detik kemudian ada kaki burung dengan cakar yang jelas tidak rajin dipotong masuk ke air di sampingnya. Tentu saja tidak berhasil, Ragne cerdas! Makhluk itu pasti punya mata! Tidak seperti lebah yang (katanya) memiliki visi poligonal! Sekarang dia tidak tahu harus apa, seraya keluar dari air mancur, basah kuyup dan dilihati pedagang es krim yang hanya melihatnya dengan tatapan 'apa anak ini gila?'. Sudah, sumpah, sudah tidak ada tenaga untuk minta tolong dan bahkan bertanya. Dari tatapan pedagang es krim itu jelas-jelas ia tidak melihat monster di belakang Ragne. Maksudnya, daritadi--DARITADI, saudara-saudara--yang nampaknya lari-lari kesetanan hanya Ragne seorang. Seperti Ragne yang delusional, atau gila, atau autisme betulan. Jangan-jangan ini mimpi siang bolong? Yap. Mimpi dimana ada rasa letih, pegal, sesak napas, dan dingin-lengket basah kuyup. Dia curiga dirinya sakit jiwa. Ia kembali berjongkok di balik semak-semak (yang sejauh ini ia pikir tidak akan berhasil karena entah bagaimana burung itu bisa menemukannya dimanapun), menikmati beberapa detik kedamaiannya seraya berpikir. Berpikir apa salahnya. Berpikir batu seberat apa yang bisa menjatuhkan burung tersebut. Berpikir apa yang harus ia tulis sebagai wasiat. Berpikir siapa saja yang sudah bersalah padanya dan sejuta penyesalan karena belum membalas mereka semua. "Nak! HEI, NAK!! KENAPA KAU DIAM SAJA?!" Ragne dipaksa kembali ke kenyataan sebelum selesai mengkhayalkan pembalasan untuk si gendut Anthony yang mencontek pr katematikanya kemarin tanpa ijin. Iris kebiruannya menatap lelaki agak tua di depannya, bingung. Siapa--ada apa gerangan. Orang ini juga gila? Sekarang gila itu menular? Atau jangan-jangan orang ini satpam yang menangkapnya setelah melihat Ragne masuk air mancur?! Oh Tuhan kenapa "AYO! AYO! KELUAR DARI SINI! IKUTI AKU!" Pria itu berbisik yang tidak seperti berbisik--malah membuat hujan lokal di depan mukanya. Pastinya Ragne tidak memiliki opsi lain selain mengikuti. Apabila ia selamat, ia memastikan orang ini akan berhutang balasannya. |
|
|
| Darren Winter | Mar 20 2016, 09:29 PM Post #14 |
|
Mimpi Darren masih betah menekuk mukanya sepanjang perjalanan pulang dari Sofia. Andre, pelatihnya sudah mengatakan padanya kalau kalah itu biasa. Winter muda itu muak dengan pengulangan kata yang sama. Baginya kalah itu adalah hal yang dibencinya. Darren Winter membenci kekalahan. Terutama untuk kali ini. Kekalahannya di Semi Final turnamen Grand Prix catur U-14 melawan pecatur Rusia itu berarti banyak. Karena dengan kalahnya Darren disana, poinnya tidak cukup untuk mengajukan kenaikan gelar menjadi IM (International Master). Padahal poinnya hanya tinggal sedikit lagi dari ambang batas kenaikan gelar. Kini Darren harus melupakannya. "Kau tidur saja dulu, Dar. Kita masih akan transit di sini beberapa jam lagi." suara berat Andreas Schmidt menyapanya sambil menepuk pelan bahunya. Mereka sedang berada di John Kennedy International Airport (JFK), menunggu penerbangan kembali ke Philadelphia. Darren meraih bantal tidurnya yang berada di dekat tumpukan ransel dari rombongannya. Tak lama kemudian pemilik mata abu-abu itu jatuh terlelap. Mimpinya sangat aneh. Darren dipaksa mengoperasikan papan catur dengan bidak-bidak raksasa. Lawannya sangat kuat. Darren terdesak dan diambang kekalahan. Winter muda itu kemudian berlari menghindari tempat pertarungan yang berubah jadi pertumpahan darah. Bidak-bidak caturnya berubah menjadi monster betulan. Monster yang menjelma dari bidak catur itu mengejarnya. Meneriakkan kata-kata balas dendam atas