Welcome Guest [Log In] [Register]


Pengumuman

WELCOME TO THE NEW VERSION OF INDOHOGWARTS



Nama karakter yang tidak/belum terdaftar dalam Daftar Visualisasi, tidak diluluskan pada Seleksi Asrama.





Indonesian Hogwarts Online Center :

House Point


Gryffindor has 425 points

Hufflepuff has 955 points

Ravenclaw has 535 points

Slytherin has 365 points
Selamat Datang di Indonesian Hogwarts, sebuah forum Role-Playing Games berbasis teks dengan menggunakan bahasa Indonesia, dan bersetting di Hogwarts!

Kalian akan berperan sebagai murid Hogwarts di sini, menghadiri kelas demi kelas dan membuat thread-thread seru untuk mengumpulkan poin bagi asrama kalian. Kalian juga dapat masuk ke dalam tim Quidditch asrama, mengikuti pertandingan, dan memenangkan piala Quidditch. Terdapat juga klub-klub yang menarik untuk diikuti, atau kalian bisa membuat klub sendiri.

PERHATIAN!! Registrasi member baru akan dibuka 20 Desember 2009, pukul 10.00 WIB. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoHogwarts jika kami membuka pendaftaran member baru!


Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:

Username:   Password:
Add Reply
Edisi Empat: Hot Late!; Summer 1976
Topic Started: Jul 19 2008, 09:34 PM (1,530 Views)
Marietta Skeeter
Member Avatar

[size=14]Sekilas Pandang dari Ketua Hogwarts Tattler Club[/size]
Oleh: Marietta Skeeter


Selamat pagi, Wahai Para Penghuni Hogwarts. Kita bersua lagi setelah Buletin Hogwarts Tattler mengalami keterlambatan yang sangat mengecewakan Anda, tentunya. Saya, selaku ketua Hogwarts Tattler Club, memohon maaf yang sebesar-besarnya telah membuat Anda kecewa dengan keterlambatan Buletin Tattler yang saya yakin, masih dalam batas toleranis. Well, memang, Buletin Tattler terlambat terbit, bahkan sampai libur musim panas, buletin kita tercinta ini belum sampai ke tangan Anda. Karena itulah, kami memutuskan untuk mengirim Buletin Tattler ke rumah para murid, serta Staff Hogwarts. Kami, khususnya saya, takkan pernah mengecewakan Anda yang telah menggemari Buletin Tattler sedemikian rupa.

Seperti yang kita ketahui, ada-ada saja peristiwa yang terjadi di Hogwarts selama setahun belakangan. Setiap tahun, tepatnya, akan ada peristiwa-peristiwa unik yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Jika Anda sudah membaca Buletin Tattler ini seluruhnya, Anda akan menemukan berita tentang Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kita yang baru, Profesor Symphony Soneta. Tak hanya itu, ada juga berita tentang acara penyambutan murid-murid baru yang dilakukan oleh setiap asrama dan bersifat tertutup. Tentunya Tattler memiliki para reporter dan jurnalis yang hebat sekali sampai mereka bisa mendapatkan begitu banyak kisah di balik acara-acara penyambutan, termasuk acara penyambutan dari Asrama Slytherin yang tidak lazim itu. Bahkan saya mendengar, Regulus Black—Black dari Slytherin—mencium Lyra Volans di depan umum. Hei, apakah dia tidak berpikir tentang kehormatan keluarganya? Oh, mari lupakan saja.

Berita lain yang tidak sempat diliput oleh jurnalis Tattler—lebih karena keterbatasan waktu—adalah berita adanya Santa Klaus gadungan di Aula Besar. Mungkin Anda sudah tahu, semua pun sudah tahu kalau yang menyamar sebagai Santa Klaus di Aula Besar adalah Mr. Rubeus Hagrid. Hagrid, idola semua murid. Baik hati sekali, bukan? Saya dengar, dia bahkan menyediakan hadiahnya sendirian. Tanpa bantuan biaya dari Profesor Dumbledore, apalagi komite sekolah. Wah, wah. Darimana Hagrid mendapatkan uangnya untuk membeli hadiah-hadiah yang tak bisa dikatakan sedikit itu? Patut dicurigai, Pembaca. Anda bisa ikut menyumbangkan informasi lewat burung hantu Anda ke saya.

Anda pasti sudah mendengar mengenai Piala Quidditch. Yeah, lagi-lagi Slytherin menunjukkan kehebatannya yang tersohor kemana-mana. Ternyata peristiwa ‘Tranquilize’ di Lapangan Quidditch tak menyurutkan kehebatan para anggota tim yang diketuai oleh Laverne Zeev ini. Piala Quidditch jatuh ke tangan Slytherin dengan Hufflepuff berada di tempat kedua. Hebat, give standing applause for them, Everyone.

Pada edisi kali ini, agen rahasia Tattler Club yang kita ketahui bernama DEATH LOVERS, tidak bisa mempersembahkan hasil karya berupa artikel mereka. Mengingat Death Lovers ternyata sedang berlibur ke Kutub setelah mendengar adanya Santa Klaus di Hogwarts, saya mencoba mengerti dan menerbitkan Buletin ini seadanya. Tentunya tidak mengurangi fakta dan aspek menarik yang membuat Anda terkagum-kagum membacanya. Buletin Tattler selalu sarat akan informasi yang bisa dipetik dan takkan Anda dapatkan dari siapapun.

Sekian laporan pandangan mata dari saya, Marietta Skeeter, selaku Ketua Hogwarts Tattler Club. Sekali lagi, saya mohon maaf atas keterlambatannya. Semoga Hogwarts selalu diliputi cinta dan kedamaian. Salam.

Edisi kali ini dipersembahkan oleh:
Pimpinan Redaksi: Marietta Skeeter
Editor:
1. Marietta Skeeter
2. Sadewa V.I. Putra
Divisi Berita Utama:
1. Thirteen Laranayl
2. Stevanie Oswald
3. Reinhardt Lee
4. Jake Locksley
5. Shameicha Lancelot
6. Friday BonClay
7. Arashi D. Fujiwara
8. Willard Sixsmith
9. Karasuma Rei
Divisi Berita Ringan:
1. Atsuko Reiflein
2. Kurata Naoko
3. Rhea Griggs
4. Kadviol Stanley
5. Charisa Victoricallus
6. Allegra Lucinda Delloray
7. Kathleen C. Herdma
8. Persia V. Bryce
9. Akira Ryuuichi




[size=14]Is It A Coincidence, A Fate or Even A Mistake?[/size]
Oleh: Randgrith, Amadea, dan d’Arc


Tahun ajaran baru, 1975-1976, dengan murid baru, buku baru, tongkat baru, dan aneka hal lainnya yang serba baru. Ya! Tahun ajaran baru tentu identik dengan segala hal yang baru, terutama dengan murid-murid baru yang kini telah bercokol di balik pintu-pintu gerbang ruang asrama, baik yang terendam di bawah tanah, maupun yang tinggi menjulang di menara. Kehidupan yang mungkin masih asing bagi mereka, dimana manusia, hewan, dan –bahkan— hantu melakukan interaksi di hampir seluruh bagian kastil sekolah sihir bergengsi ini. Kelas-kelas yang sudah dimulai di sini juga mungkin masih membuat para siswa yang kelahiran-Muggle, dan berdarah campuran mengalami kesulitan dalam beradaptasi, serta mengikuti kurikulum dan sistem pendidikan yang bisa dibilang ‘tidak biasa’ bagi kehidupan mereka. Namun, tetap saja ada siswa berdarah murni yang memiliki nilai dengan kualifikasi ‘sedih’. Yah, nasib nilai orang siapa yang tahu? Tergantung dengan usaha dan cara mereka dalam belajar. Namun, dibalik besarnya kastil dan pintu-pintu asrama mereka, benarkah mereka polos dan lugu layaknya bejana kosong yang siap diisi? Jangan yakin dulu, sebelum Anda membaca hasil investigasi kali ini.

Ada kata mutiara yang mengatakan, ‘There is no such thing as a Coincidence in this world, but it is Fate that will explain all events in the world.’—‘Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, tapi yang ada hanyalah Takdir’. Lalu, apakah itu juga yang menjelaskan keberadaan anak-anak Hogwarts di empat asrama yang berbeda? Bahwa keberadaan mereka di asrama masing-masing adalah sebuah takdir dan bukanlah kebetulan semata. Dan, apakah semua anak kelas 1 dapat menerima ‘takdir’ mereka? Atau malah menganggapnya sebagai suatu kesalahan yang pernah dibuat oleh Topi Seleksi?


Suatu Kesalahan ataukah Ketidaksengajaan?

Kembali ke topik semula, muka-muka tak bersalah para siswa baru ini sungguh menarik jika kita bisa mengulik lebih dalam apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Entah marah, sedih, atau bahagia berlebihan dan berakhir dengan bencana? Inilah hasil investigasi pada siswa-siswa tahun pertama yang terpilih oleh Penulis junior Anda.

Tiap asrama memiliki karakteristik sendiri yang tentu saja dimiliki oleh para penghuninya. Jadi, tak heran jika tiap asrama dikonotasikan memiliki sifat tertentu. Misalnya, Slytherin dengan sifat ambisius mereka, Gryffindor dengan sifat pemberani mereka, Hufflepuff dengan sifat ramah mereka dan Ravenclaw dengan kebijaksanaan mereka. Inilah yang kemudian menjadi tugas Topi Seleksi untuk menempatkan anak-anak pada asrama yang cocok dengan diri mereka sendiri. Namun, seiring bertambahnya waktu, konotasi ini malah semakin kabur. Pasalnya, tidak sedikit anak-anak yang kelihatannya salah masuk kandang. Karakteristik mereka berbeda dengan bayangan orang-orang mengenai asrama yang ditempatinya.

Sebut saja anak lelaki ini dengan nama lengkapnya yang unik, Semesta Angin, anak kelas 1 asrama Ravenclaw. Pemuda gemulai ini berlogat aneh dan bertingkah laku tidak seperti orang normal pada umumnya. Sangat berbeda dengan gambaran asramanya yang termashyur akan penghuninya yang cerdas. Tentu saja banyak orang berpendapat bahwa Semesta –yang akrab dipanggil Angin—berada di tempat yang tidak semestinya. Lalu, di manakah ia seharusnya ditempatkan? Seorang anak yang meminta untuk dirahasiakan namanya (atau si sinis dari Ravenclaw) berkata bahwa Semesta Angin tidak pantas masuk asrama manapun. Sementara itu, Angin –yang tidak ingin dipanggil En-Jin—itu berkata bahwa dirinya adalah Ravenclaw sejati dan tidak peduli dengan perkataan orang lain.

“Begini.. Aku sadar, aku begitu menggoda sampai beberapa orang menginginkanku masuk asramanya. Tetapi kurasa Ravenclaw sangat beruntung memiliki aku di dalamnya. Aku terlanjur terlahir menjadi anak pintar. Intinya, aku adalah teladan para Ravenclaw'ers.”

Kemudian, tokoh lainnya yang dicurigai sebagai korban salah masuk kandang adalah Mark G. Gouttorde. Seorang pemuda Ravenclaw yang dikenal dengan perkataan-perkataannya yang selalu membuat orang naik pitam. Sifatnya yang sinis benar-benar sangat mencerminkan karakteristik asrama yang berlambangkan ular. Lalu, kenapa dirinya bisa tersesat di asrama elang? Gouttorde berkata bahwa dirinya tidak sudi digambarkan sebagai sosok orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. Dia adalah tipe orang yang melakukan segala sesuatunya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Sudah banyak keributan yang dibuat oleh Gouttorde, baik di kelas maupun di luar kelas. Begitu Gouttorde kalap, jangan harap Anda bisa berdiri utuh dengan kedua kaki Anda.

“Dan tentu saja aku seorang Ravenclaw. Aku jenius, asal kau tahu.”

Selanjutnya, Putra Elang Mr.. Eric Santana. Dengan singkat ia mendeskripsikan bahwa asramanya biasa-biasa saja, hanya teman-teman di asramanya ramah dan baik. Apa? Hanya itu saja? Apakah dia tidak tahu bahwa teman-teman seasramanya memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata, dan berpotensi untuk sukses dan memperoleh nilai sempurna? Apakah dia tidak tahu bahwa yang mewawancarainya adalah seorang elang juga? Sebenarnya, diperlukan juga perjuangan untuk membuktikan diri, bukan hanya emblem dan nama besar asrama. Nasib Mr.. Santana juga sepertinya kurang begitu baik.

Jika dilihat secara keseluruhan, sepertinya banyak anak Ravenclaw yang salah masuk kandang. Lebih tepatnya, ada sebagian anak yang suka membuat onar, aneh, mempunyai intelegensi rendah dan sebagian lagi ada yang layak untuk dimasukkan dalam museum. Apakah ini suatu fenomena baru ataukah asrama Ravenclaw memang berniat mengurangi kualitas mereka? Anda bisa menanyakan ini pada Topi Seleksi.

