Welcome Guest [Log In] [Register]


Pengumuman

WELCOME TO THE NEW VERSION OF INDOHOGWARTS



Nama karakter yang tidak/belum terdaftar dalam Daftar Visualisasi, tidak diluluskan pada Seleksi Asrama.



Wawancara dan pendaftaran siswa Auror dan Penyembuh sudah dibuka dan batas akhirnya adalah tanggal 18 November 2009





ICE; IndoHogwarts! 21—22 November 2009 di Parkir Timur Senayan. Lebih lanjut cek PENGUMUMAN



Indonesian Hogwarts Online Center :

House Point


Gryffindor has 425 points

Hufflepuff has 955 points

Ravenclaw has 535 points

Slytherin has 365 points
Selamat Datang di Indonesian Hogwarts, sebuah forum Role-Playing Games berbasis teks dengan menggunakan bahasa Indonesia, dan bersetting di Hogwarts!

Kalian akan berperan sebagai murid Hogwarts di sini, menghadiri kelas demi kelas dan membuat thread-thread seru untuk mengumpulkan poin bagi asrama kalian. Kalian juga dapat masuk ke dalam tim Quidditch asrama, mengikuti pertandingan, dan memenangkan piala Quidditch. Terdapat juga klub-klub yang menarik untuk diikuti, atau kalian bisa membuat klub sendiri.

PERHATIAN!! Registrasi member baru akan dibuka 20 Desember 2009, pukul 10.00 WIB. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan IndoHogwarts jika kami membuka pendaftaran member baru!


Jika Anda telah terdaftar sebagai member, silakan log in untuk mengakses forum:

Username:   Password:
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 3
Best Friend in The World; Semi closed.
Topic Started: Oct 4 2009, 02:54 AM (515 Views)
Bellevyn Snow
Member Avatar
Hufflepuff
Angin musim dingin berhembus kencang melambaikan ujung jubah musim dinginnya. Helai-helai rambut hitam indahnya pun melambai pelan bersama dengan napas alam. Bellevyn terduduk disana seorang diri. Dibawah pohon Maple di tepi danau. Sepasang safir beningnya memandangi riak air danau yang perlahan menepi dan akhirnya menghilang. Selama beberapa menit terus saja seperti itu yang dilakukan. Seperti lingkaran-lingkaran riak itu lebih menarik daripada butir-butir salju yang berjatuhan, daripada kegiatan sekumpulan anak-anak beberapa meter di sampingnya yang sedang membuat boneka salju bersama. Melamun menjadi kegiatan biasa bagi gadis berambut indah itu akhir-akhir ini. Boneka salju, teman baru, dan apapun itu jelas tidak lebih menarik daripada fakta itu. Fakta itu yang membawanya kesini. Fakta itu pula yang membuatnya melakukan semua kebodohan itu.

Dia terlihat merana dengan raut wajah tertekuk dan posisi duduknya yang sambil memeluk kedua kakinya. Bellevyn memeluknya erat-erat, takut kalau ia lepas, tubuhnya akan hancur berkeping-keping. Wajah ovalnya yang sempurna dibiarkan tertopang diatas lututnya. Tidak ada raut riang ataupun lengkung senyum ramahnya seperti biasa. Tidak, karena memang bukan saatnya. Hari itu agaknya sedikit terlalu sulit hanya untuk melengkungkan sebentuk senyum untuk dirinya sendiri di depan cermin. Gadis itu benci dirinya. Dia benci semua yang dimilikinya, semua yang membuatnya begitu egois dan naif. Dia pikir semua orang adalah teman, dia pikir dirinya cukup menyenangkan, dia pikir sosok itu bisa menjadi lebih dekat dengannya. Semuanya seputar spekulasi dangkal dari seorang gadis bangsawan yang sedang bermuram durja. Pathetic.

Dimana Sebastian?

Sosok itu belum juga muncul dari sisi manapun dan Bellevyn membiarkan dirinya tenggelam dalam lamunan sendunya. Sekilas teringat dengan suratnya yang dikirim untuk Sebastian pagi tadi juga surat balasan dari pemuda itu. Sepertinya sudah cukup lama mereka tidak berbicara bersama sebagai seorang teman baik. Kesempatan terakhir ketika mereka berada di ruang rekreasi dan menumpahkan tinta di atas bulu-bulu belang Mrs. Norris cukup menyenangkan. Ah, waktu-waktu yang dihabiskannya dengan pemuda itu memang selalu menyenangkan. Dia harap kedatangan teman Ravenclawnya itu akan memperbaiki perasaannya nanti. Dalam diam dia bertanya-tanya mengenai apa yang akan diceritakan pemuda itu seperti yang dijanjikannya di surat balasannya. Sore itu mereka akan saling bercerita. Bellevyn benar-benar membutuhkan pemuda itu untuk mendengarkan ceritanya, begitu pula gadis itu benar-benar ingin menjadi teman terbaik bagi si pemuda --bagi semua orang.