perlakuan Darren yang semena-mena. Darren memaksa kakinya berlari lebih kencang. Ditengah napasnya yang memburu, sebuah suara asing terdengar olehnya. "Berlarilah hingga Long Island, ke Perkemahan Blasteran. Kau akan aman disana Darren Winter!" sebut suara itu padanya. Tepukan di pundaknya kemudian terasa hingga alam mimpinya. Darren membuka matanya. Napasnya masih terengah. "Kau oke buddy?" salah seorang temannya memastikan Darren baik-baik saja. Darren mengangguk. Napasnya masih memburu. Mimpinya terasa nyata. "Aku harus pergi ke perkemahan blasteran!" ucapnya lirih tanpa sadar. |
![]() |
|
| Deleted User | Mar 21 2016, 02:23 PM Post #15 |
|
Deleted User
|
. . . Just A Dream . . . Jingga. Temaran mulai turun kala kuncup terakhir musim itu terbuka sempurna. Udara yang mulai kering di tengah perkebunan apel yang luas. Ringkik kuda belia menghembuskan hawa panas. Dan seorang jelita duduk di sebuah ayunan. Morra. Just it. Dengan mata sayu yang terkantuk setelah ia menyelesaikan prakarya tugas sekolahnya. No. Semestinya Candice yang membuatkan prakarya itu untuknya sehingga ia tak perlu sampai kelelahan dan tertidur seperti itu. ** Ini hanya bagian dari sepenggal cerita. Cerita tentang gadis kecil malang yang tak pernah kenal siapa ibunya. Ibu. Bahkan ia tak begitu peduli tentang ibunya. Bagi gadis itu, ibu hanyalah fatamorgana. Faktanya, tanpa sosok ibu itu pun si gadis masih bisa bahagia. "Try this one, Morra." Gadis kecil yang disebutkan namanya pun terkikik geli. Dalam binernya bayangan sebuah gaun yang nampak kekanakan dengan renda dan pita. Tak beda jauh dengan baju pesta balita. "Daddy, I'm not gonna wear that. I'm not a cute baby. I mean yes I was. But look," gadis itu memutar badannya, "I'm a Star." Menanggapi gadisnya, pria itu hanya mengangkat kedua bahunya. "Oh, Dear. Look at you. You're so delicious. Waaaakkk...." "Daddy.......!" Terlalu cepat. Entah apa yang terjadi. Makhluk mengerikan itu tiba-tiba muncul di atas almari pakaian hasil rancangan Fabian, pria tersebut. Tak perlu waktu lama sampai serangan dan Morr, si gadis, merasa dirinya jatuh ke dalam lubang. Berputar. Lalu gelap. Hanya ada satu cahaya. "Bangun.... Bangun, sayang," suara seorang wanita. Lembut dan merdu serupa lonceng di telinga Morra. "Siapa di sana?" "Bangunlah. Tak lagi aman untukmu berada di luar sini. Bangun....." suara itu kembali terdengar. Sebuah peringatan. "Keluar!" pekik Morra tak sabar. "Pergilah ke Perkemahan Blasteran. Sudah saatnya kau belajar. Kau tak aman, sayang." Lalu benar-benar gelap. Panik menyelimuti si gadis. "Bangun... Cepat Bangun." "Bangun...." "BANGUN MORRA!!" Suara itu perlahan jadi serak, lalu parau, lalu berubah sangat jelek dan teramat jelas. Morra membuka mata dan mendapati dirinya tengah tertidur di kebun apel keluarga Athem bersama Black si kuda dan... "Candice?"matanya membelalak kaget melihat temannya itu melepaskan wig yang Morra tahu selama ini adalah rambut, "Kamu BANCI?!" Candice mengerang, "Errgh. Dengar. Namaku sebenarnya adalah Cand. Docand. Dolcand. Cocand. Errgh.... Whatever. Itu tidak penting. Yang penting sekarang cepat kembali ke rumah. Cari mati saja kau di luar sini. Ayo cepat kita harus pergi. Mereka sudah tahu siapa kamu. Ayo cepat." Morra yang masih belum seratus persen tersadar dari tidurnya hanya bisa menurut saat Candice atau Cand atau whatever itu menarik tangannya dan membawa Morra mengendap-endap menuju rumah besar keluarga Athem. Aneh. |
|
|
| Deleted User | Mar 21 2016, 04:45 PM Post #16 |
|
Deleted User
|