Ada bermacam-macam jenis orang di Hogwarts, sehingga bermacam-macam pula pendapat dan reaksi orang terhadap keputusan sang Topi. Kalau tadi kita membicarakan tentang anak-anak yang salah masuk kandang, kini ada pula anak-anak yang begitu merasa cocok dengan asramanya. Karakter mereka benar-benar mencerminkan label asramanya sendiri.


Selamat datang di Klub ‘I Love My Own House’

Jenis anak yang merasa sangat nyaman dan memuja asramanya sendiri seringkali ditemui pada Asrama Hufflepuff dan Gryffindor. Contohnya, Mr.. Anthony Benham, Anak laki-laki yang Polos dan Pendiam dari Hufflepuff ini sangat bangga sekali saat diumumkan masuk Asrama Hufflepuff. Dan ketika sedang diwawancara dengan salah satu Anggota Hogwarts Tattler, Dhea Amadea, Mr.. Benham mengaku ia sangat semangat sekali ketika membicarakan tentang Hufflepuff. Berikut kami kutip.

“Hufflepuff adalah Asrama yang penuh Loyalitas dan Keadilan!”

Lain Benham, lain pula dengan Hale. Miss Roxanne Raven Hale, siswa tahun pertama dari asrama Hufflepuff. Dengan penuh semangat, diceritakannya bahwa Hufflepuff adalah asrama paling oke se-Hogwarts. Minatnya yang besar pada asrama ini, ada pada berbagai hal yang menjadi ciri khas asrama bersimbol Musang ini. Mulai dari warna, dan juga sifat-sifat mayoritas para penghuni asrama yang berlokasi di bawah tanah ini. Penulis telah mencoba untuk menyelinap ke dalam asrama ini, namun gagal karena tak mengetahui kata kuncinya. Yah, salah satu upaya berat untuk mendobrak apa yang telah mereka sembunyikan dibalik tebalnya pintu asrama mereka. Miss Hale yang energik juga membayangkan sekolah ini jika tanpa Hufflepuff. Mungkin anak-anak yang lolos kualifikasi ‘rajin menabung’, ‘imut’, dan ‘gembil’ yang menurut gadis pirang ini merupakan seorang Hufflepuff sejati akan tersingkir keberadaannya di dalam kastil sekolah ini. Mungkin para Musang ini akan menjadi gelandangan, atau meringankan pekerjaan peri rumah di dapur. Demikian pendapat Miss Hale.

Dapat ditarik kesimpulan, bahwa menurutnya, Hufflepuff amat dibutuhkan di sekolah ini. Di akhir wawancara, anak eksis ini sempat-sempatnya mengajak Penulis untuk bergabung di Hufflepuff. Awawww, tawaran yang sangat tak terduga. Siswa-siswi Hufflepuff juga berprestasi, mungkin kualitas otaknya tak kalah dengan para Ravenclaw. Beberapa menjadi yang terbaik dalam bidang-bidang khusus, dan Miss Hale sendiri merupakan anggota klub musik dengan gitar listrik sebagai senjatanya. Tim Quidditch Hufflepuff juga memiliki prestasi yang memuaskan dalam tahun ajaran ini.

Selain kedua wakil dari Hufflepuff, ada juga murid tahun pertama yang sangat mencintai asramanya itu, Yaitu Mr.. Rizzy Dravis dari Slytherin.

“Ya...Tentu saja....itu jalan hidup saya. Toh, saya akan sukses bila berada di Slytherin. Semua anak dikonotasikan berkelakuan buruk dalam Slytherin. Tapi itu salah, Slytherin bisa membuat saya menjadi Penyihir yang sempurna dan terkuat”

Bisakah kalian melihat keambisiusan dalam perkataan yang kami kutipkan di atas? Sekiranya, begitulah kesan terhadap Asrama Slytherin dalam kurun waktu tidak kurang dari seratus tujuh puluh lima tahun belakangan ini. Berbagai murid dengan tingkat keambisiusan tinggi disortir masuk ke Asrama yang didirikan oleh Salazar Slytherin berabad-abad silam.

Gadis ular, Mademoiselle RB yang menolak disebutkan nama lengkapnya, berhasil ‘dipaksa’ oleh Penulis untuk membeberkan pendapatnya tentang asrama bersimbol ular perak ini. Penulis sangat bersyukur berhasil memperoleh pendapatnya, setelah bersilat lidah dan bermain kata-kata berat dengan gadis anggun nan angkuh ini. Dilontarkannya pendapat yang membingungkan, perlu lebih banyak sel otak untuk dicerna oleh reporter. Inilah sedikit kutipan wawancara dengannya.

”Pertama, saya benci betapa-yah, dari kacamata orang awam, sih-menyebalkannya tempat tinggal saya sekarang. Nanti akan saya jelaskan. Kedua, saya merasa nyaman berada di antara orang-orang yang sejenis dengan saya.”

Dijelaskannya bahwa asrama ini berisi orang-orang berdarah murni, dan ia amat benci sekaligus menganggap konyol penyihir keturunan-muggle. Ditekankannya alasan Nona Anggun ini merendahkan orang-orang di luar Slytherin adalah karena mereka merendahkan Putra-Putri Ular. Yaa, setidaknya reporter tahu bahwa merendahkan orang lain itu buruk. Meskipun demikian, Nona Besar ini menganggap bahwa asrama tempat dimana dia tinggal ini masih memiliki kekurangan, yakni berada di bawah tanah. Jauh dari manapun dan membuat baju-bajunya lekas rusak. Ow, ternyata masih ada orang yang mementingkan mode dan gaya selama bersekolah di sini. Mungkin bisa disarankan bagaimana kalau Miss RB memasang gantungan baju di dinding Pondok Hagrid, dan memungut bayaran dari mereka yang menumpang menjemur pakaiannya. Asrama ini, meskipun dingin, angkuh, pencari onar,dan lainnya. Sebenarnya, mereka memiliki alasan tersendiri mengapa mereka melakukannya, karena mereka menganggap diri mereka lebih daripada siswa siswi lainnya. Sungguh kepribadian licin seperti ular. Mengagumkan.

Dari Gryffindor, ada Miss Bianca Springland yang juga sangat mencintai asramanya, yaitu Gryffindor. Gadis manis yang dicurigai Penulis sedang dekat dengan Prefek Gryffindor berinisial RJL ini mengemukakan pendapatnya dengan sangat bersemangat dan penuh cinta kepada Gryffindor. Atau kepada Prefeknya? Hanya dia yang tahu. Berikut komentarnya.

“Hmm, menurut saya Gryffindor itu seperti kandang singa penuh dengan anak-anak pemberani. dan gagah, para penerus Godric Gryffindor yang agung. Saya bangga sekali bisa masuk asrama ini!”


Keunikan anak kelas satu: ulasan mengenai bencana demi bencana

Anak kelas satu memang masih bisa dikatakan masih sangat muda. Dalam usia mereka yang rata-rata berumur 11 tahun, mereka sudah harus siap merantau ke dalam Dunia Sihir tanpa dukungan orangtua ataupun keluarga di sisi mereka. Para senior boleh berpandangan anak kelas satu masih lugu dan berpikiran polos. Tapi, apakah itu benar adanya? Mari kita tilik faktanya.

Berdasarkan hasil dari bisik-bisik tetangga, anggota Tattler Club menemukan fakta seru. Salah satunya mengenai pemuda kelas satu Slytherin yang bernama Reno Pedrovski Bloomberg. Pemuda bertampang sinis dan licik ini sangat digandrungi oleh kaum wanita di Hogwarts, khususnya di kalangan senior. Hal yang sangat jarang terjadi. Kabarnya, pemuda ini telah dilecehkan baik oleh para senior yang tenggelam dalam gairah anak muda yang menggebu-gebu, maupun oleh seseorang yang diragukan jenis kelaminnya (berinisial SA dari Ravenclaw).

Ditemukan Tim Tattler, Bloomberg beradegan mesra dengan seorang pemuda. Wow....ini benar-benar peristiwa monumental nan kontroversial. Akankah Bloomberg menjadi penerus murid tingkat lima berinisial SS yang juga berasal dari Slytherin? SS dicurigai masih menyukai dan menjadi stalker sejati dari anak lelaki berinisial SB di Gryffindor. Kenapa lagi-lagi harus Slytherin? (lebih jauh mengenai Skandal di antara siswa Slytherin, bisa disimak pada Tattler edisi satu).

Namun, para fans Bloomberg mungkin juga dapat terbakar api cemburu lagi ketika mendengar bahwa salah satu murid Asrama Ular telah mencuri sentuhan lembut dari bibir Bloomberg, yaitu perempuan berinisial LW. Penulis juga menemukan fakta bahwa Bloomberg telah menjalin hubungan salah satu senior lainnya dari Hufflepuff yang berinisial CC. Lalu, apakah ini suatu pertanda akan munculnya generasi penerus dari Laverne Zeev, seorang pemuda yang terkenal dengan puluhan gadis di sisinya?

Tokoh kontroversial lainnya yang juga sering jadi pembicaraan orang adalah Semesta Angin. Di kalangan para pemuda tampan di Hogwarts telah muncul suatu kebiasaan, atau warning, atau apalah namanya yang mengharuskan mereka menjauhi Semesta sedikitnya 10 meter. Pasalnya, tingkah laku Semesta menjadi ‘lepas kendali’ ketika berhadapan dengan para pria tampan. Berikut penuturan Balin Al-Kazaf –Hufflepuff—yang telah menjadi salah satu saksi kebrutalan Semesta.

“Saya shock..trauma..takut dan juga ngeri. Saya tidak tahu harus bagaimana menghadapi Angin setelah ini. Sepertinya saya akan menjauhinya dalam jarak tertentu.”

See? Bagaimana perkembangan para murid-murid tahun pertama yang masih polos dan lugu ini? Apa saja yang tersembunyi di balik lubang lukisan mereka? Siapa yang tahu. Semoga saja, tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda.




[size=14]Welcome to Our Houses: Penyambutan Terselubung Murid-Murid Baru[/size]
Oleh: Bryce dan Herdma


Setiap Asrama punya cerita. Setiap Asrama punya ciri khas yang menarik. Setiap Asrama punya acara yang menarik pula bagi anggota asramanya. Terkesan berlomba-lomba, setiap Asrama mengadakan acara penyambutan bagi murid-murid baru tahun 1975-1976. Ada apakah? Kompetisi terselubung? Atau hanya mencari muka agar disebut asrama itulah yang paling kompak? Namun ternyata tak semua penyambutan terselubung ini berjalan lancar seperti yang diharapkan, bahkan jauh dari kata kompak. Berikut liputannya.

[size=5]STAIRWAY TO HEAVEN: Helga Hufflepuff[/size]
[size=4]Love, Love, Everywhere![/size]


Hufflepuff, asrama para Musang yang didirikan oleh salah satu pendiri Hogwarts, yakni Helga Hufflepuff. Tempat dimana para pekerja keras, penuh cinta dan berjiwa sosial tinggi berada. Asrama yang satu ini patut diacungi empat jempol (tambah dua jempol kaki Anda, kalau mau) atas prestasi luar biasanya tahun lalu. Yeah, Hufflepuff menyabet dua piala sekaligus: Piala Asrama dan Piala Quidditch. Bagaimana para warganya tidak berbangga hati? Tepat sekali, jika asrama ini dijuluki para pekerja keras. Benar-benar sebanding dengan apa yang mereka dapatkan, bukan? Jadi benar adanya pepatah: segala sesuatu yang kita inginkan, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras untuk mencapainya, niscaya akan terkabulkan. Helga Hufflepuff pasti tersenyum di kuburnya melihat para penerusnya yang berkilau bagaikan warna kuning bak lambang Hufflepuff ini.

Dalam rangka merayakan kemenangan gemilang tersebut sekaligus pesta penyambutan warga Musang baru, Hufflepuff menyelenggarakan acara 'Stairway To Heaven: Helga Hufflepuff'. Acara yang sedikit berbeda dari 'Helga Hufflepuff's Children Congress', yang seperti kita ketahui, selalu dilaksanakan tiap tahunnya. Well, walaupun tujuan kurang lebih sama, merayakan kemenangan dan mempersatukan seluruh warga (lebih ditekankan pada kelas satu) dan meningkatkan tali permusangan—Kemanusiaan—serta berterimakasih pada mendiang Helga Hufflepuff, atas perlindungannya kepada semua warga Hufflepuff.

Sebenarnya perbedaan Stairway to Heaven: Helga Hufflepuff dan Helga Hufflepuff’s Children Congress hanya terletak pada tempat berlangsungnya acara saja. Yeah, yang biasanya dilaksanakan di balik dinding asrama bawah tanah mereka, kini beralih ke tepi Danau Hitam. Saat Penulis menanyakan mengapa tahun ini acara Helga Hufflepuff’s Children Congress berganti menjadi Stairway to Heaven: Helga Hufflepuff, Amos Diggrory—yang saat ini sedang santer-santernya diberitakan, berkat cinta segitiganya dengan Bones, juga Goldwin—selaku Prefek, dengan wajah penuh rasa bangga menjawab seperti yang penulis kutipkan berikut.

"Yah, tahun lalu adalah, adalah tahun yang begitu istimewa bagi Hufflepuff. Yah, Hufflepuff meraih dua piala sekaligus. Piala asrama dan Quidditch. Itu sangat luar biasa bukan? Dan tak ada salahnya, membuat acara yang sedikit berbeda untuk merayakan hal itu.”

