CAMP JUPITER Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Senatus Populusque Romanus! |
Timeline Term 2.2: 2013/2014 Jadwal New IndoOlympians Open Registrasi Term 2.2: REGISTRASI AKUN DITUTUP Kelengkapan Registrasi ditutup tanggal 21 Mei 2016, 20.00 WIB Jangan sampai terlewat! Jangan lupa untuk mengecek Pengumuman dan Indeks Pusat Informasi |
CAMP HALFBLOOD Batas Tanggal Lahir: 01/06/2001 - 30/06/2002 Jadwal Kelas & Event Jangan kasih makan Satyr, ingat! |
| Selamat datang di New Indoolympians! New IndoOlympians adalah kelanjutan dari forum IndoOlympians. New IndoOlympians adalah forum RPG berbasis teks yang mengambil Semi-Alternate Universe dari seri Percy Jackson and the Olympians dan Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Ingin tahu rasanya menjadi anak setengah dewa, berjuang melawan monster, menyelamatkan dunia, seraya merasakan menjadi anak remaja dengan segala problematika kehidupannya? Registrasi selanjutnya: 13 Mei 2017, 06.05WIB - 14 Mei 2017, 07.05 WIB Join our adventure! Jika sudah terdaftar, silakan login: |
| Petualangan Pertama Term 2 | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Mar 18 2016, 03:25 PM (292 Views) | |
| Deleted User | Mar 23 2016, 09:47 PM Post #21 |
|
Deleted User
|
Mungkin sekarang sudah saatnya untuk angkat bicara. Beberapa kilometer sudah ia tempuh dengan kakinya yang beralaskan sepatu yang nyaris jebol, dan selama seluruh perjalanan tersebut ia merasa diikuti oleh seseorang yang ia tidak tahu siapa. Ia yakin bahwa orang itu bukan ibunya, karena ibunya pasti langsung menyeretnya pulang ketika tahu ia kabur. Tapi siapa yang akan menguntitnya seperti ini kalau bukan ibunya? Terlalu terasa, hawa keberadaan orang itu. Quico mendengus sedikit. Baru saja keluar dari rumah, masih belum bisakah ia bebas? Quico menghentikan langkahnya sebelum berkata, “Keluar.” Sunyi. “Kemampuan mengintaimu nol, tahu,” kata Quico tanpa berbalik. Ia tahu di mana pengintainya ada sekarang secara kurang lebih, tapi ia butuh informasi— ia ingin mengetahui apa motif orang ini menguntitnya. “Ada perlu apa denganku? Rasanya aku sudah mengembalikan semua hutangku di sekolah.” “…” Sunyi sejenak lagi, sebelum sebuah suara yang jelas-jelas gugup terdengar dari balik sebuah tempat sampah. “A—ahahaha? Tidak, kok, tidak ada yang mengintaimu?” Yang benar saja. Quico rasanya ingin tepuk dahinya sendiri, tapi ia menahan dirinya untuk melakukan itu. “… Kalau aku lari sekarang, kau tidak akan bisa mengejarku.” Quico sebenarnya bisa saja lari dari tadi, tapi ia penasaran atas motif orang yang sedari tadi mengikutinya itu. “—Jangan lari! Kita akan banyak lari habis ini, jadi lebih baik santai sekarang!” “Kalau gitu tunjukkan dirimu!” seru Quico agak tidak sabar. “—Dan apa maksudmu kita akan banyak lari?!” Setelah keheningan sesaat, seseorang keluar dari balik tempat sampah tersebut… seorang anak seumurannya yang rasanya ia pernah lihat, tapi tidak pernah ia benar-benar kenal. Penguntit itu menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandangannya dan bersuara, dengan suara luar biasa kecil. “… Kita harus ke Perkemahan Blasteran.” “Hah?” “Kita harus—“ Suara pekikan yang diikuti oleh suara kepakan sayap yang terdengar terlalu berat hanyalah sebuah perkenalan terhadap sebuah monster yang muncul di atas kepala Quico. “Lari!” cicit penguntitnya. Yah, tanpa cicitan yang tak mungkin terdengar oleh Quico itu, Quicopun sudah berniat lari. Sudah lari, malah. Sejauh-jauhnya. |
|
|