{(-mimpi Matahari menyembul malu-malu; sorot terik sinarnya membuat pola garis-garis yang melewati celah di antara tirai jendela kamar. Dumbidumbidum~ she woke up earlier, anyway. Sambil berdiri menatap cermin yang besarnya hanya setengah dari badannya, sudut bibirnya ditarik mengulas cengir. Mematung selama dua detik baginya sudah lebih dari cukup, kemudian ia lekas-lekas berjalan menuju dapur. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. (Lagipula, kalau bukan akhir pekan, Jessica pasti sudah selesai makan dengan mulut belepotan karena dikejar-kejar waktu.) Rautnya semakin sumringah, ketika aroma panekuk lemon menyusupi lubang hidungnya, bersamaan dengan tudung saji yang membuka. Hanya saja, Jessica baru sadar bahwa suasana di rumahnya kini terasa sangat sepi. Maka, pantas lah, ia mulai berjalan menyusuri sisi ruangan dan berhenti tepat di depan pintu kulkas; tempat di mana setiap sticky notes warna-warni direkatkan. `Sorry, i can't join you for a meal. Aku harus mengantarkan jahitan pagi-pagi sekali, also i've asked Clarice whether you need something so that you can contact her. I'll be back in the afternoon. Love, Mom.' Okay. Memang tidak ada siapa-siapa di rumah ini, kecuali ia sendiri. Beberapa kambing peliharaannya tertinggal di pekarangan belakang dan ia tidak mungkin memasukkannya serta ke dalam rumah atau ibunya akan terpaksa menyuruhnya untuk tidur di luar; subtitusi atas peliharaan di dalam, maka majikan di luar. Kelewat cerdas, tetapi tega sekali. Jessica Mark tidak terlalu ambil pusing dan ia jauh lebih tertarik mengurusi perutnya yang sudah meronta-ronta minta diisi, sehingga tangannya buru-buru menjangkau potongan panekuk dan menyantapnya sendirian tanpa peduli. Tidak apa-apa, toh, ia juga tidak meminta ibunya untuk menemani sarapan. Oh, tidakkah hal tersebut terdengar sangat kekanak-kanakan? He. Tidak tahu, deh. Yang jelas, ia sudah punya jadwalnya sendiri pagi ini; Main sama kambing, that's it. Kambing yang dianggap sebagai peliharaannya berjumlah tiga ekor, yea, kadang kala mereka kerap datang membawa kawannya untuk mengisi spasi di atas tanah merumput dekat pekarangannya. Menggemaskan bagi Jessica, tetapi dia belum seberapa mengeksplor kawanan tersebut; apakah bisa menghasilkan susu perah yang berkualitas pula atau tidak. "Uuu, kalian! As stinky as usual, huh?" Tanyanya retoris, sambil mengusap-usap punggung salah satunya. "Kalian lanjutkan makan saja, ya. I'm gonna take a nap somehow for minutes." Di teras rumahnya terdapat susunan meja dan kursi kayu, tempat di mana ia duduk dan meletakkan kepalanya untuk tidur. Ibunya masih saja belum pulang. Ah, tidak tahu lah. Kelopaknya tahu-tahu sudah memejam rapat dan napasnya perlahan-lahan teratur. Kesadarannya sudah di awang dan... ...bermula tepat di kaki pohon rowan, di atas bukit merumput. Ia bisa merasakan semilir angin musim semi berjalan di atas anak-anak surainya. Wilayah tersebut tampak sangat menenangkan, tetapi anehnya kontradiktif dengan sekujur tubuhnya yang mendadak gemetaran. Sekalipun tidak ada cermin apapun di sana, Jessica bisa menjamin bahwa bibirnya telah berubah pucat pasi, sedangkan dahinya dipenuhi peluh menetes-netes. Sementara jauh di bagian bukit yang landai, tampak rumahnya porak-poranda. Namun di saat yang bersamaan pula, Jessica tahu bahwa Susan, ibunya belum pulang dari mengantarkan jahitan. Di atas sini, sepasang orbsnya hanya memperhatikan dalam diam, sedangkan kambing-kambing peliharaannya mulai mengembik seolah tak tenang. "Ssshh, kau kenapa, Kaine? Oh, aku tidak tahu kamu punya teman baru?" Entah mengapa, ia menemukan seekor kambing lucu