(OOC: Timeline minggu sore sekitar jam setengah 4. Status tret masih closed sebelum saya mengumumkan open.)
Offline Profile Goto Top
 
Sebastian C. Braden
Member Avatar
Ravenclaw
'Haa. There you are… '

Ada permukaan danau yang menghampar beku di depan sana. Terlampau luas, sejauh mata memandang. Sebastian menghentikan langkah. Diam mengamati sosok familiar tengah duduk menekuk lutut di bawah sebuah pohon Maple. Seperti sedang memeluk dingin. Bellevyn Snow. Jubah musim dinginnya melambai. Pun rambut hitam indahnya. Dan Sebastian tersenyum. Kepakan sayap Fray si burung hantu kelabu yang sejak tadi mengiringi langkah bocah laki-laki itu terdengar semakin menjauh, dari arah belakang. Kemudian sepi. Samar suara celotehan terdengar mirip desau angin. Timbul tenggelam. Entah berasal dari mana. Merapatkan jaket, ia melanjutkan langkah yang tadi tertunda. Sembari mengawasi dedaunan pada sebentang cabang-cabang pohon di sekeliling.

Perasaannya, biasa saja. Lumayan baik, kalau boleh jujur. Merasa tak ada masalah dengan kehidupannya di kastil. Dengan kesehatannya pun, tidak. Yeah. Paling-paling hanya sedikit sesak napas, dan gangguan rasa hangat di pipi selama beberapa menit. Itu juga hanya terjadi bila ia melihat, ataupun bertemu pandang dengan satu sosok yang diam-diam menyita perhatiannya belakangan ini. Seorang gadis, tentu saja. Yang teramat rupawan, dan terlihat begitu sempurna di matanya. Heh. Rasanya aneh sekali, kau tahu. Bagaimana ia hanya bisa menekan perasaan itu sendirian saja. Melihat, mengagumi dari jauh.

Baiklah. Perihal ‘memendam-sendiri’ itu sudah biasa bagi Sebastian.

"Sore, Bells. Menunggu lama? Kuharap tidak."

Ia sampai di tempat si gadis duduk memeluk lutut. Ikut duduk. Menyapa riang dan santai, seperti biasa.

Bellevyn melamun, eh. Tak biasanya. Lengkungan manis di bibir gadis kecil itu selalu menjadi kesukaan Sebastian. Hal yang selalu bocah itu rindukan dari sosok mungil Bellevyn. Menguap kemana senyuman hangat teman baiknya ini, hm? Ia merasa tak ada yang aneh dengan isi perkamen surat Bellevyn. Tak ada pesan tersurat yang menerakan suasana hati si gadis. Entah bila hanya tersirat, dan Sebastian tidak mampu menangkap pesan itu. Dua orang teman baik, lama tak jumpa, lalu saling berkirim pesan untuk kemudian berjanji bertemu. Tak ada yang aneh, ia rasa. Hanya fakta berwujud wajah sendu Bellevyn sore inilah yang mulai mengganggu pikirannya.

"Tadi pagi burung hantu yang kau pakai payah sekali, Bells. Asal kau tahu, dia menabrak kelambu tempat tidurku. Dan nyaris tergulung bersama kelambunya. Haha,"

Berusaha melucu. Ia mulai terkekeh. Biasanya Bellevyn akan tersenyum setelahnya. Biasanya. Atau, tidak?
Online Profile Goto Top
 
Bellevyn Snow
Member Avatar
Hufflepuff
"Belum, baru sekitar 3 menit," jawabnya seraya mengalihkan pandangannya pada si pemilik suara yang baru datang.

Kedatangan teman baiknya itu belum juga berhasil membuatnya bercerita. Benaknya masih berkutat dengan setiap potongan adegan yang --secara tanpa sengaja-- dilihatnya kemarin. Dia masih duduk di samping pemuda itu, melanjutkan kegiatan melamunnya yang terinterupsi tanpa memperhatikan kehadiran teman Ravenclawnya. Perasaannya benar-benar tidak baik hari ini. Peristiwa kemarin benar-benar membekas dalam di pikirannya. Rumah sakit sayap kini menjadi tempat terakhir yang ingin di datanginya di Hogwarts. Dilema melanda hatinya yang pernah gembira. Antara harus merasa bersyukur atau bersedih karena melihat mereka dan percakapan mereka.