Memang ada banyak cara meluapkan kebahagian kita, dan Stairway to Heaven: Helga Hufflepuff, tak terlalu buruk untuk dilaksanakan. Namun, jika sepintas kita mendengar kata Stairway-To-Heaven-Helga-Hufflepuff, apa yang ada dibenak kita? Ziarah, mungkin? Kurang lebih itu pula yang penulis kira ada di benak para murid tahun pertama Hufflepuff, ketika membaca undangan yang mendarat dengan sempurna di jendela kamar mereka. Terlebih, dengan pemilihan tempat berlangsungnya acara, yang tak lain adalah di tepi Danau Hitam—yang pernah digunakan sebagai tempat penyebaran abu hasil kremasi jasad yang tewas saat Tragedi Hogsmeade. Well, sebuah tanda tanya besar mungkin bergelayut di hati murid-murid tahun pertama. Bukankah ini juga adalah acara penyambutan mereka? Apakah makam Helga Hufflepuff, berada di tepi Danau Hitam?

Ketika penulis menyinggung soal pemilihan tempat yang mengundang banyak teka-teki, salah satu warga musang yaitu Miss Mizuhana, menegaskan bahwa, tak ada yang tahu pasti dimana makam Helga Hufflepuff berada. Pemilihan danau sebagai tempat acara, menurutnya semata-mata, hanya penggambaran, sikap cinta damai dan ketenangan warga musang, seperti permukaan Danau Hitam yang mengalir perlahan.

Well, poin penting dari terselenggaranya Stairway To Heaven—yang berjalan cukup lancar, dengan kembang api naga ikut memeriahkan—adalah tujuannya. Selain untuk penyambutan warga Musang baru dan merayakan kemenangan Hufflepuff dalam meraih Piala Asrama, juga untuk mempererat tali persaudaraan diantara semua warga Musang, tanpa memandang derajat dan tingkatan, serta menumbuhkan dan meningkatkan rasa kecintaan yang tinggi terhadap Hufflepuff, yang terukir di setiap hati warganya—telah dibuktikan langsung oleh penulis, pada Mr. Alkazaf, yang dengan gigihnya membela nama asrama. Tak lupa untuk berterimakasih pada Helga Hufflepuff atas perlindungan, cinta, kasih, dan penorehan semangatnya, yang menghantarkan Hufflepuff menjadi seperti sekarang ini. Viva, Hufflepuff and The Badgers!

[size=5]MASA ORIENTASI RAVENCLAW[/size]
[size=4]Hantu-hantu pun Bergentayangan[/size]


Kaget mendengar judul di atas? Tentu saja tidak. Karena kita semua sudah sering melihat hantu di seantero lorong kastil Hogwarts yang tercinta. Tetapi hantu yang ini berbeda, para pembaca yang budiman. Masa Orientasi Ravenclaw. Kegiatan yang diselenggarakan oleh para senior di Ravenclaw demi menyambut murid-murid baru (murid-murid kelas satu) di Ravenclaw yang tercinta. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga bisa dijadikan ajang mengenal baik satu sama lain. Murid-murid Senior-lah yang menjelma menjadi Pantia Penyelenggara kegiatan Masa Orientasi Ravenclaw (selanjutnya akan disebut MOR) ini. Sungguh manis, tentu saja. Otak mereka yang cerdas dan mampu berpikir lebih cepat tahu bagaimana caranya menyambut adik-adik mereka yang baru menginjak Hogwarts.

Pertama-tama, murid-murid kelas satu Ravenclaw diminta berkumpul oleh panitia MOR, di ruang rekreasi. Lalu berbaris dan berjalan menuju Gubuk milik Hagrid. Profesor Filius Flitwick yang terhormat memberikan pidato pembukaan, lalu menyerahkan semuanya pada para panitia. Tampaknya murid-murid kelas satu Ravenclaw itu tidak terlalu menikmati disuruh-suruh berbaris dengan rapi oleh para panitia. Banyak yang mengoceh, melakukan sesuatu yang tidak penting, membuat para Senior tidak bisa menahan kesabarannya. Aurora Mielonen—salah satu Panitia MOR—bahkan sampai membentak, menendang, menampar, bahkan merampas makanan dari seorang anak yang tenang-tenangnya makan bak jembalang di tengah-tengah kerumunan barisan. Awaww, betapa enerjiknya Senior Mielonen. Nampaknya para panitia MOR sangat kewalahan menghadapi sikap pada junior-junior baru mereka yang di luar dugaan. Sangat di luar dugaan.

Entah berapa jam atau berjam-jam junior-junior yang lugu itu disuruh berbaris dengan rapi oleh para panitia MOR. Tanpa dibekali makanan sama sekali! Bayangkan. Dimana hati nurani mereka? Anda tentu dapat menjawabnya sendiri. Akhirnya, permainan itu pun dimulai. Ya, junior-junior kelas satu yang berwajah innocent itu pun digiring masuk ke—jangan pingsan mendengarnya—HUTAN TERLARANG! Tahu kan kalau Hutan Terlarang itu benar-benar terlarang untuk murid-murid? Wew, para senior tercinta berani menanggung resiko kalau begitu. Oke, dan tragedi di dalam Hutan Terlarang itu terjadi. Hantu-hantu bermunculan. Hantu Sadako Madesu, Gossip Ghost, Angela Garmouth—Si hantu kepala buntung—, Rokuro-kubi—Si hantu berkepala panjang yang berasal dari Jepang, lalu ada hantu apa lagi? Terlalu banyak, Penulis bahkan tak bisa menyebutkannya satu-persatu. Ini yang dinamakan uji nyali! Uji nyali yang diadakan di tengah-tengah Hutan Terlarang. Benar-benar kontras dengan istilah ‘Kekompakkan’.

Kentara sekali junior-junior Ravenclaw itu ketakutan dan lari tunggang-langgang bak ayam yang mau kawin ketika melihat hantu-hantu yang mendatangi mereka satu-persatu. Mr. Angin, contohnya, sampai berteriak-teriak (nyata sekali pita suaranya bisa putus) begitu menyadari Hantu Sadako Madesu dan Angela Garmouth ‘menggerepehnya’ (jujur saja, Penulis kurang begitu bisa memahami perkataan Mr. Angin ketika diwawancara). Lalu ada lagi, Miss Fitaloka, yang iseng ingin mengajak bermain Hantu Sadako Madesu, alhasil didorong ke dalam sumur oleh Hantu satu itu. Belum lagi Mr. Gouttorde, yang sepanjang perjalanannya di Hutan Terlarang, tidak lepas dari pengekoran Gossip Ghost yang berkali-kali mengucapkan kata-kata ‘Spotted’ yang memekakkan telinga. Mungkin Gossip Ghost naksir Mr. Gouttorde? Siapa yang tahu.

Hampir semua junior kelas satu digerayangi oleh hantu-hantu itu. Tapi jangan berpikir bahwa hantu-hantu itu sungguhan. Haha, tentu saja tidak. Hantu-hantu itu adalah hasil rekayasa para panitia MOR yang berotak seksi itu. Mereka dibalik hantu-hantu menyeramkan itu. Menyeramkan? Oh well, banyak yang bilang begitu, tetapi tidak untuk Mark Gouttorde, salah satu junior kelas satu yang mengikuti kegiatan MOR itu.

“Seram? Kecuali kata 'seram' telah berubah makna dari 'menakutkan' menjadi 'menjengkelkan'. Nah, tidak sama sekali. Aku kebagian Gossip Ghost, yang artinya: setiap waktu akan selalu ada desisan-desisan tak bermakna yang tertangkap di telingamu dan selalu diawali kata "SPOTTED: blablabla.”

Awawww! Benar-benar anak polos yang mempunyai nyali besar! Rowena Ravenclaw akan kagum dengannya.

Ketika Mr. Gouttorde yang berani ini ditanya tentang apakah-kegiatan-ini-berguna, dia menjawabnya dengan panjang lebar, mengungkit kembali bagaimana rangkaian acara MOR itu. Dari disuruh berbaris di ruang rekreasi, berjalan ke Gubuk Hagrid, sampai peristiwa di Hutan Terlarang pula, dan diakhiri dengan ucapan mengenai Gossip Ghost.Tanpa berhenti Mr. Gouttorde berbicara, sampai Penulis merasa menyesal telah lupa membawa payung akibat hujan lokal di depannya.

“Ah ya, kecuali kalau kalimat ‘berguna untuk membuang waktumu yang berharga’ dapat dikategorikan sebagai jawaban yang tepat atas pertanyaanmu tadi.”

Mr. Gouttorde mengakhiri kalimatnya dengan dingin. Membuang waktu, Para Pembaca? Apa kata para panitia MOR yang sudah bersusah payah mendirikan acara ini, dan malah dibilangi ‘membuang waktu’?

“Lumayan. Dengan sedikit kekacauan pada awalnya. Padahal aku mau membuat kekacauan yang lebih seru But, after all, seru dan lancar sih, menurutku.”

Itulah pengakuan dari Mayuri Carrera, junior berambut pirang kelas satu Ravenclaw, ketika ditanya apakah-menurutnya-acara-MOR-ini-berjalan-lancar-atau-tidak. Oh ya! Jangan lewatkan pengakuan dari Miss Mielonen yang enerjik ini tentang bagaimana sikap para junior cilik itu. Miss Mielonen berkata bahwa tindakan juniornya agak sedikit keterlaluan dan bahkan bersikap tidak sopan. Penulis memang sempat menangkap adegan tak senonoh yang dilakukan Mr. Angin dengan memeluk erat-erat Miss Mielonen. Awaww, ada apa di balik semua ini? Mungkinkah cinta bersemi melalui MOR? Lalu bagaimana dengan Mr. Hazzlenutts yang digosipkan dengan Miss Mielonen? Mari kita kembali ke topik.

Maria Antoinatte Roslane, salah satu panitia MOR, berkata bahwa ia sangat bangga pada junior-junior ciliknya itu. Dengan murah senyum ia berbaik hati mengatakan bahwa mereka semua mempunyai talenta masing-masing dan semua yang dipilih oleh Topi Seleksi adalah yang terbaik. How sweet! Oh ya. Dan.. bagaimana tentang peranan Angela Garmouth yang melekat pada dirinya –Miss Roslane? Roslane mengakui bahwa peranannya sebagai Angela Garmouth itu tidaklah mudah. Wow, memang sih. Siapa yang tahan dengan tubuh yang dipakaikan berbagai macam trik untuk menakuti junior-junior cilik itu? Atau.. mungkin Miss Roslane takut ia akan ketahuan oleh Zeev tengah berdandan sebagai Hantu Kepala Buntung?

Berkesan, tentu saja. Acara MOR ini begitu berkesan dan pastinya membekas di ingatan para junior. Meskipun Mr. Gouttorde masih saja mempermasalahkan ‘bosan’ dan ‘diikuti Gossip Ghost’. Mungkinkah Mr. Gouttorde menyimpan perasaan kepada Gossip Ghost –yang diperankan oleh Ketua Hogwarts Tattler Club kita tercinta, Marietta Skeeter—setelah acara ini berakhir? Lupakan. Tak hanya Gouttorde yang berkomentar. Mr. Angin ikut angkat bicara dan mengatakan ia terus-menerus ‘dizhalimi’. Apakah tahun depan MOR akan diadakan lagi? Nantikan liputan Tattler selanjutnya. Ravenclaw, Eksis dan Seksi!

[size=5] CICI KELINCI: A Tribute To Godric Gryffindor[/size]
[size=4]Panggung Sandiwara, Panggung Penuh Cinta[/size]


Satu lagi yang unik dan kreatif, datang dari para singa, Gryffindor. Berbeda dengan asrama lain, bukan orientasi, ziarah, ataupun patah-mematahkan tongkat, melainkan sebuah operet drama sebagai penyambutan murid baru. Namun ada yang beda. Apa itu? Acara itu dibuat, bertepatan dengan Gryffindor's Day. Yeah, hari yang diyakini sebagai hari lahir ulang tahun Godric Gryffindor yang tidak lain, tidak bukan adalah pendiri asrama Gryffindor sendiri. Jadi tidak ada salahnya merayakan hari ulang tahun Founder mereka bukan?

Penasaran operet apa yang kan dipentaskan, eh? Cici Kelinci. Yeah, itulah yang akan dipentaskan. Sebuah dongeng pengantar tidur kuno, yang populer pada tahun-tahun kebelakang. Disinggung tentang pemilihan cici kelinci sebagai acara perayaan hari ulang tahun Godric Gryffindor, salah satu warga singa, Vionna McKenzie, menjawab dengan mimik seriusnya, demikian kami kutip.

“Yeah, karena Cici kelinci, kental akan pesan moral yang terkandung dalam ceritanya.”