tengah mengenakan kain bermotif tanduk rusa. "Dear daughter—of whatever," dahinya mengernyit. Sebuah suara tanpa pemilik membuatnya tersentak. "There, tempat tersebut tak lagi bisa disebut rumah; sudah terlalu rapuh. Ingat pesan ini; Pergi ke Perkemahan Blasteran. Soon. Aku tidak terima alasan. Really, you have to believe me this time, my dear." Ia mengerjap bingung. BUKK! Tiba-tiba, meja tempat ia meletakkan kepala dipukul kencang. "A—apa? Perkemahan blastera—oh, RILEY! Apa-apaan, huh? Kamu mengangetkanku, memangnya kamu tidak lihat kalau aku sedang tidur? Kalau aku mendadak terserang penyakit jantung bagaimana? Terus, kamu sedang apa di sini, heh? Terus, lho, lho, baju kamu kok—," ia menatap motif yang serupa dengan isi kepalanya beberapa menit lalu. Tanduk rusa. Hu, mirip sekali, seperti yang dikenakan oleh kambing teman Kaine. Jessica semakin heran. "Wait, kau bilang apa barusan? Camp Half-Blood, indeed, we have to go right now. No, wait, what's wrong with my t-shirt?" Ia terdiam. "—kayak kambing." "I'm a satyr, Jessica. Now, look carefully." "....God, please, this is so weird. Sir, please wake me up." "Lama. Sini kau, cepat! Kita tidak punya waktu." |
|
|
| Deleted User | Mar 22 2016, 10:04 AM Post #17 |
|
Deleted User
|
(diserang monster) ".........." "Jadi bagaimana?" Matanya terfokus pada layar kecil pada games yang sedang dimainkannya. Angin menyapu rambut cokelatnya dengan pelan, Silver tidak peduli. Toh, angin tidak semengganggu Joe. Mereka sedang berada dihalaman depan sekolah, menunggu waktu yang tepat untuk pulang dan menjauhkan Joe dari dirinya. Joe adalah tetangga rumah Silver di New Jersey, sulit menjauhkan diri dari Joe kecuali saat Silver berada dirumah. Menuliskan papan 'AWAS ANJING GALAK' didepan pagar rumahnya dengan suka-suka, membuat Joe benar-benar tidak mau masuk rumah semenjak Silver menggantungkan papan tersebut. "Suka-suka deh," akhirnya ia pun bicara sehabis tamat mengalahkan pertarungan gamesnya. "Aku mau pulang," memasukan psp nya kedalam tas, lalu bangkit dari tempat duduknya. "Dan tugasnya?" Menaikan sebelah alisnya, lalu keningnya berkerut heran. Apa perkataannya tadi kurang jelas atau memang Joe yang kadar IQ nya rendah. "Bisa dilumah," pipinya hampir memerah ketika ia sulit mengatakan 'r' pada rumah, "asal kakimu bukan kaki domba." Terkekeh dengan candaannya sendiri, ditambah dengan tingkah Joe yang mendadak jadi kaku seperti habis dikutuk jadi batu. "Er, ya akan lebih baik aku saja yang mengerjakan." "Bagus," lalu Silver pun meninggalkan Joey yang masih membatu. Baru setengah jalan menuju gerbang sekolah terdengar teriakan Joey yang menyuruhnya untuk diam ditempat, Silver menoleh kebelakang, tetapi tidak ada sosok Joey disana. "Ap--" "Oh anak manis, anak manis." Dengan refleks, Silver langsung menoleh ke sumber suara. Disana berdiri seorang wanita tua--ralat, melayang--wanita tua yang melayang. "Tidak akan sakit, oh sekali hap, tidak sakit, kemari." Instingnya mengatakan bahwa wanita tua ini berbahaya. Silver panik. Ia menggosok matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa matanya masih normal dan ini bukan mimpi. Wanita tua itu terkekeh mentertawakan tingkah laku Silver, memang kelihatan agak bodoh. Tapi apa yang kau harapkan dari bocah panik ketika ada makhluk buruk rupa mengatakan akan memakannya? "SILVER!" Terdengar teriakan Joey kembali, kini ia sedang mengendarai truk kecil. "Kemari!" Silver tidak memiliki pilihan lain selain berlari kearah Joey. Karena ia tidak cukup bodoh untuk mengandalkan kakinya berlari menghindar dari makhluk itu. Ia pun berlari ketempat Joey. Makhluk itu mengejarnya dengan cepat, hampir menangkap lengan Silver yang akhirnya menyisakan goresan luka yang cukup dalam dengan kuku-kukunya. Rasanya sakit--amat teramat pedih seperti ditusuk berulang kali. "Kita harus pergi segera!" Silver tidak berkata apa-apa lagi, rasa sakit pada lukanya terlalu ampuh membuat mulutnya terkunci rapat. |