| Deleted User | Mar 24 2016, 05:56 PM Post #22 |
|
Deleted User
|
Bahunya merosot seiring tenaga dalam tubuhnya merayap pergi. Aktivitas sorenya diisi dengan berlari di sekitaran taman dekat rumahnya. Bukan hanya dirinya yang menganggap bahwa kegiatan yang dilakukannya menarik, melihat sekelilingnya pun dipenuhi beberapa tubuh berbalutkan pakaian olahraga lengkap dengan sepatu. Beberapa ada yang menunggang sepeda lipatnya, dan beberapa ada yang hanya berjalan sambil memerhatikan yang lainnya. Sebuah bangku taman di pojokan menjadi saksi putera Oliver Ragnvald kelelahan, terengah, dengan botol minum di tangan kanannya. Diteguknya sekali, namun lelahnya masih bertahan. Ruang di mulutnya tidak sanggup menampung air dengan suhu di bawah nol derajat dalam jumlah banyak, apalagi dalam kondisi napas yang masih menderu. “Hh—“ Suara teriakan terdengar dari lapangan di belakangnya. Segerombolan anak seusianya memilh untuk bermain bola sepak, yang sebenarnya tidak diperbolehkan dilakukan di taman. Hingga . . . DUK! Semuanya menghitam. __________ “Hai, Calv.” “Tobias?” “Aku bukan siapa-siapa. Hanya ada pesan yang harus kusampaikan kepadamu,” “Sudahlah, Tobi—a, apa? Pesan untukku?” “Ya. Pergilah ke Perkemahan Blasteran, Calv. Ke tempat kau seharusnya berada. Kau terlalu berbahaya berada di sini tanpa terlatih.” “Perkemahan apa? Kenapa berbahaya? A-apa maksudmu, Tobias?” “Sudahlah, pergi saja, Calv. Dan, akh, aku bukan Tobias sang Satir, sebenarnya,” __________ Suara di sekelilingnya terdengar ramai, membangunkan sisi dirinya yang berada di alam nyata. Beberapa kepala terlihat menunduk, melihat ke arahnya. Hampir semuanya tidak dikenalnya, kecuali Mario, teman sekelasnya yang gemar berolahraga, tetangga beberapa blok dari rumahnya. “Aa—“ sergahnya sambil mencoba bangkit. Kepalanya agak pusing, karenanya tangan kanannya reflek memegang kepala bagian belakang, tempat bola yang dimainkan anak-anak seusianya tadi mendarat dengan baik di kepalanya. “Ada apa ini? Kenapa semuanya mengelilingiku, eh?” lanjutnya kini sambil mengerjapkan mata, mencoba menghilangkan samar yang masih menutupi beberapa bagian matanya. ”Kau tadi pingsan sehabis terkena bola yang kutendang,” ”Ya, maafkan kami, Calv.” Suara Mario terdengar sebagai sosok yang meminta maaf, meskipun disusul dengan anggukan anak laki-laki lain sebagai tanda dukungan permintaan maaf. Calvin masih terus terdiam. Rasa sakit dan permintaan maaf barusan bukanlah hal yang ada di pikirannya saat ini. Sebuah percakapan yang diketahuinya, entah bagaimana, adalah sebuah percakapan penting dan memiliki arti. Ditambah lagi ia yakin suara yang didengarnya adalah suara Tobias. Dan, apa maksudnya Satir? Tobias adalah Satir? Tidak mendapat jawaban apa-apa dari pemikirannya sendiri, Calvin menyadari bahwa sudah seharusnya ia kembali ke rumah, memikirkan semuanya dengan tenang di rumah. Kebetulan Tobias mau datang mala mini. Ada banyak pertanyaan untuknya. __________ Keterangan: lewat mimpi. |
|
|
| Deleted User | Mar 24 2016, 06:49 PM Post #23 |
|
Deleted User
|