Sebastian, dia terlihat baik-baik saja. Sangat baik, malah. Bellevyn tidak dapat memastikan apakah pemuda itu juga punya sesuatu yang mengganjal untuk diceritakan padanya. Yang dia tahu pasti, pemuda itu terlihat jauh lebih baik darinya. Senang melihat teman baiknya tidak mengalami hal buruk sepertinya. Cukuplah dirinya yang merana hari itu. Tidak terbayangkan bagaimana wajah pemuda itu jika ia bersedih. Jangan, Bellevyn tidak ingin melihat kesedihan di wajahnya--di wajah teman-temannya. Bellevyn menyukai senyum jahil yang biasa dilemparkan pemuda itu, juga kata-kata menghibur yang biasa dilontarkan lidah permen karetnya. Keduanya selalu membuatnya lebih baik. Seperti yang dilakukannya sekarang terhadap gadis itu.

Burung hantunya payah, kata Sebastian. Tawa kecilnya memecah dingin. Terdengar seperti hela napas kecil disertai gumam pelan di ujungnya.

"Jolly memang payah. Beruntung dia tidak menabrak kaca kamarmu." Ada sebentuk senyum kecil saat Bellevyn mengatakan itu barusan.

Lalu hening kembali menyertai mereka.

Diam yang dilakukannya sedikit beralasan kali ini. Bellevyn tengah sibuk dengan pikirannya. Mencoba merangkai kata untuk permulaan ceritanya. Pandangannya tidak lagi mengarah pada permukaan danau. Batas horizon yang membentang luas menyita perhatiaannya. Gadis muda itu kini melepaskan pelukan kakinya, membiarkan kedua kaki jenjangnya terjulur begitu saja. Jemari tangannya lalu menyentuh salju dan meraupnya sedikit dalam genggaman. Diangkatnya tangan rampingnya lalu dilemparkannya segumpal salju itu ke lengan Sebastian. Detik berikutnya, cengiran kecil menghias wajah gadis terpandang itu. Pertanda perasaannya telah sedikit lebih baik. Kegiatan barusan hanya sebentuk penghiburan diri sesungguhnya, tapi Sebastian tidak perlu tahu bagian itu.

Hela napas panjang dihembuskan gadis itu dengan harapan mempermudah kata-kata meluncur dari mulutnya.

"Jadi, bagaimana kabarmu, Sebastian? Apakah semua baik-baik saja?"
Offline Profile Goto Top
 
Sebastian C. Braden
Member Avatar
Ravenclaw
Bellevyn tersenyum kecil. Itu bagus. Dan, Sebastian setuju--waktu tiga menit memang belum bisa disebut dengan 'menunggu-lama'.

"Haha. Yeah. Selain payah, dia juga kalah keren dari Fray-ku." Lagi-lagi. "Mm. Bercanda,"

Napasnya berembus samar.

Membentuk kuap transparan yang kemudian melebur bersama dingin udara. Ia menghirup kuat-kuat, udara dingin itu. Merekam setiap aroma yang terbawa masuk ke dalam rongga hidung. Lalu mengelompokkan satu-satu, sesuai dengan kategori bebauan itu. Harum, enak, simpan. Busuk, tidak enak, buang. Serius, Sebastian benar-benar melakukan hal itu di jeda hening setelah kata-kata terakhirnya terlontar. Hening ini bukan semata-mata karena hawa dingin, sepertinya. Sebastian masih terus mencuri pandang menatapi Bellevyn.

To be honest, merasa aneh.

Batas cakrawala adalah semu. Tak mungkin hanya berupa sebentuk garis, hm. Kiasan. Bibirnya mengerucut, mencibir pada garisan imajiner di sudut jauh penglihatan. Lalu kembali mengerling Bellevyn. Jeez, ayolah. Senyum Bellevyn yang tadi masih kurang lebar. Sebastian sungguh tak berkeberatan jikalau ia diminta bernyanyi saat ini juga. Anggaplah menghibur. Demi membuat teman baiknya ini tersenyum lepas lagi. Apapun akan ia lakukan. Asalkan senyum itu untuknya. Untuk gadis itu sendiri. Untuk siapapun. Yang penting Bellevyn tersenyum. Apa lagi?

Dingin.

"Wogh. Hei?"