|
|
| Deleted User | Mar 23 2016, 01:25 PM Post #18 |
|
Deleted User
|
[DIKEJAR MONSTER] Namanya Attic. Anak laki-laki pendek, gempal dan berjerawat itu adalah satu-satunya orang (belakangan dikoreksi menjadi makhluk) yang Azura paling percayai di dunia ini. Kendati dia tidak punya apa-apa dan sering menjadi pusat ledekan di sekolah, Azura tetap menganggapnya teman. Tapi tidak untuk saat ini. "YOU GOTTA BE KIDDING ME!" Dulu, jauh sebelum burung ababil jadi peliharan raja firaun, Azura Milenkovic adalah gadis yang manis. Rasanya saat-saat itu sudah lama sekali. Sekarang nyaris tidak ada yang tersisa dari diri Azura selain kosakata makian yang tiap detik selalu diperbaharui, dan baju berlubang akibat cakaran makhluk aneh yang sedari tadi mengejarnya. "KEEP RUNNING!" Berteriak dari beberapa meter di belakangnya adalah Attic. Keadaan anak laki-laki itu tidak lebih baik dari Azura. Cerita bermula tadi pagi, setelah bel pelajaran ketiga berbunyi dan Azura berniat membolos. Belum sempat mengutarakan niatnya pada Attic, guru Sejarahnya, Madam Cool (she isn't cool at all) memergokinya tepat di depan lorong. Dia memojokkan Azura di dekat toilet tidak terpakai dan sedetik kemudian, wush, wujudnya berubah menjadi sesosok makhluk tinggi besar, berambut merah sewarna api, dan menyeramkan. Untungnya Attic berpikir cepat. Anak laki-laki itu melemparkan dirinya sendiri ke pelukan Madam Cool dan berteriak agar Azura melarikan diri. Aksi sok heroik sekaligus bego. Melihat sosok itu sedang disibukkan dengan Attic, Azura langsung mengambil alat pemadam yang tergantung tepat dibelakangnya lalu dengan cepat menyemprotkan isi busanya tepat ke wajah Madam Cool. Tingkahnya itu membuat Madam Cool mengaum marah. Dan sekarang, ia dan Attic sedang berjuang melarikan diri dari kejaraan mantan guru Sejarahnya. Bukan gosip yang bagus. |
|
|
| Deleted User | Mar 23 2016, 03:22 PM Post #19 |
|
Deleted User
|
mimpi Isemay Folet tidak tahu sudah berapa lama ia melamun menatapi awan dari kursinya. Waktu masih terlihat sama, tetapi kelasnya sudah kosong melompong. Bahkan tak didengarnya suara bel berdering yang biasa nyaring. Gadis kecil itu mengerjap. Seharusnya ia tak lagi terkejut, sebab, toh, sudah terlampau biasa teman-temannya keluar kelas tanpa melempar secuilpun perhatian kepadanya. Namun, kali ini lain. Seorang anak perempuan lain, berambut pirang lurus, mengintip dari pintu kelas yang membuka secuil. Matanya biru, menatap nyalang terang-terangan ke arah Isemay tanpa takut dicap sebagai penguntit. Ia melambai, bermaksud memanggil sekaligus menyapa. Dihadiahi perhatian dari teman sebaya membuatnya tak yakin apa yang harus dilakukan. Tetapi, secepat kemunculannya, secepat itu pula si pemilik mata biru berbalik pergi. Rambut pirangnya melambai menghantarkan angin yang menutup pintu kelas. “Tunggu!” Buru-buru dikejarnya anak perempuan asing tersebut. Entah atas dorongan apa, Isemay Folet merasa ada hal yang ingin disampaikan kepadanya; semacam pesan, atau apapun. Atau mungkin surat? Tapi, hanya Kepala Sekolah yang mengirimkan surat sekarang ini, semenjak era elektronik menyerbu. Punggung itu sudah dekat, berbelok ke koridor lengang dekat gymnasium. Tangannya terentang