Pesan moral. Well, memang banyak tersirat amanat-amanat didalamnya. Dan kau tahu apa isi ceritanya, bukan? Kurang lebih, menceritakan tentang seorang raja yang amat ingin mengusai ilmu sihir. Karena kebodohannya, sang raja akhirnya ditipu oleh seorang pemuda yang mengaku menguasai ilmu sihir. Penulis yakin para Pembaca pasti amat lekat dengan dongeng ini. Kalau tidak, Penulis berani bertaruh masa kecil Anda pasti tidak bahagia.

Penyelenggaraannya Cici kelinci: A Tribute to Godric Gryffindor sendiri, melewati beberapa tahap. Tahap pertama yang telah dilakukan adalah babak pencalonan. Yeah, pencalonan untuk mengisi peran-peran dalam cerita itu untuk dipentaskan. Ada pun peran-peran itu adalah:

1. Raja
2. Si Pembohong
3. Pohon
4. Anjing
5. Penyihir yang menjadi kelinci
6. Rakyat
7. Pengawal
8. dan seterusnya.


Pengerjaannya sendiri, tampaknya telah dipersiapkan dengan perencanaan matang. Bahkan sampai tempat pun mengandung banyak arti didalamnya. Well, tempat saat babak pencalonan diri (yang lebih mirip pesta barbeque, dan memang iya), yaitu di Dedalu Perkasa. Kenapa, eh? Karena menurut para singa, Dedalu Perkasa yang kokoh walaupun ditengah badai salju, seperti penggambaran Gryffindor yang pantang menyerah dan tentu saja, seperti sosok ksatria Godric Gryffindor yang pemberani.

Tampaknya antusiasme para warga Gryffindor, cukup besar. Hal itu terlihat dari banyaknya yang mendaftar, untuk turut serta dalam operet Cici Kelinci ini, terlebih dari murid tahun pertama. Yeah, acara ini selain ditujukan untuk merayakan hari ulang tahun Godric Gryffindor yang agung, juga didedikasikan untuk meyambut para murid baru dan mempererat tali kebersamaan dan persaudaraan antar warga singa, tanpa mengenal perbedaan tingkatan kelas. Selain didukung sepenuhnya oleh Profesor McGonagall—selaku Kepala Asrama, acara ini juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kreasi dan kreatif para singa dalam mengeksplorasi peran yang mereka bawakan. Amat positif bukan?

Sayangnya, Penulis tak lagi mendengar bagaimana kelanjutan operet yang harusnya bisa menjadi sebuah pertunjukkan hebat ini. Baru memasuki babak Audisi dan semuanya bagai ditelan tembok. Semoga saja operet ini bisa benar-benar dilaksanakan pada tahun yang akan datang. You could be more than just amazing, Gryffindor!

[size=5]UNTITLED CELEBRATION[/size]
[size=4]Arena Perpecahan Mendesis[/size]


Setiap asrama mempunyai acara tersendiri demi menyambut junior-junior mereka yang baru memasuki Hogwarts. Tidak untuk Slytherin. Mengapa demikian? Kalau para pembaca teliti, memang sudah kodratnya bagi penghuni asrama Slytherin untuk bersikap kaku pada ‘teman-teman’ se-asrama mereka. Kaku, mementingkan diri sendiri, egois, dan berbagai sifat negatif lainnya hampir dimiliki oleh semua penghuni Slytherin. Hampir (atau memang) tidak ada kata ‘persahabatan’ di dalam diri mereka. Jangan heran kalau para senior Slytherin bersikap cuek bebek terhadap junior-junior mereka yang baru memasuki Hogwarts tercinta. Wajah-wajah senior yang kaku bak papan cucian seolah-olah mengatakan ‘Jangan-pernah-masuk-Slytherin-kalau-kau-tak-tahan-banting’ kepada junior mereka. Dan itu berarti.. tidak ada perayaan khusus menyambut adik-adik baru di Slytherin. ‘Silahkan rayakan sendiri’ seolah-olah itulah jawaban yang tepat.

Pernah melihat para ular dari Slytherin berkumpul? Para pembaca yang budiman pasti menjawab ‘tidak’ atau ‘jarang’, tentu saja. Orang-orang yang tidak pernah saling akur tidak akan sudi berkumpul bersama. Tapi ada suatu kejadian yang bisa digolongkan fenomenal. Para Ular sempat berkumpul di Lapangan Quidditch. Untuk apa? Merayakan kemenangan mereka di pertandingan Quidditch tempo hari? Penulis kira tidak (pastinya Anda juga) mengingat bahwa Slytherin tidak pernah merayakannya walaupun sudah berkali-kali menang. Penulis ada di tempat itu, Penulis menjadi saksi dan jangan salahkan kalau Penulis membeberkan semua kejadiannya dengan terpeinci. Anggota Tim Quidditch Slytherin tadinya sedang berlatih di Lapangan Quidditch—awaww, silakan teriakkan nama Zeev!—dengan kapten mereka tentunya. Mereka berlatih seperti biasa, terbang memutari lapangan, memukul Bludger, menangkap Snitch, membuat gol di ketiga gawang, dan berbagai kegiatan lain yang menguras keringat. Alangkah rajinnya anggota Quidditch Slytherin berlatih, padahal baru tiga hari yang lalu mereka menang melawan Ravenclaw.

Dan apa yang terjadi? Tidak bisa dibayangkan anak-anak penghuni asrama Slytherin datang berbondong-bondong ke tribun Lapangan Quidditch hanya demi menonton latihan yang jarang sekali diadakan. Lalu latihan pun selesai. Semua anggota Quidditch Slytherin turun dari sapu mereka dan mendekati para siswa yang menonton. Kejadian yang bisa digolongkan keterlaluan itu pun terjadi. Korbannya adalah Jessica Shoemaker, Chaser tim Slytherin dan Shezna Greyhaunt. Entah siapa yang memulai duluan, kedua Muggleborn malang itu tergantung terbalik konyol di udara.

Sekali lagi ditekankan, Penulis menyaksikannya sendiri di Lapangan Quidditch yang cukup besar itu. Slytherin? Masih ada Muggleborn di Asrama Slytherin? Tentu saja Muggleborn di Slytherin akan menjadi sasaran penyiksaan anak-anak Slytherin yang sebagian besar menyandang status Darah-Murni. Penulis jelas melihat ada yang menaruh iba dengan kedua Muggle-Born yang tergantung terbalik di udara itu, namun banyak yang justru memasang raut wajah puas melihatnya. Hal ini membuat penghuni asrama berlambang ular yang berada di lapangan itu saling mendesis (bertengkar, red) satu sama lain. Merasa kasihan melihat dua Muggleborn itu? Apakah itu tidak aneh di Slytherin?

Seperti Recha McFadden, terlihat semangat sekali membela mereka. Memohon kepada Regulus Black untuk menurunkan Miss Shoemaker dan Miss Greyhaunt. Apakah ada sesuatu di balik status darah Miss McFadden ini? Keluarga McFadden yang terhormat, keluarga yang menyandang status Darah-Murni tentu saja. Tetapi apakah bisa dibuktikan dengan perilakunya yang janggal di Lapangan Quidditch? Who knows.. just Recha McFadden. Dan—tentu saja sikap pembelaan yang dilakukan McFadden ini agak mendapat tentangan dari beberapa ular disana. Bianca Zabini, Prefek dengan dandanan yang terlalu mencolok, yang harusnya menjaga keharmonisan di asrama Slytherin, malah semangat membenarkan apa yang Black lakukan terhadap dua Muggle-Born malang tersebut.

Tapi hal yang sangat diluar dugaan terjadi. Severus Snape, anak Slytherin kelas 5 yang berhidung bengkok dengan tirai rambut minyak membingkai wajahnya—diduga menggemari Sirius Black, datang tiba-tiba dan menyelamatkan Shoemaker, serta Greyhaunt. Kaki menjejak tanah dan kepala kembali pada tempatnya. Wow, Severus Snape memang penyelamat! Kalian semua pantas mengidolakannya. Well, singkirkan dulu tentang ‘Sevvy’ ini. Yang jelas Shoemaker dan Greyhaunt patut memberi ucapan terima kasih yang manis pada dia. Memberi seikat bunga, mungkin?

Perpecahan di antara para ular? Kalimat yang sangat cocok disandingkan karena memang itu yang terjadi selanjutnya. Kilatan mantra mulai bermunculan di sana-sini. Di Lapangan Quidditch. Saling memantrai ‘teman’ sendiri. Ini heboh sekali, Pembaca. Anak lelaki berinisial KDP-lah yang memicu terjadinya perang mantra itu. Mungkinkah KDP geram karena tak melihat seseorang dengan inisial JL di Lapangan Quidditch (berita lengkap mengenai KDP dan JL bisa dibaca di Tattler edisi pertama)?

Dan bagaimana opini Anda mengenai insiden penyerangan dua gadis belia Muggle-Born ini? Pantaskah disebut ‘Acara Penyambutan Anak Kelas Satu’? “Apa Anda melihat anak-anak kelas satu berduyun-duyun memasuki lapangan?” tanya Mr. Pavarell balik ketika Penulis mencoba mengkonfirmasi hal itu. Dan kenyataannya memang benar apa yang dikatakan oleh Mr. Perfect Pavarell ini. Hanya satu-dua orang junior kelas satu yang datang ketika insiden itu. Mana bisa kejadian mengerikan ini disebut acara penyambutan! Masih dengan sumber wawancara, Mr. Perfect-Just-Perfect Pavarell, dia mengatakan bahwa mereka tadinya hanya latihan seperti biasa. Yeah, latihan yang membawa bencana bagi orang-orang. Okay, mungkin Slytherin memang mempunyai cara sendiri untuk menunjukkan taring mereka kepada junior-juniornya. Tidak melalui semboyan ‘kekompakkan’ atau itulah yang mereka sebut dengan kompak. Everybody has their own style, anyway.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Marietta Skeeter
Member Avatar

[size=14]Meniti Jejak Nada : Symphony Soneta si Penyanyi Merdu yang membuat Sumbang Hogwarts[/size]
Oleh: Putra dan Stanley


Hogwarts School of Withcraft and Wizardy 1975. Selamat datang kepada seluruh siswa baru di sekolah sihir Hogwarts dimana kalian akan masuk di empat asrama berbeda dan menjalani kehidupan sebagai calon penyihir hebat. Setiap tahunnya banyak kejadian yang terjadi di sekolah ini dan dianggap menganggu kredibilitas Hogwarts. Tetapi, kejadian demi kejadian itu tidak menyurutkan para penuntut ilmu baru untuk belajar disini. Dengan motivasi yang berbeda mereka belajar memutar tongkat dan merapal mantera disini.

Selama tiga tahun terakhir ini, salah satu kejadian yang paling sering terjadi adalah pergantian profesor Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Beberapa anak menganggap bahwa hal ini merupakan salah satu tradisi di tempat ini sementara beberapa staff Hogwarts menganggap peremajaan staff (mengganti guru.red) adalah salah satu metode yang digunakan Dumbledore untuk penyegaran sekolah.

Setiap tahunnya, tempat ini kedatangan seorang Profesor yang tergolong unik. Terhitung tiga tahun silam, Profesor Frank Buster yang kabarnya telah menghamili Profesor Sinistra dan sekarang dia telah menjadi seorang Auror. Penggantinya adalah Profesor Madeline Simms pada tahun ajaran 1973-1974. Dikabarkan, Profesor tersebut telah berada di St. Mungo setelah sebelumnya berada di Penjara Azkaban. Yang terakhir ini adalah Profesor dari Negeri Timur, Long Hei Mi yang diberitakan telah berada di suatu negeri dan belum memberikan kabarnya. Sekarang, profesor-profesor tersebut telah keluar dan digantikan oleh seorang profesor baru.

Do~re~mi~fa~sol~la~si~do~kucinta ular yang melingkar, semua penghuni Hogwarts tentu saja sering mendengar suara nyaring tinggi itu. Terutama ketika berada di lantai dua dan melintas di kelas PTIH. Ya, suara itu adalah milik Profesor Symphony Soneta sang pengajar PTIH yang baru. Pita suaranya menggelegar dan membuat bumi gonjang-ganjing dan angkasa sempoyongan. Siapakah Profesor ini sebenarnya?

Symphony Melody Soneta, nama lengkapnya. Sesuai dengan namanya, kata-kata dengan alunan nada sering terucap olehnya. Merupakan lulusan Hogwarts puluhan tahun yang lalu dan berasrama di Slytherin. Memakan kencur dan meminum air jeruk nipis merupakan salah satu kegemarannya dan tidak jarang Profesor sering terlihat mengigit kencur ketika sedang mengajar. Di samping kegiatannya mengajar, Profesor secara tidak langsung mengajarkan nyanyian-nyanyian secantik suara Veela ketika di kelas.

Menyangkut asrama favorit, hampir setiap Profesor di Hogwarts tidak memiliki asrama favorit kecuali Kepala Asrama tentu saja. Lain halnya dengan Profesor Soneta. Lajang kelahiran 17 Agustus 1945 ini justru sangat terlihat memihak salah satu asrama. Hal inilah yang menimbulkan kontroversi diantara tiap asrama. Penilaian berat sebelah oleh Profesor menyebabkan stabilitas Hogwarts terguncang. Sering sekali murid-murid Hogwarts beradu argumen di dalam forum khusus siswa disini. ‘Hogwarts Bersatu’ sebuah forum berisi perwakilan siswa-siswa terhebat tiap asrama, berkumpul dan membahasa mengenai eksistensi Profesor yang terlihat mulai mengancam keruntuhan antar asrama yang sebenarnya sudah hancur.