Cengiran lucu jauh lebih baik dari hanya senyuman kecil. Sebastian tergelak keras. Setengah kaget, namun juga lega. 'Salju'nya mulai mencair. Ia menggoyangkan lengan. Bulatan putih padat hasil lemparan Bellevyn berguguran jatuh. Sementara tangan Sebastian yang lain refleks meraup segenggam salju. Tidak, tidak. Ia tak akan balas melempar salju itu pada si gadis. Belum saja, mungkin.

"Aku, baik-baik. Seperti kau lihat." Ia menyengir lebar. Mengangkat kedua lengan dengan jumawa. Pamer otot? No, no. Kedua lengannya tidak sekekar itu, belum. Lagipula Sebastian memakai jaket. Tak akan terlihat. "Kau terlihat... tidak baik. Ada apa, Bells?"

Ladies first.

Sebastian mungkin juga akan bercerita, nanti. Diluar dari kebiasaan, memang. Tapi toh Bellevyn bukanlah orang asing baginya.

Berubah serius.

"Kau tak bisa membohongiku,"
Online Profile Goto Top
 
Bellevyn Snow
Member Avatar
Hufflepuff
Fray lebih keren dari Jolly? Mungkin. Mungkin ya, mungkin tidak. Bellevyn hanya tertawa kecil saat mendengarnya.

Sebastian merespon. Bellevyn bersiap menghindari lemparan balasan yang mungkin dilakukan pemuda itu. Tapi ternyata tidak. Dia tidak memembalasnya--tidak seperti biasanya. Sebastian baik-baik saja, ya tentu saja. Terlihat jelas dari wajahnya. "Baik-baik saja, ya, tentu saja," ujarnya nyaris menggumam lebih pada dirinya sendiri. Sebastian tampak mengangkat tangannya. Meregangkan otot mungkin, entahlah. Dan tibalah akhirnya pada pertanyaan yang membuat gadis itu kembali membungkam. Tapi setidaknya masih ada senyum tipis tersisa di bibir merahnya. Sekedar memberikan kesan bahwa dirinya tidak seterpuruk itu di mata teman baiknya. Mencoba membuat posisinya lebih nyaman, gadis muda itu menyandarkan punggungnya di batang pohon yang kokoh. Hembusan angin menyapanya lembut, seperti meminta Bellevyn untuk segera menceritakan isi kepalanya.

"Tidak baik, hm? Wajahku mengatakan begitu, ya?" gadis itu balas bertanya sambil mengerling pemuda itu sekilas.

Aku tidak bisa membohonginya? Ya, mungkin itu benar--untuk sekarang. Bellevyn tidak begitu mengingat dengan baik kapan dirinya pertama kali benar-benar merasa nyaman dengan keberadaan Sebastian di dekatnya. Entahlah, mengobrol dengan pemuda itu terasa menyenangkan. Waktu-waktu bosannya segera lenyap begitu saja jika sudah bergulat dengan kalimat-kalimat candaannya. Dan memang teman semacam itu yang sekarang sedang dibutuhkannya. Tapi cerita yang akan dituturkannya tidak terhitung sebagai cerita ringan yang biasanya dapat keluar dengan mudah dari mulutnya. Mengingat kilasan adegan di rumah sakit sayap itu saja sudah membuat dadanya sesak. Bellevyn tidak pernah merasa begitu sedih sebelumnya. Tidak setelah ia melihatnya bersama seorang anak perempuan.

"Ya, mungkin kau benar," lalu satu hembusan napasnya menciptakan kepulan uap kecil di depan mulutnya. Napas keputusasaan.

"Mau menemani... sebentar saja?"

Kedua safir cemerlangnya bersembunyi di balik sepasang kelopak matanya. Satu bagian dalam tubuhnya terasa sakit seperti dicabik-cabik belati. Tatapan teduh itu masih diingatnya dengan begitu jelas. Begitu juga dengan raut terpesona itu, raut wajah yang bukan ditujukan padanya--mungkin tidak akan pernah. Bellevyn bahkan tidak yakin pemuda itu mengingat nama lengkapnya dengan baik. Dan pertanyaan si gadis rambut cokelat yang dijawabnya saat itu..

"Bagaimana denganmu sendiri? Apa... kau membenciku?"

“—tidak.”

“…tidak akan pernah.”


menjatuhkannya.