hendak menepuk. Namun, sorot nyalang tadi sudah kepalang menoleh padanya. Seperti tahu. Seperti menunggu. Seperti paham bagaimana cara memerangkap Isemay. Ia terkejut. Mata itu menakutinya. Ada kilat tersendiri yang ia tak paham apa. Kakinya melangkah mundur, mendadak merasakan keinginan untuk pergi begitu menggebu. Tetapi, tunggu! Mulut itu bergerak! “Apa?” Isemay tak bisa mendengarnya. ”Pergi…” “Iya... Iya... Aku bakal pergi.” Penolakan bukan hal baru baginya. ”Pergi ke Perkemahan Blasteran…” “Sorry?” Sekarang, ia tak yakin ingin pergi. Atau ternyata mereka berdua adalah orang-orang yang biasa digolongkan ke dalam kategori freaks? Perkemahan Blasteran apaan. Dia ini seratus persen kaukasia. ”Long Island… Pergi!” BRUK! ”Miss Folet, coba terangkan turunan dari y=x2+2x-2 berapa.” “………………………..” Wajahnya bodoh luar biasa. Ia seperti ditarik dari koridor untuk kembali ke kelas dalam waktu sepersekian sekon saja. Kepalanya pening. Isemay tidak tahu apa yang terjadi, padahal jelas-jelas tadi ia sedang berbicara dengan seorang anak perempuan pirang. ”You were asleep, Freak.” Dengus cemooh yang mengiring setelahnya menjelaskan segalanya bagi Isemay. Kecuali bagian Perkemahan Blasteran. |
|
|
| Deleted User | Mar 23 2016, 04:09 PM Post #20 |
|
Deleted User
|
//diserang makhluk jahat pasca mimpi ![]() Valen tidak pernah mengingat apa yang baru saja diimpikannya dalam tidur, namun malam ini berbeda dari biasanya. Bahkan, sebelum tidur pun ia sudah merasakan firasat buruk. Seperti cerita film horor, di mana protagonis yang membuka mata setelah tidur akan segera bertatap muka dengan setan. Yang pertama dilakukannya adalah berteriak tepat di depan wajah nenek lampir tersebut. Bukan sosok seperti itu yang ia inginkan untuk ditemui setelah mendapati mimpi super random. Kemudian dengan segala kesadarannya yang tersisa, Valen menggunakan kepalanya sendiri dan membenturkannya pada dagu si nenek lampir--ralat, nenek lampir yang tengah melakukan metamorfosis sebagai monster keriput. Valen lantas menggunakan bantalnya untuk mendorong monster tersebut jauh-jauh sekuat tenaga. Tidak, ia sama sekali tidak ingin menggunakan tangan kosong. "PEENYUUUSUUUUP--!!" Sial, ayahnya sedang lembur di kantor dan belum pulang. Benar-benar latar film suspense. Yang terpikirkan sekarang hanya kabur jauh-jauh, kalau perlu maraton ke kantor polisi terdekat meskipun pemuda itu hanya mengenakan piyama kesayangannya. Bergegas ia menuju dapur dan mengambil barang terdekat yang paling mungkin digunakannya sebagai senjata--spatula besi dan sapu. Sempat terpikir pisau, tapi Valen tidak ingin ayahnya pulang dengan garis polisi di sekitar apartemen mereka. "Anak manis, aku hanya ingin tidur di sampingmu--dan mungkin menggigit-gigit sedikit~" Setidaknya Si Penyusup sadar kalau Valen memang anak manis. Namun dikatakan dengan suara lirih menyeret seperti itu, Valen hanya bisa merinding disko. Sebelum monster itu bisa mengeluarkan nafas api dari mulutnya (firasatnya bilang dia bisa), pemuda Sorrel itu berlari ke pintu keluar-- JDUGH "OW!" Jidat indahnya terantuk pintu yang mendadak terbuka. Sial, setelah ini ia harus mengatur poni untuk menutupi bekas benturannya. Namun yang berada di balik pintu sama sekali bukanlah ayahnya... tapi manusia berkaki kambing. Atau kambing dengan tubuh manusia. Terserah. "Ngapain kamu bengong saja di situ?! Cepat keluar dan ikuti aku!" ...Ini masih lanjutan mimpinya ya? |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| Go to Next Page | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|







1:59 AM Jul 12