Berikut hasil wawancara dengan empat perwakilan tiap asrama dalam forum ‘Hogwarts Bersatu’ ketika mereka mengadakan pertemuan besar di lantai tujuh :

”Ini tidak bisa dibiarkan, dia (Profesor Soneta.red) harus segera dikeluarkan dari tempat ini. Semua siswa harus mengambil langkah yang berani untuk menyatakan ini kepada Profesor Dumbledore.”
(Ketua Perwakilan Gryffindor)

”Tidak ada masalah untuk saya. Karena jika setiap orang menganggap buruk orang lain maka yang berpikiran buruk itulah yang salah. Semua masalah hadapilah dengan senyuman.”
(Ketua Perwakilan Hufflepuff)

”Keluar atau tidaknya Profesor, kita harus mengambil langkah bijak agar hal ini tidak terjadi lagi.”
(Ketua Perwakilan Ravenclaw)

”Eh? Tidak ada masalah yang berat disini kurasa. Hanya kumpulan orang-orang sirik saja yang berkata seperti itu.”
(Ketua Perwakilan Slytherin)

Forum ‘Hogwarts Bersatu’ yang bertujuan untuk menyatukan tiap asrama bahkan harus bertengkar karena hal ini. Tidak dapat disangkal lagi jika Profesor telah merusak tatanan sosial Hogwarts dan menimbulkan kecemburuan sosial. Apakah yang akan dilakukan Dumbledore setelah ini? Apakah Dumbledore akan menganjurkan Profesor untuk mengikuti kontes ‘Penyihir Menyanyi Sedunia’ yang sebenarnya ditujukan untuk pria dan wanita berusia 18-27 tahun atau Profesor Dumbledore selaku kepala sekolah akan memberikan kebijakan untuk membuatnya menetap disini dan secara perlahan-lahan akan menghancurkan kehidupan Hogwarts dari dalam?




[size=14]Pubertas: Dilema Murid-Murid Beranjak Dewasa[/size]
Oleh: Reiflein dan Victoricallus


Seperti yang kita ketahui, umur manusia pastinya akan bertambah seiring berputarnya roda waktu yang takkan pernah berhenti. Manusia pun mulai menunjukkan perubahan-perubahan secara fisik dan emosional seiring kedewasaannya menjelang. Dalam kasus ini, Tattler mempersembahkan cerita dari anak-anak polos nan lugu yang perlahan menjadi remaja dan sudah mengenal asmara. Mari sebut saja masa peralihan itu dengan Masa Puber. Masa puber, kejadiannya tak diduga dan membuat semuanya serasa berubah. Ocehan-ocehan semasa kecil bisa hilang, yang dipikirkan malah soal asmara dan pertemanan yang begitu kental—nyaris melebihi seorang teman. Suara khas ketika masih merengek pun langsung digantikan oleh suara yang lebih berat dan lebih dewasa bagi laki-laki, dan yang lebih ringan kecil, dan agak menggoda dimiliki oleh kaum perempuan. Dan yang paling besar tentu saja terjadi pada perubahan fisik, terlebih wanita.

Boys Have Their Stories

Anda lelaki tulen? Berharap segera menjadi om-om? Tak ada salahnya menyimak artikel di bawah ini. Tattler dengan senang hati mengupas tuntas segala macam tanda-tanda puber pada remaja laki-laki. Tabu? Eit.. Eit.. Kata 'tabu' hanya untuk mereka yang berjiwa mesum. Renungkan artikel dari hasil wawancara eksklusif kami.

Puber: a soft windy day to a hard blizzard
Ungkapan di atas adalah analogi dari Mobrenette mengenai puber. Peralihan dari musim semi yang lembut ke musim salju berbadai. Lain halnya dengan Alaistair yang beranggapan puber adalah saat segalanya berubah. Sedangkan Winchester hanya mengartikan simple sekali: proses dimana kita bukan anak kecil lagi. MacManus mendefinisikan puber sebagai masa dimana seseorang beranjak menuju kedewasaan. Sementara Hazzelnuts malah membuat kami menjelaskan apa itu puber padanya.

Apakah puber itu menyenangkan? Apa yang menyenangkan dari proses puber itu sendiri, eh? Kebanyakan narasumber kami mengatakan puber cukup menyenangkan. Perasaan bebas. Perasaan menjadi remaja yang tak perlu diatur-atur orang tua lagi. Perasaan menjadi mandiri karena sudah tidak harus mengandalkan orang tua lagi. Perasaan sudah cukup 'okeh' untuk menggoda gadis sebelah rumah dan janda-janda kesepian. Yeah, seperti itulah.

Wawancara kami menjadi semakin menegangkan ketika masuk ke pembahasan mengenai mimpi basah. Anda menunggu-nunggu bagian ini? Tenang, here it is. Dari beberapa anak yang kami wawancarai, sayang sekali ada salah seorang yang tidak bisa kami korek pengalamannya. MacManus, bocah pirang dari Hufflepuff yang memenangkan polling Tattler (prince-charming. red) itu menuturkan bahwa ia tak tahu apa-apa soal mimpi basah. Boro-boro mengalaminya. Bahkan ia nyaris sudah lupa bagaimana persisnya.

Alaistair, remaja Gryffindor ini hanya mengungkapkan mimpinya dengan dua kata. Buram. Mengerikan. Kami maklum jika Anda meragukan apakah Alaistair benar-benar mimpi basah. Sebab narasumber lain kami mengatakan mimpinya menyenangkan. Kecuali, Mobrenette yang hanya mengatakan mungkin. Contoh lain, Winchester yang mengakui mimpinya menyenangkan. Hazzelnuts bahkan menuturkan pendapatnya bahwa semua orang akan merasa mimpi itu indah kecuali Oakenshield.

..Gadisku..

Cantik. Beraroma Chamomile. Itu yang diingat Mobrenette tentang gadis dalam mimpinya. Sementara deskripsi Hazzelnuts mengenai gadisnya adalah, "Rambutnya tidak emas, tapi tetap keriting! Rambutnya tak jauh berbeda dengan Au..." Sayang sekali Hazzelnuts menghentikan ucapannya disaat ia nyaris menyebut satu nama. Cerita lengkap justru kami dapatkan dari Winchester. Percaya atau tidak, Winchester mengutarakan mimpinya begitu detil. (Terlalu rinci sampai-sampai jika kami mempublikasikannya di Tattler, maka klub ini bisa dibekukan.)

...Panic at the bedroom...

Kepanikan di pagi hari? Mungkin. Remaja lelaki Hogwarts yang polos dan lugu tentu saja akan merasa aneh saat terbangun di pagi hari dan menemukan ada yang lain: sesuatu yang lembab di sekitar daerah You-Know-Where. Mobrenette dengan jujur mengatakan ia kaget saat bangun di pagi hari dengan rasa lelah. Saat kami mewawancarai Hazzelnuts pun ia mengaku panik serta kalut, dan mengibaratkannya seperti seekor tikus yang saat bangun bertemu dengan ular. Ah, Hazzelnuts sepertinya terlalu lebay (berlebihan.red) menghadapi mimpinya. Winchester mengakui ada sedikit rasa panik dan takut diketahui orang. Sementara Alaistair merasa kaget dan malu, bad feeling karena sesuatu yang aneh.

..Be a man..

Tak dapat dipungkiri, seorang anak lelaki nantinya akan menjadi seorang pria dewasa. Setelah perjuangan tanpa lelah mencari jati diri, akhirnya bocah-bocah ini nantinya akan tumbuh dewasa. Diawali dari perubahan fisik. Tubuh yang semakin tinggi. Adanya benjolan di leher yang bernama jakun. Rahang yang semakin kokoh. Dada semakin bidang dan berubah menjadi gagah. Suara menjadi berat. Kemudian emosi pun berubah. Emosi berubah menjadi tidak stabil dan akhirnya stabil kembali saat dewasa kelak. Perasaan tertarik kepada lawan jenis mulai tumbuh. Bunga asmara bertebaran di seantero Hogwarts. Seperti yang diungkapkan para narasumber kami. MacManus dan Winchester mengakui adanya gadis yang menarik hati pada mereka. Sedangkan Alaistair menjawab dengan ketus seperti menyembunyikan sesuatu.

Menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah. Menakutkan? Sebagian narasumber kami menyinggung masalah tanggung jawab dan pikiran dewasa untuk menjawab pertanyaan mengenai sulitnya menjadi dewasa. Terlepas dari bayangan Hazzelnuts akan otot kekar dan badan gagah saat dewasa, menjadi dewasa memang tak selalu mudah. MacManus pun mengakui kadang kala ia tak ingin menjadi dewasa. Tetapi kemudian dengan bijak, ia mengutip kata dalam buku Zen For Your LIfe, "Janganlah takut akan sebuah proses, tetapi jalani proses sebagai bagian dari kehidupan." Kutipan yang sungguh bijak. Di tengah harapan MacManus untuk memiliki pasokan rasa percaya diri, ternyata MacManus memiliki falsafah hidup yang begitu bijak.

Apakah MacManus dapat meraih impiannya? Apakah Winchester bisa memikat hati gadisnya? Apakah Alaistair benar-benar mimpi basah? Apakah Hazzelnuts benar-benar akan mendapatkan otot kekar yang diidamkannya? Dan apakah surat bertuliskan Nona, jika sampai citraku hancur setelah wawancara ini, kupastikan Marietta Skeeter memecatmu. ASM. adalah dari Mobrenette? Kita tunggu saja kelanjutannya.

The Girls and The ‘Red’ One

Kaum perempuan yang beranjak dewasa memiliki perubahan yang lebih mencolok dibanding kaum lelaki. Masa pubertas perempuan terjadi lebih awal dibanding pubertas kaum lelaki, yaitu pada umur 10 sampai 14 tahun. Beberapa bagian di tubuh kaum perempuan mengalami perubahan yang besar-besaran. Mulai dari dada, pinggul, dan juga bokong. Semuanya tumbuh dengan cepat, bahkan tinggi mereka cenderung lebih meningkat daripada tinggi anak-anak lelaki. Mungkin hal inilah yang dapat menjawab pertanyaan mengapa emosi wanita lebih sering tak teratur daripada pria, apalagi saat sedang ‘Datang-Bulan’ (Menstruasi, red).

Ternyata fenomena ini juga terjadi di balik dinding Kastil Hogwarts. Seberapa hebat ilmu pengobatan dan penyembuh yang dimiliki St. Mungo, tetap saja fenomena seperti Menstruasi tak bisa diselesaikan begitu saja. Menstruasi adalah salah satu gejala puber yang dialami oleh wanita. Gejala ini sudah mulai dijumpai saat seorang gadis berusia 11-14 tahun, tergantung pada keadaan hormon yang berada pada tubuhnya. Menstruasi biasanya dialami kaum perempuan pada setiap bulan, dalam jangka waktu tertentu, sering juga disebut dengan istilah Datang-Bulan. Hampir mirip dengan gejala pada Werewolf. Hanya saja pada Werewolf hanya terjadi pada satu malam saja sementara tubuh penderita dipenuhi oleh bulu. Sementara bedanya pada wanita, Menstruasi terjadi sekitar dua minggu (tak jelas di saat bulan purnama atau tidak), dan bagian yang menderita hanya pada bagian vital saja, tidak di semua tubuh seperti Werewolf.

Gejala transformasi pada Werewolf dan Menstruasi pada kaum perempuan tak jauh berbeda. Pada Werewolf, penderita menjadi tak terkendali sehingga mereka menjadi ganas dan buas. Dan hal ini juga dialami oleh wanita yang mengalami Menstruasi. Perilaku mereka berubah seratus delapan puluh derajat dari jati diri mereka sendiri. Sementara yang lain seperti tak bisa mengontrol emosi yang ada pada diri mereka. Cewek baik dan ramah akan menjadi sangat jutek dan menyebalkan. Cewek pendiam akan menjadi jahil dan tukang buat onar. Bahkan, cewek bodoh akan dibuat pintar karenanya. Semuanya menjadi terbalik dan berbeda. Benar-benar proses alamiah dan sama sekali tak memerlukan campur tangan ilmu sihir yang hebat untuk mengalaminya.

Tak perlu diungkapkan lagi, hal itu pula yang terjadi pada siswi-siswi Hogwarts. Semuanya, tentu saja bagi yang sudah cukup umur untuk mengalami fase tersebut. Semuanya normal dan memang sudah seharusnya terjadi. Simak pengakuan dari beberapa orang siswi Hogwarts mengenai gejala ini.

