Welcome Guest [Log In] [Register]
Add Reply
Pt.X YuumaxNao; Funeral
Topic Started: May 30 2018, 05:56 AM (21 Views)
Ame
Member Avatar
C O D E R
April tanggal 22 Mei merupakan hari yang paling ingin ia lewatkan.

Tanggal 21 Mei, dari dini hari sampai dini hari kembali, ia sama sekali tidak tidur. Wajahnya kelihatan parah—kulitnya pucat dan kelihatan kusam, kantung matanya menebal dan ada cekungan berwarna gelap di bawah matanya, matanya membengkak dan berwarna kemerahan, lalu—pipinya menjadi kurus kering dan ia kelihatan sangat tidak baik-baik saja.

Hari ini, April tanggal 22 Mei, ia terbangun dalam kondisi buruk. Kepalanya pusing sekali, perutnya terasa asam. Lidahnya bahkan mati rasa, ia hampir tidak bisa merasakan apa-apa. Sensitifitas indra perabanya menurun drastis.

Jelas, ia sedang bukan dalam kondisi terbaiknya—ia sedang dalam kondisi terburuknya.

Matanya yang sayu melirik sebentar ke arah jam analog di dinding kamar. Pukul 8 pagi, 2 jam lagi ia harus pergi.

Kalau boleh jujur, ia enggan pergi—sangat enggan, mengetahui kenyataan bahwa orang-orang yang ia sayangi kini sudah terkubur di bawah tanah. Ia tidak sanggup menelan kenyataan itu, namun ia harus menguatkan dirinya sendiri dan mungkin memberi penghiburan kepada diri sendiri, yang ia tahu sama sekali tidak ada artinya.

Yuuma bangkit, berjalan sempoyongan akibat pusing. Ia mencari ponselnya—ketemu, ada di atas meja belajar.

Ia meraih ponselnya, membuka daftar kontak yang disimpannya dan menekan satu kontak. Tak lama, ia menekan tombol telepon yang ada di samping nama kontak tersebut, kemudian dengan gerakan cepat menempatkan ponselnya di dekat daun telinga.

". . . ."

Ayolah, cepat. Bunyi dengung yang terus-terusan didengarnya ini bisa membuatnya gila.

". . . ."

Ada apa ini? Apa penderitaannya tidak cukup? Apakah dunia ingin membuatnya lebih menderita lagi? Ia tahu hidupnya sudah tidak punya arti apa-apa lagi, tapi ia harus melanjutkan hidup untuk satu alasan: si penerima telepon dari Yuuma.

"...answer the phone, goddammit."
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Nao
Member Avatar
istry taehyung
Kemarin—tepat jam tujuh malam, Yuuma meneleponnya. Nao pikir, itu sebuah telepon biasa, menanyakan kabar, kau tahulah, sekedar basa-basi untuk melepas rindu terhadap orang yang didambakan.

Tapi, nyatanya tidak.

Yuuma tidak berbasa-basi terlebih dahulu, saat ketika Nao mengangkat telepon, Yuuma langsung ke pokok pembahasan, bahkan ia sama sekali tidak menunggu Nao untuk merespon:

"Nao, ayah dan ibuku kecelakaan—kondisi mereka kritis. Bagaimana ini..."

Yuuma tidak seperti biasanya, bukan Yuuma yang selama ini dikenalnya, ia bahkan sempat tidak yakin apakah orang yang sedang berkomunikasi dengannya itu benar-benar pacarnya. Yuuma, di segala kondisi, dapat berpikiran dingin dan tenang, tidak biasanya ia begini. Bahkan ketika Nao sempat diculik pun—...tidak, iapun sedikit panik waktu itu, tapi aneh sekali ia bisa sepanik ini.

Itu pertanda buruk, ia tahu.

"Di rumah sakit mana?" kata Nao waktu itu. Yuuma menyebutkan serentet nama tempat, dan Nao bertanya lagi apakah Yuuma berada disana. Yuuma tidak menjawab, setelah itu Nao langsung menutup telepon.

Saat ia dan kakaknya kesana, ia melihat Yuuma, duduk terbungkuk di dekat pintu ruang operasi. Yuuma mendongak memandang mereka berdua, dan Nao seketika langsung tahu Yuuma telah menangis.

Nao langsung duduk di samping Yuuma, menenangkannya dengan segala macam cara. Kondisi Yuuma sedikit membaik, ia sedikit tenang setelah itu, tapi—kondisinya menjadi jauh lebih buruk ketika dokter bedah yang mengoperasi kedua orangtuanya keluar dari ruang operasi dengan kepala terkulai lemah.