"Apakah kau pernah begitu menyukai seseorang?"
Offline Profile Goto Top
 
Sebastian C. Braden
Member Avatar
Ravenclaw
"Mm-hm. Terlihat begitu,"

Kenyataannya memang demikian. Senyuman tipis di bibir merah itu, tetap tak bisa menyembunyikan rona muram di wajah oval sempurna Bellevyn. Ck. Coba lihatlah lebih dalam ke kedua safir cemerlang itu. Lihat-lebih-dalam. Bellevyn bisa tersenyum. Bellevyn bisa terbahak keras, jika dia mau. Namun binar safirnya tak akan bisa berbohong. Secemerlang apapun warna, dan kilaunya. Kau bisa melihat sebuah harapan, sebuah 'kehidupan' disana. Melalui mata. Melihat kejujuran, sekaligus kebohongan. Kau juga bisa menemukan keputus-asaan disana, kesedihan. Melalui mata, juga. Heh. Sebastian sungguh berharap Bellevyn tidak mendengar dengusan samarnya.

Ia beringsut berdiri. Menghembuskan napas keras.

Gadis Hufflepuff itu kemudian membenarkan. Walau hanya 'mungkin'. Oke. Itu bagus daripada terus-menerus berbohong, memasang senyum 'aku-baik-baik-saja'. Sebastian memang tidak terlalu paham dengan permasalahan yang menyangkut hati, maupun perasaan. Yang dirasakan seorang gadis, apalagi. Bellevyn adalah teman perempuannya yang pertama. Teman yang bukan sekedar teman bermain lempar tangkap bola, atau teman yang sering ia jahili. Bellevyn adalah teman berbagi. Pelajaran, maupun cerita. Bellevyn adalah teman yang... tak terdeskripsikan.

"Apakah kau pernah begitu menyukai seseorang?" Nah, nah.

Jadi ini, rupanya.

Kedua alisnya sempat bertaut satu sama lain. Ditatapnya Bellevyn lekat-lekat. Dari posisi berdirinya terlihat, gadis itu masih saja menampakkan raut sendu. Sebastian menyeringai samar, membuang pandangannya kearah permukaan danau. Garisan horizon memekat. Desau angin semakin riuh terdengar. Berembus keras lewat sela-sela lengkungan ranting kecil pohon. 'Mari lihat', pikirnya. Bukankah ia juga hendak membahas topik yang sama dengan apa yang baru saja diungkapkan Bellevyn? Lebih tepatnya, Sebastian ingin mencari tahu--menanyakan beberapa, banyak hal pada teman baiknya itu. Karena dia juga Hufflepuff, teman baik Bellevyn. Gadis itu pasti tahu banyak tentang dia. Tak diragukan.

"I think so. Yeah. Aku memang sedang menyukai seseorang. Aah, salah. Aku hanya berpikir bahwa... mungkin aku menyukai seseorang itu. Entahlah. Aku tidak terlalu yakin." jawabnya. Tanpa menoleh menatap sang gadis di belakang bahu. "Kenapa?" Sebastian berbalik.

Menatap puncak dedaunan pohon Maple yang membeku, bergoyang kaku. Lalu mengambil tempat, tepat di hadapan Bellevyn. Kembali duduk beralas dingin. Bergidik.

"Hal itu yang membuatmu begini, eh, Bells. Well. Kau mau bercerita padaku?"

'Apa aku mengenalnya?'
Online Profile Goto Top
 
Bellevyn Snow
Member Avatar
Hufflepuff
Sebastian kini berdiri membelakanginya. Bellevyn tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Juga tidak sedang ingin mencari tahu. Diam diam gadis muda itu memikirkan jawaban teman baiknya barusan. Terlihat begitu ya? Kedua telapak tangannya segera bergerak menuju wajah ovalnya dan menekan pipinya dalam-dalam hingga terlihat seperti ikan mas koki. Tidak menyangka ekspresi wajahnya dapat benar-benar merefleksikan perasaannya sekarang dengan sangat jujur. Bellevyn tidak ingin Sebastian khawatir atau ikut merasakan suasana hatinya yang sedang tidak baik, tapi ternyata tidak mudah menyembunyikannya dari pemuda itu. Gadis itu memang sebuah buku terbuka.

Tak butuh waktu lama untuk membuatnya kembali teringat dengan sebuah pemandangan indah yang menyakitkan itu. Reaksinya begitu cepat, kedua mata cokelat Sebastian segera menatapnya dengan pandangan yang diartikannya sebagai 'kau-benar-benar-jatuh-cinta?' Gadis muda itu membalas tatapannya dengan pandangan tak bersalah. Well, dia memang tak bersalah. Jatuh cinta benar-benar bukan sesuatu yang salah, sesungguhnya. Bahkan jika cintanya bertepuk sebelah tangan. Bellevyn bukan seorang yang mudah putus asa juga bukan si pesimis, dia hanya sedikit tenggelam dalam mimpinya.