“Errrr, biasa aja. Cuma suka capek dan emosi gampang naik.” (Evenstar, Gryffindor Tahun Keempat)

”Kau tau, waktu itu aku baru bangun. Kukira aku kena semacam diare sampai aku berteriak histeris, karena kukira ini semacam penyakit mematikan. Untung Senior Waldzend memberitahuku kalau itu semacam kewajaran bagi perempuan.” (Ziegmowit, Gryffindor Tahun Ketiga)

Nampaknya pengakuan dari kedua koresponden tersebut cukup membuktikan kalau Menstruasi adalah hal yang cukup wajar bagi siswi Hogwarts. Bahkan Miss. Volans masih merasa canggung untuk membicarakannya. “Normal. Aku kira mereka sudah dalam kondisi yangg normal untuk mengalami menstruasi.” Bahkan Madam Rolanda Hooch yang terkenal amat keras (dan jantan) pun ikut angkat bicara dan merasa hal itu normal-normal saja. Ia bahkan mengatakan dengan tegas kalau ia juga mengalami hal itu. Tentu saja, bagaimanapun Rolanda Hooch tetaplah seorang Madam. Seorang perempuan, maksud Penulis.

Simak penuturan bijak Madam Pomfrey berikut ini. Anda bisa menjadikannya masukan utama ketika sedang Menstruasi.

“Menstruasi itu normal. Termasuk rasa nyeri yang dialami. Ramuan apapun tak bisa mencegah kasus alami itu. Tentu saja, kita Cuma bisa meminimalisirnya saja. Meminum ramuan pereda rasa nyeri, atau Ramuan Penyeimbang Darah. Kau tak akan terlalu banyak mengeluarkan darah saat mengalaminya jika meminum ramuan tersebut,” ucap Madam Pomfrey di sela-sela aktivitasnya sebagai Matron Hospital Wings.

Nah, sebenarnya bagaimana dengan perasaan dan gejala ketika mengalami Menstruasi? Sebagai seorang lelaki, Penulis tentu tak tahu bagaimana rasanya. Dari hasil yang Penulis dapatkan, ketika seorang wanita mengalami masa Menstruasi, ia akan merasa nyeri pada bagian pinggang, dada, dan tentu saja di bagian kewanitaanya. Semua hal itu normal, dan seperti yang diungkapkan Madam Pomfrey, gejalanya bisa diminimalisir. Sebelum memasuki masa-masa itu, para wanita biasanya juga sudah mulai merasakan efeknya, seperti mulai berjerawat. Dan tentu saja ketika seorang wanita mengalaminya, ada perasaan tak nyaman yang mereka rasakan.

“Agak nyeri dan lengket,” ucap Evenstar blak-blakan mengenai apa yang ia rasakan. Sebaliknya, Miss Shaula Khan berpendapat, “Umm, biasa aja. Tak ada keluhan, actually.” Ada yang salah dengan pernyataannya. Mungkin ia masih belum fasih atau bagaimana dalam berbahasa Inggris. Mari kita maklumi saja. Lain lagi dengan Miss Volans. “Bagian mana? Tak perlu dibahas…” dan Lyra Volans rupanya masih menganggap tabu hal seperti itu. Sungguh sangat tak dewasa.

Memang sudah kewajaran bagi siswi di Hogwarts jika sudah mengalami Menstruasi. Terlebih bagi yang sudah cukup umur. Paling tidak murid tahun kedua seharusnya sudah mulai merasakannya. Namun, Janette Blizzard sepertinya ketinggalan. Entah karena apa, gadis itu sama sekali belum mengalami Menstruasi. Tampaknya ada yang salah dengan dirinya sehingga belum mengalami suatu hal wajar seperti itu:

“Tidak tahu. Aku rasa ada yang salah dengan hormonku…. Malah aku sangat ingin merasakannya (Menstruasi.red). Tapi katanya rasanya menyakitkan sekali. Memangnya begitu ya? Aku jadi penasaran...” ucapnya dengan dahi yang berkerut. Menurut Blizzard, ia sangat ingin cepet-cepat mengalami datang bulan karena hal tersebut menghambatnya untuk menyatakan cintanya kepada lelaki yang ia sukai. Menstruasi memang menjadi salah satu standar apakah seorang wanita sudah dewasa atau belum.

Dan bagaimana keadaan psikis ketika ‘kau’ sedang mengalaminya…? Apakah ‘kau’ merasakan hal yang aneh pada dirimu sehingga melakukan kebiasaan-kebiasaan berbeda yang biasanya tidak kau lakukan ketika tidak sedang datang bulan. Ya, bagaimanapun hal tersebut sering dikaitkan ketika seseorang sedang datang bulan. Sekali lagi, berikut pernyataan beberapa narasumber yang saya wawancarai.

“Err.. marah-marah, bermuka masam, dan.... terlalu sering bolak-balik toilet..” (Ziegmowit, Gryffindor Tahun Ketiga)

“Hal ekstrim? Kurasa tak ada. Aku cukup tahu bagaimana harus bersikap.” (Volans, Slytherin Tahun Ketiga)

“Entah kenapa aku jadi suka baca buku dan bertingkah amat sopan dengan orang lain, fu..fu..fu..” (Flitchley, Slytherin Tahun Ketiga)

“Memanjat pohon. Karena butuh ketenangan, secara gampang emosi, jadi duduk di atas pohon dan terkena semilir angin memudahkan untuk menenangkan diri.” (Evenstar, Gryffindor Tahun Keempat)

“Menyiram bunga. Karena aku tidak suka tanaman, maka menyiram bunga mungkin hal ekstrim yang bisa aku lakukan.” (Madam Hooch, Staff Hogwarts)

“Tak terlalu memusingkannya sih.. Tapi paling enak kalau tidur bergelung.. dan aku jadi lebih tidak sabaran.” (Greyhaunt, Slytherin Tahun Keempat)

“Tiba-tiba aku ingin memukul seseorang, karena entah mengapa tiba-tiba emosiku jadi sulit terkontrol jika sedang mengalami masa ini.” (Khan, Ravenclaw Tahun Keempat)

Yah, begitulah. Menstruasi memang membawa perubahan psikis yang besar pada semua wanita. Seperti Flitchley yang sebaiknya terus mengalami Menstruasi agar ia bisa menjaga sikapnya atau Greyhaunt yang sepertinya salah mengartikan Menstruasi sebagai Hibernasi. Apapun gejalanya, mereka tetap mengalami sedikit perubahan pada diri mereka. Semua wanita akan mengalaminya, baik ia berasal dari negara mana saja. Dan akan sangat tak wajar jika Anda seorang wanita dan tak pernah mengalami yang namanya Menstruasi. Selamat datang Pubertas, selamat Datang-Bulan!




[size=14]"KUMPULKAN ESSAY KALIAN, SEKARANG, ATAU UNDER-TROLL!!!" [/size]
Oleh: Kurata Naoko


Pernah mendengar kalimat di atas dalam mimpi Anda? Dimana orang yang mengucapkan adalah pria atau wanita paruh baya, berkacamata, dan mengejar-ngejar Anda sambil melempar-lemparkan buku-buku tebal. Atau Anda benar-benar mengalaminya di dunia sadar? Kalau memang betul begitu, sadarkan diri Anda untuk cepat-cepat mengerjakan essay-nya, kerjakan saja cepat-cepat tidak perlu benar. Scratch that. Namun pernahkah terpikirkan di kepala Anda, apakah para pemberi essay—yang terkadang bersifat membunuh kebahagiaan—tidak pernah mengerjakan essay? Apakah mereka tiba-tiba muncul di dunia dengan wajah yang sama seperti sekarang, nangkring di kantornya, hidup berjuta-juta tahun secara abadi dengan kerutan abadi pula di wajahnya hanya untuk menyusun cara-cara memberi essay mematikan kepada murid-muridnya? Tidak pernahkah Anda berpikir bahwa mereka juga pernah merasakan mengerjakan essay dari guru mereka? Pernahkah, sekali lagi, Anda berkhayal bagaimana para pemberi essay ini dulu juga suka menghisap jempol dan bermain masak-masakan? Tidak? Beruntung sekali Anda membaca artikel ini.

Dalam kesempatan emas, langka, dan menggemaskan ini reporter persembahkan cerita-cerita di balik para pemberi essay—para profesor kita yang tercinta. Isi artikel ini adalah murni dari sumber-sumber langsung maupun tidak langsung. Sumber langsung tentu berasal dari profesor sendiri, yang sayangnya, yang berhasil reporter dapatkan hanya dari Profesor Albus Dumbledore yang sedang bersantai di kantornya, menikmati permen jeruk Muggle. Cerita-cerita lain berasal dari sumber tidak langsung, yang tidak mau disebut namanya satu per satu (karena mereka takut terkenal), namun dapat dipastikan aktual dan terpercaya, sebut saja para sumber ini Mereka-Yang-Namanya-Tidak-Mau-Disebut. Tanpa basa basi takut keburu basi, silakan gulir bola mata Anda ke bawah ini, menembusi waktu lampau, dan temui wajah-wajah profesor saat muda. DILARANG JATUH CINTA!


[size=5]Albus Dumbledore[/size]

Terlahir berdarah campuran dari rahim ibunda bernama Kendra Dumbledore musim panas bulan Agustus tahun 1881. Memiliki hobi khusus untuk berlama-lama di rahim ibundanya sampai harus dikeluarkan secara paksa demi membantu persalinan yang melelahkan bagi ibundanya. Melelahkan? Asal tahu saja, beliau meringkuk 9 bulan lebih 1 tahun dari yang seharusnya. Lebih lama dari katak mengerami telur ayam (baca : calon anak Basilisk). Namun tentu saja, bayi Dumbledore sehat walafiat tanpa cacat atau pun iler berlebihan. Menangis seperti bayi-bayi normal lainnya tanpa harus dicubit terlebih dahulu. Reporter mendapatkan fakta menarik lainnya mengenai kelahiran bayi Dumbledore ini, Dumbledore ternyata sudah memiliki kemampuan sihir semenjak masih dalam kandungan ibunya. Konon belajar sihir di dalam rahim, itu lah mengapa persalinannya sangat lama, lebih satu tahun. Sehingga sungguh dapat dimaklumi beliau sekarang menjadi penyihir yang sangat brillian dalam berbagai aspek.

Masa kecil menurutnya bukan masa yang menyenangkan. Di balik jenggot putih awan dan lebatnya ini tersimpan ingatan-ingatan yang mungkin tidak ingin beliau ingat-ingat lagi. Ayahnya, Percival Dumbledore, pernah merasakan suramnya penjara di tengah laut utara, Azkaban dan meninggal di penjara jahanam itu. Reporter tidak mengetahui penyebab mengapa ayah beliau dipenjarakan di tempat semengerikan itu, ketika reporter menanyakan lebih lanjut apa yang terjadi, beliau hanya berkata, “Biarlah menjadi rahasiaku, mau permen jeruk, Nona?” Reporter tentu menerima permen jeruk itu, yang memang enak meski agak kecut, mungkin rasa kecutnya dapat membantu dinding-dinding rongga pipi supaya tidak berkerut. Back to business. Di masa kecilnya, setiap hari ia bermain dengan Aberforth, adik laki-lakinya. Berebut mainan, berebut ayunan, bahkan beliau mengaku pernah memasukkan kotoran ke celana Aberforth saking kesalnya. Anak kecil memang lucu, Pembaca.

Menginjak umur sebelas tahun, beliau mendapatkan surat Hogwarts pertamanya dan diseleksi oleh Topi Seleksi yang sama seperti yang pernah kita pakai di tahun pertama. Si Topi Seleksi kumal yang suka mendendangkan lagu keren, mengabdikan seluruh hidupnya untuk membuat lagu sepanjang hidupnya. Dan coba bayangkan, bagi para pecinta Profesor Albus Dumbledore—memangnya siapa yang tidak?—kalian pernah memakai topi kumal yang sama dengannya! Kebetulan yang aneh bukan? Tinggal lihat saja siapa diantara kepala-kepala itu yang akan menjadi Kepala Sekolah selanjutnya, dan tentu, sehebat Profesor Albus Dumbledore. Back again, masa remajanya di Hogwarts sangat gemilang. Beliau merupakan salah satu murid paling brilian se-Hogwarts, mengharumkan nama baik asramanya—Gryffindor, dan menjadi prefek di tahun kelimanya. Namun tentu saja, di balik otak briliannya otak asmaranya juga jalan. Beliau mengaku pernah menyukai seorang gadis, yang lagi-lagi, “Biarlah menjadi rahasiaku, Nona.”

Tahun 1899, dimana beliau melaksanakan NEWT pertamanya, beliau mendapatkan sebuah pujian dari guru pengawas ujian Mantra dan Transfigurasinya, Griselda Marchbanks. Pujiannya ditujukan kepada bagaimana Dumbledore mengayunkan tongkatnya dan menciptakan sesuatu yang sebegitu menakjubkannya, yang tidak pernah dilihat oleh sang guru. Did things with a wand she'd never seen before. Reporter terpukau mendengar cerita ini, mengingat tahun depan reporter baru akan mengalami OWL-nya yang pertama. Doakan Reporter, Pembaca. Masa remaja Dumbledore akhirnya diakhiri menjadi kepala keluarga ketika ibunda meninggal, kenyataan yang tidak diinginkan semua orang. Beliau harus menjadi punggung tulang keluarga, menghidupi Aberforth, adiknya yang masih butuh suapan makanan (bukan disuapi—red). Mungkin hal inilah yang mengawali tekadnya untuk menjadi seorang guru transfigurasi di Hogwarts. Beliau memberikan surat lamaran kerja kepada Armando Dippet (Kepala Sekolah Hogwarts waktu itu, penasaran dengan wajahnya? Kunjungi kantor Profesor Dumbledore) pada tahun 1938. Beliau mengaku punya maksud terpendam mengapa ingin menjadi guru transfigurasi. Ketika reporter menanyakannya, jawabannya benar-benar copy-paste, “Biarlah menjadi rahasiaku, Nona.” Reporter sampai minta permen jeruk lagi, pembaca. Berikutnya, meski cerita kehidupannya penuh teka-teki, beliau mau membagikan masalah obsesinya yang belum kesampaian kepada reporter.