Nao dan Kei akhirnya pulang, Yuuma tinggal sebentar (dan menyuruh mereka berdua pulang) untuk beberapa mengurus beberapa hal terkait kematian kedua orangtuanya.

Nao sangat terpuruk, sama terpuruknya dengan Yuuma.

Bahkan, ketika ia mendapat telepon dari Yuuma pagi ini, ia sengaja tidak mengangkatnya dengan cepat—ia terpuruk. Yuuma sekalipun, ia sedang tak ingin ditelepon.

Tapi—Yuuma juga butuh penghiburan. Sama sepertinya.

Dengan sedikit rasa sesak, ia mengangkat telepon.

"Selamat...pagi, Yuuma," tidak biasanya. Ia terbiasa memanggil Yuuma dengan sebutan Yuu, ia sendiri kaget ia bisa memanggil Yuuma seperti itu. "Bagaimana...kabarmu? Kau baik-baik saja?"

Tidak mungkin baik-baik saja. Buktinya, ia sendiri—yang sama sekali tidak punya tali kekeluargaan apa-apa dengan keluarga Seishiro—merasa sangat sedih, apalagi Yuuma.

"Apa kau...ingin aku ke rumahmu?"
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Ame
Member Avatar
C O D E R
Suara dengung berhenti.

Saat itu juga, jantung Yuuma berhenti berdetak selama kurang-lebih sedetik. Ada dua kemungkinan, telponnya diterima; atau justru tidak diterima. Yuuma sangat pesimis, jadi ia lebih cenderung untuk berpikir bahwa telpon darinya ditolak oleh sang penerima.

Tapi, nyatanya tidak. Keheningan terganti dengan suara Nao.

"Pagi juga buatmu," jawab Yuuma dengan nada bicara yang sangat diusahakan untuk terdengar normal. Ia tak ingin Nao tahu kalau ia menangis sepanjang hari dan itu membuat suaranya bergetar hebat. "Aku...baik-baik saja, kok. Tidak usah khawatir terhadap kondisiku. Kau sendiri bagaimana?" ah, ia mengatakan yang sebaliknya.

Jujur saja, entah kenapa ia merasa kalau ia berbagi perasaan dengan Nao. Apa yang dirasakannya sama dengan apa yang dirasakan Nao, ia yakin itu. Entah kenapa, ia bisa tahu apa yang Nao rasakan—ia bukan esper, sama sekali bukan, tapi sepertinya mereka punya semacam ikatan khusus yang membuat mereka berdua bisa paham satu sama lain tanpa perlu bicara sedikitpun.

"..."

"Tidak perlu," tidak, ia tidak jujur mengatakan itu.

"Tidak perlu, aku serius. Kau tidak perlu ke rumahku," datanglah ke rumahku,

"Aku sudah cukup terhibur hanya dengan main game. Kau tidak perlu khawatir padaku." kumohon.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Nao
Member Avatar
istry taehyung
Pemuda berdarah Seishiro satu itu sama sekali tidak pintar bohong, dan Nao kenal betul sifatnya yang satu ini—yang membuat Nao bisa mencintai Yuuma sepenuh hatinya.

Mengenai kondisinya sekarang, Nao sangat tahu kalau Yuuma berbohong mengenai itu. Biarpun ditutup-tutupi, Nao bisa mendengar getaran hebat dibalik suara Yuuma. Siapa yang bisa baik-baik saja setelah kedua orangtuanya meninggal secara tiba-tiba?

"... ah, aku...kurasa aku baik-baik saja, sama sepertimu." Nao sengaja menyelipkan kalimat 'kurasa', agar Yuuma tahu kalau Nao sangat tidak baik-baik saja, dan agar Yuuma tahu kalau Yuuma sama sekali tidak merasakan semua ini sendirian.

Tuh, 'kan, Yuuma bohong lagi. Ia tahu apa maksudnya. Sangat jelas. Beruntung Yuuma pacaran dengan Nao, mungkin Yuuma akan lebih menderita lagi kalau pacarnya bukan Nao, atau setidaknya bukan orang seperti Nao yang sangat peka.

"Aku ke rumahmu sekarang, Yuu."

Ia menutup telepon, kemudian segera bersiap-siap. Acara kematian dimulai sekitar dua jam lagi, dan ia tidak bisa bersantai-santai—ia harus cepat pergi ke rumah Yuuma kalau tidak ingin telat.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
« Previous Topic · Playground · Next Topic »
Add Reply