"I think so. Yeah. Aku memang sedang menyukai seseorang--

"Benarkah?" tanyanya antusias dengan setengah terperangah. Satu kalimat awal Sebastian seperti mengalihkan perhatiannya sejenak.

Aah, salah. Aku hanya berpikir bahwa... mungkin aku menyukai seseorang itu. Entahlah. Aku tidak terlalu yakin."

Batang pohon maple itu kembali menerima sandaran punggung si gadis saat pemuda itu bertanya 'kenapa'. Jawabannya kurang memuaskan bagi murid tahun ketiga Hufflepuff itu, sedikit mengecewakan jika ia boleh jujur. Ia berharap akan mendengar 'Ya, aku memang sedang menyukai seseorang', atau 'Bagaimana kau tahu?' atau mungkin 'Ya, pernah, seperti yang sekarang sedang terjadi'. Diperhatikannya saja gerak-gerik teman Ravenclawnya itu yang mendudukkan diri di hadapannya. Beberapa lapis salju menjadi alas duduknya menggantikan rumput hijau musim yang lalu. Beberapa detik singkat dihabiskannya untuk memandangi wajah teman baiknya itu, seolah menelusuri keberadaan niat akan membeberkan ceritanya ke banyak orang.

Satu desahan napas terhembus dari mulutnya, sebentuk usaha untuk menenangkan diri.

Mulutnya mulai terbuka untuk mengawali cerita, tapi dua detik jeda membuatnya kembali menyimpan kalimat awalnya. Bellevyn menarik napas dalam-dalam dan kembali fokus pada Sebastian.

"Ya, kupikir aku juga merasakan hal yang kau rasakan. Hanya saja dengan kadar dan pengharapan yang lebih besar." Gadis itu berusaha terlihat tenang dan rileks menceritakan kisahnya.
Offline Profile Goto Top
 
Sebastian C. Braden
Member Avatar
Ravenclaw
Kadar dan pengharapan yang lebih besar.

Jadi maksudnya... Well, tidakkah pembicaraan ini terlalu 'berat' untuk anak seusia Bellevyn dan Sebastian? Jika begitu, mari dibuat lebih 'ringan'. Buat lebih rileks, dan santai. Heh. Terdengar seperti apa, coba? "I see..." lirihnya.

Lagi, bocah itu melempar pandang sejenak kearah seberang. Seringaian tipis terpampang samar di wajah kanak-kanaknya. Sebastian memang tidak begitu yakin dengan apa yang ia rasakan. Suka? Yeah, sudah pasti. Terlalu suka? Ugh. No, no. Belum. Sayang? Sesama umat manusia bukankah memang harus saling menyayangi, hm. Cinta? Gah. Wajah bocah itu mendadak bersemu merah begitu kata konyol itu melintas di otaknya. Tahu apa Sebastian tentang cinta-cintaan? Yang ada kemudian, ia memutuskan bahwa yang dirasakannya saat ini adalah perasaan; KAGUM. Dan hanya sebatas itu, mengagumi. Berharap lebih? Belum tahu. Ia tidak berani, sebenarnya. Ia hanya merasa, ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu. Lebih banyak, dan lebih banyak lagi. Ck. Sosok gadis Hufflepuff itu begitu membuat Sebastian penasaran. Dan rasa ingin tahunya ini begitu mengganggu. Hah. Ia jadi melamun.

"Lalu. Apa yang terjadi? Perasaannya tidak sama denganmu?" Dan rona muka Bellevyn menjawab; ya. Ayolah. Melihat paras manis gadis itu sedari tadi, Sebastian tahu bukan hal menyenangkan yang sedang dialami teman baiknya itu. "Sorry, Bells. Kau tahu, kau pantas mendapatkan yang terbaik. Bahkan, kau harus!" ucapnya tanpa beban sambil mengangkat bahu, singkat. Menatap tepat ke manik mata si gadis. Perlahan tersenyum hangat, menenangkan. Berharap 'syaraf-tegang' teman baiknya itu sedikit mengendur. Bodoh benar orang yang membuat muram sosok Bellevyn ini. Hm. Namun dia juga pasti sangatlah hebat, dan keren, hingga membuat Bellevyn memiliki pengharapan besar padanya. Salut.

"Dia hebat, eh?"

Terucap begitu saja.

"Apa yang kau suka darinya?" Ingin tahu. Sebelah matanya mengedip jahil; menggoda. Berharap Bellevyn mau tersenyum lagi. Yeah, setidaknya menyeringai, tak masalah. Ia rela tetap duduk di hadapan gadis itu, disini--diatas permukaan bumi dalam sapuan hawa musim dingin. Menghibur Bellevyn dengan lelucon paling tidak lucu sekalipun, walau tulang ekornya mulai terasa beku sekarang. Ia beringsut kesamping Bellevyn, tanpa bersandar pada batang pohon.