“Obsesi masa muda yang belum tercapai, menjaga keturunan penyihir muggle dari keturunan darah murni, agar terjadi penyamarataan status. Di umur sekarang, tentunya saya akan mengabdikan dirinya untuk Hogwarts. Sudah tugasnya sebagai kepala sekolah untuk menjaga kestabilan dan kualitas sekolah ini sampai akhir hayatnya.”

Sungguh mulia, sungguh mulia, pembaca. Dan inilah, reporter mendapatkan foto masa muda Profesor Dumbledore, kepala sekolah sejak 1942 yang sangat mulia, meski pernah memasukkan kotoran ke celana adiknya. Tanpa jenggot, reporter sampai kaget.

Posted Image

[size=5]Minerva McGonagall[/size]

Profesor Minerva McGonagall, meski animagus dengan wujud seekor kucing hitam betina, namun tentu saja beliau tidak lahir dari ibu berekor dan berkumis. Menghirup udara dunia persihiran tahun 1925, lahir normal tidak berbulu berlebihan. Menurut Mereka-Yang-Namanya-Tidak-Mau-Disebut, McGonagall adalah bayi yang kalem, bahkan saat baru lahir bibirnya mengatup begitu kuat sehingga harus dicubit terlebih dahulu agar menangis yang ternyata tidak mempan. Sang ayahanda akhirnya memamerkan kebolehannya dalam mengubah kursi goyang menjadi boneka harimau besar dengan lidah mencuat mengerika, bukannya menangis, bayi McGonagall malah tertawa terbahak-bahak dengan gerakan hiperaktif yang berlebihan. Jangan dibayangkan.

Masa kecilnya, layaknya anak perempuan yang suka bermain masak-masakan. Terkadang mematut-matut dirinya di cermin, menganggap dirinya bagaikan Tuan Puteri yang akan selalu awet muda tanpa cela. Terkadang mencoba memerahkan bibirnya dengan pemerah bibir dari buah-entah-apa-namanya-si-sumber-lupa, dan menciumi cerminnya sendiri, mengukur diameter bibirnya. Bereksperimen dengan bulu mata juga dilakukan beliau. Pernah beliau menebalkan bulu mata dengan semir sepatu. Tak perlu dibayangkan akibatnya.

Masa remaja adalah masa dimana beliau berubah selamanya. Mendapati dirinya tiba-tiba berjalan dengan empat kaki, berbulu hitam dan berkutu sadis-sadis, berekor, dan berkumis. Beliau menangis namun yang terdengar hanya suara mengeong layaknya Mrs. Norris hendak dibelai—bukan ditendang yang menjadi obsesi banyak anak-yang-suka-meramaikan-Hogwarts. Orang tua beliau sibuk sekali untuk mencoba menenangkan McGonagall kecil, namun sia-sia sehingga baru tiga hari kemudian beliau bisa tenang, dan kembali menjadi manusia. Mengherankan sekali anak sekecil itu sudah dapat menjadi animagus, reporter tidak menemukan catatan apa pun mengenai animagus, tidak dapat menyimpulkan kapan kekuatan animagus benar-benar dapat muncul. Jadi berhati-hati lah pembaca, siapa tahu setelah ini kalian berubah menjadi jembalang. Mereka hewan, kan?

Kembali ke McGonagall kecil yang beranjak remaja, terkenal dengan jerawatnya. Stres menghadapi status animaginya. Namun begitu beliau tetap brilian bahkan ketika tahun pertamanya di Hogwarts, asrama Gryffindor pada tahun 1936. Bahkan beliau, berkat orang tuanya, telah mempelajari cara mengendalikan diri terhadap keadaannya yang ajaib. Pernah suatu kali di kelas transfigurasi tahun 1940, tiba-tiba tangannya bercakar dan pipnya berkumis. Profesor Dumbledore, dimana sebagai guru transfigurasi baru, langsung menyelamatkannya dari kejadian tidak mengenakkan itu. Memberinya jampi-jampi khusus untuk ’menyembunyikan’ cakar dan kumisnya. Baru setelah itu Profesor Dumbledore memberinya pelajaran khusus bagaimana mengendalikan keadaannya. Namun begitu, tidak mengurangi rasa minder dalam diri McGonagall remaja. Rasa ngeri terhadap dirinya sendiri mulai berangsur-angsur hilang ketika seorang anak laki-laki (tidak perlu disebut namanya, pokoknya anak Ravenclaw, dagu runcing dengan senyum manis menurut sumber), tampak tertarik dengan keadaan animaginya. Menggoda McGonagall remaja untuk mempertunjukkan caranya berubah, dan bertepuk tangan. Mudah ditebak, McGonagall remaja langsung merasa tersanjung, dan tertarik dengan pemuda Ravenclaw itu, yang dua tahun lebih tua darinya. Saat itu rasa mindernya sirna, dan mulai berkutat dengan hobi masa kecilnya yang tertunda: eksperimen wajah. Kalau tidak percaya, silakan lihat gambar di bawah ini. Evolusi rambut yang menarik sekali.

Posted Image

Namun cinta, memang tidak ada habisnya baik sisi manis maupun buruknya. Si pemuda, begitu hengkang dari Hogwarts, langsung menikahi gadis Muggle dari Cekoslovakia yang ternyata tetangga si pemuda dari sejak bayi imut-imut. Merasa patah hati, beliau memberhentikan eksperimennya terhadap wajah karena tidak ada yang menarik lagi baginya setelah itu. Hasil NEWT-nya agak turun dibanding hasil NEWT pertamanya. Namun hal ini tidak membuat mata Profesor Dumbledore buta. Pada tahun 1956, dimana masa menganggur dahsyat bagi seorang McGonagall, tiba-tiba mendapat panggilan untuk menjadi seorang guru transfigurasi di Hogwarts. Profesor Dumbledore yang memintanya untuk menjadi salah satu staff. Bagaimana mau menolak? Rasa terima kasihnya yang besar terhadap Profesor Dumbledore membuatnya bersumpah akan menjadi guru transfigurasi terbaik sejagat dunia sihir. Bahkan beliau sampai tidak peduli keadaan rambutnya, yang terakhir dipotong bob bervolume, semenjak itu ia gulung ketat dengan topi kerucut manis di kepala.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana menurutmu wakil kepala sekolah kita yang satu ini? Guru transfigurasi yang baik, bukan? Kalau begitu beliau berhasil menjadi guru transfigurasi terbaik untuk kita, melepas semua eksperimen mudanya yang konyol, dan menjadi wanita tegar dan tegas meski pernah kehilangan satu sosok, yang amat diidamkan untuk menikahinya. Now if you a broken-heart-girls, are you dare with it?

[size=5]Pomona Sprout[/size]

Reporter hanya berhasil mengetahui sedikit sekali tanpa detail lebih jauh mengenai profesor ramah lingkungan ini. Beliau lahir pada pertengahan akhir musim semi, 15 Mei tepatnya—reporter tidak mendapatkan waktu tepatnya, namun tampaknya lebih muda dari Profesor McGonagall. Dikabarkan dari Mereka-Yang-Namanya-Tidak-Mau-Disebut, jelas Sprout bayi sama sekali tidak mirip dengan Mandrake seperti kebanyakan orang mengiranya begitu. Lahir dengan tubuh yang memang sudah gempal. Meski begitu, beliau termasuk anak kecil rewel yang sulit makan, sehingga umur 5 tahun malah menjadi kurus kering. Memiliki ketertarikan khusus dengan pupuk yang pernah dipakainya untuk menimpuki tetangga yang menyebalkan. Kecintaannya akan tanaman yang semakin menjadi membuatnya menolak memakan jenis-jenis sayuran, sehingga Sprout kecil menjadi semacam anak kecil karnivor, hanya memakan daging. Baru setelah bersekolah di sekolah dasar Muggle, dimana rambut pirangnyanya tidak bercahaya dan kulitnya pucat seperti dinding menjadi bahan olokan teman-teman satu sekolahnya. Meski badannya gempal akibat daging, namun gempal tidak sehat. Sangat payah dalam pelajaran olahraga dan berkali-kali diberi peringatan oleh wali kelasnya gara-gara kebiasaannya tidak membersihkan kuku. Hal ini berlanjut sampai umur 10 tahun, dimana makin mengenaskan karena warna kulitnya bebercak-bercak merah tidak sehat.

Umur 11 tahun, dimana beliau memulai statusnya menjadi murid Hogwarts asrama Hufflepuff, Sprout muda ditangani secara serius oleh kepala asramanya waktu itu. Mendapat banyak penceramahan bagaimana pentingnya sayur-sayuran untuk tubuh, dan entah tanpa sesuatu yang pasti, beliau jadi mulai memakan sayuran. Tentu saja dengan pertimbangan matang dan riset dari buku-bukunya. Beliau memilah-milah sayur mana yang paling efektif untuk tubuhnya, sehingga ia tidak perlu memakan terlalu banyak sayuran. Sekali lagi, ia merasa kasihan jika sayuran itu dimakan, just that’s it. Tidak ada sesuatu yang benar-benar spesial di masa Hogwarts-nya, kecuali pemeliharaan kuku yang sama saja tidak terawatnya, kemudian memotong pendek rambutnya. Percaya atau tidak, pada saat ujian NEWT, beliau bahkan mengerjakannya sambil memakai ikat kepala kuning. Sabar, reporter mempersiapkan gambarnya di akhir artikel profesor herbologi satu ini. Beliau mendapat nilai Outstanding untuk Herbologi, bahkan para guru sebenarnya sepakat untuk memberinya lebih dari Outstanding, namun bingung apa nama nilainya. Beliau meninggalkan Hogwarts pada akhir Juni dan kembali ke rumahnya yang berdampingan dengan para Muggle.

Saat ini beliau belum dipanggil untuk bekerja di Hogwarts, sehingga beliau menghabiskan waktunya menjadi pemeran opera sabun di sebuah perkumpulan teater Muggle. Sungguh, begitulah yang Mereka-Yang-Namanya-Tidak-Mau-Disebut katakan kepada reporter. Bahkan pernah tergabung dengan gank-motor di London, lagi-lagi mengenakan ikat kepala kuningnya dan bertato BUNGA MAWAR! Entah apa yang dilakukan beliau di gank-motor, sekedar bersenang-senang dan berkampanye tanaman mungkin. Reporter tidak dapat membayangkan jika beliau ikut balap motor. Dua tahun menjajaki karir sebagai pemain opera sabun dan iseng dengan gank-motor, barulah surat Hogwarts datang kepadanya, bahwa Hogwarts butuh pengajar herbologi. Maka berangkatlah beliau, dengan kukunya yang biasa, dengan rambut keriwil kol, dan menciptakan jubahnya sendiri yang dijalari tumbuhan. Eksentrik.

Posted Image
—> Gunakan matamu untuk menemukan tato bunga mawar di bahu kanannya <—

[size=5]Aurora Sinistra[/size]

Cantik, elegan, tatapan matanya menohok, dan menikah—karena kebanyakan profesor Hogwarts tidak menikah. Akui saja, bahkan murid-murid Hogwarts tahun ketujuh bersedia menyelinap ke kantornya hanya untuk memberikannya bunga Earwiggy, atau rumput disemprot parfum juga halal. Mereka-Yang-Namanya-Tidak-Mau-Disebut tidak dapat memberikan keterangan apa-apa, karena profesor yang satu ini tergolong masih muda. Jadi reporter berusaha meraba-raba kebenaran yang terkandung dalam umur profesor muda ini. Sebut saja langsung, menikah dengan Frank Buster, mantan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang terkenal dengan ocehannya yang membuat telingamu kebas pada tahun 1973. Menikah di padang rumput yang disulap menjadi mimbar pernikahan cantik, dengan gaun ekor panjang, rambut cokelat keemasan, sungguh menyihir pemuda-pemuda disana, sayang sekali itu adalah acara pernikahan. Hoho. Dikabarkan membuat Buster memendam cintanya sampai ujung langit, dan baru menyampaikannya tahun 1973, menjelang akhir musim semi. Ada yang mau menyampaikannya lagi? Ingat, Buster telah menjadi suaminya, dan dia tampan.