[DISERANG MONSTER] "Kau mau pergi ke mana, Juno?" Suara bariton yang tiba-tiba terdengar sontak membuat gadis berumur 11 tahun lebih 4 bulan tersebut gelagapan. Aksinya mengendap-endap keluar rumah gagal. Juno, gadis bersurai coklat gelap tersebut membalikkan badannya menghadap sumber suara. "Aku harus ke rumah Emily untuk mengerjakan proyek sains kami." Jawaban Juno antara sedikit memaksa dan mengiba. Sang pemilik suara bariton mengernyit menyelidik. Tak mau begitu saja percaya dengan gadis yang sudah 1 tahun lebih ia jaga tersebut. "Baiklah, aku antar sampai ke rumah Emily—" "No way! Aku sudah besar, James. Aku bisa pergi sendiri dan akan kembali dengan selamat." James menghela napasnya, "Kau masih kecil, Nona Heize. Aku antarkan kau atau tidak sama sekali." Ancaman James sungguh membuatnya mendengus kesal. Biasanya James hanya menanyai kapan ia pulang jika ia ingin pergi ke suatu tempat. Namun akhir-akhir ini James begitu protektif terhadapnya. Dua hari lalu, James memaksa untuk mengantar ke rumah Emily dan menunggu hingga kerja kelompoknya selesai dengan alasan musim begal sedang merajalela dan untuk melindungi Juno yang mana itu adalah tugasnya. Juno kesal, umur mereka hanya terpaut 4 tahun dan sikap James sudah seperti bapak satpam sekolahnya. Tidak sekali dua kali ia protes kepada ibunya di Bulgaria namun ibunya justru membela James. Terkadang ia heran mengapa ibunya begitu percaya pada James—cowok-berumur-15-tahun— daripada Juno, anaknya sendiri. Bahkan pengasuh sebelumnya tak diberi kuasa penuh oleh ibunya untuk menjaga Juno seketat ini. Juno memutar bola matanya, "Terserahlah." Rumah Emily memang agak jauh, Juno biasa pergi dengan sepeda gunungnya melewati jalan setapak. Kali ini mereka juga mengendarai sepeda masing-masing. Selama 10 menit mereka menyusuri jalanan ujung kota Boston. Pohon-pohon di sepanjang jalan sudah hampir tak berdaun. Angin semilir sore menciptakan suasana sejuk dan nyaman selama perjalanan. Ckiit!! Suara decit ban sepeda yang direm mendadak mengagetkan Juno. Secara tiba-tiba James menghentikan sepedanya, wajahnya pucat. "Lari," desisnya. "A-apa?" "Lari!" "Apa maksudmu? Lari kenapa? Aku harus ke rumah Emily, dia menungguku." Juno masih menolak perintah James sampai terdengar sebuah- desisan? Dari arah yang berlawanan tampak dua orang wanita yang berjalan terpincang menuju ke arah mereka. Juno mengira salah satu dari mereka mungkin Nyonya Smith, tetangga sebelah. Perkiraannya salah ketika dua wanita tersebut makin mendekat. Mereka kini tampak aneh dengan punggung lebar, tampak seperti bersayap. Juno tak tahu bagaimana persisnya, yang pasti ia sudah berlari sekencang mungkin dengan James di sampingnya. Dua wanita bersayap masih di belakang mereka. Entahlah, Juno tak pernah berharap hari ini akan datang, dikejar wanita bersayap dan apa yang di bawah James itu kaki keledai?[/table] |
|
|
| Deleted User | Mar 26 2016, 03:38 PM Post #24 |
|
Deleted User
|
[MIMPI] Hari itu dunia tampak cerah, berselimut cahaya matahari keemasan, sementara dua wanita Lindstrom terduduk di tengah lantai dengan dikelilingi bantal-bantal beludru nan empuk. Ruangan itu serba putih dengan sedikit nuansa keemasan yang semakin menambah keindahan. Tampak bagai surga bagi si gadis kecil. Ibu dan anak itu memetik harpa bersama-sama, menyinkronkan nada demi nada yang tercipta ketika senar dipetik. Latar kemudian berubah menjadi temaram seperti, entah bagaimana, mentari mempunyai saklar yang bisa ditekan kapan saja. Berpasang manik menyala dalam kegelapan—tengah mengawasi dirinya—sedang Leah sendiri dapat mengenali wajah sang ibu, bergabung dengan wajah yang ia kenal. Kecuali satu orang.. "Kau harus pergi," suara berketukan lambat dari kerumunan tersebut sukses membuat bulu kuduknya merinding. "Cari Perkemahan Blasteran dan penuhi takdirmu." Gambaran itu sekali lagi berubah. Kerumunan itu mulai menghilang, menyisakan sang ibu bersama dengan seorang laki-laki bersurai pirang. Mereka