Seperti masih bisa mendengar suara lembut si gadis Hufflepuff. Suara yang berbeda dengan suara hangat Bellevyn. Dahulu, diatas permukaan beku danau ini. Ia mendengus.
Online Profile Goto Top
 
Bellevyn Snow
Member Avatar
Hufflepuff
Gadis berrambut indah itu termenung dalam pemikirannya sendiri. Sulit sekali mengutarakan isi kepalanya --yang sekarang menjadi sedikit lebih rumit-- pada teman baiknya, Sebastian. Kadar dan pengharapan yang lebih besar? apa itu tadi? yang ingin disampaikan gadis periang itu adalah ia sedang menyukai seorang anak laki-laki yang tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Kasihan, gadis itu. Jatuh cinta membuat pikiran dan mulutnya tidak bekerja berdampingan sebaik sebelumnya. Jatuh cinta, hm? satu frase itu terdengar sedikit terlalu janggal bahkan saat gadis itu mengucapnya dalam hati. Hal itu sepertinya bukan satu pilihan yang baik untuk dialami--terlebih bagi remaja tiga belas tahun sepertinya. Tapi Bellevyn tidak bisa memiliih, dia bahkan tidak punya pilihan.

Angin dingin kembali berhembus memberi satu rasa dingin yang sama seperti dia, dan otaknya kembali menampilkan beberapa potong memori tentang si pemuda yang dingin.

"Kau sepertinya sudah tahu apa jawabanku tanpa harus mengatakannya," ujar Bellevyn dengan ekspresi yang sebisa mungkin terlihat tenang di mata Sebastian.

Mendapatkan yang terbaik?

Sepertinya dia cukup baik.

Gadis itu masih belum mampu mendefinisikan 'baik' sebagai dasar penilaiannya terhadap pemuda itu. Jika baik berarti pernah menolong, maka dia sudah pasti masuk dalam kategori itu, begitu pula jika baik berarti dia bersedia mendengarkan semua cerita dan ucapannya. Dia pendengar yang baik, dia selalu mendengarkannya dengan tenang, selalu mendengarkan dan tidak tidak pernah protes. Dia sedikit bicara, dan tidak pernah meminta--pada Bellevyn. Pemuda itu hanya sekali dilihatnya melontarkan permintaan. Pada seorang gadis rambut cokelat dari Ravenclaw, beberapa hari yang lalu. Dia meminta gadis itu untuk menemaninya.

"Hebat?" kedua alisnya bertaut seraya menatap Sebastian.

"Bagian mana yang kau pikir hebat?" gadis itu menelengkan keplanya ke satu sisi menunggu jawaban pemuda Ravenclaw itu.

Satu kedipan mata mengarah padanya..

--dan salju itu seketika mencair.

Tawa renyah Bellevyn terdengar segera setelah Sebastian melemparkan ekspresi menggoda sambil menanyakan apa yang disukainya dari dia. Raut wajahnya itu benar-benar menyebalkan, sekaligus menyenangkan. Menggoda anak perempuan mungkin sudah menjadi hobi pemuda berrambut cokelat madu itu, tapi untuk kali ini gadis muda itu tidak akan menarik kedua pipi pemuda itu dan seperti yang biasa dilakukannya ketika dia menggodanya--mungkin belum. Sejujurnya, Bellevyn merasa harus berterima kasih pada teman baiknya itu karena bersedia menghibur dirinya. Benaknya segera beralih pada pertanyaan Sebastian yang belum sempat dijawabnya. Apa yang sudah membuatnya begitu menyukai pemuda itu?

"Aku tidak begitu yakin..aku hanya begitu saja menyukainya setelah beberapa waktu bertemu dengannya," keningnya sedikit berkerut menandakan ketidakyakinannya.

"Seperti aku terjun dari langit tertinggi, melewati awan-awan dan..BUM! jatuh begitu saja di atas segumpal awan lembut itu." Kepalanya menoleh sekilas ke samping, menunggu reaksi Sebastian atas perumpamaannya yang sedikit terlalu aneh.