Bagi siapa saja yang lebih memilih tidak meringkuk di tempat tidur sambil memeluk bantal, pasti akan menemukan profesor muda ini di menara utara, menara astronomi di malam hari. Reporter pernah mendengar percakapan beberapa siswa laki-laki di meja asrama, bahwa pelajaran astronomi terkadang malah membuatnya melek semalaman, melek mata dengan hati terbuka. Reporter tidak mengada-ada, sungguh. Bahkan ada yang nyeletuk, ”Rasanya aku ingin bilang: lihat, ada bintang di langit...dan di matamu.” WOGH!!!! Profesor Sinistra Rock! Sekarang coba kita tilik dari ruangan kelasnya. Bersih, wanginya misterius, dan rapi. Dapat dipastikan semenjak kecil Profesor Sinistra bukanlah tipe anak perempuan yang suka melihat perubahan letak barang-barangnya secara tiba-tiba. Dan jelas beliau suka membereskan sendiri keperluannya, dengan kata lain, mandiri. Mungkin tidak suka dandan, apa yang mau didandani memangnya? Walau begitu kelihatan sekali ia memelihara dirinya dengan baik.

Belum diketahui secara pasti seperti apa masa kecilnya, yang jelas, reporter berhasil menemukan sebuah foto ajaib. Jangan tanya dimana dan bagaimana reporter mendapatkannya. Melihat foto ini, reporter menduga keras bahwa Profesor Sinistra dulunya adalah—seorang akrobat.

Posted Image

Pose yang bagus bukan? Ada yang naksir sepatu pink-nya? Well, mari bicarakan Frank Buster, suaminya. Kalau ditilik-tilik lagi, mungkin nama Profesor Sinistra harusnya menjadi Profesor Aurora Buster. Siapa pun yang menghadiri pernikahan mereka berdua pasti menanti dan mempertanyakan sesuatu: kapan mereka punya momongan? Sudah hampir genap dua tahun pernikahan mereka, doakan saja mereka punya momongan secepat mungkin, siapa tahu nanti ada acara makan-makan satu kastil. Nah, akhirnya. Ini lah foto yang ditunggu-tunggu. Foto ketika beliau belum menikah, dan sesudah menikah (tolong diperhatikan tanda panah, beliau punya jerawat besar setelah menikah). Akankah anaknya nanti cantik mempesona seperti Profesor Sinistra? Atau anaknya menjadi seperti Frank Buster, tampan dan luar biasa punya banyak lelucon yang sulit dimengerti, dan sulit ditertawakan.

Posted Image

[size=5]Filius Flitwick[/size]

Bayi berjenggot, sebut saja begitu. Profesor kita yang satu ini memang lain daripada yang lain. Beliau masih keturunan goblin, entah itu dapat dikategorikan sebagai penyihir berdarah murni atau campuran. Sejak kecil diasuh goblin, dan sempat minder ketika mulai bersekolah di sekolah dasar Muggle. Beliau dipindahkan ke sekolah luar biasa bukan karena mentalnya yang cacat atau apa, malahan otaknya brillian, hanya saja beliau lebih merasa diterima di sekolah luar biasa Muggle itu. Tahun demi tahun berlalu dan beliau tidak kunjung tinggi juga, sempat kesal terhadap nasibnya yang keturunan goblin. Hal ini juga membuat dirinya tidak yakin menjadi salah satu murid di Hogwarts, suatu obsesinya sejak dapat menggunakan akal. Di benaknya, semua anak Hogwarts bak model, cantik, pintar, dan menawan hati. Yeah, kita semua tahu anggapan itu jelas salah. Kita tidak pernah belajar catwalk, kan? Pikiran paranoid beliau akhirny tertepis begitu saja ketika beliau mendapatkan surat pertamanya dari Hogwarts. Beliau bersorak dan melakukan loncatan paling tinggi yang bisa dijangkaunya—60 sentimeter. Beliau berangkat, tidak lagi mempedulikan mata-mata yang mengawasinya di King’s Cross. Bahkan di peron 9 ¾ banyak yang mengiranya Goblin yang kabur dari Gringotts.

Sejak remaja, setiap musim panas Flitwick muda suka berkuda. Yeah, ber-ku-da. Hobi berkudanya itu kandas saat beliau berumur lima belas tahun, merayakan ulang tahunnya dengan berkuda di sebuah peternakan Muggle di puncak bukit, sambil meniup lilin di atas kue muffin cokelatnya. Kecelakaan terjadi. Kepalanya terbentur begitu dahsyat, membuatnya harus dibawa ke rumah sakit Muggle terdekat. Beliau mengalami pendarahan hebat di kepala depannya sehingga para dokter Muggle harus memangkas semua rambutnya demi memudahkan penyelamatan. Awalnya Flitwick muda mengira dirinya akan mati, yeah, bahkan penyihir bisa mati akibat kecelakaan Muggle. Namun ternyata rambutnya yang mati. Semenjak itu rambutnya tidak pernah tumbuh lagi. Pitak selamanya.

Berhubung masih muda, hal ini sempat diolok-olok oleh teman seangkatannya dari asrama lain. Flitwick muda kembali mendapati kepercayaan dirinya luntur. Bahkan seorang anak jahat pernah melukis huruf merah besar-besar di bagian kepalanya yang botak dengan mantra. Bunyi tulisannya: PAPAN TULIS HIDUP. Semenjak itu banyak yang berlomba-lomba menulisi kepalanya dengan macam-macam tulisan, membuat beliau harus berlari tunggang langgang. Bahkan memanggil sapu untuk kabur dari kejaran anak-anak iseng. Worst Nightmare. Mimpi buruk itu berakhir saat ia mendapatkan nilai luar biasa di NEWT-nya, membuat yang lain tidak lagi memandangnya sebelah mata. Bahkan sejak umurnya 17 tahun, beliau sudah mendapat kontrak untuk bekerja di Hogwarts sebagai guru mantra. Tebak apa yang ditulis beliau untuk membalas surat perekrutan dari Hogwarts itu.

Boleh saya meminta tumpukan buku untuk berdiri di atasnya saat mengajar? Saya tidak mau kasat mata gara-gara terhalang meja.

Posted Image

[size=5]Rolanda Hooch[/size]

Ada dua fakta mengejutkan mengenai Madam Hooch yang reporter dapatkan dari Mereka-Yang-Namanya-Tidak-Mau-Disebut. Satu, koki hebat. Dua, ketagihan pakai korset saat muda. Semua makhluk Hogwarts juga tahu Madam Hooch adalah wanita paling macho di kastil—meski Profesor Sprout juga sangat macho saat bergabung di gank motor. Rambut cepak dicat putih (atau ini uban yang merajalela), lensa kontak berwarna kucing, jubah tebal rapi dan luar biasa keren, lipstik merah biasa, dan boot yang dapat membunuh apa pun yang diinjaknya. Tapi adakah yang bertanya mengapa beliau suka pakai hak tinggi? Madam Hooch jelas tidak pendek, bahkan Profesor Flitwick tidak kepikiran pakai hak. Begini pembaca, itu artinya Madam Hooch memiliki sisi feminim.

Sejak muda terkenal sebagai koki banyak tingkah. Melempar-lempar makanan dari penggorengan dengan mantap dan cekatan. Tidak pernah ada sejarah gosong di kisah masak-memasaknya. Bahkan pernah memutar-mutar sendok penggorengannya seperti hendak memukul Bludger. Aksinya memang dirasa tidak penting, namun toh hasilnya sungguh memuaskan. Kenapa belum ada yang meminangnya juga, ya? Kegemarannya memakai korset sungguh sangat tidak diduga-duga. Yeah, sejak muda sebenarnya. Beliau dahulunya remaja yang hidup dengan banyak peraturan keluarga. Rambut panjang digelung, memakai perhiasan rambut yang berat dan aneh, lipstik tipis yang menurut mitos dapat membuat wanita malah terlihat menawan, dan—gaun.

Satu-satunya yang beliau sukai dari semua peraturan itu adalah korset karena dapat memberi kesan langsing alami berapa pun umurnya. Menurut Mereka-Yang-Tidak-Mau-Disebut, di kopernya terdapat banyak korset. Bahkan ada yang bertuliskan Chudley Cannons yang bergerak-gerak. Dan ada korset bunga-bunga, polkadot macan tutul, dan berkantong-ritsleting di bagian perut. Diduga keras untuk mengantongi Snitch yang tidak sengaja ia dapatkan ketika menonton pertandingan di salah satu stadion Quidditch. Snitchnya melenceng dan dengan nafsu akan Quidditchnya yang tinggi, diam-diam beliau melompat dari kursi penonton dan menangkap Snicth. Kemudian beliau lari meninggalkan stadion. Dua hari berikutnya terdapat headline di koran lokal dengan tulisan: PERTANDINGAN DI STADION OLYMPUS, CARLISLE, MASIH BERLANGSUNG HINGGA KINI. Artikel tersebut mengatakan bahwa salah satu seeker tim sudah dua kali pingsan gara-gara kelelahan, seeker lainnya menderita lemah daya akomodasi mata.

Madam Hooch muda akhirnya mendapatkan surat pertamanya dari Hogwarts, dan untuk pertama kalinya lepas dari kegiatan dapurnya. Juga lepas dari segala peraturan keluarga, kecuali korset. Melakukan aksi terbang pertamanya dengan sapu Panah Perak—primadona sapu versi jaman dulu—yang konon katanya dipacu keras-keras olehnya sehingga kecepatannya menyamai Sapu Bersih versi sekarang. Mendapatkan posisi sebagai Chaser di tim asramanya, kemudian seiring berjalannya waktu dan kekuatan, berubah menjadi posisi Beater. Semenjak jadi tim selama empat tahun beliau sudah mencoba semua posisi. Meski hanya satu kali pertandingan beliau memegang seeker. Lulus dengan nilai cukup bagus di OWL dan NEWT-nya, beliau menawarkan diri untuk menjadi guru di kelas terbang. Namun hal itu bkan berarti membuatnya lupa daratan. Tersiar kabar semenjak jadi guru kelas terbang dan mempunyai hak-hak tertentu sebagai staff Hogwarts, beliau seringkali menyelinap subuh-subuh untuk memasak di dapur. Membantu para peri rumah lengkap dengan atraksi lempar-adonan-nya. Nah, jangan-jangan sampai sekarang beliau juga ikut andil dalam sarapan-sarapan kita semua di pagi hari.

Bicara tentang peraturan keluarganya, beliau hanya mempertahankan peraturan korsetnya saja—sampai sekarang, reporter berani bilang. Rambut panjangnya ia pangkas. Warna aslinya adalah hitam dan sejak di menjajaki tahun ketiga Hogwarts, beliau pangkas dan dicat cokelat -anah-basah dengan highlight pirang pucat. Entah saat itu beliau dapat tren itu darimana, atau hanya mengekspresikan diri seperti halnya Profesor McGonagall. Sejak menjabat sebagai staff, baru rambutnya ia cat putih. Okay, atau itu uban. Tidak ada berita dan fakta yang menjelaskan mengenai umur Madam Hooch, dan reporter tidak berani menebak-nebak karena Tattler hanya menulis yang pasti-pasti saja. Berikut evolusi Madam Hooch.

Posted Image

Demikian tirai-tirai masa lalu beberapa profesor yang sempat reporter singkap dengan bantuan Mereka-Yang-Namanya-Tidak-Mau-Disebut. Reporter harus bercerita sedikit karena ini merupakan fakta lain—bukan mengenai profesor. Reporter berpapasan dengan satu hantu Hogwarts, yang bercuap-cuap tentang penjaga sekolah kita, Argus Filch. Reporter kurang bisa mengungkapkan dengan kata-kata mengenai apa yang sudah reporter dapatkan dari hantu itu. Intinya, belum ada yang tahu secara pasti masa lalu Argus Filch ini, meski tampaknya hantu ini tahu tetapi tidak mau memberi tahu (hantu ini menyuruh reporter berjalan terbalik mengelilingi Hogwarts dulu baru ia akan memberi tahu. Reporter masih waras, dan tidak melakukannya demi kebaikan). Fakta satu lagi yang dapat reporter tangkap dari hantu ini melalui celetukannya. Fakta mengenai hubungan Mr Filch dengan kucingnya, Mrs Norris. Yeah, ini dia: silakan lihat foto di bawah.

Posted Image

Sekian dan terima kasih, salam kebenaran!
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Marietta Skeeter
Member Avatar

[size=14]IKLAN BARIS[/size]

Clara Fein Flitchley, menawarkan makeover gratis dan 'wah'. Tersedia berbagai kosmetik yang untuk menunjang makeover bagi gadis-gadis yang merasa diri kurang mempesona dan tidak percaya diri. Hubungi Flitchley segera di Asrama Bawah Tanah Slytherin. Dapatkan bonus brosur jurus ampuh untuk memikat cowok: TRIK PENARIK KUMBANG-KUMBANG JANTAN.

Hospital Wing, lantai satu tempat Madam Poppy Pomfrey bersemayam dan menganjurkan agar murid-murid menjaga kesehatan, jangan bermain dengan mantra, hewan buas, atau meneguk ramuan yang tak jelas. Segeralah ke Hospital Wing jika ada masalah. Ingat: Hanya menerima pasien manusia. Tidak menerima pasien hewan, terlebih kodok
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Hogwarts Tattler · Next Topic »
Add Reply


Skin orginally created by Tariq | Converted by Lewis of the ZetaBoard Theme Zone | Edited by Yusuke Sawada