berdua berdiri bersisian sementara si lelaki memegang busur dan anak panah yang siap untuk ditembakkan kearah Katarina Lindstrom yang hanya berdiri diam. Tanpa ia sadari, tangannya terangkat, membentuk posisi yang sama dengan si lelaki—siap memanah. Gadis itu merasakan ngeri yang teramat sangat ketika busur panah ditarik sementara ia tidak dapat mengontrol pergerakan tangan. Panahnya melesat.. Leah Lindstrom terbangun dengan napas terengah dan keringat dingin membasahi peluh. Kamarnya masih sama, sementara bulan masih berada pada titik paling tinggi. Tengah malam, yang ia duga, dan ia bermimpi. Bunga tidur paling mengerikan sepanjang dua belas tahun hidup sang gadis. |
|
|
| Deleted User | Mar 27 2016, 08:30 AM Post #25 |
|
Deleted User
|
[Dikejar Makhluk Baik] “Aaaaa!” Alph menjerit dengan suara setengah mencicit. Ia menyandarkan punggung dengan membenturkannya ke dinding kayu gudang gandum keluarganya. Bau apak kayu dan aroma seperti bangkai tikus membuatnya mengernyit tajam berusaha menahan diri agar tidak muntah. Tapi ada hal lain yang perlu dikhawatirkan ketimbang “Kita kehabisan waktu! Bagaimana ini,” seorang—atau seekor—yang juga merapat pada dinding di sebelah Alph mengembik dengan suara parau. Lian namanya. Mungkin ini terdengar gila dan akan mengonfirmasi kalau Alph memang sudah hilang akal, tapi Lian bukanlah manusia. Tubuhnya terdiri dari setengah kambing dari kaki ke bagian pinggul dan sisanya berbentuk tubuh manusia. “Oke, kau ini apa? Kenapa Mrs. Hughes meledak jadi nenek jelek bersayap kelawar? Yeah, tampang Mrs. Hughes memang peyot karena umur, tapi aku tak bisa bayangkan kalau mukanya jadi butut banget baunya bahkan lebih busuk dari kaus kakiku. Dan giginya... terutama giginya! Holly Molly! kenapa jadi penuh taring? Dan apa yang kau bilang tadi padaku? Aku ini demigod? Apa itu demigod?!” Alph nyerocos dengan kalimat panjang yang amat kacau, melemparkan pertanyaan secara bertubi-tubi hanya dengan satu tarikan napas. Alph bahkan tak memberi kesempatan Lian untuk menjawab, ia terus saja bicara. “Bisa kau tolong cubit aku? Siapa tahu ini cuma mimpi konyol. Ya yang keras—OUCH! Sakit banget Lian!” “Demi Dewa-Dewi, Alph! Tutup mulut saja deh! Nanti kuceritakan lengkap tentang semua ini.” Lian membekap mulut Riverside muda dengan satu tangan sembari melirik dari celah dinding kayu. “Sial Erinyes itu benar-benar hendak menghancurkan gudang ini.” “Apa?!” Seketika itu pula Alph dirasuki kengerian yang lain, bukan ngeri pada makhluk jelek seperti kelelawar di luar sana. Tapi, ngeri akan nasib ayahnya kelak. Gudang gandum ini menampung hasil panen gandum minggu lalu yang bahkan belum dibeli oleh pemborong. Kalau sampai hancur, ayahnya bisa kehilangan pekerjaan untuk beberapa bulan ke depan. Oh tidak bisa. Tidak jika Alph masih bisa mencegahnya. “Lian, yang dia incar itu aku kan?” “Um... yeah, makhluk baik memang mengincar demigod, tapi kadang satyr juga mereka embat kalau lagi kepepet.” “Makhluk baik? Oke deh terserah," Alph menarik napas panjang satu kali, ia melirik ke arah pintu belakang. "Ayo keluar dulu dari sini, kemudian kita lari kuat-kuat ke dalam bus di seberang jalan." “Lalu setelah itu kemana?” Alph berusaha keras untuk tidak melihat Mrs. Huges yang terkapar tak sararkan diri. “Ketempat aman untuk demigod sepertimu, Perkemahan blasteran.” |
|
|
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Petualangan Pertama · Next Topic » |
| Track Topic · E-mail Topic |
1:59 AM Jul 12
|




1:59 AM Jul 12