Sehembus angin menyadarkan Bellevyn betapa dinginnya udara di sana terlebih dengan pakaian kaus biasa yang dipakai Sebastian. Menyadari hal itu, gadis bertubuh ramping itu segera melepaskan jubah musim dingin tebal yang melapisi sweater wool merah muda yang dikenakannya. Mengabaikan perubahan ekspresi teman laki-lakinya, Bellevyn menyampirkan jubahnya ke ujung bahu Sebastian sehingga kini jubah tebalnya telah berpindah ke punggung pemuda itu. Bellevyn yakin sepasang sarung tangan, syal dan sweater woolnya cukup ampuh menghalau dingin tanpa jubah kelabu tebal berlapis bulu domba berkualitas tinggi itu.

"Sshht..teman yang baik tidak pernah membiarkan temannya kedinginan," ucap gadis itu dengan tatapan setengah mengancam. Bellevyn tidak ingin menerima penolakan atas tindakannya itu.

Sekarang suasana sudah lebih mencair daripada sebelum gadis itu menceritakan si kepalanya. Bellevyn bisa menghirup udara dengan lebih santai dan tanpa beban.

"Namanya Arshavin, ngomong-ngomong. Kau kenal?"

(OOC: Open hanya untuk ngintip dan tidak untuk mendengar percakapan.)
Edited by Bellevyn Snow, Oct 15 2009, 11:28 PM.
Offline Profile Goto Top
 
Sebastian C. Braden
Member Avatar
Ravenclaw
"Bagian mana yang kau pikir hebat?"

'Tidak tahu. Yang jelas dia pasti hebat karena kau menyukainya,' tadinya ia ingin menjawab begitu.

Namun bocah itu malah semakin melebarkan cengirannya. Mendengar tawa renyah Bellevyn, rasa beku di tulang ekornya sedikit terobati. Sebut Sebastian bodoh, tak apa. Di bawah terpaan hawa dingin menggigit macam begini justru tak membekali diri dengan mantel tebal, ataupun jubah musim dingin seperti Bellevyn. Hanya dua lapis kaus biasa. Tangan pendek diluar, tangan panjang didalam. Tadi ia pikir, hawa tak akan berubah sedingin sekarang. Bocah itu lalu tertawa pelan. Terkekeh. Sembari mencabut asal sebentuk rumput liar di ujung sepatu ketsnya.

"Tidak yakin, bagaimana?" Dua kelopak matanya menyipit. Menoleh.

"Jatuh di atas segumpal awan lembut, katamu? Hahaha. Bukankah seharusnya hal itu tak membuatmu 'sakit'? Kau 'kan tidak jatuh diatas bebatuan. Haha," Sebastian terbahak keras. Sedikit berlebihan, sepertinya. Mau bagaimana? Perumpamaan yang diterakan Bellevyn memang terdengar aneh. Walau ia tertawa bukan untuk menghina teman baiknya itu. Sama sekali, tidak. Hanya... Lucu saja. That's it. Ia tertawa tanpa mengamati ekspresi sang gadis disampingnya. "Tapi, Bells. Kau curang. Mana ada orang jatuh yang pilih-pilih tempat jatuh? Hahaha..."

Sebenarnya, ada. Hm.

Tubuh Sebastian terdiam kaku. Derai tawanya terhenti begitu saja. Disisi bocah itu, Bellevyn mendadak menyampirkan satu bagian jubah kelabu tebal musim dinginnya ke ujung bahu Sebastian. Bibir bocah itu terkatup rapat. Tak sempat bereaksi cepat, ataupun mengelak. Untuk sesaat terdiam beku menatapi gerak cekatan tangan ramping Bellevyn. Hangat. Sebentuk perasaan itu menjalar perlahan begitu beban berat si jubah tebal menempel di pundak, lalu punggung. Merapat. Ucapan tegas Bellevyn menyadarkan Sebastian. Rona pias kulit wajahnya menyemburat merah tipis. "Well, thanks. Dan aku tak pernah menolak punya 'teman-yang-baik' itu," balasnya terkekeh.

Hangat, serius.

"Namanya Arshavin, ngomong-ngomong. Kau kenal?"

"Hah? Maksudmu..."

Arshavin yang Windstroke?

Yeap.

"Oh. Jadi, dia? Wogh, Bells. Tentu aku mengenal Wind--Arshavin. Kami satu asrama, ingat?" Sulit mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Ngomong-ngomong, anak perempuan itu pintar memendam perasaan, ya? Jeez. "Tak bisa dipercaya. Kau... Aah. Jadi, Arshavin tidak tahu?"

Arshavin Windstroke, dia memang hebat.
Online Profile Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
Go to Next Page
« Previous Topic · Good Thread · Next Topic »
Locked Topic
  • Pages:
  • 1
  • 3


Skin orginally created by Tariq | Converted by Lewis of the ZetaBoard Theme Zone | Edited by Yusuke Sawada